THE REAL PRINCES

THE REAL PRINCES
KE ISTANA



"Saya minta maaf yang mulia tuan putri!" ujar pengawal yang meminta Luien lewat pintu belakang.


Pria tampan itu menekuk kaki dan menundukkan kepalanya. Luien hanya menghela napas panjang. Gadis itu sudah terbiasa memakai baju obralan. Ia sedikit malu jika harus pergi ke istana.


"Kalau aku nggak pergi, apa boleh?" tawar gadis itu memohon.


Kepala perdana menteri istana menggeleng.


"Yang mulia tuan putri berarti menghina peraturan dan keputusan yang mulia ratu!"


"Saya di sini bekerja. Tanggung jawab saya bagaimana?" tanya Luien.


"Pihak kerajaan telah melayangkan surat ijin cuti untuk pengangkatan yang mulia Raja, Tuan Puteri!" sahut Ferdinand tegas.


Luien diam. Wina menarik putrinya. Sedangkan Rico sedang berada di gendongan pengawal yang baru saja ia tendang. Mulut bayi itu tak berhenti mengunyah. Pengawal itu memberinya jeruk yang asam. Hasilnya baju seragam pengawal itu kotor karena Rico mengeluarkan lagi jeruk yang ia makan dan mengacaknya dengan tangan.


"Basem!" ujarnya sambil mengeluarkan lidah dan mengerutkan keningnya.


Sedang di tempat lain. Alex menatap surat permohonan cuti kerja untuk Luien. Sebuah surat dari kerajaan. Adrian dan Vic juga sedikit ternganga.


"Apa kata orang, seorang Puteri raja menjadi asisten pirbadimu kak?" tanya Adrian.


"Kakak ipar ku seorang putri raja!" lanjutnya bangga.


Alex hanya tersenyum. Pria itu akan mempersiapkan segala sesuatunya ketika menikahi Luien nanti. Para staf istana sudah memberikan sepuluh berkas yang harus ia pelajari dalam tata cara pernikahan kerajaan. Deon sudah mendaftarkan namanya sebagai calon menantu. Bahkan ayah dan ibunya juga dikirimi berkas dari staf kerajaan.


"Apa kata orang-orang yang dulu menghina gadis itu, ketika tau yang mereka hina adalah seorang putri raja?" tanya Vic.


Semua hanya tersenyum miring. Sudah banyak bukti jika yang merendahkan gadis itu berakhir dengan kepala tertunduk sangat dalam.


Luien nampak begitu berbeda setelah ibunya dandani. Deon tersenyum melihat kecantikan putrinya sedang yang lain membungkuk hormat. Rico langsung meminta gendong.


"Pistel ... bendon!"


Ferdinand memerintahkan salah satu pengawal untuk menggendong bayi itu. Hasilnya adalah, kemarahan Rico.


"Biapa tamu!" bentaknya lalu memukuli pria yang mengangkatnya.


"Sudah, biar saya yang menggendongnya." ujar Luien mengambil alih bayi pemarah itu.


"Sayang, kenapa kamu pukuli paman itu?" tegur Luein.


"Aabemhehwbwh!" adunya tak jelas.


Luien hanya menggigit gemas bayinya. Kini mereka semua masuk mobil Limosin. Wina meminta Matilda untuk menjaga mansion dengan baik. Ken ikut bersama dengan Ferdinand. Pria berkharisma itu menatap wajah tampan dan datar di sampingnya.


"Kau sudah punya kekasih, Ken?"


"Belum, Tuan!" jawab Ken lalu menunduk hormat.


"Sebagai pengabdi Tuan mu, kau harus menikah. Aku akan jodohkan putriku denganmu," ujar Ferdinand seperti perintah.


Ken hanya diam tak menanggapi.


"Ken!" panggil Ferdinand lagi setengah menegur pria itu.


"Sesuai daulat kepala perdana menteri," sahut Ken menurut.


Ferdinand terkekeh, ia menepuk senang bahu pria tampan itu. iring-iringan kendaraan itu menuju bandara kecil milik Deon. Jika perjalanan darat bisa menempuh dua hari. Maka dengan pesawat pribadi hanya butuh satu jam setengah saja.


Setelah mendarat di bandara, mobil iring-iringan lain menjemput. Semua prosesi menjelang pengangkatan akan disiarkan di seluruh televisi.


Diana kini duduk bersama Veronica Lambert. Keduanya begitu bangga mengenal Luien. Gadis sederhana yang selalu peduli dengan mereka. Sedang Gloria menatap penuh haru layar televisi. Ageele mengusap kepala putrinya.


"Dia adalah seorang Puteri raja yang pernah menolongmu, mengerahkan semua kemampuannya agar kau tak jatuh ke dasar jurang," sahut pria itu bangga.


Di tempat lain, Hugo dan Brandon tengah membangun bisnis baru. Brandon yang pintar dan Hugo yang begitu cekatan langsung terpikir untuk mendirikan layanan antar jasa pada dan membuat situs aplikasi sendiri. Kini usaha mereka tinggal mendapat persetujuan juga perijinan dari pihak Google.


"Itu Luien!" pekik Hugo ketika melihat layar televisi.


Sosok gadis cantik dengan iris abu-abu. Nampak wajahnya kikuk dan selalu berusaha menutup diri dari kamera. Sayang, kecantikan gadis itu malah menjadi fokus kamera.


"Kau tak akan bisa sembunyi, Luein!' kekeh pria besar itu.


Brandon mengangguk tanda setuju. Tapi, ia ingat, jika Luien akan sangat berbeda ketika memakai baju ala kadarnya itu.


Di istana, Rico yang tertidur kini berada di gendongan gadis itu. Tak ada yang bisa mengangkat bayi itu jika sudah berada di gendongan Luien.


"Apa tak ada yang bisa mengambil bayi itu dari gendongannya?" tanya ratu.


Tak ada yang bergerak. Memang dari tadi semua sudah berusaha, tetapi justru Rico mengamuk.


"Felicia ... mana Felicia!" panggil ratu.


Sosok gadis datang lalu membungkuk dengan menekuk kakinya.


"Ambil bayi itu!"


Felicia mundur sampai tempat Luien berdiri. Dengan lembut dan halus, juga sedikit ciuman pada pipi bulat bayi itu. Maka berpindah lah Rico di tangan Felicia.


"Bawa dia ke sini!" titah sang ratu.


Felicia pun membawa bayi itu ke depan ratunya. Wanita sepuh itu menciumi wajah menggemaskan bayi tampan itu.


Rico mengeratkan dirinya pada Felicia.


"Bawa dia bersamamu dulu, ya," pinta ratu.


"Baik, yang mulai ratu," sahut Felicia lembut.


Setelah tata krama dengan ratu selesai. Luien mencari adik angkatnya. Bayi itu juga kaget ketika berada di tangan gadis cantik lainnya.


"Bistel!" panggilnya.


"Rico!" panggil Luien.


Bayi itu turun dari pangkuan Felicia dan memilih mendatangi kakaknya. Luien mengangkat bayi itu dan mendatangi Felicia.


"Dia putriku yang mulia Puteri," sahut Ferdinand memperkenalkan putrinya.


Luien bersalaman dengan gadis itu yang sedikit menekuk lututnya.


Ken ada bersama Ferdinand.


"Felicia, perkenalkan ini calon suamimu Ken Rafael Guzardy!' Felicia mengangkat ujung dress yang ia pakai dengan dua tangannya sebagai penghormatan.


Ken menaruh telapak tangannya di dada lalu mengangguk membalas penghormatan Felicia. Pria tampan itu tak berhenti menatap gadis yang dipersiapkan untuk menjadi istrinya.


Felicia tampak malu sekali. Ferdinand bahagia, akhirnya pria yang menjadi kriterianya benar-benar ada dan sudah datang.


"Kalian berkenalan lah lebih dahulu," ujar Ferdinand.


Luien meninggalkan dua sejoli yang saling tahap itu. Digendongnya Rico tengah asik mengganggu Ferdinand.


"Hai," sapa Ken.


"Hai juga," sahut Felicia dengan rona di pipi.


"Bisa antar aku berkeliling?" pinta pria itu.


Gadis itu mengangguk. Kini keduanya pun berjalan menyusuri istana dan tempat-tempat nya. Ken langsung jatuh hati pada sosok gadis yang lembut di sisinya. Walau ia yakin ada tingkah lain yang gadis itu sembunyikan.


"Ini adalah lukisan raja pertama, nama beliau sama dengan calon raja kita sekarang," jelas gadis itu.


Mereka kini ada di sebuah museum. Sepi tak ada orang. Ken melihat jendela, ia mengira jika sedang berada di menara istana. Pria itu mendatanginya, benar saja kini mereka berdua berada di ketinggian sepuluh meter dari tanah.


"Di selatan istana ini ada beberapa perkebunan dan pertanian juga peternakan. Bahkan kami masih mengolah susu secara alami," jelas Felicia.


"Felicia," panggil Ken.


"Ya?" sahut gadis itu.


"Kau berisik sekali dari tadi!'


Lalu Ken menarik pinggang ramping gadis itu dan membenamkan bibirnya pada sang gadis.


bersambung.


Sikat Ken.


next?