THE REAL PRINCES

THE REAL PRINCES
THE REAL PRINCESS



Luein dipeluk oleh Tania. Wanita itu mengusap wajah cantik yang jauh dari perawatan. Entah apa yang dicari oleh Luien hingga ia berpenampilan semaunya.


"Sayang, kau pasti mampu beli majalah fashion, kan?"


Luien hanya tersenyum kecut. Ia memang buta model. Gadis itu suka tampil apa adanya.


"Aku kurang suka baca itu, Nyonya," jawabnya.


"Alex, dia kekasihmu kan?" Alex mengangguk.


"Lalu, kapan ia memanggilku Mommy?" tanya Tania.


"Satu minggu lagi, aku melamarnya, Mom," jawab Alex.


Luien langsung tertunduk malu. Maxwell sangat senang dengan pilihan putranya itu. Bahkan, Adrian juga mengatakan jika ia memiliki kekasih seorang Cloum. Walau trend record pria itu sangat buruk masalah keluarga, tetapi sebagai pebisnis. Adam Cloum sangat berpengaruh.


"Alex sudah, Adrian juga sudah. Lalu kau kapan Vic?" tanya Maxwell.


Victor terdiam. Pria itu belum menemukan tambatan hatinya. Sedang dengan Gloria ia belum merasakan apa-apa kecuali hanya ingin berciuman dengannya saja.


Sedang di mansion Ageele. Hugo dan Diana juga Brandon datang menjenguk Gloria. setelah kejadian di lift dan masih meninggalkan trauma pada teman mereka.


"Selamat sore Tuan Ageele," sapa mereka bertiga.


"Selamat sore, kenapa kalian tidak bersama Luien kemarin?" tanya Ageele.


"Luien bersama tiga bossnya dan kami tak diajak," jawab Diana sedikit kesal.


Ageele terkekeh. Lalu pria itu mempersilahkan ketiga teman putrinya masuk. Gloria yang sedang duduk dan memakan jeruk di taman, menoleh ketika namanya dipanggil.


Wajahnya yang sedih karena bayangan menakutkan itu masih saja menghantui. Berubah semringah menatap ketiga rekan sejawatnya itu.


"Sore, Glor!" sapa mereka bertiga.


"Sore," sahutnya membalas dengan senyuman manis.


Brandon, Hugo dan Diana terkesima dengan senyuman Gloria. Dulu, mana mau gadis itu tersenyum sebegitu manis pada mereka, kecuali Brandon karena orang kaya.


"Apa kabarmu, mantan rival?" tanya Diana menyindir.


Gloria sedikit sedih. Diana langsung minta maaf..


"Bukan ... bukan karena itu. Aku sendiri tak tahu kabarku baik atau tidak. Bayang-bayang itu masih menghantuiku," jelasnya sendu.


"Tapi kau masih suci, Gloria!" sahut Diana.


Gloria menatap Diana meminta keyakinan dan kekuatan. Diana sedih melihat mantan rivalnya itu terpuruk seperti ini.


"Ceritakan, apa yang Don lakukan padamu?" tanya Diana kini.


"Waktu itu aku setengah sadar. Pria itu tiba-tiba merabaku hingga area sensitif ku ... hiks ... hiks ... hiks!"


"Dibilang, ingin memasuki diriku hingga ia puas lalu setelah itu dia mau membunuhku hingga terjadilah tabrakan itu," jelas Gloria dengan suara serak.


Diana memeluk temannya itu. Gadis itu memberi kekuatan dan ketenangan pada Gloria.


"Kau baik-baik saja, Glor. Dia hanya omong kosong!" ujar Diana sedih.


"Tapi dia menyentuhku, Diana ... hiks ... aku takut sekali," ujar Gloria.


"Itu tak masalah .. tidak masalah," ujar Diana.


Ageele sangat sedih. Pria itu mendapat kabar jika Don tewas ditikam di penjara oleh sesama napi. Tetapi trauma yang dialami putrinya akan seumur hidup ia jalani.


"Oh ya, ini untukmu, Glor!" ujar Hugo memberi gadis itu sebuket bunga cantik.


Gloria senang sekali. Ia mengucap terima kasih. Ageele melihat tatapan Hugo pada putrinya. Ia tersenyum.


'Jika pria itu berani melamar putriku. Aku akan langsung menyetujuinya!" tekad Ageele dalam hati.


Setelah berbincang-bincang dan memakan kudapan enak. Ketiganya pun pulang.


Gloria menatap buket bunga itu. Ia menghirupnya dalam-dalam.


"Harum," gumamnya.


"Soraya!" panggil gadis itu.


Seorang wanita seusianya datang lalu membungkuk.


"Tolong taruh dalam vas dan letakkan dalam kamarku!" titah Gloria.


"Baik, Nona," sahut Soraya lalu menerima karangan bunga itu lalu menjalankan perintah nona mudanya.


Lalu gadis itu tersenyum lagi. Ia sangat bersyukur. Gadis itu kini tak lagi ketakutan.


"Daddy!" pekiknya kegirangan.


"Sayang!" sahut Ageele kaget.


Ageele tercenung. sang istri juga ikut datang dan bertanya.


"Ada apa?"


"Putri kita sudah sembuh," jawab Ageele.


"Benarkah?" tanya sang istri tak percaya.


Lalu wanita itu melihat putrinya tertawa-tawa bahagia. Ia pun tersenyum lega.


"Dia memang butuh banyak dukungan dari semua orang," ujarnya.


Ageele mengangguk. Pria itu akan menikahkan putrinya jika Hugo melamar putrinya. Ia sangat yakin jika pria itu akan bisa membahagiakan putrinya.


Sedangkan di mansion Maxwell. Luien pun bersiap pulang. Gadis itu bersiap dengan kedatangan keluarga Maxwell untuk melamarnya.


"Bersiaplah, sayang. Satu minggu lagi, aku akan memintamu di hadapan kedua orang tuamu," ujar Alex.


Luien hanya mengangguk dengan rona merah di pipi. Pria itu menarik sang gadis lalu mencium bibirnya dalam-dalam.


Luien tergagap. Ia memang masih belum bisa berciuman dengan benar.


Ciuman itu berhenti ketika pasokan oksigen nyaris putus. Hidung keduanya saling menempel, napas keduanya menderu.


"I love you," ungkap Alex tulus.


"I love you too!" sahut Luien membalas.


Gadis itu, memang mencintai Alex. Hanya pria itu yang mampu menaklukan dirinya. Bahkan mengalahkan dia di arena balap.


Gadis itu pun pulang. Alex masuk dan mendapati sang ayah yang langsung merangkulnya.


"Kau hebat bisa menaklukkan seorang putri," ujar Maxwell kagum.


"Aku yang ditaklukan olehnya, Daddy," jelas pria itu.


Maxwell mengangguk. Putranya itu memang sangat sulit dekat dengan lawan jenisnya.


"Tapi, kau benar-benar sudah tak memiliki hubungan dengan Alicia kan?" tanya Maxwell lagi.


"Oh ... c'mon Dad. Dia sudah selingkuh dengan tidur bersama pria yang mengaku sahabatku. Bagaimana bisa aku masih memiliki hubungan dengan wanita sialan itu?"


"Ah, aku lupa hal itu," sahut pria paru baya.


"Aku hanya takut, ia akan membuat perkara, nantinya," sahut Maxwell.


Alex pun terdiam. Namun, kemudian ia pun tersenyum miring. Ia ingat siapa gadisnya.


"Daddy akan lihat siapa Luien. Ia adalah patung kayu ketika orang menghinanya. Tetapi, ia akan melakukan sesuatu jika ada yang sampai menginjak harga dirinya," sahut Alex kemudian.


Maxwell terdiam. Ia memang tak mengenal kekasih dari putranya itu. Tetapi, melihat penampilan cuek gadis itu. Pria itu yakin, jika Luien bisa menghadapi Alicia.


Sedang di tempat lain. Rodrigo marah besar. Empat orang suruhannya gagal menculik Luien.


"Siapa gadis itu?" tanyanya gusar.


Pria itu akan melakukannya sendiri. Ia menatap pistol yang ada di tangannya.


"Kau akan habis olehku, Luien!" ujarnya sambil menyeringai sinis.


"Haachhii!" Luien bersin..


"Siapa lagi yang ingin mencelakaiku?" ujarnya.


Ia turun dari mobilnya. Tiba-tiba.


"Mamaama!" Rico berlari menyambutnya.


"Rico ... sayang," panggil gadis itu.


Tak lama tubuh Rico, Luien angkat tinggi-tinggi hingga bayi itu tergelak.


"Kau sudah berat ya," ujar Luien gemas.


Kini keduanya pun masuk. Mansion itu sudah dihias cantik. Para pekerja masih terus menghiasai mansion yang luasnya 1000m².


"Mama, Daddy, aku pulang!" sahut gadis itu.


"Sayang," sambut Wina dengan senyum lebar.


"Hai gembul!" ujar Wina lagi pada bayi dalam gendong putrinya.


"Mamamamam!" oceh bayi itu tak jelas.


bersambung.


next?