
"Wah, ini kue apa?" tanya Luien ketika mengigit kue itu.
"Yang Mulia, kenapa anda langsung memakannya, bukan pencicip dulu?" tanya Magie tak suka.
Luien mengerutkan kening, ketika mendapat pertanyaan tak enak itu. Netra abu-abunya menyorot tajam pada Magie yang langsung memucat.
"Apa katamu?" tanya Luien mulai emosi.
"Yang ... yang mulia ..." Magie mulai ketakutan.
Tapi, otaknya lalu berputar cepat. Tak ada yang menggugatnya karena hanya kepala residen istana yang bisa memecatnya. Lagi pula, ia menjalankan kewajibannya.
"Saya hanya menjalankan tugas!" sahutnya tegas.
Luien mengangguk. Lalu ia menelepon ayahnya.
"Daddy. Aku minta ayah mengganti semua maid di sini! Minta Paman Ferdinand untuk mengurusnya!" pinta gadis itu.
"Baik, sayang. Lima menit semua maid di kastil akan diganti!" sahut sang ayah.
Magie terdiam. Ada yang ia lupa dengan siapa ia berhadapan. Luien tak melanjutkan makannya.
"Yang mulia anda harus menghabiskan kudapanya!" teriak Magie.
"Kalian makanlah. Aku sudah tak berselera!" titah gadis itu.
"Yang mulia!"
"Aku akan membuatmu menjadi gelandangan di luar sana jika kau mengaturku Magdalena!" ancam Luein.
Magdalena terdiam. Ia yang terlalu sombong mengatur seorang putri raja terpilih. Tak sampai lima menit datang lah para petugas dan meminta semua maid yang bekerja di kastil itu untuk berhenti dan digantikan oleh yang lain.
Pria codet yang bukan bagian dari maid bersembunyi di balik pohon. Semua maid membawa semua perlengkapan mereka dengan wajah tertunduk termasuk Magdalena. Luien melihat semua maidnya. Ia tak melihat satu tukang kebun.
"Tunggu sebentar. Tadi ada tukang kebun laki-laki bercodet!" seru Luien.
Salah satu maid langsung keluar keringat dingin. Masalahnya, dia lah yang memasukkan pria itu ke dalam kastil.
"Periksa seluruh kastil!" titah kepala petugas.
Tiga orang petugas memakai seragam lalu menggeledah kastil. Pria yang dicari menuju pintu rahasia dan keluar dari sana lalu melarikan diri. Petugas mendapat pintu itu terbuka lebar. Salah satu petugas mendatangi ketua mereka.
"Sir, ada pintu rahasia terbuka. Sepertinya ada yang memasukkan penyusup ke kastil!" lapornya.
Ketua petugas menatap tajam. Semua maid menunduk.
"Jika tak ada yang mau mengaku. Aku akan menghukum kalian semua!" ancam pria itu.
"Sir, saya mendapat pakaian laki-laki dan saya yakin, pakaian ini bukan milik salah atau maid," lapor salah satunya lagi.
"Masih ada yang bungkam?" tanya ketua pada pada maid yang masih setia menunduk.
"Baik, kalian tak akan bekerja di istana dan di manapun, selamanya!" tekan ketua.
"Tapi ini tidak adil, Sir!" seru Magie tak terima..
"Kami bahkan tak tahu, siapa yang berkhianat di sini. Pintu rahasia itu sudah ada sejak kami bekerja!" lanjutnya membela diri.
"Saya menemukan pakaian ini di kamar maid bernama Cyra, Sir!" sahut salah satu petugas.
Maid itu tertunduk ketakutan.
"Bawa dia dan periksa semuanya!" titah ketua.
Luien hanya menghela napas panjang. Semua maid keluar, gadis itu merindukan Matilda dan lainnya. Ia sudah nyaman dengan maid di mansion ayahnya.
Setelah urusan maid selesai. Luien diperkenalkan dengan kepala pelayan yang baru.
"Di sini tak ada peraturan yang berlaku. Selama kalian jujur dan rajin!" sahut Luien memberitahu.
"Dan satu lagi. Jangan larang aku untuk memasak atau melakukan pekerjaan di rumah!" peringat gadis itu lagi.
"Baik, Yang Mulia!" sahut para maid.
"Saya Yang Mulia!" sahut Lusie sambil membungkuk hormat.
"Tolong minta para pelayan untuk datang kamarku," pinta Luien lembut.
"Saya akan membantu Yang Mulia Tuan Putri," sahut Lusie.
Luien mengangguk. Ia tak suka dengan sprei di kamarnya. Terlalu licin dan sedikit panas.
Sedang di tempat lain. Pria bercodet sangat kesal, padahal rencananya sebentar lagi terlaksana.
"Dia dipanggil Tuan Putri. Apa dia salah satu bangsawan baru?" tanya bermonolog.
"Aku harus katakan pada Tuan Horton. Jika gadis itu adalah bangsawan," ujarnya.
Tapi, baru beberapa langkah. Pria itu berhenti. Ia menatap bangunan tinggi bercat gading itu.
"Aku akan harus mengintainya lagu. Aku yakin, dia pasti akan keluar," ujarnya.
Lalu kakinya melangkah bebas di sekitar wilayah istana tanpa ada yang mengusiknya. Pria itu tampak mengangguk pada beberapa pengawal istana yang hilir mudik.
"Tidak ada yang menggangguku selama Horton ada di sini," ujarnya jumawa.
"Apa kau tau, Raja baru kita akan merubah semua sistem parlemen istana?" ujar salah satu penjaga istana.
Pria bercodet bernama Baron itu mendengarkan percakapan para penjaga. Ia sangat terkejut, jika akan ada pergantian kepemimpinan.
"Benar. Semua bangsawan sulit mendekatinya. Karena Yang Mulia Raja adalah independen dan Yang Mulia seorang pewaris langsung kerajaan ini!" jelas salah satu penjaga.
Baron cemas. Jika demikian, ia tak bisa bebas keluar masuk istana seenaknya. Sebenarnya, ia juga dilarang berkeliaran. Tetapi, Horton penjaminnya. Jadi ia sangat tenang.
"Jadi apa kita juga nanti diganti?" tanya penjaga itu murung.
"Menurut beredar kabar, hanya parlemen pusat yang diganti, namun akan mempertahankan beberapa yang berdedikasi tinggi pada kerajaan," jelas rekannya.
Baron pun meninggalkan para penjaga itu dan memilih cepat menyingkir dari sana. Ia sangat yakin jika Horton masih menapuk jabatannya hingga tutup usia.
"Abaikan soal raja. aku harus melaksanakan tugas ku secepatnya!' ujarnya.
Pria itu kembali ke dalam wilayah istana. Mengamati pergerakan orang di kastil itu. Benar saja. Luien keluar dengan baju yang sangat sederhana.
"Apa maksudnya ia memakai baju seperti itu?" tanya Baron heran..
Semua gadis bangsawan akan memakai busana terbaik dan dari designer khusus istana. Tapi, yang keluar tadi tak menunjukkan citra diri sebagai seorang gadis bangsawan.
Baron melihat suasana. Luien memang sedang ingin pergi ke suatu tempat. Padahal, ia bisa saja menyuruh orang untuk mengambilnya. Tetapi, gadis itu terbiasa bekerja mandiri. Luien menaiki transportasi umum kembali. Baron mengikutinya.
Hingga, gadis itu turun di sebuah rumah mewah. Baron mengernyit.
"Rumah siapa ini?" tanyanya dalam hati.
Gadis itu membuka pagar. Luien sangat yakin jika dia diikuti. Rumah ini, adalah milik ayahnya, khusus untuk dirinya melakukan tugas yang diberikan oleh sang ayah. Sudah selama nyaris satu minggu Luien bisa membongkar semua kejahatan para perdana menteri dan bangsawan yang curang dan korup.
"Siapa pria itu, dia mengikutiku terus?" tanya Luien dalam hati.
Luien urung membuka gerbang. Ia pun menutup lagi, dan berjalan ke arah yang lain. Baron mengikutinya.
Hingga di tempat yang agak sepi. Pria itu berjalan cepat dan kini sudah menghadang gadis itu.
"Hai ... cantik. Ayo kita bersenang-senang," ajaknya dengan senyum menyeringai.
Luien menatap pria tinggi besar dengan wajah codet. Ia pun mengingat jika pria itu tukang kebun yang hilang dari kastil.
"Siapa kau?" tanyanya santai.
"Tak perlu tahu. Yang penting kau akan mengerang nikmat di bawahku," ujar pria itu tak senonoh.
Bersambung.
next?