
Luiena turun melalui tangga, gaun biru dengan potongan leher sabrina, memperlihatkan tulang selangka yang indah. Wajahnya yang memang cantik, semua mata memandangnya. Diana tersenyum melihat sahabatnya kembali. Gloria menangis, sudah tak ada lagi gadis yang ia hina dan maki. Sedang Alex, Adrian dan Vic terpana, mereka kini tau siapa jati diri gadis yang bekerja di perusahaannya.
Luien hanya tertunduk. Ia memang tak bisa melakukan apa-apa. Kini semua mata menatap dirinya. Siapa pun yang pernah mengatakan dirinya seorang miskin dan gembel, hanya bisa tertunduk malu.
"Sekarang putri saya berusia dua puluh empat tahun, hari ini adalah hari ulang tahunnya," ujar Deon lalu mengamit tangan putrinya.
Luien hanya diam. Sebuah kue ulang tahun dengan design mewah dengan lapisan emas. Semua mata terbelalak, kue bertingkat tiga itu benar-benar mewah. Gloria begitu iri melihat kemewahan yang didapat mantan rivalnya.
"Ma ... seumur hidup aku tak pernah mendapat kemewahan ini," bisiknya pada sang ibu.
Martha Stewart hanya bisa diam. Sebelum mereka terpuruk sekalipun tak mampu membuat pesta semegah ini. Padahal, Ludwina mengaku hanya pesta sederhana yang ia adakan di rumah.
Tetapi dekorasi bunga hidup dan pernak-pernik kristal kelap-kelip.
Belum lagi perhiasan yang dikenakan oleh gadis itu. Gloria benar-benar iri dibuatnya.
Luien meniup lilin angka dua puluh empat. Gadis itu tampak bahagia. Rico muncul dan membuat semuanya terkejut.
"Kau sudah punya anak lagi?" tanya Ageele takjub.
"Ya, ini dan di sini," jawab Deon menunjuk Rico dan perut istrinya.
Rico menjamah kue mewah itu dan memakannya. Luein tertawa, Rico menyerahkan kue yang ada di tangannya pada kakak angkatnya. Luien memakan kue yang ada di tangan bayi itu..
Semua pun menikmati pesta. Luien duduk di sebuah kursi merah yang di design sedemikian rupa mirip dengan singgasana, Deon benar-benar membuat anak gadisnya seorang putri.
"Ah, kenapa kau jadi seperti ini. Lalu jika kalian berdua sudah kaya, aku menghina siapa?" celetuk Gloria sebal.
"Berhentilah menghina, Gloria! Kau akan menjilat ludahmu sendiri. Terkadang apa yang kau lihat tak seperti apa yang kau duga," tegur Ageele memberi nasihat pada putrinya.
Gloria terdiam. Tak lama Hugo dan Brandon datang. Kedua pria tampan itu memberi hadiah sederhana pada Luien.
"Jangan liat harganya ya," ujar Hugo, tersenyum kikuk.
Sedang Brandon memberikan buget mawar merah yang sangat indah. Alex cemburu melihatnya. Ia tak membawa apapun. Deon hanya mengundangnya tanpa memberitahu pesta apa.
Diana juga membawakan hadiah. Adrian sempat protes karena tak memberitahukannya.
"Ya, aku juga tak tau kau diundang," sahut Diana protes.
Sepasang kekasih itu sedikit berdebat.
"Kan ada data karyawan, Tuan tidak memeriksa datanya?" tanya Hugo.
Adrian hanya diam. Ia memang tak pernah memeriksa data karyawannya. Alex juga menyesal tak memeriksa data.
Rico membuka hadiah dari Hugo. Sebuah dompet cantik berwarna pink. Gloria lagi-lagi iri melihat hadiah sederhana itu.
"Ini cantik sekali," puji Luien dengan mata berbinar.
"Mamamama!" sahut Rico.
Hugo gemas melihat bayi itu. Ia pun, menggendong bayi itu. Ia pun menyembur perut Rico hingga tergelak. Semua tersenyum mendengar hal itu. Pesta terus berlangsung. Selama, dua jam pesta itu berlangsung. Lalu kemudian semua tamu pulang.
Luien menatap ruangan yang kini sedang dibersihkan. Berkali-kali menghela napas berat. Kini ia tak bisa bersembunyi di balik kemiskinan.
"Semoga semua masih sama," pintanya memohon.
Hari berlalu. Gadis itu kembali bekerja, masih sama. Adrian dan Vic masih mengerjainya. Diana sudah tak lagi bekerja di perusahaan Maxwell bersaudara itu. Gadis itu kini memimpin perusahaannya sendiri. Adrian terkadang membantunya. Perusahaan Maxwell memang melakukan kerjasama dengan perusahaan Diana.
Sore hari, ia pulang ke apartemennya. Gadis itu sudah ditunggu oleh Frank.
"Hai," sapa pria itu.
"Oh, hai Frank," sahut Luien dengan nada lelah.
"Sepertinya kau lelah sekali?" ujar Frank lagi.
Luien hanya tersenyum datar. Ia pun masuk unitnya. Tak lagi keluar. Frank menatap pintu yang tertutup rapat. Ia pun menghela napas panjang.
Pesta Luien luput dari perhatian Frank. Ia memang kurang meminati berita-berita tentang perkembangan bisnis. Penobatan Luien sebagai ahli waris juga luput dari perhatiannya. Frank akhirnya masuk dalam unitnya.
"Sebenarnya, apa yang kau inginkan?" tanya Luien langsung.
Frank terdiam. Ia memang merasa terlalu agresif mendekati gadis itu.
"Tidak ada, aku memang tertarik denganmu Luien," ungkap pria itu jujur.
Luien terdiam. Selain Alex yang mengungkap perasaannya, kini ada pria lain yang mengungkap perasaannya.
"Tapi, kenapa kau tertarik padaku. Aku hanya gadis miskin," ujar Luien kembali menutupi dirinya.
Sebenarnya, gadis itu hanya ingin mengetahui apa Frank tau identitas dirinya. Ternyata, Frank memang tak mengetahui jati diri gadis yang ada di hadapannya. Luien sedikit lega.
"Miskin tapi memiliki mobil BMW?" tanya Frank tak percaya.
"Aku menang taruhan untuk mendapatkan mobil itu," ujar Luien lagi-lagi berbohong.
"Taruhan apa?" tanya Frank ingin tahu.
"Balapan liar," jawab Luien sambil memalingkan wajahnya ke tempat lain.
"Balapan liar? Motor?" Luien mengangguk.
Frank pun hanya diam menanggapinya. Setengah percaya. Pria itu ingat akan ada event besar di selenggarakan sebuah perusahaan.
"Kau tau ada even besar di perusahaan xx. Aku dengar, mereka juga menyelenggarakan balapan motor reli," ujarnya memberitahu.
Luien langsung menatap dengan berbinar. Gadis itu sudah lama merindukan balapan. Tetapi, kemudian ia pun lemas kembali karena telah berjanji pada ibunya tak melakukan balapan lagi.
"Aku sudah berjanji dengan ibuku tidak balapan lagi," sahut Luien dengan bahu turun.
"Ah ... sayang sekali. Hadiahnya dua ribu dolar dan thropy," jelas Frank lagi.
"Aahh!" keluh gadis itu kesal.
"Apa boleh melanggar janji ibuku?" tanyanya meminta pendapat pada pria di depannya.
Frank sangat tersanjung. Baru kali ini ada orang yang meminta pendapatnya. Selama ini, orang-orang memaksa apa yang mereka kehendaki, tak boleh dibantah.
"Itu kembali lagi padamu, aku tak punya ibu. Ibuku pergi tak pernah kembali ketika berusia delapan tahun," sahut Frank sedikit mencurahkan hatinya.
"Ah, maaf. Aku tidak tahu," sahut Luien menyesal.
"Tidak apa-apa," ujar Frank tak keberatan.
Luien pun masuk ke unitnya, ia akan mandi dan berangkat kerja. Gadis itu kini memegang dua jabatan, sebagai sekretaris dan asisten pribadi Alex dan Adrian.
"Luien, apa aku boleh menumpang hingga jalan Xx?" tanya Frank.
"Tentu saja," ujar Luien.
Kali ini gadis itu tampak cantik, Frank sampai terbengong melihatnya.
"Hei ... ayo, nanti aku terlambat!" ajak Luien setengah berteriak.
Frank berlari mengejar Luien dan memasuki lift. Keduanya turun di lobby. Pria itu menumpang pada Luien dan menurunkannya di jalan yang diinginkan pria itu.
Sepanjang perjalanan, Frank bercerita apapun dengan gadis itu.
"Terima kasih atas tumpangannya, cantik," ujar Frank setelah turun.
Luien membunyikan klakson dan langsung menancap gas. Frank diam mengamati. Wajah ramah berubah kembali datar.
"Sebentar lagi, kau akan jadi milikku," gumamnya.
bersambung.
next?