THE REAL PRINCES

THE REAL PRINCES
MENYAMAR



Setelah berbelanja untuk keperluan keempat adik Hugo. Alex mendapat hadiah dompet yang juga langka, terbuat dari kulit buaya asli. Pria itu tinggal membersihkannya dan memberinya zat khusus. Sedang Adrian mendapat jam tangan yang sangat indah, produksi rolex pertama kali menggunakan ikatan dari kulit sapi. Mesin masih berjalan, penjualnya hanya mengganti baterai saja dan jam itu berputar dengan baik.


"Astaga, ini benar-benar harta karun!" seru Adrian senang.


"Thanks, Luien," ujar pria itu.


"Sayang," panggil Alex.


Luien pun menemukan harta karun yang lainnya selain dompet dan jam. Gadis itu ingin membelikan kedua orang tuanya dan juga Ken.


"Kau sudah dapat dompet sayang," sahut Luien yang membuat Alex cemberut.


Gloria terpingkal melihat wajah atasannya. Alex menatapnya tajam. Gadis itu langsung menutup mulutnya. Vic, begitu senang dengan hadiah sabuk dari Gloria.


Bahkan pria itu tak mau jauh dari tubuh gadis itu. Hugo pun merasa tau diri. Brandon yang asik berburu barang-barang antik begitu kesenangan mendapat beberapa benda yang menjadi incarannya ada di tempat ini dan dalam kondisi baik.


Setelah berburu harta karun. Ketujuh orang itu pun akhirnya menuju sebuah tempat peralatan alat tulis. Hugo membeli lima lusin buku dan empat kotak pensil dan pulpen.


"Sudah selesai!" ujarnya setelah membayar barang belanjaannya.


"Kita makan dulu. Aku yang teraktir!" ajak Alex.


Semuanya pun mengangguk setuju. Mereka sibuk dengan tas belanjaan mereka. Semuanya masuk dalam sebuah restauran dan mengambil tempat berjajar. Lalu memesan makanan.


"Besok, aku menjemputmu dan mengantar tas-tas yang kujanjikan tadi," ujar Brandon.


Hugo hanya mengangguk. Ia sangat berterima kasih pada semua rekannya yang begitu peduli. Mereka mau membantu tanpa kesan ingin menjatuhkan. Bahkan Gloria yang biasa menghina orang-orang miskin, tadi benar-benar jauh dari sebutan gadis elit, karena menawar barang gila-gilaan.


Usai makan, semua pulang. Luien mengantar Gloria sampai mansion gadis itu. Sedang Brandon mengantar Hugo hingga rumahnya. Alex, Adrian dan Vic tentu pulang ke mansion milik Maxwell.


Luien pulang dengan barang belanjaan. Ia berpapasan dengan Anton.


"Wah, kau baru memborong satu pasar," seloroh pria itu.


Luien hanya terkekeh lemah. Ia benar-benar kelelahan.


"Ah, kasihan sekali ia kelelahan," ujar Anton iba.


Sampai di unit, gadis itu masuk tanpa kata, lalu mengunci pintu setelah menutupnya. Luein meletakkan barang belanjaan begitu saja di atas sofa. Lalu ia membanting tubuhnya di atas ranjang yang lumayan tipis. Tak lama ia pun terlelap.


Pagi menjelang. Luien terbangun dengan perut lapar. Ia melihat jam.


"Pukul 07.22.," ujarnya.


Ia menguap dan tiba-tiba ia membesarkan matanya. Buru-buru ke kamar mandi. Hanya sekedar membersihkan diri. Gadis itu mandi dengan kilat, memakai baju ala kadarnya. Gadi itu melesat meninggalkan unitnya setelah mengambil tas, ponsel dan kunci mobil di atas nakas.


Tanpa sarapan, karena yakin ia akan terlambat jika melakukan itu. Dengan kecepatan tinggi ia menekan pedal gas. Hingga waktu tempuh hanya tujuh menit saja.


Gadis itu pun berlari setelah memarkirkan mobilnya. Tampak Gloria dan lainnya sudah masuk dan pintu lift mulai tertutup.


"Tunggu!'


Pintu tertutup. Luien terengah-engah dan membungkuk dengan menopang tangan pada lututnya.


"Hey ... ayo masuk!" sentak Gloria.


Luien langsung ditarik masuk oleh mantan rivalnya itu. Luien belumlah mengatur napas. Ia masih terengah-engah. Jantungnya terasa sesak. Gloria mengusap punggung gadis itu untuk menenangkannya.


Butuh cepat waktu lima menit. Luien pun sudah bisa mengatur napas. Gloria mengenduisi tubuh teman sekantornya itu.


"Kau tak pakai parfum?" Luien menggeleng.


"Tak sempat!" jawabnya.


Gloria mengambil parfum dalam tasnya. Ia menyemprotkan ke pergelangan Luien dan menggosokkannya.


"Thanks," Gloria hanya mengangguk sambil kembali menyimpan botol parfumnya.


Hugo dan Brandon keluar lebih dulu. Barulah Gloria. Terakhir Luien. Sudah beberapa hari ini, Diana sang sahabat mulai jarang menghubunginya. Luien pun juga sama. Banyaknya urusan dan kejadian, membuat waktunya tersita.


Lalu tak lama ia pun masuk ruangan. Alex dan Vic ada di sana.


"Selamat pagi, Tuan Maxwell z Tuan Dambaldore!" sapanya.


Alex melihat jam di pergelangan tangannya.


"Tumben, kau nyaris telat, Luien?"


Gadis itu hanya tersenyum. Lalu ia menjabarkan beberapa jadwal hari ini. Adrian datang membawa beberapa arsip. Pria itu sengaja tak menyuruh Vic lagi. Karena ayahnya sudah melarang pria itu menyuruh Victor dan menjadikan bayangannya.


"Saya akan ke ruang administrasi," ujar Vic.


"Jangan berciuman dengan Gloria lagi!" tekan Alex melarang.


Vic membungkuk hormat. Tentu saja, selama jam kerja, pria itu dilarang berciuman dengan gadis manapun. Vic hanya mendengkus kesal. Adrian hanya terkekeh. Pria itu akan kembali ke perusahaan Diana untuk melanjutkan dan pembaruan kerjasama.


"Aku pergi, Kak!"


Adrian membawa beberapa berkasnya dan ia pun melangkahkan kaki keluar ruangan.


Alex menatap gadisnya. Ia hanya bisa menghela napas panjang.


"Kau ikut aku menemui beberapa kolega!" Luien membungkuk sebagai kesiapannya.


Alex tadinya ingin mampir ke sebuah butik dan mendandani sedikit gadisnya. Tetapi, pihak kolega ternyata memajukan jam pertemuan. Ketika sampai di sebuah restauran. Luien dan Alex turun.


"Luien kau temui dulu para kolega. Aku ingin ke toilet sebentar," ujar pria itu sambil menahan sesuatu.


Luien belum menjawab, atasannya sudah berlari menuju toilet. Salah seorang pelayan mendatanginya. Gadis cantik dengan seragam ketat. Kancing-kancingnya seperti mau copot karena begitu ketatnya.


"Maaf, kami di sini tak menerima peminta sumbangan!" ujarnya langsung menghina.


Luien langsung mengernyit. Ia melihat penampilannya. Tidak begitu buruk, bahkan kemeja biru pucat dengan celana bahan hitam, tidak memperlihatkannya sebagai tukang minta sumbangan.


"Maaf, saya sudah reservasi di sini!" tekan Luien sambil memandangi pelayan itu.


Sang pelayan bername-tag Silvia, memainkan rambutnya dan bersidekap. Ia tersenyum mencibir.


"Potongan seperti kamu, bisa reservasi di restauran semahal ini?" tanyanya menyindir.


"Jangan mimpi kamu!" hinanya kemudian.


Luien menatap datar pelayan di depannya.


"Anda tidak bertanya atas nama siapa yang melakukan reservasi?" tanyanya datar.


Silvia tertawa sinis dengan pandangan hina. Ia benar-benar merendahkan Luiena Elizabeth Philips. Gadis itu benar-benar tak mengenali orang di depannya.


"Untuk apa. Kau bisa saja mencuri dengar siapa saja yang melakukan reservasi di tempat mewah ini!" jawabnya penuh penekanan dan tatapan merendahkan.


"Wah, dari siapa saya mencuri dengar itu? Apakah tempat ini sebegitu buruknya kah hingga data reservasi bisa dicuri?" tanya Luien menyudutkan Silvia.


Silvia terkejut mendengarnya. Jika saja managernya tahu. Ia bisa dipecat karena melakukan kebohongan.


"Ah ... keluar kau dari tempat ini. Dasar manusia tak tahu malu!" usirnya sambil menghina.


"Tempat ini tak layak didatangi orang sepertimu!" bentaknya lagi.


"Lalu orang seperti apa yang layak datang ke tempat ini, Silvia?'


Sebuah suara mengagetkan gadis yang punya nama. Ia menoleh. Sosok tampan yang Luien kenali. Ken hendak menyambutnya, tapi Luien menahan dan memberi kode agar pria itu diam.


bersambung.


hayoo loh!


next?