
"Baby, kenapa tadi ke tempat Ken tidak bilang Mama?" tanya Wina.
"Piajat maid Te sana Mama ... Ico bain telus diajat ... telus pandhil bodel Ten ... bodel pidat teluan ... bodel pidat sayan Ico," jelas bayi itu sedih.
"Brother sayang kok, sama Ico!" ujar Wina membantah perkataan putranya.
"Padhi dipandil eudat beluan, Ma! Bodel Ten, bistel Win uendat sayan Ico ... pemua peldhi indalin Ico!" dumalnya kesal.
Wina tertawa melihat mulut Rico yang sampai mancung ketika bicara. Ia gemas sekali dan menciumi pipi gembul bayi itu.
"Mama sayang Ico," ujar Wina.
"Ico sayan Mama!" ujar bayi itu.
Rico memakan makanan yang disuapkan padanya. Ia mengambil kentang goreng dan menyuapkannya pada ibunya. Wina dengan senang hati memakan makanan itu. Selesai makan, Wina memberinya botol susu. Tak sampai lima menit. Susu itu habis, bayi montok itu pun kenyang dan mulai mengantuk.
"Sini, sayang."
Wina menaruh Rico di sebelahnya. Ia menepuk pelan paha montok bayi itu hingga terlelap. Wina menciumi bayi penuh kasih sayang.
"Bobo sayang. Maafin Mama ya. Lain waktu, tidak ada kejadian seperti tadi," ujar Wina berjanji.
Sementara itu Deon memberhentikan nyaris separuh penjaga istana. Mereka rata-rata sudah masuk pensiun dan tadi bermasalah tidak menjaga keamanan prince mereka. Sementara Delia disiksa di ruang bawah tanah.
"Katakan siapa yang menyuruhmu ingin menculik Prince Rico!" bentak petugas.
"Aku tidak menculiknya. Aku ingin memilikinya!" teriak Delia.
"Jangan bohong! Kau masih seorang gadis, kau belum menikah! Jika kau terus berbohong. Kami akan panggil dan siksa ibumu!" ancam petugas.
"Dia bukan ibu ku!" teriak Delia.
"Siksa saja dia. Aku tak perduli!"
"Ketua. Di rumah sewanya ada laki-laki bernama Jimmie, kemungkinan pria itu yang menyuruh Delia menculik Prince Rico!" sahut salah satu petugas melapor.
"Jangan sentuh Jimmie! Dia tak bersalah!" teriak Delia tak terima.
Petugas itu membisikan sesuatu pada petugas. Jimmie adalah pria berkebutuhan khusus, dia adalah adik dari Delia. Akhirnya gadis itu mengaku menculik Rico untuk meminta uang banyak untuk pengobatan adiknya itu.
Deon mendapat laporan itu langsung meminta perdana menteri untuk mencatat semua keluarga pekerja. Mereka yang butuh pengobatan akan dibiayai oleh kerajaan. Delia tetap mendapat hukuman karena berusaha mencelakai seorang pangeran. Jimmie langsung dilarikan ke rumah sakit untuk mendapat penanganan.
"Sayang," panggil Deon pada istrinya.
Wina tengah menyusui Hendrick. Pria itu mengecup kening istrinya. Lalu Rico yang tengah bermain dengan kakinya sendiri.
"Papa Laja ... Ico mawu soslat!" pinta bayi itu.
"Oke sayang. Nggak mau es krim juga?"
Bayi itu mengangguk. Deon gemas sekali lalu mengangkat Rico dan menggelitik dengan mulutnya hingga bayi itu tergelak.
"Papa ... bistel Win patan pulan?" tanya bayi itu.
"Lusa, sister baru pulang, sayang," jawab pria itu.
"Bistel Win pama papa?" tanya bayi itu serius.
"Sama brother Alex," jawab Deon.
"Pawas bodel Alets ... Ico putun talna pawa bistel Win!" ancam Rico.
Deon tertawa mendengar ancaman bayi menggemaskan ini. Ia kembali menciumi perut gembul bayi itu hingga tergelak.
"Nanti kau malah main air sayang," peringat Wina.
"Main sebentar!" ujar pria itu.
Wina meletakan bayinya. Wanita itu menyiapkan semua pakaian suami dan putranya. Padahal banyak maid yang bisa mengerjakan itu semua. Tapi, Ludwina memilih mengerjakannya sendiri.
Sementara Luien dan Alex sudah bersiap untuk pulang dari bulan madu. Keduanya membawa banyak hadiah untuk Rico.
Luien sudah tak begitu khawatir lagi. Tapi, ia masih kepikiran oleh adiknya. Butuh waktu cukup lama untuk sampai pada negaranya.
Rico tengah bermain bola di sekitar ruangan. Ia menendang bola dari plastik dan benda itu nyaris memecahkan guci besar.
"Bawa ke halaman belakang, di sana ada lapangan bola kan?" titah Deon.
Para pengawal membawa Rico ke halaman belakang. Di sana Rico berlari dan menendang bola dengan puas. Hingga tiba di suatu momen. Bola itu mental kembali nyaris mengenai kepala bayi itu.
Bug!
"Prince!" pekik salah satu maid.
Beruntung salah satu pengawal menepis bola yang mental kembali. Rico kaget hingga membuat ia menangis. Luien yang baru saja datang mendengar bayi itu menangis lalu berlari mendatangi.
"Rico ... Kakak pulang!"
"Bistel!" pekik bayi itu.
"Oh ... baby kamu kenapa?" tanya Luien lalu menggendong bayi itu.
"Prince Rico nyaris terkena lemparan bola yang memantul, Yang Mulia Tuan Putri," lapor maid.
"Ah, jagoan ... tidak apa-apa," ujar Luien menenangkan..
"Kau tidak apa-apa kan?" tanya Luien pada pengawal yang menepis bola.
"Tidak apa-apa, Yang Mulia Tuan Putri!" jawab tegas pengawal.
Luien mengangguk. Ia lega tak ada apa-apa. Ia membawa satu mobil kecil hadiah untuk bayi itu.
"Bombilna badhus setali!" puji Rico.
"Puat Ico?" Luien mengangguk.
Rico terpekik senang dan bertepuk tangan Ia mencium pipi kakaknya itu. Luien menaikkan tubuh Rico ke mobil. Lalu Alex menekan remote untuk menjalankan mobil itu. Rico kesenangan sampai tertawa lepas.
"Tolong jaga Prince. Aku akan mendatangi Permaisuri dan Ibu Ratu.
Para maid menekuk kaki mereka. Luien dan Alex menyambangi ayah dan ibu mereka.. Keduanya menghadap pada raja. Luien juga membawa banyak barang.
"Mama," panggilnya.
"Sayang," sahut Wina tersenyum.
Alex memberi kecupan pada mertuanya, satu set kalung berlian ia hadiahkan untuk ibu mertuanya itu.
"Ini indah sekali," puji Wina ketika Alex mengenakan hadiah itu. Sedang untuk Victoria, pria itu menghadiahkan sebuah kalung berliontin Jamrud langka. Hanya ada satu-satunya di dunia..
"Terima kasih, sayang. Ini cantik sekali," ujar Victoria.
bersambung.