THE REAL PRINCES

THE REAL PRINCES
MELAMAR 3



"Tapi, kemarin kan saya sudah katakan, jika nanti tidak sesuai ekspektasi, anda tidak keberatan mundur teratur!" sahut Ageele mengingat.


Gloria menatap pria yang akan menggantikan Vic. Gadis itu mengerutkan keningnya. Jovan memang dikenal oleh para anggota klubing atau pecinta klub malam seperti diri gadis itu dulu.


"Tuan Hereira ... anda Tuan Jovan Hereira bukan?" tanya Gloria mengingat.


Pria itu menatap gadis cantik yang kini memandangnya. Pria itu langsung mengingat sosok gadis arogan dan sombong ketika ia berada di sebuah klub malam. Bagaimana ia dibuat malu oleh Gloria karena ditolak oleh gadis itu mentah-mentah.


"Kau?"


"Ya, ini aku Gloria, gadis yang pernah menamparmu di sebuah klub malam!" tekan gadis itu mengingat kejadian saat itu.


"Ah, gadis sok suci yang tak mau disentuh, padahal kita sudah berciuman panas waktu itu!" tekan Jovan ketika mengatakan perkataan yang terakhir tadi.


"Well, itu memang tak masalah bukan?" sahut Gloria santai.


Gloria adalah gadis dengan mulut terpedas setelah Diana. Ia menatap pria yang tadi baru saja menegur ayahnya.


"Sekali lagi, aku meminta maaf atas permintaan ayahku Tuan Hereira," ujar gadis itu lalu membungkuk hormat.


"Untuk apa kau minta maaf, sayang!" sela Vic lalu merangkul bahu calon istrinya.


"Kau tak salah. Dia yang salah karena berharap lebih," lanjutnya nyinyir pada rivalnya.


"Tuan Dambaldore," panggil Jovan.


"Apa kau juga mengenali kami?"


Alex dan Adrian berdiri di sisi Victor. Jovan hanya tersenyum miring. Ia memang tak akan memiliki nyali lebih. Sebenarnya tadi ia hanya ingin membuat Ageele malu karena membawanya sebagai pria pengganti.


"Kalian main keroyokan," ledeknya pada bersaudara itu.


”Memangnya siapa yang ingin kau lawan?" tanya Adrian mulai terpancing emosi.


Jovan kini menelan saliva kasar. Sedangkan Luien dan Diana hanya menanggapi diam drama yang ada. Keduanya malah duduk kembali dan menikmati kudapan. Hal itu dilihat oleh Samantha. Ia pun ikut duduk santai.


"Jika ingin berkelahi. Jangan di sini, tapi carilah tempat yang netral!" sahut Luien menghentikan perdebatan.


Alex memilih duduk kembali di sisi istrinya.


"Bereskan dia Vic!" titah pria itu.


Victor hanya tersenyum sinis pada Jovan mendengar perintah kakaknya itu. Adrian pun malas meladeni pria itu. Ia duduk di sebelah istrinya.


"Kau ingin kita bertarung atau mau perang saham?" tanya Vic santai.


Jovan kehilangan kekuatan. Ia hanyalah seorang pengusaha muda yang baru saja merintis usaha. Kini berhadapan sosok yang memiliki pengaruh kuat bahkan perusahaan Maxwell sangat dibutuhkan perusahaannya untuk menjalin kerjasama.


"Kita sudahi saja," ujar pria itu lalu pergi dari ruangan.


"Pilihan bijak, Jovan!" teriak Vic mengiringi langkah gontai pria itu.


Ageele merasa bersalah pada Jovan. Tetapi, ia memang tak menjanjikan apa-apa pada kolega bisnisnya itu. Ia hanya minta jika nanti ada yang buruk terjadi, pria itu mau dijodohkan oleh putrinya. Ia tak menyangka jika Jovan menginginkan putrinya.


"Sudah biarkan dia. Ayo kita tentunkan kapan tanggal pernikahan. Aku mau secepatnya saja jangan sampai hitungan bulan," ujar Maxwell.


"Saya mengikuti saja. Toh, semua tanggal baik," sahut Ageele menyerahkan segala keputusan pada calon besannya itu.


"Bagaimana jika awal bulan depan?" tanya Tania meminta pendapat.


"Sepertinya bagus. Aku tidak memiliki janji atau perjalanan bisnis atau apapun," ujar Ageele ketika melihat tanggal.


"Bagaimana Vic?" tanya Tania.


"Aku sih maunya minggu depan sudah menikah," jawab pria itu.


Semua terkekeh, mereka sudah memutuskan kapan pernikahan terlaksana. Samantha mengajak semua untuk makan siang.


"Wah, aku tak menyangka jika kau begitu manis, Glo?" sindir Diana bercanda.


"Ck ... kau tak melihatku seharian, Diana!" sahut Gloria berdecak.


Luien hanya tersenyum melihatnya. Benar kata Gloria ketika memarahi Hugo waktu itu, jika Hugo tak mengenal Gloria sama sekali.


Usai makan mereka pun kembali bercengkrama. Tak lama, mereka pamit pulang. Satu kecupan singkat Vic layangkan di bibir Gloria ketika hendak pulang.


"Aku akan mengajakmu kencan minggu ini," ujar Vic ketika pulang.


Gloria hanya mengangguk. Ia masih setengah tak percaya untuk mempercayai pria itu. Tapi, ia akan memegang omongan Victor.


Ageele memeluk putrinya. Ia bahagia sebentar lagi Gloria akan menikah dengan sosok yang sangat berpengaruh dalam bisnis. Tentu kepiawaian Vic dapat diacungi jempol.


"Apa kau bahagia?" tanya Ageele pada putrinya.


"Iya, Daddy. Aku bahagia," jawab Gloria lalu memeluk ayahnya.


Ageele membalas pelukan putrinya. Ia akan terus berdoa pada Tuhan agar pernikahan itu benar-benar terjadi. Jika pun semua tak berjalan seperti yang ia harapkan. Ia banyak memiliki rencana lain untuk putrinya.


Sementara di tempat lain. Keluarga Maxwell sudah sampai di mansion. Semua turun dan kembali berbincang untuk rencana pernikahan.


"Ah akhirnya kita tinggal menunggu waktu saja!" ujar Maxwell lega.


"Vic, aku harap kau benar-benar melaksanakan pernikahan ini. Jangan mempermainkan perempuan dan aku pastikan mulai sekarang aku sendiri yang menggantungmu jika melakukan hal buruk pada Gloria!" ancam Maxwell.


"Sayang ... kenapa kau tak mempercayai putramu sendiri?" sahut Tania tak suka.


"Tidak, sebelum ia berhenti berpetualang dengan para model atau artis seksi itu!" jawab Maxwell kesal pada Vic.


"C'mon Dad. Mereka hanya numpang tenar ketika bersamaku," sahut Vic tak suka disudutkan.


Maxwell hanya diam. Vic memang berbeda dengan dua putranya yang lain. Victor sangat aktif di layar televisi dengan berbagai prestasi, walau Alex dan Adrian juga sering mendapatkan penghargaan, tapi Vic jauh lebih sering melibatkan wartawan untuk meliput kegiatannya. Hal ini ia katakan untuk memperkuat dirinya bukan bayangan Adrian. Karena semua orang mengenal sosoknya.


"Dua minggu lagi, kita fitting baju pengantin. Nanti, ketika kau kencan dengan Gloria tanyakan apa keinginan gadis itu!" pinta Tania.


Vic mengangguk. Ia menatap Maxwell, pria junjungannya itu. Ia meyakinkan ayahnya agar percaya padanya.


"Aku akan memperkenalkan sekalian Gloria pada awak media besok, jika dirinya adalah calon istriku," ujar Vic meyakinkan Maxwell.


Pria itu menghela napas panjang. Kesan playboy putra asuhnya itu memang sangat mengganggu dirinya. Padahal, Adrian dulu juga sama buruknya dengan Vic.


"Baik lah. Aku akan berhenti mengkhawatirkan dirimu dan percayakan semuanya padamu. Kau lihat sendiri kan? Tadi, Ageele bahkan menghadirkan pria penggantimu!"


Vic mengangguk. Ia tak mau kehilangan Gloria. Ia meyakini hatinya jika dirinya jatuh cinta dengan gadis itu dan ingin menghabiskan waktu dengannya.


"Aku janji Daddy. Percayalah!" ujar Vic meyakinkan kembali Maxwell.


"Aku percaya, Nak ... aku percaya!" ujar Maxwell pada akhirnya.


Sementara di tempat lain. Brigitta tengah berpesta dengan para kaum selebriti. Mereka merayakan film yang berhasil mendapat promosi dari sebuah perusahaan besar.


"Perusahaan siapa yang mau memproduksi film kita?" tanya salah satu artis pendukung.


"Perusahaan Ageele's Steel!" jawab manager tim.


Brigitta mendengar hal itu. Lalu dalam kepalanya, ia telah menyusun suatu rencana.


'Bagaimana jika aku menggoda ayah gadis itu?' tanyanya dalam hati.


bersambung.


yah ... memang begitu rendahnya dirimu Brigitta.


next?