
"Mira!" panggil Luien.
Wanita itu tersenyum lebar saat gadis itu langsung memeluknya.
"Aku kangen," rengek gadis itu.
"Kau sibuk sekali, sampai aku tak mengenalimu lagi," sindir wanita renta itu.
"Mira," rengek Luien.
"Hei, menjauh dari mommyku!" sentak Frank.
"Ih ... enak aja, siapa yang mau jadikan kau anak," ledek Luien.
"Ada! Buktinya Mommy, mau jadikan aku anaknya!" sahut Frank sengit.
"Hei, kenapa kalian ribut! Kalian adalah anak-anakku!" ujar Mira menengahi.
Keduanya hanya saling menjulurkan lidah meledek. Mira, gemas dan menjewer kedua telinga mereka.
"Aduh ... sakit Mommy!" rengek Frank manja.
Luien cemberut. Mira terkekeh. Lalu wanita itu mencium kening gadis itu.
"Aku masuk dulu ya, sama putraku," pamitnya.
Luien mengangguk. Mira masuk bersama Frank. Dalam kamar, wanita itu meletakkan amplop coklat di atas meja. Melihat itu Frank mengernyitkan keningnya.
"Apa ini Mom?" tanyanya.
"Oh ... tadi ada orang baik hati memberiku uang yang banyak dan mengembalikan kalungku," jawab wanita itu sambil mengelus kalung kesayangannya.
Frank memeluk wanita yang mengangkatnya jadi anak itu, erat.
"Mestinya aku yang mengembalikan kalung itu," ujarnya.
"Sudah sayang, Tuhan, sudah mengembalikannya," sahut Mira tersenyum.
Frank sangat terharu, ia baru mendapat orang sebaik Armira. Kini, ia belajar sesuatu, semua perbuatan pasti akan berimbas dengan pembuatnya.
'Aku harus berbuat baik," gumamnya dalam hati.
"Mira, kita pindah yuk dari sini!," ajaknya.
Mira menatap pria muda di depannya. Ia menggeleng, pelan.
"Kenangan ku banyak di sini. Tetanggaku juga sudah bagian dari keluarga begitu juga pemilik apartemen ini," sahut wanita itu.
Frank diam. Memang, ia merasakan betapa Chen begitu murah hati. Tadi, ia membayar uang sewa untuk Mira dengan menukar uang sewa unitnya ke unit ibu angkatnya.
"Aku sudah menjadi anak dari Armira, Tuan. Apa bisa uang sewa ku yang sisa empat bulan, kau ambil untuk membayar sewa unit milik Ibuku, Armira?" tanyanya beberapa jam lalu.
"Tentu saja, Frank. Selamat ya, kau sudah menjadi bagian Armira. Tolong bahagiakan dia di sisa umurnya. Berpuluh-puluh tahun ia menanti putranya yang entah ke mana. Wanita itu setia menanti surat yang tak kunjung datang," jelas Chen.
Frank kini menatap wanita itu yang tengah mengambil bahan makanan. Ia pun mendatanginya.
"Aku bantu, ya Mom," ujarnya.
Mira menatapnya dengan senyuman indah, lalu mengangguk. Keduanya kini saling disibukkan dengan memasak.
Sedang Luien kini bersiap menuju mansionnya. Ia memakai baju yang biasa ia pakai. Setengah gembel.
Gadis itu pun keluar unitnya dan menuju basemen. Melalui lift, ia pun sampai dalam lima belas menit. Tak lama, sedan mewah itu meluncur meninggalkan gedung sederhana itu.
Ketika dalam perjalanan, tiba-tiba ponselnya berdering. Nama, Tuan Alex muncul di layar. Gadis itu menggeser bulat hijau ke atas.
"Halo!"
"Luien, mau kah kau datang ke mansion ku?" pinta Alex..
"Di mana alamatnya?" tanya gadis itu.
Luien sengaja mengaktifkan pengeras suara.
"Di jalan xxx!"
"Oke, aku ke sana!" sahut Luien.
"Memang kau di mana?" tanya pria itu di seberang telepon.
"Aku sedang di jalan, tadinya mau ke mansion orang tuaku," jawab Luien..
"Baiklah kalau begitu, hati-hati di jalan, sayang. Love you!"
"Love you too," sahut Luien.
Sambungan pun terputus. Luein pun masuk jalan bebas hambatan agar memperpendek jarak.
Butuh waktu tiga puluh lima menit untuk sampai mansion atasan sekaligus kekasihnya itu.
Hamparan tanah berumput sintetik membentang luas. Luien mengira jika ada lapangan golf juga, terlihat dari pemandangan di belakang mansion yang berbukit.
Gadis itu pun berhenti di halaman dan memarkirkan mobilnya. Luien ke luar mobilnya. Di sana ia melihat beberapa mobil mewah berjejer rapi, di sana ada Limousine yang ia kenali sebagai mobil Tiana. Lalu beberapa mobil sport dengan berbagai tipe dan merk ternama. Memperlihatkan betapa kayanya pemilik mansion itu.
Gadis itu berjalan santai. Penampilannya sangat berbanding jauh dengan bangunan yang ia sambangi. Bagaikan bumi dan langit.
Luien mengetuk pintu dengan alat seperti tapal kuda. Pintu terbuka lebar. Tadinya beberapa maid hendak menunduk, tetapi melihat penampilan tamu yang datang, mereka urung melakukannya.
"Maaf, anda siapa?" tanya kepala pelayan.
"Saya Luien ... saya ...."
"Oh, apa anda pelayan baru yang ingin bekerja di sini?" potong kepala pelayan itu.
Luien terbengong. Ia menggeleng pelan.
"Saya ingin bertemu dengan Tuan Alexander Maxwell," sahutnya.
"Ck ... ada lagi gadis gembel nyariin tuan muda tampan kita. nggak ngaca!" sindir salah satu pelayan.
Semua menatapnya jijik. Lalu Luien melihat tampilannya. Tiba-tiba ia memiliki ide yang sangat cemerlang. Gadis itu melenggang masuk ke dalam.
"Hei-hei ... kamu mau kemana?" sentak kepala pelayan yang begitu menor.
Seragam hitam putihnya begitu ketat, roknya juga sangat pendek, tubuhnya sedikit gemuk.
"Mau masuk," ujar Luien.
"Sembarang sekali gembel seperti kamu mau masuk istana Tuan kami!" hardik salah satu pelayan dengan muka garang.
"Muka sih cantik, tetapi apa gunanya kalau miskin!" hina salah satunya lagi.
Sedang tiga sosok pria tampan nampak mengepal tangan kuat-kuat. Mereka geram melihat Luien dihina sedemikian rupa. Tania yang mengenal Luien juga sangat menyayangkan penampilan gadis itu.
Tuan besar Maxwell mengerutkan keningnya melihat penampilan Luien. Untuk pertama kalinya ia melihat gadis berpenampilan nyaris seperti gembel. Padahal, ia begitu banyak melihat gadis-gadis miskin. Tetapi tidak ada satu pun yang berpenampilan cuek seperti gadis itu.
"Ada apa ini!" serunya menghentikan suasana ricuh.
Semua terdiam. Alex, Adrian, dan Vic mengikuti ayah mereka. Tania pun kini berdiri di sisi suaminya. Luien menatap pria yang mirip sekali dengan Alex, kekasihnya. Iris hazel pria itu menatap lekat netra abu-abu Luien.
"Tuan, wanita ini tidak waras, karena main masuk saja!" lapor kepala pelayan.
Wanita itu memasang wajah nyinyir pada Luien. Semua pelayan memandang hina gadis yang berdiri di hadapan tuan mereka.
"Siapa kau?' tanya Maxwell.
"Untuk apa Tuan bertanya. Biar sekurity mengusirnya!" ujar kepala pelayan.
"Rebecca!' sentak Alex tak suka. "Siapa Tuan di sini!"
Rebecca terdiam. Ia langsung menunduk kepala dalam-dalam. Luien hanya menghela napas panjang.
"Aku tanya sekali lagi. Siapa dirimu?" tanya Maxwell.
"Saya adalah Luiena Elizabeth Philips," jawab gadis itu.
Tiba-tiba salah satu pelayan nyaris terbahak mendengar nama besar itu.
"Ada apa kau tertawa, apa ada yang lucu?" tanya Maxwell datar.
"Ti-tidak Tu-tuan besar!" cicitnya ketakutan.
"Jadi kau adalah putri dari Lazuard Deon Philips dan Ludwina Thompson?" Luien mengangguk.
Terdengar dengkusan keras dari mulut pria itu. Ia begitu kesal dengan gadis yang tidak bisa menjaga nama baik keluarganya.
"Sayang, kau adalah seorang Philips. Kenapa pakaianmu seperti ini?" keluhnya protes.
Kini semua pembantu bermuka pucat. Ternyata gadis yang baru saja mereka hina adalah seorang putri bangsawan ternama.
Philips masih memiliki kerabat dengan Ratu Victoria dari negara sebelah. Kerajaan besar, tanpa putra mahkota. Di sinyalir Lazuard Deon Philips akan menggantikan posisi tahta menjadi Raja. Berita itu sudah tersebar di seluruh penjuru benua bahkan dunia.
"Aku hanya ingin membuka topeng semua orang, Tuan Maxwell," sahut Luien melirik tajam ke semua maid yang kini berdiri ketakutan.
"Adrian!" panggil pria itu.
"Kalian semua dipecat!" sentak Adrian tanpa basa-basi.
Kini bahu mereka semua turun. Tak ada yang bisa mengangkat kepala. Mestinya, tadi mereka menahan diri. mereka dititah untuk melayani tamu yang datang. Tak menyangka jika tamu mereka menyamar.
bersambung.
sukuuurin!
next?