
"Mungkin sebaiknya saya akan melapor pada pihak penyeleksi," ujar gadis itu lalu mengambil ponsel dari sakunya.
Semua terbelalak melihat ponsel milik gadis berpakaian sederhana itu. Alat komunikasi keluaran terbaru, yang bisa dipesan sesuai keinginan penggunanya. Alicia saja tak punya ponsel tersebut.
"Nona, bekerjasamalah," pinta manager itu.
"Bagaimana, jika anda menjadi member bronze kami, ada fasilitas ruang VVIP di rooftop, pada waktu tertentu," lanjutnya memberi penawaran.
"Member Bronze?" tanya Luien.
Alicia berpikir cepat.
"Iya, kartu itu juga sangat terbatas dan hanya orang-orang tertentu mendapatkannya.Terlebih orang miskin sepertimu," ujar Alicia masih menghina.
"Apa kartu member paling tinggi di sini?" tanya Luien.
Gadis itu tak suka dengan keangkuhan. Tetapi, sepertinya ia harus sombong untuk menundukkan orang sombong.
"Tidak ada yang lebih tinggi dari aku, pemegang gold member!" ujar Alicia angkuh.
"Aku dengar di sini, member diamond adalah member tertinggi?" tanya Luien.
"Memang. Tapi, siapa yang punya itu kecuali anak raja!" seru seorang wanita.
Luien mengeluarkan dompetnya. Lagi-lagi semua mata seperti melompat dari sarangnya. Dompet yang dipegang oleh Luien dari branded ternama.
Dompet terbuat dari kulit sintetis dan dibuat mirip kulit sanca batik. Dengan warna coklat dan hitam alami. Ketika keluar, para pecinta binatang langsung memprotes, namun ketika diperiksa ternyata, bukanlah kulit asli binatang. Luien mengeluarkan kartu diamond miliknya. Makin terkejut lah semua.
"Tidak mungkin. Itu pasti palsu!" teriak Alicia.
"Lagi-lagi kau mengatakan jika keamanan tempat ini buruk!" ketus Luien.
Alicia menghentakkan kakinya. Ia pun keluar bersama empat pengawalnya. Yang lain mulai mengerubungi gadis yang baru saja mengeluarkan kartu saktinya.
"Nona, Maafkan kami. Sebenarnya, kami memang tak begitu suka dengan sikapnya yang sombong. Tetapi, dia adalah putri yang berkuasa di sini. Jadi kami sedikit mengikutinya," ujar salah satu gadis.
Luien mengambil buku di tangga. Ia meninggalkan semuanya dan menutup akses dengan menyangkutkan tulisan Verry Important People. Tanda jika tak ada yang boleh satu pun naik kecuali pelayan cafe. Luien memilih untuk tidak melanjutkan perdebatan.
"Ck ... dia juga nggak kalah sombongnya dengan Alicia!" cela salah seorang gadis mencibir.
Manager cafe bernapas lega. Ia akan memperbaiki sistem. Ia memanggil staf perbaikan untuk memperbaiki alat akses masuk.
"Hanya satu kartu untuk satu member!" tekannya pada staf perbaikan.
Luien dengan serius membaca buku yang ia bawa tadi. Sedangkan Alicia kini menelepon ayahnya jika ada member baru dengan setelan miskin tetapi membawa kartu paling tinggi.
"Siapa yang mampu mengalahkan Dukes Alicia Walles?" sahut sang ayah Duke Horton Walles.
"Aku ingin pengukuhan dari yang mulia ratu. Ah, tapi satu minggu lagi penobatan raja dilakukan. Aku harus melobby pejabat-pejabat berpengaruh, agar kedudukanku tak tergeser," gumamnya.
Laporan jika ada seorang gadis memiliki kartu member paling tinggi dibanding milik putrinya.
"Siapa dia? Tidak mungkin dia seorang putri kerajaan!' ujarnya.
Ketika pengenalan raja baru dan keluarganya. Memang Putra mahkota Philips mengatakan jika ia memiliki seorang putri. Tapi, seharian kemarin, pria itu tak mendapatkan gadis itu. Pria itu akhirnya memutuskan untuk menjemput putrinya menggunakan mobil sedan mewah inventaris kerajaan. Butuh waktu dua puluh menit untuk ia sampai di tempat itu.
"Sayang," panggil Horton.
"Daddy!" rengeknya.
Alicia langsung memeluk ayahnya. Horton menciumi wajah juga bibir putrinya.
"Mana gadis yang katanya memiliki kartu member Diamond?" tanyanya gusar.
"Ada di dalam," rengek gadis itu manja.
Horton memang sudah berusia lima puluh lima tahun. Tapi, ia masih sangat gagah dan tampan. Banyak wanita yang berebut perhatiannya.
Luien sudah membaca dengan cepat keempat buku yang ia bawa. Gadis itu menghabiskan dua latte dan tiga croissants. Ia membawa buku-buku itu lagi untuk meletakan di dewan pustaka, karena petugas yang akan meletakkan kembali di tempatnya.
"Itu dia Daddy!" seru Alicia.
Luien menatap orang yang berteriak dan menunjuknya. Horton tertegun. Ia tak menyangka gadis yang membuat masalah dengan putrinya sangat cantik. Iris abu-abu milik Luien begitu mempesona Horton. Tapi, baju yang dikenakan sangatlah tidak sebanding dengan kecantikannya.
"Tapi, sejak kapan gadis gembel ini memiliki kartu akses dengan member diamond?" tanya Horton tak percaya.
Luien pun kembali melangkahkan kakinya. Tak peduli pada ayah dan putrinya itu. Setelah meletakan kembali buku-buku di tata pustaka. Gadis itu pun pulang.
"Daddy!" rengek Alicia.
"Ini tempat umum, kita nggak bisa melakukan apapun," ujar Horton.
Luien menaiki transportasi umum. Tak ada masalah. Di tempatnya ia juga sering menaikinya.
"Bahkan dia nggak punya mobil sama sekali," ujar Horton.
Sementara di tempat Alex. Pria itu sudah menyiapkan semuanya. Hari pernikahan hanya tinggal hitungan minggu. Kini ia berada di kota yang sama dengan Luien. Mereka tinggal di sebuah windsor yang diperuntukan untuk keluarga Maxwell.
"Lex, Alicia adalah putri seorang bangsawan dan kedudukan ayahnya adalah wakil perdana menteri," jelas Maxwell, sang ayah.
"Ya, lalu?" tanya Alex tak peduli.
"Ya, tidak apa-apa," sahut Maxwell santai.
"Aku akan menemui kekasihku," ujar Alex bersiap.
"Katanya dia sedang bepergian. Yang mulia menugasinya," sahut Maxwell.
"Ya, dia berkata sedang dalam perjalanan pulang," sahut Alex lagi.
"Memang Luien naik apa?" tanya Adrian.
"Transportasi umum," jawab Alex.
"Ah, dia tak berubah," sahut Vic.
Tania sedang menyiapkan kudapan sore hari.
"Bawa dia ke sini, Mama ingin bertemu dengannya," pinta Tania.
"Iya, Mam. Dia sekarang sudah sampai di halte depan jalan besar. Aku menjemputnya dulu," ujar Alex.
Pria itu menaiki mobil yang ia bawa. Alex menjemput Luien dari jalan besar. Benar saja. Gadis itu turun dari bus yang ia tumpangi.
Mobil Maserati milik Alex sudah menghampiri gadis itu. Alex turun dan memberi pelukan dan ciuman di sana. Lalu membawa gadisnya ke bangku sebelahnya.
Semua kegiatan itu tak luput dari intaian dua pasang mata. Alicia terbelalak, ia sangat mengenal sekali siapa pria itu.
"Alex?"
"Daddy, itu Alex!" seru Alicia.
"Dia menjalin hubungan dengan kekasihku!" lanjutnya tak terima.
Horton diam. Ia sangat mengenal siapa Maxwell. Walau mereka bukan kalangan bangsawan, tetapi kekuasaan keluarga itu sangat berpengaruh dalam sistem pemerintahan.
"Tapi, sejak kapan Alex menyukai wanita miskin itu?" tanya Horton bingung.
"Aku tak perduli, Daddy!" teriak Alicia.
"Sudah, untuk sekarang kita tak bisa melakukan apapun. Weekend besok ada carnaval. Aku yakin mereka akan mendatangi acara itu," ujar Horton.
"Alex pasti berada di tempat VVIP yang sama dengan kita," lanjutnya.
Alicia terus merengek. Horton menenangkan anak gadisnya dengan menciumnya. Dua orang yang memiliki ikatan darah itu saling adu bibir.
"Hiks ... hiks!"
"Tenang lah sayang," ujar Horton dengan napas menderu.
"Kita pulang?' Alicia menganggukkan kepala.
Mobil rol royce yang mereka naiki pun bergerak meninggalkan tempat itu.
bersambung.
Inces lah ...
next?