
Luien telah membuat sebuah program kesetaraan sosial. Gadis itu telah membuat riset. Riset yang membuat nilai akademiknya menjadi yang terbaik. Gadis itu juga memberi solusi untuk risetnya. Selama ini orang-orang menghina hanya karena pakaian mereka. Luien pun membuat even untuk mematahkan hal itu. Ia akan meminta persetujuan pada perdana menteri bidang pemberdayaan masyarakat.
"Siapa kau?” tanya pria ketika gadis itu datang menghadap.
“Hei ... siapa yang membiarkan gadis miskin ini masuk!” sergah pria itu memandang hina Luien.
Lagi-lagi pakaian membuatnya dihina lagi. Deon memang belum mengumumkan dirinya sebagai putri raja. Luien pun tak mempermasalahkan hal itu.
Beberapa petugas keamanan masuk. Luein melihat logo yang tercetak jelas “we serve you!”.
“Apa anda tidak membaca logo di atas itu, Sir?” tanya Luien santai.
Pria itu menoleh apa yang ditunjuk Luien. Mukanya memerah, malu. Ia pun meminta petugas keamanan untuk pergi. Dengan nada gusar, pria itu duduk kembali.
“Mau apa kau?” tanyanya malas.
“Saya hanya ingin meminta persetujuan anda, Sir. Saya ingin mengadakan even,” jelas Luien sambil menyerahkan proposalnya.
Dengan malas ia mengambil proposal itu. Tanpa minat, pria itu membuka dan membacanya. Perlahan, ekspresinya berubah. Ia pun membacanya dengan serius.
“Jelaskan apa konsepnya?” pinta pria itu.
Luien pun menjelaskan secata rinci. Pria itu mengambil pulpennya. Ia mencoret beberapa lalu, beberapa lembar ia biarkan. Satu kertas ia robek begitu saja dan dibuang. Luein menelan saliva kasar, ia teringat dengan dosen killernya. Gadis itu merasa tesis awalnya sangat sempurn-a. Tetapi pria bernama Sir Doughlas James, sama persis dengan dosennya itu. Bahkan yang dikoreksi pria itu sama.
“Tulisanmu bagus. Tapi banyak ide yang berulang dan tidak efektif!” sahut Dough menjelaskan.
Luien menjelaskan ide berulang itu, untuk para kaum minoritas yang buta aksara. Gadis itu juga menjelaskan tingkatan-tingkatan program. Doughlas mengangguk tanda mengerti.
“Memang ada masyarakat di sini yang tidak tersentuh pendidikan?” tanya pria itu tak percaya.
“Di distrik B dan D kaum lansia banyak yang belum mengenal aksara, SIr!” jawab Luien.
“Apa?” tanya Doughlas tak percaya.
“Saya mendapat laporan selama ini ....”
“Semestinya, anda harus memeriksanya sendiri, Sir,” ujar Luien lirih.
Doughlas sangat kesal dengan ucapan gadis cantik di depannya. Ia memang hanya menerima laporan saja selama ini.
“Jadi. Apa proposal saya diterima?” tanya gadis itu.
Pria itu menandatangani proposal itu. Lalu dia merogoh laci, menulis selembar cek. Setiap even yang disetujui akan mendapat subsidi dari pemerintahan.
Luien menatap lembaran cek.
Gadis itu tersenyum miring. Sungguh jumlah itu jauh dari bayangan gadis itu.
“Akan kusimpan sebagai bukti,” gumamnya dalam hati.
“Kenapa kau diam seperti itu? Apa kurang?” tanya pria itu.
“Tidak, saya hanya heran saja. Bukankah jumlah yang harus saya terima adalah 25% dari yang saya ajukan?” tanya Luien.
Doughlas terdiam, sepertinya ia berhadapan bukan dengan gadis sembarangan. Terlihat dari proposal yang diberikan oleh Luien.
“Itu sudah berubah setelah istana mengadakan inflasi besar-besaran,” jelas Doughlas.
Luien menatap pria itu dengan pandangan menyelidik. Luien sudah mendapat bukti banyak. Ia pun hendak meninggalkan ruangan besar itu. Doughlas memanggil kembali.
“Bagaimana jika kupenuhi 25% itu?” tawarnya.
“Maksudnya?” pancing Luien bertanya.
“Ya, kupenuhi dana itu hingga 25%, asal ....”
Luien memiringkan kepalanya. Doughlas tak melanjutkan perkataannya.
“Kau tentu tau. Kau kan pintar?!” ujarnya melanjutkan.
“Tidak, aku tidak mengerti!” sahut Luein tegas.
Doughlas terdiam, ia memandang gadis yang menatapnya tajam. Luein pun pergi meninggalkan pria yang berdiri mematung. Luien mendapat banyak bukti. Gadis itu melangkah dengan sangat ringan, sedangkan Doughlas kini hanya berpasrah. Penyesalan terselip dari hati pria berusia lima puluh tahun itu.
“Mestinya aku sadar ketika ia menyerahkan proposal itu. Dia bukan gadis sembarangan,” sesalnya.
Sementara di tempat lain. Alicia mendapatkan kabar jika ayahnya ditahan, gadis itu langsung mendatangi ayahnya. Sayangnya Alicia dilarang mengunjungi karena tengah dalam penyelidikan.
"Tuan, saya hanya ingin melihat ayah saya. Sebentar saja," pintanya memelas.
Petugas itu akhirnya iba dan membolehkan Alicia mengunjungi ayahnya.
"Daddy!" panggil gadis itu.
"Daddy ... kenapa Daddy di sini?" tanya gadis itu sambil terisak.
"Daddy dituduh korupsi, sayang," jawab Horton lemah.
"Apa?" Alicia tak percaya.
"Apa Daddy melakukan itu?" tanyanya kemudian.
Horton diam. Bukti sudah ditemukan. Bahkan semua transaksi yang memberatkan dirinya sudah diselidiki. Pria itu memang terlibat dalam penggelapan dana juga proyek fiktif di berbagai sektor.
"Jika begini. Apa kita akan jatuh miskin?" tanya Alicia mengurai pelukannya.
"Tidak, tapi jadi tidak sekaya dulu. Daddy ingin kau berhemat dari sekarang," pinta pria itu.
"Apa Daddy gila!" pekik gadis itu tak percaya. "Aku disuruh berhemat? Bagaimana?"
Horton terdiam. Ini memang salahnya. Ia tak mengajari putrinya. Pria itu memanjakan anak gadisnya sangat berlebihan.
"Beberapa kartumu akan diblokir sebentar lagi," Alicia menggeleng.
Perlahan ia menjauhi ayahnya. Horton memanggilnya.
"Nak ...!"
"Tidak ... itu tidak mungkin!" desis Alicia tak terima.
"Nak ... Daddy minta dukunganmu, Nak!"
"Tidak ... aku tidak mau jadi miskin ... aku tidak mau miskin!" teriak Alicia.
"Alicia!"
Horton akhirnya membentak anak gadisnya pertama kali. Pria itu begitu kesal, karena putrinya tak mau mengerti.
"Daddy jahat!" bentak gadis itu lalu pergi meninggalkan Horton.
Horton meneriaki gadis itu. Tapi sepertinya Alicia tak perduli. Ia menangis dan berlari. Ia melihat mobil yang tadi mengantarnya. Sebuah mobil sedan seri lama. Pengawal yang menjaganya juga cuma satu.
"Aku benar-benar jatuh miskin?" ujarnya pelan dengan tubuh merosot ke aspal. Pengawal mendatangi dan membantu gadis itu masuk dalam mobilnya.
"Kita pulang ya," ajak pengawal itu.
Alicia tak menjawab. Pengawal itu pun membawanya pulang. Pulang ke sebuah rumah tingkat tiga. Ia bergegas masuk dan membuka pintu.
Tak ada jejeran maid yang berdiri dan membungkuk padanya. Dulu, di mansionnya ada sekitar seratus maid yang bekerja siang dan malam.
"Mana para maid?" tanya Alicia. "Kenapa tidak ada yang menyambutku?"
"Aku masih lah putri bangsawan yang tidak bisa dihapus oleh sistem istana sekalipun!" lanjutnya.
"Maaf, Nona. Sayangnya gelar bangsawan itu sudah dicoret oleh ratu sendiri karena kejahatan ayah anda!" sebut pengawal tadi.
"Apa? Bagaimana bisa!" seru Alicia tak percaya.
"Saya tidak tau pastinya. Tapi, anda bisa menuntut di dewan keagungan jika anda punya bukti konkritnya," jelas pria itu lagi.
Alicia terdiam. Gadis itu pun terduduk lesu. Pengawal itu duduk di sebelah gadis itu.
"Aku bisa membantumu, asal dengan satu syarat," ujar pria itu.
Alicia menatapnya dengan mata basah. Pria bernama Martin Barrymore itu memang diperintah sang ibu suri untuk meluruskan sang gadis.
"Alicia sebenarnya gadis yang baik, hanya saja dia salah arah. Aku memang tak menjanjikan kebahagiaan jika kau bersamanya. Tapi, anggaplah kau menuruti permintaan terakhir wanita tua ini," pinta Victoria.
Martin memang sangat tahu sepak terjang gadis itu. Walau hatinya diliputi keraguan tinggi. Tapi, ini adalah perintah dari ibu suri negara ini. Ia akan berusaha sebaik mungkin.
"Apa syaratnya?' tanya gadis itu lemah.
"Menikahlah denganku," ujar pria itu.
Alicia menangis mendengar permintaan pria itu. Lalu ia pun mengangguk setuju.
"Aku mau ... aku mau menikah denganmu," ujar gadis itu.
bersambung.
ah ... gitu deh.
next?