
"Aku tak butuh maaf darimu," sahut Diana lirih.
"Nak ...."
"Cukup ... memanggilmu dengan sebutan ayah saja, aku masih berat!" tekan gadis itu.
"Tak usah sok peduli dan sok akrab denganku. Kau sudah memilih dulu, kan?" lanjutnya dengan suara bergetar.
Adam terdiam. Ya, dulu ia sudah memilih meninggalkan anak dan istrinya demi perempuan muda yang hanya ingin hartanya saja. Ia membuang cinta dan berlian indah dan menggantinya dengan batu biasa.
"Aku sudah memberimu pengobatan terbaik, karena kemanusiaan. Tak, mungkin aku ambil alih perusahaan mu, tapi kau kuabaikan begitu
saja," jelasnya.
"Jangan khawatir, aku tetap memegang janjiku. Akan mengembalikan semua perusahaan ini padamu ketika kau sembuh," ujarnya lagi.
"Diana Cloum!" tegur Adam.
"Diana Lambert! Aku seorang Lambert!' tekan gadis itu.
"Jaga batasan anda Tuan Scout!" teriaknya lagi.
"Sekarang anda bisa keluar sebelum anda benar-benar tak pernah bisa masuk ke sini!" usir gadis itu.
Tubuh Adam bergetar. Ia menatap begitu dalam kebencian putrinya itu pada dirinya. Kesakitan seorang anak perempuan yang dulu sangat menyayangi ayahnya yang menjadikan ayahnya adalah pria cinta pertamanya.
"Pergi ... aku mohon pergilah! Dan jangan buat aku malu tiga bulan lagi menjadi pengiringku! Hanya itu satu-satunya penghormatanku padamu!"
Buliran bening menetes di pipi pria itu. Diana memalingkan wajahnya. Dengan langkah bergetar ia pun keluar.
"Terima kasih, Nak ... terima kasih telah peduli dan memberi penghormatan pada pria tua ini untuk mengiringmu ke altar pernikahan nanti," ujarnya tergugu.
Adam pun berjalan sambil meraba dadanya yang begitu perih. Ia harus berpegangan dinding untuk menekan semua rasa sakit yang ada. Sedang Diana, merosot di lantai, gadis itu menekuk lutut dan menundukkan kepala lalu menangis tertahan.
"Kau tak tau, ayah ... apa yang Mama lewati ketika kau meninggalkan kami. Mama berjuang, menjadi asisten rumah tangga. Kami harus bertahan makan satu keping roti yang dibagi empat agar cukup hingga malam hari. Mama, harus juga berjuang melawan penyakitnya," gumamnya lirih.
Grep! Seseorang memeluknya. Hangat. Diana tak peduli siapa. Ia menumpahkan tangisnya. ketika ia menatap, pria tua itu yang memeluknya, ayahnya. Adam menghapus air matanya.
"Aku tak peduli, bagaimana kau membenciku setelah ini. Ayah hanya menyesal melewati semuanya. Benar-benar menyesal, Nak!" ujarnya sungguh-sungguh.
Diana menangis dan memeluk tubuh kurus ayahnya. Veronica yang baru saja kembali dari sebuah proyek amal, tersenyum melihat keduanya berpelukan, ia pun menghampiri.
"Aku bahagia, jika seperti ini," ujarnya lalu memeluk keduanya.
Adam pun ikut menangis.
"Maafkan aku ... huuu ... maafkan aku!"
Veronica meminta keduanya bangkit. Wanita itu mengusap mata basah putrinya.
"Sayang, jangan bersedih lagi. Sebentar lagi adalah hari pernikahan mu. Kau harus bahagia, Nak," ujarnya.
Adam juga mengusap rambut Diana. Ia mengecup kening anak gadisnya, setelah sekian lama ia tak lakukan itu. Diana menikmati kecupan ayahnya.
"Terima kasih dan maaf ... aku tak bisa mengatakan apa pun selain kata itu," kata Adam.
"Andai ayah tidak memelukku, aku tak akan memaafkan ayah!" sahut gadis itu mencebik.
"Sayang," rajuk Cloum.
Diana hanya terkekeh. Ia masih mencintai ayahnya. Sosok pria itu masih cinta pertamanya. Ia pun memeluk ayahnya, manja. Pria itu bahagia sekali. Ia benar-benar menyesal membuang cinta putrinya dulu, karena tak sabar menunggu kesehatan istrinya. Ia berpaling pada sepupu istrinya, yang lebih menggoda dan mampu melayaninya, walau ternyata perempuan yang memberinya kepuasan itu mengkhianati dirinya.
"Kalau begitu, aku siapkan makan siang dulu," ujar Veronica tersenyum.
"Ayah juga mau ke kamar dulu," ujar Adam.
Keduanya meninggalkan Diana. Gadis itu menatap dua manusia yang pernah menjalin hubungan itu tampak kikuk ketika sampai di pintu.
Akhirnya Veronica pun lebih dulu keluar, baru disusul oleh Adam.
Sedang pria itu menatap tubuh wanita yang dulu pernah hidup bersamanya. Bagaimana, ia berjuang mendapatkan cinta Veronica. Dulu, wanita itu adalah sosok gadis idaman semua pria.
'Aku memang pria bodoh. Aku begitu sulit mendapatkannya. Begitu dapat, aku malah menyia-nyiakannya,' gumamnya lirih.
Merasa diperhatikan. Veronica menoleh pada Adam. Pria itu terkejut karena ketahuan tengah mengamati wanita cantik itu.
"Ada apa?" tanya Veronica.
Veronica tersenyum. Wanita itu pun kini mengamati penampilan pria yang sangat ia cintai dulu. Lusuh, tak terurus dan kurus. Walau garis ketampanan masih tercetak di sana. Ketika dua netra saling bertatapan.
Degup jantung keduanya tiba-tiba beriringan dan berdetak lebih cepat dari biasanya. Adam menggeleng pelan. Veronica mengernyit.
"Ada apa?" tanyanya.
"Tidak ...," jawab pria itu.
"Hei, jangan seperti itu! Kau tau, aku paling tak suka dengan jawaban itu!' sanggah wanita itu.
"Tadinya, sempat berpikir untuk melamarmu kembali. Tapi, melihatmu sudah bahagia seperti ini. Aku pun tak mau merusaknya," jelas pria itu.
Veronica terdiam mendengar jawaban Adam.
"Sudah, jangan kau pikirkan. Sekarang kita harus fokus pada pernikahan putrimu,"
"Putri kita!" ralat Veronica.
"Ah, iya ... maaf. Lagi-lagi, aku merasa tak pantas menjadi ayahnya," sahut Adam tertawa hambar.
"Adam Cloum!"
pria itu menatap wanita yang memanggilnya, hanya sebentar, lalu ia memalingkan mukanya.
"Tatap aku," pinta wanita itu.
Adam menatap wanita itu. Veronica mendekat. Ia menakup pipi tirus sang mantan dengan dua tangannya. Lalu.
Cup!
Bibir berlapis lipstik nude, mengecup lembut bibir tipis Adam. Pria itu membalas kecupan itu. Lambat laun, ciuman itu berubah menjadi pagutan. Hingga kedua tubuh itu makin merapat dan ciuman makin menuntut.
Hingga ketika napas keduanya terasa mau habis. Barulah tautan bibir itu terlepas. Kedua kening saling menempel, napas saling memburu. Veronica mengalungkan lengannya di leher sang suami.
"Veronica," panggil Adam dengan suara berat.
"Adam," sahut wanita itu.
"Kenapa kau menciumku?" tanya Adam.
"Karena aku ingin," jawab Veronica.
"Lalu kenapa kau membalas ciumanku?" tanyanya.
"Bibirmu masih sama rasanya ketika pertama kali aku menciummu. Dan aku begitu bodoh yang menukar semua ini pada bibir palsu," jawabnya dengan nada menyesal.
Veronica kembali mencium bibir pria itu. Keduanya pun kembali berciuman panas.
Diana yang turun dari kamarnya. Melihat kedua orang tuanya berciuman tersenyum. Gadis itu membiarkan keduanya. Ia memilih kembali ke atas.
"Ku kira, Mama masak. Jadi turun mau bantu ... eh .. nggak taunya," selorohnya.
"Sayang, hentikan," pinta Adam. "Aku takut tak mampu membendungnya."
Napas keduanya menderu. Veronica masih mencintai pria yang pernah membuat dirinya terluka itu. Ia memejamkan mata untuk menetralkan diri.
"Kau juga belum masak," ingat pria itu.
"Kalau kita pesan saja?" Adam mengangguk.
Pria itu memesan makanan kesukaan putrinya. Veronica tak melepas pelukannya pada tubuh kurus mantan suaminya.
"Sayang, jika begini terus. Aku akan menikahimu kembali," ujar Adam.
"Ayo, sayang. Ayo kita menikah lagi," ajak Veronica yakin.
"Kau serius?" tanya pria itu.
Veronica mengangguk pasti. Wanita itu kembali mencium bibir sang suami. Adam tak peduli, ia membawa mantan istrinya itu ke kamarnya. Veronica pun tak keberatan sama sekali, karena ia juga sangat menginginkannya.
bersambung.
Hem ... namanya juga bule ... yaa boleh dah ...
next?