THE REAL PRINCES

THE REAL PRINCES
THE REAL PRINCESS 3



Ken menambah dua kali lipat personel pengawal untuk menjaga nonanya. Seratus pasukan khusus di sebar untuk mengawal dan mengamati semua kegiatan Luiena Elizabeth Philips.


Alex kini berada di sisinya merasakan kehadiran orang lain setiap berinteraksi dengan gadis yang sebentar lagi ia lamar.


"Sayang, kenapa aku merasa kita diperhatikan?" tanyanya.


Luien yang memang tak peka dengan keadaan. Hanya memandang sekitarnya.


"Tapi, aku tak merasakan apa-apa?" sahutnya menjawab.


"Mungkin perasaanmu saja. Sudah biarkan, selama ia tak mengganggu," lanjutnya.


Alex pun akhirnya mengabaikan orang-orang itu. Ken selalu mengatakan kehadiran para pengawal itu jangan sampai menimbulkan kecurigaan. Deon yang mengetahui pria bawahannya itu menambah penjagaan pada putrinya langsung tau apa yang mengincar Luien.


"Apa dia belum bergerak?" tanya Deon datar.


"Belum Tuan. Sepertinya, karena Luein bersama Tuan muda Maxwell Junior, Rodrigo belum melakukan apapun!" jawab Ken.


"Sejauh mana penyelidikan?" tanya Deon.


"Kita tak menemukan apapun selain cctv perampokan itu, Tuan!" jawab Ken dengan nada menyesal.


"Para pengawal mendiang Tuan Xavier Thomas banyak yang tertangkap, ditemukan tewas keracunan," lanjutnya.


Deon baru kali ini menemukan satu kasus yang begitu sempurna. Kasus ini berhenti karena pergerakan di semua kamera pengintai memang menunjukkan jika itu murni perampokan, karena Xavier sendiri tewas ditembak dengan pistol di tangannya.


"Peluru yang berada di kepala Xavier berbeda dengan pistol yang ada di tangannya. Hanya itu petunjuknya bukan?" usut Deon.


Ken mengangguk. "Benar Tuan!"


"Apa kita bisa memeriksa kaliber berapa peluru yang menembus kepalanya?"


"Dari peluru yang berada di kepala Tuan Thomas itu sama dengan peluru yang ditembakkan di tubuh istrinya, Tuan!" jawab Ken.


"Berarti, senjata yang sama dengan para pengawal Thomas yang mati itu?!" Deon makin pusing dengan penyelidikan ini.


"Papapa!" panggil Rico yang tiba-tiba masuk ruang kerjanya.


"Hei sayang," sapa pria itu.


Bayi itu berjalan dengan kaki kecilnya dan menaiki Ken. Pria itu tersenyum lebar dan membiarkan Rico menaikinya.


"Endong!" sentak Rico.


Ken terkekeh. Deon sempat terkejut mendengar kekehan pria dingin di depannya itu.


"Nggi pa?" tanya bayi montok itu setelah berada dalam gendongan Ken.


"Kau kepo sekali Tuan bayi," jawab Ken gemas.


Deon juga sangat gemas dengan bayi laki-laki yang sangat berani itu. Bahkan Rico adalah bayi pertama kali yang bisa memerintah Ken. Karena semua anak kecil yang melihat pria bawahannya itu akan menangis ketakutan.


"Epo?" tanya Rico tak mengerti.


Ken gemas ia menciumi bayi itu hingga tergelak. Tiba-tiba, Deon melihat kalung yang dikenakan bayi itu.


"Ken, coba buka kalung yang dipakai Rico!" titah pria itu.


Ken pun membuka kalung itu dengan satu tangannya. Deon menatap kalung yang berbandul hati itu.


"Tuan," panggil Ken.


"Papa!" panggil Rico.


Dengan hati-hati Deon membuka bandul itu. Sebuah mini disc warna hitam berada di sana.


Deon langsung mengambilnya dan memeriksanya di komputer. Beberapa saat kemudian, baru lah ia tahu siapa dalang dari semua kejahatan. Wajah Rodrigo berada di layar memimpin penyerangan. Bahkan ketika percakapannya dengan Xavier di sebuah ruangan, mengakui perbuatannya untuk merampas semua miliknya. Videonya berhenti sampai di situ saja. Tetapi, suara tembakan masih terdengar pada file.


"Bukti ini cukup untuk membuatnya menjadi tersangka mati dan paling ringan seumur hidupnya,"


Rico asik bersandar pada Ken dan bayi itu tertidur dengan mengemut jemarinya.


"Berikan Rico padaku!"


Ken memberikan bayi itu pada atasannya. Deon menggendongnya. Rico langsung menyusupkan kepalanya di ceruk leher pria itu.


Deon menyimpan file dan memberikan pada Ken.


"Simpan itu dan copy, lalu beri copyannya pada kepolisian!" titahnya.


"Baby, kau di mana?"


Wina membuka pintu ruang kerja Deon yang sedikit terbuka dan melihat jika bayi yang baru saja mengerjainya itu sudah tertidur di pelukan suaminya.


"Ah, bayi nakal ini ternyata bersembunyi di ketiak ayahnya," sahut wanita itu gemas.


"Kau ada di sini Ken?" Ken membungkuk hormat.


"Saya permisi, Nyonya, Tuan!" pamitnya.


Wina mengangguk, lalu menyambangi bayi kesayangannya itu.


"Apa yang Rico lakukan padamu, sayang. Sepertinya kau gemas sekali dengan kelakuannya?" tanya Deon sambil terkekeh.


Ken sudah pergi, jadi Deon melembutkan mimik mukanya. Wina mencium suaminya.


"Bayi ini memintaku mencarinya sayang," jawab Wina gemas.


"Ah, seperti itu?" kekeh Deon.


Keduanya pun keluar, bersama Rico dalam gendongan Deon. Mereka pergi ke kamar bayi itu.


Deon meletakan bayinya dalam box. Seorang pengasuh hanya membungkuk selama kedua majikannya ada di sana. Setelah keduanya keluar, baru lah pengasuh Rico itu menegakan badannya.


Deon membawa istrinya ke kamar.


"Sayang, tinggal lima hari lagi, putri kita akan dilamar, apa kau sudah siap ditinggalkan Luien lagi?" tanya Deon sambil mengeratkan rangkulannya pada tubuh Wina yang sedikit berisi.


"Luien tak akan pergi dariku, sayang. Walau ia menikah nanti," jawab wanita itu yakin.


Deon terkekeh mendengar hal itu, lalu ia mengelus perut istrinya yang sudah mulai besar bentuknya.


"Setelah lamaran, kita periksa lagi kandunganmu, sayang," ajak Deon.


"Iya, sayang. Memang sudah waktunya," sahut Wina.


"Sayang," panggil wanita itu mesra.


Deon sangat mengerti jika istrinya memanggilnya seperti itu. Ia pun iseng menjahili istrinya.


"Hmmm," sahutnya.


"Sayang ...," rengek Wina.


Tubuhnya sudah menempel dan meminta prianya memuaskannya. Wanita itu tiba-tiba diserang oleh libido tinggi. Menatap wanita yang pasrah di depannya membuat Deon tak bisa menahan diri.


Pria itu pun langsung membopong istrinya hingga terpekik kesenangan. Keduanya pun masuk dan mengunci kamar, melakukan ritual percintaan panas, karena Wina yang memimpin sekarang.


Sedangkan Luien tengah menikmati kudapan yang baru saja ia beli di kaki lima. Rodrigo yang melihat kesempatan langsung mendekat dan meraih tangan gadis itu sambil menodongkan pisaunya. Pria itu mendekap tubuh Luien.


"Jangan bergerak!" bisiknya mengancam, "atau pisau ini melukaimu!"


Semua orang berteriak histeris melihat Luien yang disekap oleh pria yang memakai topi dan berjaket hitam.


Luein yang tengah bersantai dan memang kurang peka pada keadaan yang membahayakan, hanya menghabiskan kudapannya dengan santai.


Para pengawal yang kecolongan hanya bisa terdiam. Mereka tak ingin nonanya terluka.


"Jalan!" titah Rodrigo.


Luien menurut. Semua orang menyingkir. Kini, Luien mengetahui jika perkiraan Alex kemarin jika ia diikuti.


"Oh ... pengawal Ken," gumamnya.


"Jalan!" bentak Rodrigo sambil menekan pisau di punggung gadis itu.


Luien menurut. Hingga ketika di persimpangan, ia melihat situasi. Menatap ada berapa pengawalnya. Empat orang berpakaian hitam langsung mengerubungi dirinya. Saat itu pula kesempatan Luien untuk bergerak.


Bug! Prak! Krak!


"Aarrgghh!" Rodrigo terlempar.


Saat itulah semua pengawal Luien bergerak melumpuhkan empat orang yang menyerang nona mereka.


Bersambung.


next?