THE REAL PRINCES

THE REAL PRINCES
MENTAL GLORIA



Gloria kembali magang di satu minggu terakhirnya. Walau pihak perusahaan dan kampus memberi keringanan untuk tidak melanjutkan magangnya. Tetapi gadis itu ingin mendapat nilai full.


Gloria masih harus diawasi kesehatannya. Semenjak kejadian itu. Ia berjalan dan juga gerak refleksnya lambat.


"Aku tidak cacat!' bentaknya pada dua perawat yang menemaninya.


"Pergi kalian berdua!' usirnya lagi.


Luien turun dari angkutan umum. Gadis itu melihatnya.


"Wah ... kau miskin lagi Luien? Mana mobilmu kemarin? Kau menggadaikannya atau ditarik dealer karena telat bayar?" cecarnya.


Luien tersenyum. Ia hanya cuek menimpali pertanyaan Gloria. Diana yang juga datang tak luput dari cercaan Gloria.


"Ah dia sudah kembali ternyata," ucap Diana ketika menanggapi hinaan Gloria.


Hugo dan Brandon datang bersamaan. Kelima orang itu naik lift. Begitu di dalam lift Gloria tampak pucat. Gadis itu sedikit shock dengan guncangan. Ia langsung menyambar tangan Hugo dan bersembunyi di balik lengan besar itu.


Ting! Pintu lift terbuka. Gloria masih memeluk lengan besar Hugo.


"Aku harus keluar Gloria. Aku sudah berada di lantaiku!" ujar Hugo memberitahu.


Gloria meraih lengan Luien dan bersembunyi di sana. Kedua gadis itu terkejut melihat perubahan besar Gloria. Gadis itu jadi gampang panik. Hugo dan Brandon keluar. Lift kembali tertutup dan naik ke lantai atas.


Ting! Pintu lift terbuka.


"Gloria, lantaimu sudah sampai,"


Perlahan ia pun melepas rangkulannya dari tangan Luien lalu berjalan dengan kepala terangkat. Diana hanya bisa geleng-geleng kepala.


"Sok kuat!" celetuknya.


Gloria tak mendengar. Gadis itu seperti biasa saja. Luien tak mempermasalahkan.


Semua kembali bekerja. Luien dan Diana disibukkan menemani atasan mereka. Dari rapat dan meeting.


Mereka juga harus memberikan jurnal terakhir mereka selama magang di perusahaan ini. Diana makin mesra dengan Adrian. Sepertinya gadis itu sudah tak takut lagi menjalin asmara dengan atasannya karena ia bukanlah gadis miskin yang sama..


Diana kini mewarisi perusahaan bernilai miliaran dolar. Sore ini gadis itu akan dikenalkan pada publik sebagai ahli waris sah dari Adam Cloum. Harta yang dicuri darinya oleh bibinya sendiri telah dikembalikan.


Veronica akan mendapat perawatan terbaik begitu juga Adam. Diana yang mengurus semuanya.


"Sayang, aku ingin mengajakmu makan malam, setelah konferensi pers itu," ajak Adrian.


Diana mengangguk. Pria itu pun tersenyum lalu memberikan pelukan dan ciuman di kening. Alex jadi iri. Luien benar-benar menjauh darinya. Sedang Vic kembali ke divisi di mana Gloria bekerja.


Di ruangannya Gloria yang tengah berkutat dengan tumpukan berkasnya pun sedikit kerepotan. Vic datang membantunya.


Ketika di tengah pekerjaan, ponsel Gloria berdering. Nama Jessy tertera di layar. Gloria mengangkatnya.


"Halo!"


"Gloria ... kau di mana?" tanya gadis itu.


"Aku bekerja. Ada apa?"


"Kau harus menolongku, aku mohon!" pinta Jessy dengan suara memelas.


"Aku minta maaf karena membawa paksa dirimu kemarin oke!" ujarnya asal.


"Hmmm," sahut Gloria.


"Sebagai permintaan maaf, aku akan traktir kamu di restauran Champ. Restauran favorit mu, bagaimana?"


"Aku tak bisa, karena pastinya setelah ini. Daddy akan menjemputku," jelas Gloria.


"Ah ... ayolah ... demi pertemanan kita," ujar Jessy memohon.


"Baik lah," terdengar suara kelegaan di seberang telepon.


Gloria memutuskan sambungan teleponnya. Vic bertanya.


"Jessy mentraktirku makan malam," jawab Gloria.


"Apa kau masih mempercayai temanmu itu?" tanya Vic dengan nada tidak suka.


Gloria hanya diam. Ia tak menjawab. Vic menghela napas panjang. Mereka kembali bekerja.


Tak terasa waktu pulang. Kelima orang mendapat bonus besar dan nilai terbaik mereka. Gloria sangat senang karena ia mendapat nilai full. Kelulusan di depan mata.


Kini semuanya pulang. Ketika berada di lift Gloria malah memeluk Luien dari awal dia masuk sampai akhir keluar. Luien sedih mendapatkan tubuh rivalnya bergetar hebat setiap pergerakan lift.


"Sudah sampai, Glor," ucap Luien.


Gloria pun melepas pelukannya. Tetapi ketika hendak melangkah tiba-tiba listrik turun hingga mengakibatkan lift sedikit anjlok dan bergetar hebat.


"Tidak!" teriak Gloria memeluk Hugo.


Vic yang juga baru keluar dari lift bersama Alex dan Adrian, sampai berlari dan mengambil Gloria dari gendongan Hugo.


"Aku akan membawanya ke rumah sakit!" ucapnya dengan tatapan tajam pada Hugo.


Pria besar itu mengepal tangan kuat-kuat. Ia ingin mengambil lagi Gloria. Tetapi, perbuatannya pasti akan menyulitkannya kelak. Vic langsung menuju mobil atasannya dan langsung naik.


Adrian dan Alex membiarkan pria itu membawa lari Gloria ke rumah sakit.


"Percayakan padanya," ucapnya pada semua teman gadis itu.


Luien dan Diana yang menangis karena kondisi rivalnya yang lemah dan trauma. Menghapus air matanya.


"Kita ke rumah sakit melihatnya. Kalian mau?" Semua mengangguk.


Mereka berkelompok jadi ketiak representasi di kampus harus datang berlima. Hugo menelepon pihak kampus jika keadaan Gloria kembali terguncang.


"Pihak kampus meminta surat dari rekan medis dan catatan kesehatan Gloria untuk laporan," ujar Hugo.


"Luien kau urus itu di rumah sakit nanti ya!" titah Alex.


"Baik Tuan," sahut gadis itu masih sesengukan.


Mereka sampai di ruang UGD. Ageele pun datang setelah diberitahu oleh Diana.


Semuanya menunggu di luar. Dokter masih memeriksa keadaan Gloria.


"Dok bagaimana keadaan putri saya?" tanya Ageele.


"Pasien dalam keadaan tertekan dan trauma. Mungkin ada ketakutan lain yang masih ia sembunyikan. Ketika dalam penculikan. Kemungkinan Pasien disuguhi pembicaraan frontal atau yang membuatnya ketakutan. Terlebih, ia terus mendapat guncangan atau benturan," jelas dokter panjang lebar.


"Apa yang harus saya lakukan Dok?" tanya Ageele putus asa.


"Dia harus konseling atau jika perlu, lakukan pembicaraan hati ke hati. Agar dia lebih nyaman untuk mencurahkan semua ketakutannya," jawab dokter lagi.


Kini Gloria tengah berbaring dalam kondisi lemah. Ponsel gadis itu berdering. Diana langsung mengangkat dan menghidupkan pengeras suara.


"Halo Gloria kau di mana? Aku sudah berada di restauran Xx!" sahut Jessy dari seberang telepon.


"Aku masih di kantor," ucap Diana meniru suara Gloria.


"Aku jemput atau kau ingin datang sendiri?' tanya Jessy lagi.


"Kau bersama siapa?" lagi-lagi Diana bertanya dan meniru suara Gloria.


"Aku di ... ssttt diam Don!'


Semua mendengar Jessy menyebut nama seseorang.


"Tuan Mortego diamlah!' tekan Jessy berbisik tetapi didengar semuanya.


Diana langsung menutup ponselnya. Ageele mengepalkan tangan. Sungguh ia tahu siapa itu Don Mortego.


"Andai perusahaan ku sedang baik-baik saja. Aku pastikan menghancurkan pria itu!"


Ponsel Gloria berdering kembali. Luien menyuruh Diana mengangkatnya.


"Kenapa kau matikan!" teriak Jessy.


"Aku dalam perjalanan," jawab Diana.


Luien merapikannya letak ranselnya.


"Aku akan ke sana," ujarnya.


"Jangan gila Nak! Kau tak tau siapa itu Don Mortego!" tekan Ageele melarang gadis itu.


"Ini tidak akan selesai jika tak dihadapi sendiri, Tuan!" tekan Luien juga.


"Aku ikut!" sahut Hugo.


"Aku juga!" sahut Vic.


"Sayang!' panggil Alex.


Ageele terkejut mendengar panggilan Alex pada Luein. Pria itu hanya menghela napas panjang. Kini Luien dan semuanya telah pergi meninggalkan ruangan rawat Gloria.


Sementara di tempat lain. Jessy tengah melayani Don hingga pria itu merem melek menikmati suguhan gadis itu.


bersambung.


wah ... mereka mau ngapain yaa?


next?