
Perhelatan akbar dimulai. Semua atribut kerajaan dikeluarkan. Istana dihias, semua perdana menteri, staf dan pegawai istana memakai seragam mereka. Para penjaga juga memakai baju khas mereka.
karpet merah dibentangkan di sepanjang jalan di mana kereta kencana akan dilalui oleh calon raja dan permaisuri baru. Semua rakyat berkerumun di pinggir jalan. Acara akan diliput oleh berbagai media.
Luien mengundang sahabatnya Diana. Sayang, gadis itu tidak bisa hadir karena perusahaannya sedang naik daun dan ia banyak sekali jadwal meeting dan rapat untuk perkembangan usahanya.
"Jika Ibumu melahirkan nanti, aku akan datang," ujar Diana via telepon.
Petinggi dan pebisnis penting diundang dalam seremonial besar itu. Warna merah dan emas mendominasi hiasan. Belum lagi kristal-kristal menjuntai untuk mempercantik hiasan.
Ludwina tengah mengandung besar. Ini sudah bulan lahirannya, tapi sepertinya sang janin masih tenang dalam perut ibunya. Rico berada dalam gendongan Felicia.
Sedang di tempat lain. Rodrigo yang baru saja bebas setelah menjalani sisa hukuman. Tampak menatap nanar televisi yang memperlihatkan bayi itu dalam balutan formal.
"Semoga bahagia, Nak!" ujarnya dengan nada gemetar.
"Dad," panggil Frank.
Pria itu menoleh. Semua aset yang tersisa masih bisa diambil alih oleh Frank.
"Ayo kita pulang," ajak pria itu lalu menarik tangan ayahnya.
Di mobil Armira menunggu, ia tersenyum melihat dua pria itu.
"Pulang ke manas?" tanya Rodrigo bingung.
"Pulang ke unit milik Miraz walaupun kecil dan sederhana, tapi kita bisa nyaman menepatinya," jelas Frank.
Mobil sedan warna hitam itu melesat meninggalkan lapangan parkir tahanan..
Kembali ke acara penobatan. Deon sangat begitu gagah dengan baju kebesarannya. Sedangkan Wina juga sangat cantik.
Ratu Victoria berdiri di depan altar disaksikan para pastur, pejabat tinggi negara, para bangsawan yang mulai sedikit takut karena Deon benar-benar tak bisa didekati.
"Selama empat puluh tahun, kita bisa menikmati jabatan dan semua fasilitas kerajaan. Sebentar lagi, semuanya hilang," keluh salah satu perdana menteri.
"Putra Mahkota Lazuard Deon Philips dan Princess Lady Dukes of Gorke Ludwina Elizabeth Thompson!"
"Berlutut yang mulia," pinta ketua perdana menteri Ferdinand.
Deon berlutut di hadapan ratu Victoria. Horton membawa meja dorong yang di atasnya ada baki terbuat dari perak yang berlapis beludru merah dengan simbol kerajaan. Di atas baki itu ada pedang dengan panjang 2,5m dan berat 2300gram. Itulah simbol kerajaan yang akan dipakai untuk pengangkatan raja. Dan sang raja asli lah yang mampu mengangkat dan menarik pedang pusaka itu sebagai simbol jika dialah raja yang baru.
Ferdinand mendatangi ratunya. Ia membungkuk dan memberi hormat untuk terakhir kali pada ratunya. Pria itu memakai sarung tangan berwarna putih, dengan gemetar ia mengambil mahkota besar yang ada di kepala Victoria. Salah satu perdana mentari menyorong baki perak beralaskan beludru merah, mahkota itu diletakan di sana.
Meja berisi pedang bergerak di depan Deon. Pria itu berdiri, lalu dengan kedua tangannya ia mengambil pedang itu lalu di depan semua orang, Deon menarik pedang.
Sring! Bunyi pedang memekakkan telinga.
"Hidup Raja Lazuard Deon Philips III!" sambut para semua orang yang hadir.
Mahkota khusus untuk raja diganti, karena mahkota yang dipakai Victoria tadi akan dipakaikan pada Ludwina sebagai ratu.
Tepat mahkota raja dipakaikan di kepala Deon. Semua menekuk kaki menyambut raja baru. Begitu juga ketika mahkota disematkan di kepala Wina.
Ratu Victoria berjalan sebagai ibu suri. Rico bertepuk tangan pada ayah dan ibunya.
"My king and my queen!" sambut semua orang.
Tiba-tiba, Wina merasa perutnya mulas luar biasa.
"Sayang ... ah!"
"Sayang, kau tak apa-apa?" tanya Deon langsung khawatir.
"Yang mulia Permaisuri!' beberapa petugas langsung menghampiri.
Deon membuka semua atribut kerajaan. Pria itu menggendong istrinya. Ferdinand langsung mengambil alih acara.
"Biar kami Yang Mulia!" seru satu staf istana.
"Menjauh kalian dari istriku!" bentak Deon murka.
Ken langsung berlari dan menyiapkan mobil. Felicia masih menggendong Rico yang mulai menangis melihat ibunya digendong dan kesakitan.
Felicia akhirnya mengikuti dan suami. Ferdinand menyuruh beberapa pengawal mengikuti mobil yang dibawa oleh Ken.
Para rakyat pada heran. Kenapa ada mobil dengan kecepatan tinggi di tengah-tengah perayaan pengangkatan. Sang ibu suri juga sampai panik.
"Hei ... ada apa ini?" tanyanya.
"Yang Mulia Permaisuri sepertinya akan melahirkan, Yang Mulia!" sahut salah satu pelayan ibu suri.
Ingin sekali Victoria meninggalkan acara. Tapi, karena ini termasuk tugas negara, makanya ia memilih bertahan dan membiarkan Ferdinand mengurus semuanya.
Sedang di sebuah tempat. Luien dibangunkan oleh para pelayan.
"Yang mulia, bangun. Yang Mulia permaisuri sekarang ada di rumah sakit!"
Para maid di kastil jadi lebih akrab karena pembawaan Luien yang memang santai dan tidak membeda-bedakan. Pintu diketuk dengan keras. Lusie membuka pintu paksa pada akhirnya. Putri mereka ternyata sudah bangun dengan rambut singanya.
"Astaga Yang Mulia!' ujar Lusie kaget.
"Ayo mandi, sebentar lagi adikmu lahir!" titah Lusie berani.
"Apa, adikku mau lahir?" tanya Luien terkejut.
Gadis itu memang tidur terlalu larut karena menyelesaikan tugas ayahnya. Ia sudah memberi salinannya pada Ken dan ayahnya.
Luein bergegas mandi seadanya. Para maid istana heran. Ada seorang putri raja mandi kilat dan memakai baju ala kadarnya. Bahkan Luien tak menyisir rambutnya. Tak ada yang berani menegur gadis itu karena takut. Andai yang melihat itu Matilda atau Mira. Mungkin beda ceritanya.
Gadis itu pun bergegas memakai sepatunya. Ia lupa jika tidak tinggal di mansion atau apartemen.
"Aaahh!' pekiknya kesal.
"Yang Mulia!"
Semua maid pada panik dan ketakutan.
"A-ada apa, yang mulia?" tanya Lusie hati-hati.
"Siapa yang punya motor dan di mana rumah sakit terdekat?!" tanya Luien.
"Mungkin petugas penjaga punya motor. Rumah sakit di tengah kota jaraknya sekitar 20Km dari sini, Yang Mulia!' jawab Lusie dengan menunduk.
Luien mendengkus kesal. Ia pun setengah berlari keluar kastil. Beberapa petugas menyambanginya.
"Yang mulia!" mereka membungkuk hormat.
"Siapa yang punya motor?" tanya Luien.
"Maaf, Yang Mulia. Mari ikut mobil saja," ujar salah satu petugas sambil membungkuk.
Mereka tentu mengenali Luien. Karena dari awal gadis itu datang sudah berpakaian sederhana seperti ini.
"Mari, Yang Mulia!" sebuah mobil Maybach tiba dan petugas tadi membuka pintunya..
Luein mendengkus kesal. Ia dengan terpaksa menaiki mobil itu. Dan tak lama, kendaraan mewah itu pun melesat cepat meninggalkan kastil. Butuh waktu sepuluh menit untuk sampai rumah sakit..
Gadis itu langsung membuka pintu. Tak ada formalitas yang ada. Semua heran menatap Luien, terlebih gadis itu memakai lift khusus.
"Hei ... siapa yang naik lift khusus itu!" teriak petugas rumah sakit.
Mereka pun mengejar Luien. Wina ada di lantai paling atas, lantai empat. Lantai khusus para bangsawan. Terutama dia adalah permaisuri raja. Deon ada di ruang bersalin, istrinya memaksa melahirkan normal.
Ken dan Felicia sedang duduk menunggu. Pria itu juga menanti kedatangan Luien..
Luien yang berada di lift tiba-tiba benda segi empat itu berhenti dan pintunya terbuka.
"Nah ... ini dia gembel yang sembarangan masuk lift khusus raja!" sentak salah satu petugas dengan muka merah.
bersambung.
ah ada lagi yang cari perkara.
next?