
"Hei ... kenapa ada pengemis bisa masuk istana ini?" hinanya setengah berteriak.
Semua menoleh, mereka mencari siapa yang diteriaki Alicia. Tak ada pengemis, hanya wanita biasa berbusana biasa.
"Mana pengemis?" tanya salah satu gadis bangsawan.
Luien yang merasa bukan dia yang dipanggil, berjalan santai. Alicia kesal bukan main. Horton yang kesal dengan keluarga Maxwell melihat Luien masuk dengan santai, langsung menghalangi gadis itu.
"Hei ... apa yang kau lakukan di sini? Ini wilayah orang kaya, rakyat jelata hanya boleh di luar sana!" ujarnya menghalangi langkah Luien.
Alicia langsung mendatangi ayahnya. Beberapa gadis yang ingin tahu mengikuti.
"Nih, yang kubilang pengemis!" ujar Alicia menunjuk Luien.
Semua melihat gadis yang ditunjuk. Pakaiannya memang sangat sederhana bukan dari keluaran branded ternama. Tetapi, jika dikatakan pengemis, baju itu terlalu bagus.
"Kapan kau lihat aku mengemis?" tanya Luien menaikan sebelah alisnya.
Alicia terdiam. Semua menoleh padanya.
"Dilihat dari bajumu, aku rasa kau baru mencurinya dari jemuran tetangga!" tuduhnya kemudian.
"Ah ... hebat sekali. Tetanggaku yang mana? Siapa? Apa kau punya bukti?" cecar Luein.
"Kau tau, dengan ucapan dan tuduhanmu itu aku bisa menyeretmu ke kantor polisi dengan laporan perbuatan tak menyenangkan dan fitnah!" lanjut Luien.
"Jangan sembarangan. Kau memang pencuri!" bentak Horton.
"Dan hanya dalam hitungan menit, aku bisa mendapatkan bukti kau mencuri!" lanjutnya setengah mengancam.
"Oh ya, bagaimana caranya?" tanya Luien.
Perdebatan itu mengundang banyak orang. Semua orang menatap gadis berpakaian sederhana melawan seorang petinggi kerajaan dan putrinya.
"Itu bukan urusanmu. Sekarang sebaiknya kau pergi dari istana mulia ini, sebelum aku melakukan sesuatu padamu!" ancam Horton.
"Apa yang ingin kau lakukan pada gadis itu di istanaku Walles?" sebuah suara serak terdengar.
Semua menoleh dan terkejut. Mereka menekuk kaki dan membungkuk. Victoria penasaran dengan orang-orang yang berkumpul.
Horton sedikit kikuk, begitu juga Alicia. Luien langsung menekuk kaki dan membungkuk.
"Yang ... yang mulia ... hamba ... hamba hanya," Horton tergagap.
Victoria mendekati Luien. Ia sangat yakin jika mengenali gadis yang kini menunduk hormat padanya.
"Luien?" panggil wanita itu sangat lirih.
Luien menutup matanya. Ia sangat berharap jangan secepat ini penyamarannya terbongkar. Walau ia sudah memiliki banyak bukti.
Victoria adalah wanita yang banyak memakan asam garam kehidupan. Wanita uzur itu sangat paham dengan gerak tubuh Luien yang gelisah.
"Siapa namamu, Nak?"
Akhirnya ratu negara itu bermain sesuai keinginan Luien. Gadis itu akhirnya bernapas lega. Baru saja ia hendak membuka mulut.
"Yang Mulia ... untuk apa, yang mulia mengurusi pengemis ini. Dia tadi tak sopan. Ruangan ini khusus untuk para bangsawan dan keluarganya!' ujar Horton merasa di atas angin.
"Oh ya?" tanya Ratu.
Horton lupa, ia berbicara dengan siapa. Pria itu masih merendahkan Luien.
"Benar, Yang Mulia. Anda tak seharusnya mengurusi orang-orang miskin seperti mereka. Biar pengawal menyeretnya keluar!" ujar Horton lagi.
Alicia mengangkat dagunya dan tersenyum sinis pada Luien.
"Pengawal, seret perempuan rendahan ini dari istana!" titah Horton tegas.
Pengawal tak bergerak. Di sana ada junjungan mereka, ratu Victoria. Horton sangat kesal.
"Apa kau mau kupecat pengawal!" bentak Horton.
"Kau mulai kurang ajar Horton!" tekan Victoria sangat lembut.
Horton langsung memucat. Semua menatap pria itu dengan pandangan menyayangkan.
"Yang ... yang mulia!" Horton bersimpuh.
"Maafkan hamba, hamba tak bermaksud untuk melangkahi keputusan yang mulia," ujarnya dengan suara bergetar.
"Panggil dewan kehormatan agung!" pinta sang ratu.
Beberapa orang berlari dan memanggil orang yang dimaksud. Seorang pria tua berlari dan mendatangi ratu.
"Kau bisa pergi," ujar ratu pada Luien.
Gadis itu menekuk kaki kembali. Lalu pergi ke luar ruangan dengan memutar arah.
"Beri sangsi pria ini!" titah sang ratu sambil menunjuk Horton yang duduk bersimpuh.
"Yang Mulia!" pinta Horton sekali lagi.
"Prince Ken!" panggil Luien.
"P ... ah Nona!"
Luien menyerahkan satu flashdisk kecil. Pria itu menerimanya. Lalu Luien pergi kembali.
Alex yang sedang menunggu kekasihnya di sebuah ruangan berbeda. Pria itu tak mengetahui apa pun yang terjadi di ruangan lain.
"Eh ... aku nggak nyangka, Tuan Walles tak sopan. Ia melangkahi kewenangan Ratu!"
Alex mendengar bisikan-bisikan itu. Ia tak perduli. Baginya keluarga Horton Walles bukan hal penting lagi baginya.
"Sayang," Alex menoleh.
Senyum lebar langsung terukir di bibir pria tampan itu. Semua terhenyak. Sosok gadis berpakaian sederhana mendatangi anak pertama seorang Maxwell. Pebisnis tertinggi dan sangat kaya juga berkuasa.
"Sayang," sambut Alex lalu memeluk dan bibir keduanya saling kecup.
"Kau sudah lama?" tanya Luien.
"Lumayan," jawab Alex.
"Mana Adrian dan Vic?" tanya Luien.
"Untuk apa kau tanya mereka?" tanya Alex balik dengan nada cemburu.
"Ah ... sayang, aku hanya bertanya saja," kekeh gadis itu.
Luien memberi kecupan di pipi Alex. Pria itu juga membalas kecupan itu.
"Kita pergi?" ajaknya.
"Ke mana? Aku belum bertemu Daddy dan Mama dari tadi," ujar Luien sambil bertanya.
"Ayahmu tengah mengadakan prosesi gladi sumpah di ruangan sana. Itu bisa memakan waktu seharian sayang," jelas Alex.
"Kasihan Mama," ujar Luien iba pada ibunya.
"Semoga, Mama nggak melahirkan cepat di sana," lanjutnya.
Lalu keduanya pun pergi. Alicia melihat itu, ingin sekali menghalangi keduanya, tapi ia masih takut dengan Alex. Pria itu tergolong kejam jika ada yang mengganggunya.
"Kalau begitu, yang harus kusingkirkan adalah gadis itu," ujarnya penuh dendam.
Alicia memilih mengikuti kemana keduanya pergi. Ia akan memalukan gadis yang dipeluk oleh pria idaman semua gadis itu.
(Flashback).
"Jadi ini yang kau lakukan di belakangku, Alicia?!" bentak Alex.
Gergorio dan Alicia tengah bergumul di ranjang yang sama dalam keadaan polos.
"Aku ... aku dijebak!" elak gadis itu.
"Dia menaruh minuman perangsang!" tuduhnya lalu berpura-pura memukuli Gergorio.
Alex hanya tertawa terpaksa. Ia begitu geram. Lalu ia melempar bukti pada Alicia.
"Ini maksudnya dijebak. Berkali-kali pertemuan rahasia dan ciuman bahkan kau memesan hotel dan berakhir tidur bersama. Kau bilang ini adalah jebakan?" tanya Alex menyindir.
"Dan kau!" bentaknya pada pria yang kini menunduk.
"Kau sahabatku. Selama tiga tahun, ternyata ini yang kau lakukan di belakangku!" tekan Alex.
"Aku hanya ingin membuka matamu, betapa mudahnya kekasihmu ini!" elak Gergorio akhirnya menemukan jawaban yang tepat.
Alex mengangguk.
"Aku mengucap terima kasih untuk itu. Tapi, setelah ini aku tidak ingin memiliki hubungan lagi dengan kalian berdua!" tekan Alex lagi.
"Sayang," panggil Alicia memohon.
"Bro!" panggil Gergorio meminta pengertian.
"Diam kalian!" bentak Alex.
"Vic. Urus mereka, dan cabut semua fasilitas!" titah Alex.
(Flashback end).
Alex membuka pintu untuk kekasihnya. Luien masuk dengan senyum indahnya. Pria itu menutup pintu dan berlari menuju arah pintu kemudi dan masuk. Perlahan mobil itu pun keluar halaman parkir istana. Tak lama berselang sebuah mobil sedan hitam mulai mengikuti kendaraan yang ditumpangi Luien.
bersambung.
Alicia masih penasaran.
next?