THE REAL PRINCES

THE REAL PRINCES
MENYAMAR 3



Luien mendapat tugas menjadi kepala cabang di sebuah anak perusahaan Maxwell di kota B. Gadis itu meminta ijin pada sang ayah, tadinya ditentang keras oleh sang ibu. Tapi, bukan Luien namanya jika tak berhasil mendapat restu dari sang ayah.


"Daddy, dengan begini. Aku bisa banyak menilai orang. Selama ini, kedok orang akan. terbuka jika kita miskin," ujar Luien memberi penjelasan.


"Tapi, kau sudah cukup terhina kemarin, Nak," ujar Deon masih enggan memberi restu.


"Dad, jika aku tak berpakaian seperti kemarin, apa kita bisa tau ternyata sistem pelayanan di sana buruk?" Deon terdiam..


"Dad, please," ujar Luien memohon.


Dengan helaan napas panjang, akhirnya pria itu pun mengijinkannya. Ludwina hendak protes, tapi tatapan gembira anak gadisnya membuat ia pun akhirnya membiarkan hal itu.


Luien sudah menyiapkan semuanya. Gadis itu sudah memaparkan rencana.


"Sayang," panggil sang ibu.


"Ya, Mam," sahut Luien ketika membereskan bajunya.


"Jangan lama-lama di sana, dan jaga diri, ya" pinta wanita itu.


Luien menatap wanita yang melahirkannya. Ia pun memeluknya. Ludwina membalas pelukan putrinya.


"Ma ... aku bahagia banget, Mama sayang ke aku seperti ini," ujarnya.


"Sayang ... maafkan Mama," ujar Wina dengan nada menyesal.


"Sudah, Ma. Aku malah makasih dulu Mama nggak anggap aku. Aku jadi banyak belajar terutama menghargai orang lain," jelas Luien lalu memberi kecupan di pipi ibunya.


Ludwina begitu bangga dengan putrinya. Lulus dengan nilai sempurna, kini sang putri kembali melanjutkan program S2nya.


"Sebentar lagi, kau akan menikah," ujar Wina, "Mama tak bisa memanjakan mu lagi."


"Aku akan tetap manja sama Mama. Bahkan rebutan manja sama Rico dan yang di dalam sini," jelas Luein sambil mengusap perut ibunya yang sudah berusia delapan bulan itu.


Wina mendesis, janinnya bergerak ketika Luien mengusap perutnya. Ia menciumi wajah putrinya.


"Ayo, kau harus bermain dengan Rico adikmu, karena kau akan lama tak bertemu dengannya. Dia selalu protes jika kau pulang ke apartemen," ajak Wina.


"Bajuku?"


"Shopia!" panggil Wina.


"Saya, Nyonya," seorang maid datang sambil membungkuk.


"Tolong lanjutkan kau benahi pakaian Luien dalam koper!" titah wanita itu.


"Baik, Nyonya!" sahut maid.


Ludwina sudah mengeluarkan baju yang akan dibawanya. Maid tinggal memasukkannya dalam koper. Ludwina dan Luien pun ke ruang bermain.


"Hai ... bayi gembul!" panggil gadis itu.


"Mamam!" panggil Rico.


"Kakak, bayi ... kakak!" ralat Luien.


"Mamam!" Rico malas mengikuti kata-kata Luien.


"Astaga, kau ini!"


Luien menciumi bayi gembul itu, hingga tergelak lalu protes dan menangis.


"Mama ... wuin, matal!" adu Rico dengan air mata menggenang.


"Nakal apa, sayang?" tanya Wina.


Rico memeluk ibu angkatnya dan sibuk menciumi wanita itu. Wina sampai terkikik geli. Tapi, ia memang sangat menyayangi Rico.


Hari berganti. Luien pamit pada orang tuanya untuk ke kota B. Walau dengan berat hati, Ludwina mengantar kepergian anak gadisnya. Selama nyaris satu tahun ia bersama Lueina. Ia merasa berat, belum lagi gadis itu akan segera menikah setelah kelahiran bayi dalam kandungan wanita menjelang paru baya itu.


"Sayang, jangan telat makan, cukup tidur dan sering telepon Mama!" nasihat ibunya.


"Iya Mama," sahut Luien.


Deon hanya diam saja. Ia telah menyuruh Ken dan beberapa anak buahnya untuk menjaga Luien. Mobil gadis itu melesat meninggalkan halaman mansion. Ludwina memeluk suaminya.


Pria itu pun juga menaiki mobilnya, usai mencium bibir istrinya. Tak lama, mobil itu pun meluncur meninggalkan Luiena.


Dalam mobil, Deon mendapat informasi di mana perusahaan yang didatangi putrinya. Tentu saja, semua data perusahaan yang ada di negaranya, ia tahu.


"Ada beberapa penggelapan dana proyek dan mark up data!" jelas Ken di seberang telepon.


"Untuk apa Alex mengirim Luien ke sana?" tanya Deon.


"Tuan Maxwell Junior sudah mengirim beberapa orang sebelumnya dan laporannya tetap tak memuaskan dirinya, karena data yang diberikan sama. Padahal, ia tak menerima penerimaan uang sebesar yang dilaporkan. Bahkan pihak penyelidik juga tak mampu membongkar di mana letak kecurangan itu, Tuan!" jelas Ken panjang lebar.


"Hmmm ... seperti itu rupanya?' sahut Deon.


"Lalu bagaimana perkembangan semua restauran yang kita miliki. Apa kau sudah menyelidiki dan merubah semuanya?" tanya pria itu lagi.


"Sudah Tuan. hanya dua Restauran dan satu hotel yang benar-benar mengusung tema yang kita buat," jelas Ken dengan nada tak enak.


Deon begitu geram.


"Ya, sudah. Bereskan semuanya!" titah pria itu lalu menutup sambungan teleponnya tanpa menunggu jawaban dari Ken.


Ken sangat paham, jika sudah seperti itu. Berarti ia harus benar-benar menghabisi para pekerja yang tak tahu malu itu.


"Kalian salah jika berurusan dengan Philips!" ujarnya dengan seringai menakutkan.


Berita perombakan besar-besaran dimuat di media kabar. Hal ini membuat asosiasi pekerja sedikit melakukan protes. Mereka tidak ingin perusahaan memukul rata semua pegawai berprilaku buruk.


"Kami menentang keputusan sepihak perusahaan yang memberhentikan karyawan yang sudah berdedikasi tinggi pada perusahaan!"


Layangan protes keras diajukan. Sebuah undang-undang menguatkan pihak perusahaan.


"Bagi siapapun yang membiarkan, mengikuti dan mengabaikan semua pelanggaran, dianggap membenarkan dan ikut andil dalam pelanggaran tersebut."


Begitu bunyi undang-undang. Hal itu kembali menuai protes pada asosiasi pekerja.


"Mungkin mereka dalam pengancaman dan mencari pekerjaan itu sulit!"


"Kami para kaum kecil, mana mampu membungkam satu mulut besar!" teriak mereka.


Karena protes besar itu. Membuat, Deon membuka lapangan pekerjaan dan memanggil para karyawan yang memiliki integritas tinggi. Ia pun memberi statmen.


"Saya bukannya kalah berdebat. Para pekerja mestinya harus jauh lebih berani melaporkan hal-hal yang mencurigakan. Tak semua pengusaha itu tutup mata dengan semua kejadian yang bisa merugikan usahanya!"


Pergolakan mereda. Semua berita pemecatan besar-besaran berubah menjadi perombakan karyawan besar-besaran di perusahaan.


Karyawan-karyawan nakal harus hengkang dan tak bisa bekerja seumur hidupnya. Kotak keluhan kembali di letakan di semua perusahaan layanan.


Para pelanggan dan pengguna jasa sangat mendukung pembaruan ini. Mereka juga bingung, karena keluhan mereka juga tak didengarkan oleh pihak perusahaan. Bahkan asosiasi konsumen juga tak bisa membantu banyak. Mereka beranggapan jika hal itu adalah biasa.


Luien menatap mansion mewah, Alex menyewakan tempat itu untuknya. Satu penjaga mendatanginya.


"Apa anda Nona Luien?" Gadis itu mengangguk lalu memberi kartu identitasnya.


Setelah memeriksa, penjaga itu membuka pintu gerbang, mobil Luien masuk dan berhenti di teras mansion bergaya Eropa klasik. Bangunan bercat putih itu nampak di sentuh tangan-tangan terampil dan sangat ahli di bidangnya.


Gadis itu turun dari mobilnya. Pintu terbuka lebar. Semua pelayan membungkuk hormat menyambutnya.


"Nona selamat datang!" sambut mereka.


"Terima kasih, berdirilah!" sahut Luien.


Ketika mereka menegakkan tubuhnya. Terkejutlah semua dengan penampilan majikan baru mereka yang begitu sederhana. Kasak-kusuk pun terjadi pada para pelayan. Sosok kepala pelayan juga ragu mendatangi gadis berpenampilan sangat-sangat sederhana itu.


"Apa yakin, dia majikan kita?" tanya salah satu maid berbisik.


"Aku tidak tau dan aku ragu jika itu adalah majikan kita," bisik salah satunya.


Luien menghela napas panjang, sepertinya. Ia harus memanggil Alex untuk datang ke sini dan memberitahu semua pekerja di sini.


bersambung.


next?