
Hari berlalu. Sosok gadis menatap dirinya di cermin. Hari ini adalah hari pernikahan dirinya. Ia baru saja selesai dirias oleh make up artis.
"Anda cantik sekali, Nona," puji sang perias.
Gloria memang sangat cantik. Kulitnya yang bersih tanpa cela, rambut kemerahan yang disanggul asal. Leher jenjang dengan tulang selangka yang sangat indah.
"Sayang, apa sudah selesai?" sebuah suara menyeruak.
Sosok pria paruh baya datang. Ia mengenakan ta
tuxedo mahal warna hitam pekat. Ia tersenyum ketika melihat kecantikan anak gadisnya.
Luien dan Diana menjadi pengiring pengantin wanita. Mereka mengenakan gaun warna hijau tanpa lengan. Perut Diana sedikit membuncit. Gloria langsung mengusap dan mengecup perut mantan rivalnya itu.
"Ah, kenapa aku sudah tak sabar melihatnya di luar ya?" ujar Gloria gemas.
Diana dan Luien terkekeh. Luien juga ingin sekali melihat bayi dalam perut sahabatnya itu.
"Sabar lah. Masih tujuh bulan lagi," jawab Diana.
Wanita itu mengalami ngidam yang tak begitu berarti. Ia hanya mual di pagi hari sudah itu biasa lagi.
"Ayo, kita turun!" ajak Ageele.
Mereka pun turun mengenakan lift. Ketika di lantai satu. Samantha menatap sendu putrinya. Ia menciumi wajah Gloria.
"Ah, putriku akan menikah," ujarnya haru.
Gloria memeluk sang ibu. Ia juga sangat bahagia dan haru bersamaan.
"Ayo, jangan rusak riasannya!" tegur Ageele.
Samantha mencebik kesal. Gloria terkekeh dengan sudut mata menggenang. Mereka pun berjalan ke halaman mansion. Luein, Diana dan Gloria satu mobil. Sedang Ageele dan istrinya beda mobil. Kedua mobil mewah bersama mobil-mobil pengawal pun bergerak menuju gereja yang tak jauh dari tempat tinggal mereka.
Butuh waktu dua puluh menit mereka sampai lokasi. Banyak mobil mewah berjejer terlebih banyaknya pengawalan ketat dengan tanda kerajaan. Raja Deon Philips ada di sana bersama istri dan dua putranya. Bahkan Ken juga ada bersama istrinya.
Victor sudah berdiri di altar. Pria itu menanti datangnya mempelai wanita. Gloria turun bersama ayahnya. Dua pasang anak kecil menabur bunga di depan. Sedang Luien dan Diana juga menabur bunga di belakang.
"Aku serahkan putriku untuk kau nikahi dan kau sayangi!" ujar Ageele dengan suara tercekat.
"Saya terima putri anda dan saya akan mencintainya seumur hidup saya," janji Vic.
Pria itu mengamit tangan gadis yang menunduk. Kepala Gloria ditutupi layer tipis dengan taburan Swarovski. Kecantikan gadis itu tersembunyi.
"Pada pengantin dan hadirin sekalian. Di hadapan Tuhan kita akan mengikat janji setia dua insan yang jatuh cinta dalam mahligai rumah tangga ...."
Pendeta mengawali acara dengan kidung dan ayat-ayat Alkitab. Semua diam dan mengikuti acara dengan khidmat. Gereja tiba-tiba penuh sesak. Mereka hanya ingin menyaksikan sosok raja yang pernah menjadi bagian dari kota ini.
"Pada sosok bernama suami. Silahkan kau mengucap sumpahmu!" titah pendeta.
Vic mengucap janji dan sumpahnya dihadapan pendeta. Lalu bergantian dengan Gloria.
"Sekarang sematkan cincinnya!" titah pendeta lagi.
Alex memberi cincin pada Vic. Pria itu menyematkan pada jari manis. Begitu juga Gloria.
"Sekarang cium istrimu, kalian sah menjadi suami istri. Apa yang telah dipersatukan Tuhan tak boleh dipisahkan manusia!"
Vic langsung membuka layer yang menutupi wajah istrinya. Dengan cepat ia menyambar bibir Gloria. Semua bertepuk tangan meriah. Keduanya pun menghentikan ciuman mereka.
Pengantin pun menaiki mobil mereka, menuju gedung mewah tempat resepsi diadakan.
Ruangan mewah dan elegan tersaji bagi mata yang memandangnya. Leo menatap ballroom hotel yang disulap menjadi tempat resepsi yang mahal. Pria itu tertawa miris. Sungguh, ia tak akan sanggup menyajikan kemewahan untuk Gloria jika gadis itu jadi miliknya.
"Aku memang tak pantas untuknya," ujarnya penuh penyesalan.
Pria itu mengingat beberapa hari lalu. Pertemuannya dengan Gloria dan juga suaminya. Gadis itu makin cantik dan begitu dewasa. Ia tak begitu tahu tentang masalah penculikan yang terjadi pada diri Gloria. Leo hanya tau jika ada gadis yang hendak diculik oleh seorang mafia dan berhasil digagalkan. Pria itu tak tau jika korbannya adalah mantan pacarnya itu.
Leo menatap arah pelaminan. Sepasang mempelai tampak bersalaman dengan ayah dan ibu Luien. Banyak penjaga di sana. Mereka juga melakukan sesi foto bersama. Leo miris, keangkuhan keluarganya membuat ia menunduk malu sekarang.
Pria itu harus antri. Banyak para pebisnis handal hadir. Maxwell bersaudara juga ada di sana. Leo mengenali Diana yang berdiri bersama Adrian Sosok pebisnis muda yang begitu banyak dibicarakan.
"Ck ... aku benar-benar kerdil," gumamnya rendah diri.
Keluarga kerajaan sudah turun dari pelaminan. Banyak penjaga yang mengurai masa yang begitu antusias. Beberapa pengusaha tampak berusaha mendekati raja Lazuard Deon Philips. Mereka meneriaki nama pria itu.
Sayang, banyaknya penjaga membuat semuanya kesulitan untuk bersalaman dengan pria itu.
"Ck ... lama sekali!" dumalnya pelan.
Banyaknya orang yang bersalaman adalah orang-orang penting. Maka banyak pula yang melakukan sesi foto bersama. Terlebih ada Luien di sana.
Leo menyalami Ageele dan Samantha terlebih dahulu. Lalu ia menyalami Vic, kemudian ketika di hadapan Gloria. Ia merogoh sakunya. Sebuah kotak dengan bungkus warna merah dengan pita hijau sebagai hiasannya.
"Selamat, maaf hanya hadiah kecil," ujar Leo memberikan kotak itu pada sang pengantin yang sangat cantik hari ini.
"Terima kasih, jangan repot-repot," ujar Gloria dengan senyum indah.
"Ehem!" Vic berdehem.
Pria itu tak suka jika ada pria lain yang menatap istrinya dengan pandangan memuja. Leo menormalkan pandangannya. Ia bersalaman dengan Luien dan Diana. Pria itu juga menatap sedikit lama pada mantan kekasih yang dulu ia campakkan karena tergoda akan rayuan Gloria.
"Hai!" sapanya.
Luien hanya tersenyum menanggapi. Ia menyambut uluran tangan Leo begitu juga Diana. Pria itu turun dengan hati yang hancur.
Dengan langkah gontai. Leo meninggalkan gedung. Tak ada napsu lagi untuk mencicipi makanan mewah yang dihidangkan untuk para tamu.
Pria itu menaiki mobilnya setelah petugas valet memberikan kunci. Perlahan kendaraan mewah itu meninggalkan gedung tinggi menjulang.
Leo menatap gedung yang baru saja ia tinggalkan dari kaca spion samping mobilnya.
"Semoga kalian berbahagia!" harapnya lirih.
Pesta terus berlangsung hingga dua jam. Perlahan mulai sepi. Sepasang pengantin kini sudah ada di kamar mereka yang dihias begitu indah.
Vic menggendong istrinya sambil memagut bibir Gloria. Dengan menggunakan kaki, ia menutup pintu dan langsung terkunci otomatis.
Masih saling memagut. Tampaknya dua insan itu tak sabar memulai momen di mana keduanya menyatukan tubuh mereka.
Napas keduanya menderu. Peluh bercucuran. Vic benar-benar mengambil sesuatu yang ia sendiri kaget. Gloria masih suci. Gadis itu terpekik kesakitan karena Vic menerobos langsung.
"Sayang," panggil pria itu dengan tatapan memuja.
Gloria menitik air mata haru. Ia sudah menyerahkan harta satu-satunya yang ia miliki pada suaminya sendiri.
Pagi menjelang. Vic masih tidur dengan memeluk perut telanjang Gloria. Tubuh gadis yang telah menjadi wanita itu terasa remuk. Suaminya benar-benar membuatnya melakukan pelepasan berkali-kali.
Rona merah menguar di pipi Gloria. Ia membelai wajah tampan suaminya. Lalu mengecup bibir pria itu. Vic langsung memagutnya. Decapan dari dua mulut terdengar nyaring.
"Kau membuatku terangsang lagi, sayang," ujar pria itu dengan suara serak.
Mereka kembali bergumul. Dua ronde mereka habiskan di tempat tidur. Gloria kini kelaparan. Wanita itu membangkitkan diri ke kamar mandi. Dengan susah payah dan **** ***** yang masih perih dan sakit. Ia merendamkan tubuhnya di bathtub. Vic menyusul. Tak ada kegiatan apa-apa kecuali mandi.
"Aku duluan ya," ujar Gloria ditanggapi anggukan oleh Vic.
Wanita itu pun keluar dengan bathrope warna pink. Ia menuju lemari dan memakai semua bajunya. Semua hadiah ada di pojok ruangan. Sebuah bungkusan warna merah dengan pita hijau. Wanita itu ingat dari siapa hadiah itu. Penasaran, Gloria mengambil dan membukanya.
"Kalung?"
Wanita itu menghela napas panjang. Ia sangat ingat akan kalung yang dulu sangat ia inginkan. Leo tak sempat membelikannya karena selalu bertengkar dengan wanita itu dan berakhir putus.
"Kalungnya bagus sekali," ujar Vic memeluk istrinya dari belakang.
Gloria menyimpan benda itu dan meletakkan lagi di atas hadiah yang lain.
"Kenapa tak kau pakai? Itu sepertinya mahal?"
"Untuk apa. Kalung ini lebih bagus dan mahal," ujar Gloria sambil menyentuh kalung pemberian suaminya.
Vic tersenyum. Ia pun mencium singkat bibir sang istri.
"Ayo kita sarapan, sebelum aku mati kelaparan!" ajaknya.
Gloria terkekeh. Keduanya pun keluar dari kamar mereka menuju sebuah restauran di mana semuanya sudah menunggu sepasang pengantin datang.
bersambung.
selamat Gloria
next?