THE REAL PRINCES

THE REAL PRINCES
HILANG AKAL



Pernikahan besar telah selesai. Kini, semuanya kembali ke rutinitas masing-masing. Adrian membawa istrinya langsung bulan madu ke sebuah pulau pribadi miliknya. Rupanya, pria itu membawa Diana dengan helicopters malam itu juga. Makanya mereka tak kembali ke pesta pernikahan.


"Sayang, kita bulan madu yuk," ajak Alex pada istrinya.


"Ayo," Luien mengangguk setuju.


"Aku juga punya pulau pribadi di sebuah wilayah di daerah B dekat Hawai sana. Kita bisa lihat lelehan magma ketika gunung erupsi," jelas pria itu.


Luien berada di pangkuan suaminya. Wanita itu menyandarkan kepalanya di dada sang suami.


"Aku ikut kemana pun sayang," sahutnya.


Sementara Luien dan Alex tengah berencana berangkat untuk berbulan madu. Gloria tampak sibuk dengan banyaknya urusan pekerjaan. Perusahaan Ageele mulai bangkit. Semua hutang dan permasalahan keuangan sudah teratasi. Gadis itu kini, mulai membantu ayahnya untuk terjun di dunia bisnis.


"Gloria. Kau sudah siap kan dokumen dan berkas untuk kerja sama kontrak ini?" tanya Angelo, asisten pribadi ayahnya.


"Sudah, Tuan Angelo. Saya juga sudah mempelajari sistemnya," jawab gadis itu yakin dengan apa yang ia lakukan.


"Bagus. Sekarang, kau harus tunjukkan Ageele sebenarnya. Selama ini, mereka merendahkan ayahmu. Padahal kasus Nyonya tak berimbas sama sekali dengan perusahaan!" ujar Angelo.


Gloria mengangguk. Tekanan bisnis karena kasus judi yang dilakukan ibunya satu tahun lalu membuat kepercayaan para pebisnis merosot.


Gloria pun pergi bersama Angelo ke sebuah restauran ternama. Di sana banyak pebisnis handal berkumpul. Bahkan Deon ditengarai juga datang. Perusahaan Maxwell juga hadir untuk mencari perusahaan kompeten agar menjalin kerjasama.


Sementara di tempat lain. Anneth dan Brenda tengah sibuk merayu orang tuanya agar bisa dibelikan tas keluaran terbaru.


"Bekerjalah jika kau ingin sesuatu Brenda!" teriak ayahnya.


"Tapi, Daddy. Aku hanya minta tas seharga dua ratus euro saja!" pekik Brenda.


"Kau kira dua ratus euro itu murah?"sahut ayahnya.


"Jika kau mau tas. Bekerja! Aku menarik semua kartu kredit juga kartu debitmu!" lanjutnya.


"Jangan!" teriak Brenda tak terima..


"Kartumu over limit semua. Kau pikir, aku tak pusing membayarnya!" teriak pria itu.


"Untuk apa Daddy kerja selama ini, jika bukan untukku!" sahut Brenda kesal.


"Kau pikir, uangku tak akan habis jika kau gunakan terus Brenda!" teriak pria itu.


"Aku tidak akan memberimu sepeser pun lagi!" teriak sang ayah murka.


"Dan kau Bella. Jika kau masih memanjakan putrimu itu. Kau pun aku tarik semua fasilitas!" ancam pria itu pada istrinya.


"Sayang ... jangan begitu, dia putri kita satu-satunya," ujar Bella membela.


"Justru itu. Jangan kau manjakan! Aku yakin, dia tak akan bisa jadi istri siapapun jika begini!" sahut pria itu.


Lain Brenda lain pula Anneth. Barang-barang branded gadis itu diambil paksa ayahnya dan dijual semua. Anneth menangis meraung ketika tas Hermes yang terbuat dari kulit buaya asli juga diambil paksa. Padahal tas itu hanya lima di dunia.


"Papa kejam!" teriak gadis itu.


"Ini lebih berguna dari pada kau simpan dan jadi sarang nyamuk!" teriak sang ayah.


Kini Anneth dan Brenda berada di sebuah mall besar. Keduanya duduk di sebuah gerai kopi yang terkenal.


"Ayahku, baru saja menjual tas Hermes limited ku," keluh Anneth dengan pikiran menerawang.


"Aku disuruh kerja jika ingin mendapatkan barang yang aku inginkan," adu Brenda lemas.


"Kenapa kedua orang tua kita jadi seperti ini?" tanya Anneth tak percaya.


"Semenjak gagal menjual Gloria, mereka jadi tambah marah dan mengukung kebebasan kita," sahutnya lagi.


Brenda mengangguk. Mereka bahkan nyaris dipenjara jika saja ayah mereka tak memohon pada sosok yang paling berkuasa.


Anneth menatap seorang wanita yang ia kenali. Kini wanita itu tengah bergandengan dengan suaminya dan dikelilingi para bodyguard.


"Ck ... aku tak percaya dia adalah seorang putri raja!" ucap Anneth tak percaya.


"Ya, aku juga. Dia tak pantas sama sekali. Jika dipikir-pikir, aku jauh lebih cantik dan berkelas dibanding dia!" sungut Brenda membandingkan dirinya dengan Luien.


"Bahkan dia kini bersanding dengan pria tampan terkaya dan memiliki bisnis ternama nomor dua setelah Tuan Philips," ujar Brenda lagi.


"Dan siapa sangka, Luien adalah putri dari Deon Philips!" saut Anneth berdecih.


Kedatangan Luien dan Alex ke mall membuat semua orang tumpah ruah. Banyaknya pengawal jadi sorotan. Luien ingin membeli sesuatu untuk Armira.


"Apa sudah sayang?" tanya Alex..


Luien mengangguk. Ia sudah merasa cukup berbelanja di mall ini. Beberapa dress dan juga sepatu hak pendek jadi incarannya.


"Sombong sekali kau Luien!"


Sebuah teriakan membuat kerumunan orang-orang menoleh asal suara. Alex melihat dua sosok gadis yang menatap istrinya penuh permusuhan. Ia lupa keduanya.


"Siapa?"


"Anneth dan Brenda. Dia adalah gadis yang bekerjasama dengan Jessy menjual keperawanan Gloria," bisik Luien.


"Ouh ... mereka," Alex pun ingat siapa mereka.


"Ingatlah masa lalu di mana ketika kau hanyalah gadis miskin yang mengandalkan beasiswa untuk kuliah," sindir Anneth.


Beberapa pengawal geram. Penghinaan seorang putri raja memiliki dasar hukum yang kuat. Penjara atau permintaan maaf dengan diarak dalam keadaan menyedihkan.


"Aku juga ingat bagaimana kalian berusaha menjual sahabat kalian sendiri pada pria hidung belang," balas Luien pedas.


"Kau tau, aku masih bisa meminta Gloria mengusut kembali kasus ini dan membuat kalian berada di penjara," ancam Luien.


Anneth dan Brenda terdiam. Mereka sangat marah dengan ancaman Luien. Kedua gadis itu benar-benar tak tau malu dan tak tau di untung.


"Jangan mengancam kami, Luien!" bentak Anneth.


Plak! Satu tamparan keras dilayangkan oleh salah satu penjaga.


"Tangkap gadis ini karena berlaku kurang ajar pada Yang Mulia Tuan Putri dan menghina anggota kerajaan!"


Beberapa orang langsung menangkap Anneth dan Brenda. Mereka berontak sekuat tenaga dan maki Luien.


"Kau tidak pantas menjadi seorang Putri, Luien. Kau hanya gadis miskin!" teriak Anneth seperti orang gila.


"Aku pastika kau menyesal berurusan dengan ku!" teriak Brenda kini.


"Lepaskan. Aku adalah Putri dari Tuan Vermont. Kalian menyesal telah berlaku kurang ajar pada pria yang memiliki kekayaan di atas rata-rata!"


Sungguh Anneth dan Brenda kehilangan akal mereka. Luien hanya bisa menggeleng. Ia mengajak suaminya pergi dari tempat itu dan menuju apartemen milik Chen. Ia akan membagikan semua barang-barang yang ia beli untuk semua penghuni di sana.


"Sayang, aku jadi kepikiran ketika kau benar-benar hidup dibawah standar kemiskinan?" tanya Alex menerawang..


"Tidak begitu sulit. Bukankah aku adalah seorang pembalap yang tak terkalahkan hingga sekarang?" sahut Luien bangga.


Alex mengangguk. Pria itu memang menikahi sosok wanita tangguh. Wanita yang begitu perkasa dan sangat cantik.


"Aku mencintaimu," ujar Alex tulus.


"Aku juga sangat mencintaimu," sahut sang istri juga tak kalah tulus.


bersambung.