
"Aku tidak setuju jika Vic dengan gadis itu!" tolak Tania keras.
"Kenapa, sayang. Gadis itu dari keluarga kaya raya. Cantik dan juga terkenal," sahut Maxwell heran..
"Aku tak peduli. Mana ada gadis yang bisa bergonta-ganti pasangan dan hidup bersama?" sela Tania menghina.
"Kau mau menjodohkan putramu dengan wanita yang seperti itu?" tanya Tania.
"Apa kau berniat mencarikan jodohnya lagi seperti beberapa bulan lalu?" tanya Maxwell.
"Jika terpaksa," jawab Tania santai.
"Aha ... bagaimana jika kau kujodohkan dengan Putri dari Tuan Ageele? Gloria sangat cocok untukmu," lanjutnya antusias.
Vic nyaris tersedak mendengarnya, pria itu terkejut bukan main.
"Ma ...," panggilannya.
"Apa?" sahut Tania cuek.
"Tidak ada penolakan, Vic. Sudah waktunya kau lepas dari Adrian. Harta dan kekayaan dari peninggalan kedua orang tua mu harus kau urus," sahut Maxwell mengambil keputusan.
Vic diam. Ia hanya menurut saja apa kata kedua orang tua angkatnya itu. Pria itu juga tak keberatan jika Gloria jadi istrinya.
Sementara di tempat lain, Gloria dibawa ke psikiater untuk menangani traumanya. Gadis itu, masih ketakutan dan belum lepas dari ketakutannya pada bayangan kelam ketika ia diculik oleh Don Mortego.
Sesi pertama, Gloria sempat tak mau berinteraksi sama sekali dengan psikiatrisnya. Gadis itu diam seribu bahasa ketika ditanya.
Namun lambat laun, gadis itu mulai bercerita.
"Kau kan pernah punya pacar, masa tak pernah petting sama sekali?" tanya psikiater.
"Aku bukan pelacur!" bentak Gloria.
"Saya tidak mengatakan anda begitu, Nona!" tekan sang psikiatris tersenyum miring.
"Kau pikir aneh, jika aku hanya berciuman saja ketika pacaran?" tanya Gloria kesal.
"Tidak, tidak ada yang salah," jawab psikiater wanita itu.
"Atau jangan-jangan kau sudah tak perawan lagi?' sindir Gloria.
"Jaga bicara anda. Di sini anda yang sakit," sahut Ariana, sang psikiater.
"Aku tidak sakit!" tekan Gloria.
Gadis itu pun berdiri dan meninggalkan ruang konsultasi.
"Anda mau ke mana? Sesi ini belum selesai?!" sentak Ariana emosi..
Gloria tak peduli. Ia memilih keluar. Ageele menatap putrinya, ia yang mengantar Gloria untuk menjalani sesi psikiater.
"Aku tidak sakit Dad." ujarnya dengan mata basah.
"Apa, apa yang dia katakan padamu di dalam?" tanya Ageele geram..
Ariana Cowell adalah salah satu sepupu jauh Ageele. Seorang gadis cerdas dan sangat terkenal, ia menjadi psikolog di usia muda. Banyak para pejabat dan artis yang di tangani olehnya.
"Dia memang sakit, Ageele!" Gloria memandangnya tajam..
"Dia bisa berciuman, tentu dia pernah melakukan hal lebih dari sekedar ciuman belaka, bukan?" lanjutnya sinis. "Dia hanya cari perhatian dan dia ...."
Plak! Ageele menamparnya.
"Kau benar Gloria. Ternyata, dia yang sakit!" tekan Ageele berang.
Pria itu menggandeng putrinya. Mengira, saudara bisa memahami kondisi putrinya, malah menuduh Gloria tak waras, dan menganggap biasa kasus pelecehan itu.
"Ayo lah realistis, Ageele. Kau juga pernah berciuman dan melakukan foreplay sebelum kau menikah!" teriak Ariana.
Brak!
Ariana terjengkit karena kaget. Gadis itu berdecih.
"Berlebihan sekali," ujarnya sambil mengusap pipi yang ditampar oleh sepupunya itu.
Ageele membawa pulang anak gadisnya. Sedang Gloria sangat terpukul dengan pertanyaan dari dokter yang semestinya memberikan penanganan dan solusi untuknya.
"Daddy, apa itu benar? Apa tidak masalah jika melakukan hal itu? Kenapa aku merasa itu salah?" tanyanya beruntun.
"Tidak, sayang. Yang dilakukan Don itu salah besar. Bahkan bisa didakwa dengan kasus pemerkosaan," jelas Ageele memeluk sang putri yang kembali bergetar.
"Sudah sayang. Jangan kau sebut nama mereka. Mereka tak pantas kau sebut sahabat. Diana dan Luien juga Hugo dan Brandon lah yang pantas kau sebut sebagai sahabat," ujar Ageele menenangkan sang putri.
Gloria merapatkan tubuhnya dipelukan sang ayah. Ageele memberi ketenangan serta kenyamanan pada putrinya.
Sedang di tempat lain. Luien kini tengah bersiap untuk berkencan dengan Alex. Gadis itu memakai minidress yang dibelikan Gloria padanya. Dress dengan rok rimpel warna hijau pupus, potongan leher sabrina. Luien sangat cantik dengan menggerai begitu saja rambut kecoklatan miliknya. Plus sepatu tali warna senada dengan bajunya.
"Aku sudah siap!" ujarnya sambil menuruni tangga.
Alex tersenyum lebar. Ludwina menatap putrinya dengan mata berbinar.
"Mama, mawuw mana?" tanya Rico dengan mata bulatnya.
Luien gemas bukan main. Ia menciumi pipi gembul bayi itu dan menggendongnya.
"Boleh aku bawa dia?" pinta gadis itu memohon.
"Sayang, kau berkencan bukan bermain dengan adikmu!" Wina langsung mengambil alih Rico dari gendongan Luien.
Gadis itu cemberut. Alex hanya tersenyum melihat sifat manja gadis itu. Ia pun segera menggandeng tangan sang gadis.
"Kami pergi dulu, Mam," pamitnya.
"Pergilah cepat. Oh ya, antar dia pulang tepat waktu!" tekan Ludwina.
Rico melambaikan tangan. Luein padahal menginginkan bayi itu menangis karena ditinggal olehnya. Tapi, malahan bayi itu tertawa karena digelitiki oleh ibunya.
"Ayo masuk," pinta pria itu membuka pintu mobilnya.
Luien masuk. Setelah menutup pintu. Alex berlari menuju pintu sebelah gadis itu. Hari ini ia akan membawa kekasihnya makan malam di rooftop sebuah restauran ternama yang sudah ia pesan. Butuh waktu dua puluh menit untuk sampai di tempat itu.
Ketika turun dan menyerahkan kunci pada petugas vallet. Alex menggenggam tangan Luien. Seorang pelayan mendatanginya.
"Dengan Tuan Alexander Maxwell Junior!" sahutnya dengan ketegasan penuh.
"Mari Tuan," sambut pelayan itu.
Semua mata menatap sepasang kekasih itu. Banyak decak kagum, karena keserasian keduanya. Tapi, tak sedikit yang iri dan sinis terutama kaum hawa pada Luien.
Namun ada sepasang mata menatap takjub pada gadis itu. Netra sosok itu mengikuti arah laju sang gadis hingga hilang dari pandangannya.
"Luiena?" gumamnya gelisah.
"Apa kau mengenalnya, Leo?" tanya sahabat makan malamnya.
Leo Fernandez terdiam. Lueina adalah mantan kekasihnya.
"Kau tau, gadis itu ternyata seorang Philips," sahut sahabatnya memberitahu.
Tentu Leo mengenal baik siapa gadis itu. Ia berpacaran selama satu tahun dan berakhir ketika tau gadis itu dibuang oleh keluarganya.
"Sudah, lupakan dia. Ayo kita lanjutkan makannya," ujar Leo mengalihkan pembicaraan.
Pria itu masih berpikir keras. Dengan siapa mantan kekasihnya itu bergandengan. Jika dilihat dari perawakan pria tadi, sangat berkelas dan seorang yang sangat berkuasa.
"Siapa laki-laki itu?" tanyanya gusar dalam hati.
Sedangkan di tempat lain. Luien menatap takjub dengan dekorasi yang dibuat sedemikian cantik dan berkesan romantis. Sebuket bunga Alex berikan untuknya.
"Terima kasih," ujar Luien dengan semburat merah di pipi.
Alex menggeser kursi untuk kekasihnya. Luien menurunkan bokongnya dan menghirup buket bunga mawar. Lalu ia meletakan di meja lain.
Suasana hangat dan begitu syahdu, membuat kedua pasangan ini memandang penuh cinta. Alex memberi kecupan ringan di buku tangan kekasihnya.
Makanan terhidang. Luien masih terpesona dengan taburan bintang di langit. Musik romantis mengalun, keduanya pun makan dengan elegan.
"Maukah kau berdansa denganku?" pinta Alex.
Luien mengangguk dengan rona yang tak pernah pudar dari pipinya. Alex menggenggam tangannya.
Mereka pun berdansa diiringi musik romantis. Lalu berciuman. Alex benar-benar membuat kekasihnya melambung di atas awan.
"Aku mencintaimu Luiena Elizabeth Philips," ungkap pria itu.
"Aku juga mencintaimu Alexander Maxwell Junior!" balas Luien yakin.
Mereka menikmati pemandangan cantik dari atap gedung yang dihias begitu rupa. Alex memeluk kekasihnya dari belakang, Luien hanya menikmati semuanya. Hingga waktu yang ditentukan. Pria itu dengan begitu bertanggung jawab mengantar pulang gadisnya sesuai waktu yang ditentukan.
Bersambung