THE REAL PRINCES

THE REAL PRINCES
THE REAL PRINCESS 2



"Hai sayang," sapa Deon turun dari tangga.


Pria itu tampan sekali, mengenakan baju kaos sedikit ketat dan celana pendek selutut. Rambutnya basah. Ia mengenakan jam rolex-nya. Sepatu kets warna senada dengan kaosnya.


"Mam, Daddy mau kemana, tampan sekali?" ucap Luien penasaran.


"Nggak tau, Daddy-mu nggak bilang-bilang," jawab Wina juga begitu terpesona dengan penampilan.


"Dadada ... elyu oin?" tanya Rico.


"Mam, Papa nggak punya simpanan baru kan?"


Pletak!


"Aduh!" Luien mengaduh.


"Jangan sembarangan kamu!" sungut Deon protes.


Wina menatap suaminya. Deon sangat kesal dengan perkataan putrinya yang tak disaring itu.


"Sayang, jangan kau dengarkan perkataan gila dari putrimu. Aku tak memiliki yang lain, hanya kamu," ungkap Deon jujur.


Wina hanya tersenyum, lalu tangannya mengusap rahang sang suami dan mengecup bibirnya. Deon langsung menyambarnya.


"Ayo kita tinggalkan mereka, Rico," ajak Luien meninggalkan kedua orang tuanya.


Deon melepas tautannya. Pria itu memang tak akan bisa berpaling dari wanita ini. Selain memang ia tak suka dengan


affair. Selain itu, pria itu tak suka wanita lain selain istrinya.


"Kau mau kemana rapi sekali?" tanya Wina sedikit cemburu.


"Tadinya mau minum teh dengan beberapa kolega. Tetapi melihatmu cemburu, aku tak jadi," jawab pria itu.


"Jangan seperti itu, jika penting lebih baik kau pergi," sahut Wina.


"Kau yakin, kau tau kolegaku bernama Nona Laura Brigestone," sahut Deon.


"Oh, wanita cantik, seksi dan pintar itu?" Deon mengangguk.


"Ya, silahkan saja," lanjut Wina mempersilahkan.


Wanita itu pun melepas pelukan suaminya. Tetapi, Deon menggendong istrinya ala pengantin. Wina sampai terpekik. Pria itu membawa istrinya ke kamar.


Di sana Deon membaringkan secara perlahan sang istri ke tempat tidur. Membelai perut wanita itu yang sudah membuncit itu.


"Jika memang aku tertarik dengan wanita itu dari dulu aku mengejarnya," sahut Deon.


Pria itu bergerak di atas Wina. Wanita itu mendesah. Tak lama keduanya pun saling mencumbu dan melakukan pengukuran. Deon memasuki istrinya dengan perlahan dan penuh kelembutan.


Sedang Luien kini bermain dengan Rico. Gadis itu mengajari ya berbicara dan mengenal huruf juga angka. Lalu keduanya pun tertidur karena lelah bermain.


Sedang di negara lain. Sosok cantik berbalut busana seksi yang ditutupi oleh mantel tebal. Wajahnya penuh dengan riasan. Terlihat dari semua benda yang ia pakai memiliki kualitas terbaik dan juga merupakan rancangan ternama. Alicia Bolton, dua puluh lima tahun.


Delapan pengawal berlari mengelilinginya, walau tak ada satu pun yang ingin menarik perhatian dari gadis sombong itu. Dagu terangkat, gadis itu baru saja ingin pergi ke sebuah klub malam berpesta dengan teman-teman sosialitanya.


"Aku ingin pergi dengan mobil Limosin," titahnya.


Mobil Maybach yang sudah tersedia terpaksa menyingkir dan digantikan oleh mobil yang ia inginkan.


Setelah itu pengawal membuka pintu untuknya. Ia pun masuk.


"Alejandro, kau ikut denganku. Yang lain ikuti saja mobil ini!" titahnya lagi.


Pria yang bernama Alejandro pun masuk mobil bersama nona mereka.


Setelah pintu itu tertutup. Gadis itu membuka mantelnya. Kakinya ia naikkan di atas paha pengawal yang tadi dipinta untuk menemaninya.


Alejandro paham dengan apa yang diinginkan nona mudanya. Tak lama, mulut wanita itu pun memejamkan mata menikmati. Mulutnya terbuka lebar dan sesekali mengigit bibir bawahnya.


"Harder please!" pintanya memohon.


Alejandro melakukan apa yang dipinta oleh nona mudanya. Bahkan pria itu juga sangat menikmati apa yang dia lakukan sekarang. Hingga terdengar lah suara-suara aneh keluar dari mulut Alicia.


"Nona, kita sudah sampai!" sahut supir memberi tahu.


Alicia merapikan tampilannya, begitu juga dengan pria penjagaannya. Wanita itu turun dengan anggun. Baju ketatnya begitu mengundang tontonan semua orang terutama kaum Adam.


"Ruangannya sudah siap, Nona!"


Alicia pun. melangkahkan kakinya. Sebuah pesta dengan tema "Naked party" sedang berlangsung di sebuah ruang VVIP paling atas dengan kelas paling mewah. Ia yang mengadakan pesta itu.


Dengan menggunakan lift khusus wanita itu pun naik dan sampai dalam waktu kurang dari lima menit.


"Kalian berjaga di luar. Jangan masuk kecuali ada gempa atau hal lainnya!"


Pintu terbuka, terdengar suara hingar-bingar dan pekikan kenikmatan di dalam. Alicia pun masuk dan pintu lalu tertutup.


Dengan tertutupnya pintu. Suara berisik tak terdengar lagi, karena memang ruangan itu kedap suara.


"Alicia!" panggil teman-temannya.


Hei ... are you enjoy the party?" tanya wanita itu dengan senyum lebar.


"Kau curang. Kenapa kau tidak melepas gaunmu sayang?" ujar salah satu teman yang sudah bugil.


Semuanya berjenis kelamin perempuan. Alicia pun menarik resletingnya. Lalu terpampang lah dada silikon miliknya. Lalu tubuhnya meliuk-liuk mengikuti musik.


Sedang di tempat lain. Luien kini tengah menyambangi beberapa panti asuhan yang diurus beberapa gereja. Ia pun larut dalam tawa anak-anak yatim.


Bahkan ia juga menyambangi sebuah yayasan penyitas kanker yang juga diderita oleh anak-anak. Luien berbagi semangat dan menjadi motivator untuk mereka.


"Nona, ada salah satu anak yang tengah koma. Apa, anda ingin mengunjunginya?" tanya salah satu perawat yang mengurusi mereka.


"Oh boleh," ujar Luien.


Suster itu mengantar nona muda nan cantik. Kini, gadis itu mengenakan dress mini warna pink. Rambutnya yang bergelombang ia gerai dan dihiasi bandana telinga kelinci lucu. Luien mengenakan riasan kelinci.


Kepalanya sengaja menyembul di antara tirai penghalang. Sosok gadis kecil yang sedang sesak napas walau dengan bantuan oksigen. Gadis kecil itu tersenyum ketika melihat riasan lucu Luien.


Tangannya menjulur, sedang kedua orang tua bocah perempuan itu sibuk menghapus air matanya.


"Hai, sweety," sapa Luien dengan suara lucu.


Gadis kecil itu terkikik geli.


"Kenapa, gadis secantik dirimu berdandan seperti ini?" kekehnya.


"Untuk menyenangkan dirimu," jawab Luien sambil mengedipkan matanya.


Lagi-lagi terdengar suara tawa renyah keluar dari mulut gadis kecil itu. Semua tertawa. Sudah tiga minggu ini, mereka hanya mendengar suara rintihan kesakitan.


"Terima kasih my rabbit cantik," ujarnya tersenyum.


Lalu terdengar suara monitor menandakan garis lurus. Semua dokter pun melakukan tindakan. Luien diminta menyingkir.


"Nona Louisa Gilbert telah meninggal dunia," sahut dokter dan langsung ditanggapi tangisan seluruh keluarga.


Luien terdiam. Tubuhnya kaku mendadak. Ken, yang kini mengikuti kemana gadis itu pergi langsung membawa nonanya dari sana.


Masih terlihat jelas senyum manis Louisa walau matanya terpejam. Gadis kecil itu pergi tanpa teriakan kesakitan.


"Ken ... apa ... apa aku membunuhnya?" tanya Luien tergagap.


"Tidak, Nona. Kau malah mencabut semua rasa sakitnya," jawab Ken.


Mereka pun menuju lapangan parkir. Sepasang mata memandang tajam sosok gadis yang kini dipegangi oleh pria tampan.


Ken sangat sadar ada yang memperhatikan dirinya juga nona mudanya. Ia menyungging seringai sadis.


"Kau ingin mengganggu nonaku?" gumamnya. "Langkahi dulu mayatku! Itu pun kalau kau mampu!"


bersambung.


next?