THE REAL PRINCES

THE REAL PRINCES
PERNIKAHAN



Satu minggu persiapan pernikahan Luiena Elizabeth Philips. Gadis itu sudah fitting baju pengantin, mereka kini tengah mengadakan foto prewedding di menara istana.


Alexandre Maxwell Junior tampak begitu gagah dan tampan, dibalut taxedo hitam berkelas dan mahal. Pria beriris hijau itu menatap gadisnya penuh pemujaan. Luien juga sangat cantik dengan balutan gaun pink. Gadis itu juga menatap Alex dengan binaran cinta. Keduanya tersenyum bahagia.


Tak butuh pengatur gaya. Fotografer sangat suka dengan pose keduanya yang begitu natural. Selama dua puluh tahun menjadi juru foto istana, membuatnya merasa bangga. Ini adalah pernikahan pertama seorang putri raja. Bahkan foto keluarga juga tak kalah bagusnya terutama Rico yang begitu tampan dan menggemaskan ketika sesi foto.


"Sayang, jangan ganggu adikmu!" tegur Wina yang kesal karena dari tadi Luien mengganggu adiknya.


"Habis dia tampan sekali, Mam," sahutnya gemas.


"Bistel ... stop it!" teriak Rico karena sudah lelah diciumi terus.


Alex juga gemas dengan bayi pemberani itu. Pria itu tak berhenti mengangkat tinggi-tinggi Rico hingga marah-marah.


"Banan bandu atuh!" protesnya keras.


"Kamu juga, Alex!" tegur Wina lagi.


"Oh Mama. Dia memang tampan sekali," ujarnya.


"Mama ... belata matal!" adu Rico dengan bibir mencebik.


"Iya, sayang. Mama marahin mereka ya," ujar Wina menenangkan bayi gembul itu.


Victoria hanya bisa menggeleng melihat keusilan Alex dan Luien. Wanita tua itu juga sangat anggun dengan gaun pinknya.


"Ayo, foto lagi," ajaknya.


Semua keluarga berfoto. Mereka memamerkan senyum indah dan tulus. Raja Deon begitu tampan dengan baju kebesarannya, begitu juga Permaisuri Ludwina. Bayi Hendric juga sangat tampan di gendongan ibunya.


Jalan-jalan penuh dengan atribut kerajaan. Karpet merah digelar ratusan meter untuk dilewati oleh rombongan pengantin. Gereja juga dihias begitu indah. Semua rakyat antusias dengan pernikahan besar ini. Mereka juga mengenal Luien yang sangat merakyat. Banyak program gadis itu membantu masyarakat sekitar, kesetaraan sosial benar-benar diterapkan oleh Luien.


"Jadi Yang Mulia Tuan Putri Luien akan menikah dengan pebisnis nomor satu negeri ini?" tanya salah satu warga.


"Kau tak lihat beritanya beberapa bulan lalu. Jika pernikahan akan digelar dalam waktu dekat setelah pembaptisan Yang Mulia Tuan Pangeran!" sahut salah satunya.


"Aku tadinya tak mengira jika gadis itu adalah putri raja. Ia benar-benar merakyat dan tidak memperlihatkan diri sebagai seorang tuan putri!" ujar yang lainnya.


Beberapa orang mengangguk setuju. Mereka benar-benar tak ada batasan dengan gadis bernama Luien. Bahkan kini istana terbuka untuk umum. Para masyarakat boleh mengajukan keluhannya langsung pada raja.


Hari terus berganti. Persiapan pernikahan makin dekat. Keamanan sudah diperketat. Kuda-kuda terbaik sudah dipersiapkan untuk menarik kencana. Mobil-mobil mewah sudah dihias begitu cantik.


Di kamarnya Luien memeluk sang ibu. Gadis itu ingin dimanja selama ia belum menikah. Wina dengan senang hati melakukannya. Bahkan kadang berdua dengan sang suami.


"Mama," rengek gadis itu.


"Apa, sayang," sahut sang ibu.


"Aku takut," cicit Luien.


"Tenang sayang. Itu biasa, nanti juga kau tak terasa sudah jadi milik Alex," ujar wanita itu sambil mengelus sayang sang gadis.


"Jadilah istri yang penurut. Cintai suamimu sepenuhnya. Ingat, jangan lakukan kesalahan yang Mama perbuat dulu," ujar Wina menasihati.


"Iya, Ma ... jangan ingat itu lagi," ujar Luien.


"Mama harus ingat itu sayang dan tidak pernah menyesal, karena sekarang Mama bahagia. Mendapatkan cinta suami dan anak," jelas wanita itu.


Luien menenggelamkan dirinya di tubuh sang ibu. Wina menciumi pucuk kepala putrinya.


Pintu terbuka, Deon datang bersama Rico yang menangis.


"Mama ... hiks ... hiks!"


"Oh, maafkan Mama sayang. Kakakmu sangat manja hari ini, jadi kamu sedikit terabaikan," sesal Wina.


Deon mendekati ranjang dan menaruh Rico di sana. Pria itu juga ikut merebahkan diri di sisi putrinya. Luein dihimpit oleh kedua orangtuanya dan Rico ikut serta.


"Hai, calon pengantin," sapa Deon terkekeh.


"Daddy," rengek Luien.


"Kenapa dia manja sekali?" tanya pria itu.


"Katanya ia ingin dimanja sebelum besok ia sudah tidak bisa bermanja lagi," sahut Wina menjawab.


"Besok, yang memanjakan mu adalah suami, Luien!" seloroh Deon. "Itu lebih asik!"


"Dia sudah dewasa sayang," sahut Deon tak bersalah.


"Ma, memang apa yang dilakukan setelah menikah?" tanya Luien.


"Banyak tugas istri sayang. Selain menyenangkan suami di ranjang dan perut," Deon menjawab pertanyaan anak gadisnya.


Luien merona. Ia bukannya tidak tahu apa maksud ayahnya. Ia kembali merengek.


"Bemana ti lanjan bistel, napain Daddy?" tanya Rico ingin tahu. "Bobo?"


"Iya sayang. Kakakmu tidur jika di ranjang," jawab Wina sambil memandang sebal pada suaminya.


Deon terkekeh, ia lupa ada bayi yang belum cukup umur di antara mereka. Rico mengangguk tanda mengerti. Pembahasan pernikahan berhenti. Wina bangkit mengambil Ricky yang ada di boksnya. Lalu menempatkannya di tengah bersama Rico. Mereka pun akhirnya terlelap.


Hari berganti. Semua sibuk, bagian dapur istana penuh dengan teriakan kepala pelayan. Setelah separuh pelayan dan staf dipecat. Luien sendiri yang merekrut para pelayan dan staf istana. Dengan berbagai tes akhirnya kekosongan dapat diatasi hanya dalam waktu dua hari. Istana dihias dengan berbagai bunga hidup. Balkon juga dipercantik dengan bunga tulip dan mawar merah. Di sana, keduanya akan muncul dan bertegur sapa dengan masyarakat dan awak media.


Luein memakai gaun pengantin warna putih dengan taburan Swarovski. Tiara senilai ratusan juta dolar menghiasi kepalanya. Luien benar-benar cantik. Diana dan Gloria sebagai braidsmaid juga tak kalah cantik. Mereka tak habis berpose di setiap sudut istana. Ageele dan istri, begitu juga Veronica Lambert. . menjadi tamu kehormatan begitu bangga, putrinya menjadi bagian acara penting kerajaan. Ayah Diana tak ikut karena merasa malu.


"Dad, setelah pernikahan Yang Mulia Tuan Putri, Adrian akan melangsungkan pernikahan nya kan?" tanya Gloria.


"Iya, sayang," jawab pria itu.


Gloria hanya menghela napas. Sampai saat ini, baik Hugo dan Victor tak satu pun memintanya untuk dijadikan istri.


Gadis itu hanya bisa pasrah. Vic cuma datang satu kali ke rumahnya. Sedang Hugo setelah ia sembuh. Pria itu tak sekalipun menampakkan batang hidungnya.


"Sabar, sayang. Daddy yakin, kau pasti mendapat pria yang terbaik," ujar Ageele mengerti kegelisahan putrinya.


Gloria tersenyum Sebelum ia datang ke istana. Anneth dan Brenda datang ke mansionnya. Mereka minta maaf. Gloria memaafkannya.


"Aku dengar kau akan menjadi pengiring pengantin tuan putri raja. Apa benar putri raja itu Luien?" tanya Anneth.


"Ya, Luien adalah putri raja. Kenapa, kau kaget ya?" sindir Gloria saat itu.


"Eumm ... bisakah kami ikut," ujar Brenda tanpa malu.


Gloria tertawa sinis.


"Setelah kalian menghinanya. Kalian masih memiliki muka untuk datang?" sindir Gloria sarkas.


"Oh sudah lah, kau juga menghina gadis itu tak tanggung-tanggung dulu," ujar Anneth mengingatkan.


"Memang. Tapi, yang diminta dan diundang hanya aku dan Diana. Bagaimana dong," sahut Gloria acuh.


Anneth dan Brenda kesal bukan main. Mereka pulang dengan wajah ditekuk.


"Glo, ayo kita bersiap!" ajak Diana membuyarkan lamunan gadis itu.


"Ah ... ayo!" sahut Gloria.


Mereka membawa bunga dan berjalan di belakang pengantin. Sedang Rico berjalan di depan dan menabur bunga. Kecantikan Luein tersembunyi di balik layer bertabur mutiara dan Swarovski. Ketika memasuki gereja. Sang raja yang mengiringnya.


"Daddy," panggilnya lirih.


"Tenang sayang," ujar pria itu.


Mereka berjalan menuju altar. Di sana Alex memakai taxedo dan atribut kerajaan di sana. Pria itu tersenyum lebar.


"Aku serahkan putriku, cintai dia dan sayangi dia. Ketika kau merasa bosan, langsung kau kembalikan ia padaku!" ujar Deon tajam..


"Aku terima putrimu. Akan kucintai hingga habis napasku!" tekan Alex tegas.


Tangan Luien gemetaran ketika Alex mengamitnya. Pastur sangat mengerti. Ia menenangkan tuan putri dengan nasihat bijak.


Alex mengucap janjinya begitu juga Luien. Maka sah lah keduanya menjadi suami istri.


"Silahkan cium istrimu!" ujar pastur.


Alex membuka layer Luien dan mencium mesra kening istrinya. Mata gadis itu menggenang. Ia begitu terharu, sedih dan bahagia campur jadi satu.


bersambung.


ah akhirnya.