THE REAL PRINCES

THE REAL PRINCES
SEBUAH RENCANA



Alex membawa kekasihnya ke sebuah restauran ternama di kota itu. Pria itu memilih rooftop sebagai tempat makan siangnya.


"Selamat datang Tuan," sapa salah satu pelayan.


"Atas nama Alexander Maxwell!" ujarnya langsung.


Tangan seorang gadis masih dalam genggaman pria itu. Alex tersenyum padanya dan merapikan riapan rambut sang gadis. Pelayan membawanya menaiki lift.


'Ck ... beruntung sekali gadis miskin ini,' gumamnya kesal pada Luien yang digenggam erat oleh pria paling diminati seluruh kota.


"Wah ... indah sekali!" puji Luien ketika sampai di rooftop.


Pelayan hanya tertawa sinis.


'Kampungan sekali. Aku yakin gadis miskin ini tak pernah makan di tempat mewah' gumamnya sinis dalam hati.


"Silahkan, sayang," ujar Alex sambil menarik kursi untuk gadisnya.


Pelayan itu tersenyum indah. Ia duduk dengan elegan. Alex mengamit tangannya dan menciumnya lembut. Ia memonyongkan bibirnya.


"Apa yang kau lakukan?!" tanya Alex tak suka.


Pelayan itu terkejut bukan main. Ia baru saja melamun jika dirinya lah yang duduk bersama pria tampan itu. Lalu ia menatap Luien yang telah duduk dan menyampir serbet di pangkuannya. Pelayan itu mencibir.


"Mana menunya? Apa kau bekerja di sini hanya untuk melamun saja!" sentak Alex.


Pria itu benar-benar menahan semua emosinya.


"Sayang," panggil Luien lembut.


Alex akhirnya melunak. Pria itu duduk. Pelayan memberinya menu, tapi tidak untuk Luien.


"Aku pesan ini dan ini. Kau pesan apa sayang?" tanya Alex.


Pria itu menatap Luien yang tak diberikan menu oleh pelayan. Kali ini Alex benar-benar marah bukan main.


"Apa yang kau pikirkan!' bentaknya.


Pelayan itu ketakutan. Luien memang dari tadi diam. Ia sangat yakin jika pelayan itu tak menyukainya. Begitu marahnya Alex sampai pria itu mendorong kuat pelayan berjenis kelamin perempuan itu hingga terjatuh.


"Sayang," Luein langsung berdiri dan menenangkan kekasihnya.


"Kau pikir kau siapa merendahkan kekasihku, hah!" bentak Alex lagi.


"Mana manager restauran ini!" serunya lagi.


Pelayan itu pun menangis. Ia memang tak menyukai keberuntungan Luien yang dia anggap gadis miskin, tetapi bisa menggaet Alex, pemuda kaya raya.


Seorang pria datang ke rooftop karena mendengar keributan. Ia melihat sosok pria yang selalu wara-wiri di televisi menerima berbagai penghargaan dan sangat sukses.


"Tuan Maxwell," ujarnya lalu membungkuk hormat.


"Pecat wanita ini!" titah Alex dengan muka bengis.


"Jangan ... aku mohon maafkan aku .... huuu ... uuu ... hiks!" pinta pelayan itu memohon.


"Jika dia tak dipecat, aku akan tutup restauran ini!' ancam pria itu.


Pelayan itu menangis. Alicia yang mengikuti manager hotel melihat kesempatan untuk merendahkan Luien.


"Kenapa kau seperti ini, Alex?" tanyanya lalu ia menolong pelayan itu berdiri.


"Dulu, kau seorang yang penuh kelembutan dan kasih sayang. Aku tak menyangka selama kau bersama si miskin ini, kau jadi arogan dan sombong," lanjut Alicia menatap Luien dengan pandangan tak percaya.


Manager restauran kebingungan. Ia memang mengenal Alicia, gadis itu juga menjadi pelanggan restaurannya. Bahkan dulu, Alex suka membawa Alicia makan di sana.


"Ah, tempat ini. Kau membawa gadis miskin ini ke tempat dulu kita selalu memadu kasih?" tanya Alicia.


Gadis itu sengaja membakar cemburu. Ia ingin Luien akan marah dan memutuskan Alex.


Luien terdiam mendengar hal itu. Ada rasa sakit dalam hatinya. Ternyata sang kekasih membawanya ke sebuah tempat yang memiliki momen bersama gadis lain. Ia melepas genggaman Alex. Pria itu menoleh pada gadisnya, menatap lekat pada iris abu yang kini juga menatapnya.


"Itu masa lalu, sayang. Kau adalah masa depanku," ujar Alex.


"Aku membawamu ke sini, karena hanya tempat ini yang terbaik," lanjutnya menjelaskan.


Luein mengerti. Ia mengangguk percaya. Alicia menganga. Ia tak percaya betapa kekasih dari mantannya itu percaya pada Alex.


"Saya akan mengurusnya, Tuan!"


"Tolong ... jangan pecat saya. Ibu saya sakit di rumah ... aku harus ke mana lagi jika aku tak bekerja!" pinta pelayan itu memohon.


Alex tersenyum sinis. Ia sangat tidak percaya apa yang dikatakan oleh pelayan itu.


"Alex ... begini kah sikapmu sekarang. Apa kau tak kasihan?" sentak Alicia.


Sebenarnya gadis itu juga jijik membela sang pelayan. Tetapi dengan cara ini, ia bisa menjatuhkan gadis yang berdiri di samping Alex.


"Kau juga. Apa kau tak kasihan. Dia sama miskinnya denganmu. Tapi, aku rasa lebih mulia pelayan ini dari padamu!' hina Alicia.


Alex geram, ia ingin merobek mulut perempuan tak tahu malu itu. Pria itu hendak menggertak Alicia, tapi Luien menahannya.


"Cis ... aku tau kau begitu miskin hingga menjerat pria-pria kaya agar mau berhubungan denganmu!" tuduh Alicia. "Entah dengan siapa kau tidur!"


"Aku rasa sifat jalangmu menurun dari sifat ibumu!"


Plak! Satu tamparan diberikan Luien pada Alicia.


"Bangsat!" maki Alicia.


Plak! satu tamparan lagi Luien berikan pada Alicia, kali ini tamparannya sangat keras hingga telinga gadis itu berdengung. Pelayan tadi gemetaran. Manager hanya diam dan tak melakukan apa-apa.


"Beraninya kau menghina ibuku!" bentak Luien geram.


"Kenapa memangnya. Kau kan memang keturunan ibumu yang ****** itu!" sentak Alicia makin berani.


Bug! Bug! Bug!


Luien memukuli Alicia dengan membabi buta. Hingga gadis itu babak belur dan tak sadarkan diri. Alex membiarkannya. Ia juga geram mendengar Alicia menghina calon mertuanya.


"Sudah cukup, sayang," ujar pria itu menenangkan gadisnya. "Dia, sudah tak sadarkan diri."


Luien berhenti menghajar Alicia yang sudah tergeletak dengan wajah babak belur dan berdarah-darah. Alex merengkuh bahu kekasihnya.


"Ayo, kita pergi," ajaknya. "Kita cari tempat lain."


"Tu ... tuan ...," panggil manager ketakutan.


"Urus dia!" titah Alex dengan tatapan dingin.


Manager menunduk takut. Alex dan Luien berlalu dari sana. Setelah pergi. Manager langsung menampar pelayanannya.


"Ini semua karena kamu!" bentaknya. "Kau kupecat!"


"Urus dia! Kalau mau kubayar gajimu!" titahnya setengah mengancam.


Manager itu pergi meninggalkan tempat itu. Pelayan kini kebingungan. Ia pun mencari tas wanita yang tadi membantunya. Mencari telepon genggam, lalu melihat benda pipih itu tak terkunci. Pelayan memanggil satu nomor.


Horton yang mendengar putrinya pingsan dipukuli, langsung murka. Ia tak peduli. Pria itu memerintahkan para pengawalnya untuk menangkap wanita yang bersama Alex Maxwell.


"Aku tak peduli dia siapa. Aku akan menghancurkan mu!" teriaknya.


Pria itu melolong melihat anak perempuannya tergeletak tak berdaya dengan wajah babak belur.


"Sayang ... sayang," panggil Horton sangat sedih.


"Tuan!" seorang pria bercodet datang menghampiri.


"Cari gadis yang bersama Alex Maxwell tadi siang. Hancurkan dia, sehancur-hancurnya!" titah pria itu dengan tatapan bengis.


"Baik Tuan!" sahut pria itu sambil meremas tangannya.


Pria itu menatap foto yang diberikan padanya. Sosok gadis berpakaian sederhana.


"Cantik ... sebentar lagi, aku akan memuaskan mu," gumamnya menyeringai sadis.


bersambung.


ah ... eh ...


next?