THE REAL PRINCES

THE REAL PRINCES
LUIEN



Sementara di tempat lain, tiga gadis kini duduk di jok belakang mobil BMW seri dua tahun lalu, Luien menjemput Gloria terlebih dahulu. Cecilia cukup terkejut dengan mansion yang mereka masuki. Gloria keluar dengan dress terbaiknya. Ageele ada di sana, ia tersenyum melihat Luien yang keluar dari mobil dan menyapanya.


“Halo Tuan, saya datang lagi, untuk menjemput anak gadis anda,” selorohnya.


“Hati-hati di jalan,” sahut Ageele sambil terkekeh lalu mengacak rambut gadis tengil itu.


Ketika mereka sudah berjalan meninggalkan halaman mansion pria itu. Ageele hanya menghela napas panjang mengingat penampilan Luien tadi.


“Akan kutegur Deon membiarkan putrinya seperti gembel!” gumamnya pelan.


“Aku yakin, jika Luien sudah kembali kepelukan orang tuannya. Karena masalah gloria kemarin cepat selesai, pasti ada campur tangan dari Deon,” lanjutnya bergumam.


Sedangkan di ruangan Alex, Adrian dan Vic tengah mendengarkan kisah dari mulut perempuan yang melahirkan dan mengasuh mereka. Vic nampak bersalah, penyelidikannya mengansumsi jika keluarga Maxwell merebut hartanya. Padahal mereka malah melindungi harta dari Vic sendiri.


“I’m sorry Mam,” ungkap Vic penuh penyesalan.


“Tidak apa-apa Nak. Aku tau kau spontan mengatakan itu. Sungguh, aku menyuruhmu menjadi bayang-bayang Adrian, karena aku ingin kau juga belajar agar kuat seperti dia, kau lahir prematur, kau begitu rentan terhadap penyakit,” jelas Tania.


“Maaf, Mama tadi tak membelamu. Mama juga terkejut dia mengatakan itu,” lanjutnya dengan nada menyesal.


“Sekarang, antar Mama ke salon, di mana pegawaimu membawanya!” titahnya kemudian.


Ketiganya pun berdiri. Adrian melihat ponselnya, ia telah menyalakan gps pada mobil Luien. Pria itu langsung tahu keberadaan gadis yang telah menjadi kekasih kakaknya itu. Walau sebenarnya ia tak begitu tahu sejauh mana hubungan keduanya.


“Apa kau menguntit kekasihku?” tanya Alex gusar.


“Siapa kekasihmu, Lex?” tanya Tania langsung dengan muka tak suka.


“Ah … aku hanya bercanda, Ma,” Alex belum berani mengungkapkan jika Luine adalah kekasihnya.


Mereka pun menaiki lift khusus, semua orang yang berpapasan dengan mereka, membungkuk hormat. Tania hanya mengangguk menanggapi prilaku para pekerja putranya itu.


“Astaga, perempuan itu cantik banget,” puji salah satu karyawati setelah melihat ibu dari atasan mereka.


“Ya pasti cantiklah, lihat aja putra-putranya. Ganteng-ganteng kan?”


Semua mengangguk setuju. Memang ketampanan ketiganya tidak ada yang meragukan.


Ketika di mobil, Tania baru ingat denga berita kedekatan Vic dengan model terkenal itu.


“Katakan pada Mama, Vic. Apa kamu memiliki hubungan dengan model terkenal itu, makanya kau menolak perjodohan ini?” tanyanya sedikit marah.


“Eum … itu,” Vic kehabisan kata-kata.


Pria itu mengira jika ibunya tak akan melihat foto-foto kemesraannya. Secara Tania memang tidak menyukai berita gosip.


“Mama nggak suka ya, kamu berhubungan dengan model itu!” tekan Tania lagi.


“Mendingan Cecil kemana-mana dibanding dia,” lanjutnya merendahkan.


"Ma, yang dua lagi


itu siapa, Ma?” tanya Alex.


Alex dan Adrian mengapit tubuh ibunya, sedangkan Vic duduk di sebelah supir.


“Oh, yang pirang bernama Santana Huges dan yang berambut coklat bernama Davina Bobes,” jawab Tania.


“Oh, putrinya Tuan Daniel Huges toh? Tapi aku nggak kenal sama Bobes,” sahut Alex memikirkan seseorang yang bernama sama.


“Dia adalah putri sambung Tuan Frando Felish dan Iriana Bobes,” jawab Tania.


.


“Oh … Nyonya Bobes yang suka pamer berlian itu ya?” sahut Adrian mengingat seorang wanita yang suka pamer perhiasannya.


“Hus … nggak boleh gitu, ah!” tegur Tania tak suka.


Adrian hanya terkekeh. Butuh waktu tiga puluh menit mereka sampai salon di mana Luien membawa tiga wanita itu.


"Luien, kau juga harus memanjakan tubuhmu!" tarian Gloria memaksa.


"Aku tidak mau!" teriak Luien.


"Ada apa kalian seperti anak kecil?"


Sebuah suara anggun menengahi keduanya yang saling tarik menarik.


"Aku tak mau. Nanti aku tak bisa balapan!' tolak Luien beralasan.


"Apa katamu?"


Keduanya belum menyadari jika yang datang adalah Tania Scott, ibu kandung dari atasan keduanya.


"Hei, yang sopan jika berbicara dengan orang tua!" tegur Vic kemudian.


Luien dan Gloria pun terkejut dengan kedatangan boss mereka.


"Rawat rambutmu!" titah Alex datar.


"Ma, kami tunggu di sini, ya," ujar Adrian.


Luien pun diseret paksa oleh Gloria. Gadis itu tak bisa berontak karena Tania yang juga ikut-ikutan memarahi gadis itu.


Satu jam berlalu. Luien sudah lelah dengan semua treatment yang diberikan. Ini makanya ia tak suka pergi ke salon kecantikan.


"Ayo Luien. Mumpung dibayari oleh Boss, kita relaksasi!" ajak Gloria.


"Tidak!" tolak Luien langsung berdiri.


"Nona, ini sudah satu paket dengan pijat dan relaksasi," jelas salah satu karyawati salon.


"Tidak ada yang boleh menyentuhku selain ibuku!" tolak Luein dengan ekspresi garang.


Akhirnya, karena tidak ada yang berani. Luien hanya mengkeremas rambut dan facial.


Luien selesai lebih dulu. Wajahnya jadi tambah cantik, karena bersih. Alex dan Adrian langsung terpana dibuatnya.


"Hmmm ... aku jadi merindukan Diana," celetuk Adrian tiba-tiba.


Alex tersenyum. Ia menarik tubuh Luien yang tentu saja sudah siap dengan semuanya. Ia menangkis tangan Alex dan mendorong tubuh pria itu.


"Wah kau kuat sekali," ujar Alex memuji.


"Ingat ... kau belum melunasi hutangmu," lanjutnya mengingatkan.


"Eeeumm ... apa ya, sepertinya aku tak menjanjikan apa-apa," ujar Luien pura-pura lupa.


"Kau kalah taruhan dengan ku," sahut Alex lagi.


"Aku tak bilang setuju dengan taruhan itu," sahut Luien lagi santai.


Perdebatan keduanya berakhir ketika Tania, dana semuanya telah menyelesaikan treatmen kecantikannya.


Gloria terpana dengan kecantikan alami mantan rivalnya itu. Sedangkan Tania senang melihat wajah gadis itu. Berbeda dengan tiga lainnya yang mencibir kecantikan Luien.


"Ayo kita makan dulu, kalau begitu," ajak Tania.


"Maaf, Tante ... aku tak mau duduk dengan dua gadis ini, tak selevel," ujar Cecilia menghina Luein dan Gloria.


Luien hanya ternganga. Mereka baru saja mendatangi mansion Gloria, dan ketiganya enggan bersama dengan mantan rivalnya itu.


"Aku tak meminta pendapat mu, jika kau menolak. Aku akan meminta supir mengantar kalian ke hotel tempat kalian menginap, jika begitu," ucap Tania tegas.


Ketiga gadis itu pun diam. Sebenarnya Gloria sangat ingin menimpali perkataan ketiganya, tetapi Luien menghalanginya.


Mereka pun duduk di ruang VVIP. Tania yang dari awal tertarik pada Luien lalu ia pun bertanya.


"Luien, siapa orang tuamu?" tanyanya.


Luien menelan saliva kasar. Ia belum mau mengungkapkan identitasnya.


"Luien anak yang dibuang, Nyonya," timpal Gloria.


Tania memandang tak suka dengan jawaban Gloria. Tetapi, gadis itu acuh, ia merasa menjawab dengan benar.


"Luien?" tanya Tania sekali lagi.


bersambung.


bakalan dikasih tau nggak yaa....


next?