THE REAL PRINCES

THE REAL PRINCES
SEBUAH PERISTIWA



"Vic ... tolong aku!"


Brigitta memeluk pria yang membuka pintu dengan erat dan hangat. Tubuh itu seketika kaku dan tegang.


Bagaimana tidak. Gadis itu hanya mengenakan lingerie tipis tanpa mengenakan apapun di dalamnya.


"Nona ...," panggil pria itu memperingati.


Brigitta mengernyit. Suara itu bukan suara Vic. Ia pun mengendurkan pelukannya dan mengangkat kepala lalu menatapnya.


"Siapa kau!" sentak Brigitta lalu melepas pelukannya.


"Saya adalah petugas keamanan apartemen, Juan Manuel. Saya dilaporkan oleh seseorang jika ada orang yang tengah dalam masalah!'' jawab Juan.


Sungguh pria itu kini menahan dirinya. Baju Brigitta sangat seksi dan memperlihatkan kemolekan tubuhnya.


"Anda memar-memar, apa perlu saya panggilkan ambulans agar membawa anda ke rumah sakit?" tawar manager mengalihkan semua gairahnya.


Memang gadis itu merasakan sakit luar biasa di tubuhnya karena menyakiti diri sendiri.


"Wajah anda membengkak. Sebaiknya anda ke rumah sakit," ujar petugas itu lalu mengambil ponselnya.


Itta menghentikan aksi pria itu. Lalu, menutup pintu. Tangannya membelai dada bidang Juan, bahkan dengan berani menyusup ke sela kemeja yang sengaja ia buka.


Pria itu merinding seketika. Bibir Itta terbuka menggoda. Kedua benda untuk berbicara itu pun saling menempel lalu memagut.


Lama kelamaan terdengar bunyi decakan dan lenguhan keluar dari bibir keduanya. Lalu, keduanya pun meneruskan aksinya di atas ranjang.


Sementara Vic sudah sampai di mansion. Pria itu tadi menelepon petugas apartemen Brigitta.


"Semoga dia tak apa-apa. Buktinya, sampai sekarang. Gadis itu tak lagi menelepon ku," gumamnya pelan.


Ia masuk mansion. Vic melihat mobil yang tadi dipakai oleh Alex dan Adrian. Menandakan jika keduanya menginap di hunian ini.


Pria tampan itu masuk dalam mansion. Ruangan itu tampak remang-remang. Vic menekan saklar dan terang lah seluruh ruangan.


"Anda pulang Tuan. Apa perlu saya hangatkan makanan?" tanya salah satu maid.


"Tidak terima kasih," ujar Vic datar lalu segera masuk ke kamarnya.


Maid perempuan itu menghela napas panjang. Menatap kaca yang menampilkan dirinya. Memakai baju tidur satin berwarna oranye, tubuhnya sangat seksi.


"Tak adakah satu pun pria melirikku?" gumamnya bertanya.


Ia mematikan lampu lalu masuk ruangannya. Sedang di kamar Vic baru saja keluar dari kamar mandi.


Hanya mengenakan handuk untuk menutupi area sensitifnya. Pria itu mengambil bokser dan kaos singlet. Usai memakainya, ia melempar begitu saja handuk tadi.


"Aaah!" Vic melempar tubuhnya ke ranjang king size miliknya. Lalu ia pun tertidur.


Hari terus bergulir. Pernikahan makin lama makin dekat. Undangan telah disebar. Hanya seratus orang yang diundang. Gloria dan Vic memang tak ingin terlalu ramai. Lagi pula keduanya tak banyak memiliki teman akrab.


"Kau mengundang Leo?" tanya Ageele sedikit tak suka.


Pria itu melihat undangan yang bertuliskan Leo di sana. Gloria mengangguk.


"Dia juga punya perusahaan yang cukup penting di kota ini. Bukan maksud apapun kecuali hubungan bisnis," jawab Gloria menjelaskan..


Ageele menghela napas panjang. Padahal tak bekerjasama dengan perusahaan Leo, bisnis mereka baik-baik saja.


"Terserah padamu saja," sahut Ageele.


Gloria memakai jasa kurir untuk mengantar semua undangan. Sebuah gedung sudah di sewa. Gereja juga sudah dihias. Semua makin sibuk dengan pekerjaan yang harus dikejar dan selesai targetnya.


"Jadi apa semua berjalan lancar?" tanya Gloria pada Stefania.


Sekretaris itu mengangguk membenarkan.


"Bagaimana dengan syutingnya. Apa mengganggu pekerja?"


Gloria mengangguk. Lalu tumpukan berkas satu persatu ia kerjakan. Ia tak mau menumpuk pekerjaan, karena setelah ini dirinya akan cuti panjang.


"Nona, sudah waktunya kita ke restauran V!"


Gadis itu berdiri dan membenahi pakaiannya. Stefania membantu nonanya. Gloria mengambil tas. Alfonso datang membawa beberapa map. Lalu ketiganya pun pergi ke sebuah tempat untuk menghadiri pertemuan antar pemimpin perusahaan.


Sementara itu, Brigitta yang tengah beradu akting. Adegan sedang menuju akhir skenario. Syuting di perusahaan hanya tiga hari saja. Banyak take yang diambil di berbagai sudut ruangan yang menjadi icon perusahaan itu.


Berkat film tersebut, saham perusahaan menjadi naik secara berkala. Ide Gloria untuk menapakkan kakinya di dunia bisnis berhasil.


"And cut!" teriak sutradara.


Lalu ia pun bertepuk tangan dengan puas. Semua pemain bekerja maksimal. Tinggal beberapa episode lagi menggunakan perusahaan.


"Oke sekarang kita ke lokasi parkiran. Hari ini kita akan menyelesaikan scan nya. Semangat!" teriak Allen pada seluruh kru.


"Semangat!" teriak semuanya.


Para artis berisitirahat untuk makan siang. Brigitta pun tengah melahap makan siangnya. Kepalanya sedikit pusing. Kemarin malam ia bercinta berkali-kali dengan penjaga apartemen.


'Pria itu benar-benar memuaskan ku di ranjang. Berbeda dengan pria lainnya. Apa dia sudah punya pacar? Sepertinya pamorku akan naik jika berpacaran dengannya,' gumamnya dalam hati.


Gadis itu meminta obat pusing kepala pada kru. Tubuhnya benar-benar sakit dan kurang enak badan. Ia hanya tiga kali take skenario lagi hari ini.


"Sebentar lagi selesai. Semangat!" ujarnya pada diri sendiri.


Sedang di tempat lain. Luien dan Alex sibuk dengan perusahaan Deon. Semenjak menjadi raja. Perusahaan itu kini ditangani oleh putri dan menantunya. Mansion dulu kini menjadi rumah pasangan itu.


"Sayang," panggil Alex mesra.


Pria itu memeluk istrinya yang tengah duduk. Luien membalas pelukan suaminya. Dua bibir saling pagut.


"Kita makan yuk," ajak Alex dengan napas menderu.


Luien mengangguk. Tak lama sekretarisnya datang membawa dua kantung plastik berisi makanan. Luien menghidangkannya di meja. Keduanya pun makan saling suap.


"Aku kangen Rico," keluh Luien.


'Kita buat Rico yuk," goda Alex lalu mengelus perut istrinya.


Luien menatap lekat netra hijau sang suami. Ia belum merasakan kehamilan. Sedang Diana kemarin mengabarkan jika dirinya tengah mengandung.


"Jangan pikirkan apapun. Kita juga jarang melakukannya karena kesibukan," ujar Alex seakan tau apa yang istrinya pikirkan.


Luein menaut bibirnya pada bibir Alex. Keduanya berciuman panas. Alex mengangkat tubuh istrinya masuk dalam ruangan khusus. Tak ada pekerjaan berarti yang menunggu. Keduanya kini menyatu di atas ranjang dengan panas.


Sementara di tempat lain. Gloria selesai dengan pertemuannya dengan berbagai pengusaha. Ia mendapat beberapa kerjasama yang menguntungkan perusahaannya.


"Kau hebat sekali, sayang," puji Vic yang juga ada di pertemuan itu.


Gloria merona dipuji sedemikian rupa oleh calon suaminya. Sosok pria menatap pasangan itu dengan tatapan nanar. Ada penyesalan yang amat dalam dari sorotan matanya.


'Andai aku tak menyia-nyiakan dirimu,' sesalnya dalam hati.


Dengan langkah perlahan ia mendekati pasangan yang tengah bercengkrama mesra itu.


"Hi, selamat siang!" sapanya.


Keduanya menatap. Tampak tatapan sang gadis sedikit terkejut lalu netral kembali.


"Oh Tuan Leo Fernandez, selamat siang," balas Vic menyapa.


"Aku dengar kalian bertunangan. Selamat ya," ujar Leo lalu menyodorkan tangan menjabat.


Vic menyambutnya lalu mengucap terima kasih. Gloria hanya mengangguk dan tersenyum dan menyambut jabatan tangan pria yang pernah menjadi kekasihnya itu.


bersambung.