THE REAL PRINCES

THE REAL PRINCES
ARMIRA



Ludwina menggendong Rico dan langsung masuk mobil, begitu juga Deon. Ken berada di depan, menyetir. Perlahan kendaraan mewah itu pun bergerak. Butuh setengah jam untuk sampai apartemen milik Edward Chen ini. Ketiganya turun.


"Di mana unitnya?" tanya Wina.


"Tepat di muka unit milik Nona Muda, Nyonya," jawab Ken.


Pria tampan itu menekan tombol lift dan naik ke lantai empat.


"Ken, apa kau tidak menemukan putra dari Armira?" tanya Deon.


"Maafkan saya, Tuan. Betrand seperti menghilang ditelan bumi," jawab Ken dengan nada menyesal.


"Memang dia pergi kapan?" tanya Wina.


"Dua puluh tahun lalu, Nyonya. Tepatnya tanggal dua Februari," jawab Ken.


"Apa kau sudah memeriksa arsip negara?" tanya Wina. "Dua puluh tahun tentu semua informasi sudah diletakan dalam arsip!"


Ken baru tercerahkan. Ia belum memeriksa semuanya. Tentu saja, semua data di komputer akan dihilangkan karena sudah dipindahkan ke arsip negara. Pria itu akan mencarinya lagi.


Pintu lift terbuka. Mereka pun berjalan ke unit di mana Mira berada. Ken memimpin jalan.


Ketika hendak mengetuk pintu. Mira sudah membuka duluan pintunya. Ken tersenyum lebar. Wajah datar dan dingin berubah seratus delapan puluh derajat ketika berhadapan dengan wanita baik ini.


Armira juga langsung tersenyum dengan tulus. Kerutan dan mata lamurnya sangat mengenali pria tampan yang menjulang di hadapannya.


"Ken?" panggilnya.


"Mira!" panggil Deon.


"Ah, kau membawa ayahmu, Ken?" tanya Mira.


Ken menggeser tubuhnya. Armira melihat sosok cantik tengah menggendong seorang bayi gembul yang langsung tertawa melihatnya.


"Oma!" panggil Rico.


"Oh, sayang. Dia pasti berat sekali. Mari masuk," ajaknya langsung membuka pintu lebar.


Deon, Wina dan Ken masuk ke dalam. Suasana hangat dan nyaman langsung terasa. Mira langsung mencium Ludwina dan mengusap perutnya.


"Kenapa kau biarkan wanita hamil menggendong bayinya, Ken?" tegur Mira.


"Rico menolak jika sudah bersama ibunya, Mira," jawab Ken.


Bukan pria itu tak berusaha. Bahkan Deon juga sudah membujuk Rico, tapi bayi itu malah menempel pada Wina sambil menangis.


"Duduklah kalian. Aku ambilkan minum," pintanya kemudian.


Wina hanya kaku, ia baru saja mendapat ciuman hangat dari seorang ibu. Terlahir dari kaum bangsawan, ia didik dalam keteraturan yang baku. Kasih sayang kedua orang tuanya hanya simbolik di depan umum. Di rumah, semua kegiatan ada rutinitasnya. Dididik untuk menjadi wanita yang akan menikah dengan bangsawan lainnya. Membuat ia harus tunduk dengan peraturan, terlebih jika hanya anak laki-laki yang di nomor satukan.


Deon iri. Ia juga mau dicium oleh Mira. Pria itu membantu wanita itu bersama Ken. Wina meletakkan Rico yang membuatnya sedikit sesak. Ia pun duduk dengan tenang dan membiarkan bayinya menjelajah ruangan.


"Mira!" panggil Deon.


"Kenapa, Nak?" sahut wanita itu.


"Terima kasih atas hadiahnya. Itu mahal sekali," ujarnya.


Mira tersenyum dan mengusap rahang tegas pria itu. Sebuah kecupan mendarat di keningnya. Gunung es itu mencair. Deon memeluk Mira erat. Pelukan seorang ibu yang jarang ia dapatkan.


"Terima kasih, sudah menjadi orang baik, Mira," ujar Deon hangat.


Ken mencibir. Ia membawa teh carmoline yang dibuat wanita itu ke ruang tamu. Deon membawa nampan berisi kudapan pastel.


"Kau membuat ini sendiri, Mira?" tanya Wina ketika mengambil pastel.


"Tidak, Luein membelikannya tadi pagi setelah ia berolah raga," jawab Mira dengan senyum lebarnya.


Rico juga mencomot pastel dari piring dan memakannya.


"Sayang, jangan begitu makannya. Biar Oma suapin, boleh?"


Mira menepuk pahanya, Rico langsung menaiki dan duduk di sana. Dengan telaten Mira menyuapi bayi montok itu.


"Mira, kedatangan kami ke sini, karena aku iri tidak diberi hadiah," ujar Wina langsung.


Wanita tua itu terkekeh geli.


"Aku tak tahu jika dia punya istri," sahutnya.


"Jadi, kau ingin hadiah dariku?" Wina mengangguk antusias.


"Baiklah, tunggu sebentar," Rico sudah turun dari pangkuan Mira.


"Sudah tidak apa-apa. Ini tidak berat," ujarnya.


"Sebenarnya, gaun ini adalah model lama. Suamiku Marcus Jhonson menghadiahkan ketika kami menikah. Aku tak bisa memakainya karena terlalu kecil, dulu aku gemuk," jelasnya.


Wina membukanya. Gaun terbuat dari bahan sutra kualitas tinggi berwarna peach, dilapisi brokat warna senada bertaburan Swarovski. Sangat cantik.


Wina langsung meletakan di tubuhnya. Pas.


"Mira ...," panggilnya lirih.


"Ini cantik sekali," pujinya dengan mata berlinang.


Frank datang, ia sangat terkejut dengan tiga orang penting di rumah ibu angkatnya.


"Mom, mereka orang-orang kaya dan berkuasa ...."


"Diam kau Frank!" tekan Deon.


Frank yang sangat mengetahui dengan siapa ia berhadapan langsung diam. Ia hanya berdiri di depan pintu. Luien yang baru pulang datang tergesa-gesa, ia melihat mobil ayah dan ibunya ada di bawah sana.


Luien melihat Frank ada di depan unit Mira. Ia tak melihat unitnya masih tertutup rapat. Gadis itu menarik kemeja Frank. Pria menoleh.


"Lihatlah, Luien. Kedua orang tua mu berampok Mommyku," sindir Frank.


"Ma, Dad?" Luien heran.


Ia membola ketika ibunya asik mencocokan baju di tubuhnya. Luien pun masuk.


"Mira," rengeknya.


"Astaga, kalian orang-orang kaya, masih suka hadiah?" sungut Frank tak percaya.


"Diam kau!" sentak Deon, Wina dan Luien bersamaan.


"Hei, jangan begitu!" tegur Mira dengan senyum lebar.


Ken bergelayut manja dengan wanita tua itu. Frank cemburu. Ia menyingkirkan Ken.


"Mommy, aku anakmu," ujarnya manja.


"Sudah-sudah, kalian semua anak-anakku," sahut Mira menengahi.


"Hadiahku mana?" tanya Luien.


"Nanti, jika kau menikah!" jawab Mira tegas.


Deon menyingkirkan Frank dan Ken dari sisi wanita idolanya. Memeluknya dan bermanja dengannya.


"Kau dapat uang banyak dari mana membelikanku hadiah sebagus dan semahal itu, Mira?" tanya Deon akhirnya.


Mereka semua berkumpul. Rico bermain dengan Bernard atau Frank, tentu saja ia mengenali bayi itu. Rico adalah incarannya dulu. Tetapi, sekarang tidak lagi.


"Aku mendapatkannya dari putraku," jawab Mira mengejutkan semuanya.


"Apa Betrand sudah ketemu, Mira?" tanya Luien dengan binaran bahagia.


"Sebentar," ujar Mira lalu bangkit.


Ia ke kamar dan lama di sana. Semua penasaran. Ada tujuh menit, baru Mira keluar dengan pipi basah.


"Mira," panggil Wina sedih.


Mira menyerahkan satu amplop besar pada Deon. Pria itu langsung membukanya.


Sepucuk surat dari sebuah pemerintahan. Tertera jelas di sana, permintaan maaf pada Armira.


"Bernard datang ke negara itu bertujuan untuk mencari kehidupan yang layak. Sebuah agresi militer sedang berlangsung, pemerintah asal menciduk orang dan memaksa mereka menjadi tentara. Kekurangan penduduk pria, membuat pemerintah negara A hilang akal. Mereka memaksa pendatang untuk menjadi tentara."


Mira menghentikan ceritanya. Ia merasa sesak, menahan air mata yang tumpah. Deon terdiam, ia mengepalkan tangan erat. Ken dan Frank juga sangat marah dengan semuanya.


"Betrand datang tanpa ijin, ia penduduk ilegal, begitu alasan mereka, ketika menciduk putraku waktu itu," lanjutnya dengan suara serak.


"Betrand yang buta akan strategi, diumpan paling depan bersama pendatang-pendatang lain, semuanya tewas dalam satu pergerakan ... hiks ... hiks!"


Mira menangis. Wina memeluknya. Deon melihat angka belasungkawa dan permintaan maaf yang sangat tidak berprikemanusiaan.


"Kita tuntut mereka!" tekannya.


bersambung.


next?