THE REAL PRINCES

THE REAL PRINCES
KERIBUTAN



Sebuah berita muncul di layar televisi. Seorang pengacara ternama menyatakan jika semua harta dari mendiang Tuan Xavier Thomas akan diakuisisi oleh pemerintah.


"Karena, Tuan Rodrigo Thomas tak mampu membuktikan jika ahli waris bernama Edrico Thomas sudah tiada. Bahkan, kami menduga jika Nona Sandra Joseph dibunuh bukan bunuh diri!"


"Menurut surat wasiat yang diputuskan oleh Tuan Xavier sendiri, jika tak ada ahli waris yang hidup. Maka semua aset perusahaan diserahkan pada pemerintah untuk ditukar guling dan dilelang. Uang hasil lelang akan diserahkan pada panti asuhan!"


Rodrigo dan Bernard berdiri mematung dengan ucapan pengacara yang sudah dipercaya oleh mendiang Xavier itu. Pengacara bernama Leonard Horrte, adalah pria kaya raya yang tak mempan disuap dan diajak kerja sama. Banyak kasus pelaku ilegal yang mampu dilibas olehnya.


"Dad, kenapa kau tidak membagi dua hasil kerjasama jika ia mau mengubah surat wasiat itu?" tanya putranya gusar.


"Kau pikir, aku tidak berusaha melakukannya!' tekan Rodrigo berbisik.


"Jadi kemari aku bersusah payah hanya untuk kesia-siaan?" tanya Bernard tak percaya.


"Diam kau!" tekan Rodrigo kesal.


Ia juga tak menyangka jika semuanya seperti ini. Sudah bersusah payah menyusun rencana, untuk mendapatkan harta yang selama ini ia incar. Siapa sangka, jika Xavier sudah menyiapkan semuanya.


"Tak akan kubiarkan pencuri menikmati semua hartaku. Aku tak mau mengulangi kesalahan ayahku di masa lalu. Begitu pesan Tuan Xavier Thomas," ujar Leonard Horrte.


Wajah Rodrigo mengelam. Tangannya mengepal kuat, Ingin sekali ia merobek semua surat-surat itu dan membalik semua menjadi atas namanya. Mestinya, ia memastikan terlebih dahulu jika harta itu sudah menjadi miliknya.


Deon menatap layar datar. Ken berada di sebelahnya. Pria itu mengingat Edrico, bayinya.


"Ken, beli perusahaan itu, samarkan nama pembelinya. Aku ingin lihat, bagaimana pria yang berdiri di belakang Leonard itu berusaha mencari siapa pembeli perusahaan mendiang saudara sepupunya itu!" titah pria itu datar.


"Baik, Tuan!" sahut Ken membungkuk hormat.


Pria itu pun melaksanakan apa yang diperintahkan oleh tuannya. Sedangkan Luien kini tengah bersiap untuk ke perusahaan Maxwell bersaudara. Mobilnya sudah selesai diperbaiki. Pihak showroom meminta gadis itu mengambil sekalian mobil Porsche yang memang menjadi miliknya.


"Baiklah, kirim saja ke sini," ujar Luein meminta mobil itu dikirim ke mansion orang tuanya.


Luien memarkirkan mobilnya, di halaman parkir perusahaan besar nomor tiga itu. Ia baru saja menyelesaikan masa sidang skripsi dan telah lulus dengan cum laude. Diana juga sudah datang menggunakan transportasi umum, ia bersama Hugo. Tak lama, Brandon juga sampai di halaman parkir.


"Selamat pagi, Luien!" sapa pria itu.


"Selamat pagi, Tuan Coveride!" sahutnya membalas.


"Luien!" panggil Diana.


Gadis itu tersenyum lebar. Hugo mengangguk padanya. Mereka berempat pun masuk secara bersamaan. Ketika masuk lift tiba-tiba terdengar teriakan.


"Tunggu!" Luien menekan tombol membuka kembali pintu lift yang nyaris tertutup.


Gloria berlari dengan tergopoh-gopoh. Ketika masuk lift. Ia menatap Luien dan berjalan ke arahnya, lalu memeluknya erat.


Pintu lift tertutup. Tubuh Gloria masih bergetar hebat. Luien mengelus punggung dan menenangkannya. Gloria menangis.


"Luien ... kenapa aku seperti ini," keluhnya sambil terisak.


Semua terdiam mendengar keluhan gadis itu. Hugo menarik tubuh Gloria.


"Hadapi ketakutanmu Glor!"


Gloria menangis. Ia menggeleng. Hugo kembali menegakkan tubuh gadis itu yang tiba-tiba lemah.


"Kau harus menghadapinya, lihat aku Glor!" pinta pria besar itu.


Dengan linangan air mata. Gloria menatap Hugo yang memandangnya penuh ketegasan. Gloria tergugu, Hugo menghapus genangan basah di wajah cantik gadis yang memang sudah bertengger di hati pria itu. Hugo memang jatuh cinta pada Gloria, hanya saja ia memendamnya. Ia sangat tahu diri.


"Tegakkan kakimu Glor. Tunjukkan pada Jessy jika ia tak bisa melemahkan mu sedikit pun!" tekan pria itu.


Gloria masih menangis walau tak sekencang tadi, sedang baik Diana dan Luien ikut menangis melihat betapa lemah rivalnya semenjak kasus penculikan itu.


Ting! Pintu lift terbuka, lantai paling atas. Diana mengusap wajah rivalnya dengan tissue, lalu mendandani lagi wajah Gloria yang luntur karena air mata.


Gloria mengait tangan Diana, kedua rival itu saling bergandengan tangan. Luien tersenyum melihatnya. Sedang Hugo dan Brandon hanya memandang saja. Kelima orang itu harus melaporkan diri pada pihak management HRD yang menunggunya di ruang atasan mereka.


"Bagaimana keadaanmu, Glor? Apa kau sudah siap bekerja di bawah tekanan?" tanya Alex.


"Sudah siap, Tuan," jawab Gloria tegas dan yakin.


"Bagaimana yang lain?" tanya pria itu lagi.


"Siap Tuan!" sahut keempat lainnya.


"Baik, Senin depan kalian bisa bekerja di sini," ucap Alex kemudian.


"Oh ya, saya harap kalian sopan, karena ibu kami akan hadir di sini!" titahnya menambahkan.


Kelimanya mengangguk hormat.


Tak lama, sosok wanita datang bersama tiga wanita sangat cantik dan berpenampilan elegan. Gloria sampai terpana melihat kecantikan keempat wanita itu.


"Nah, ini Ibu kami. Ia bernama Tania Scott," ujar Alex memperkenalkan wanita yang ia tatap penuh pemujaan.


Adrian dan Vic juga menatap wanita itu sama. Kelima orang itu menunduk hormat.


"Jadi mereka pegawai yang magang kemarin di perusahaan mu, Nak?" tanya wanita itu ramah.


"Benar Mam," jawab Ketiga pria itu.


"Baiklah, selamat datang di perusahaan ini, Silahkan keluar ruangan, karena saya ingin memperkenalkan tiga gadis cantik ini pada ketiga putra saya," titahnya kemudian.


Kelimanya pun mengangguk dan meninggalkan ruangan tanpa banyak bicara. Gloria sangat yakin jika ketiga gadis yang tadi adalah calon untuk ketiga atasan mereka.


"Aku yakin ketiga gadis tadi adalah calon istri untuk Tuan Maxwell bersaudara," ujarnya.


Luien mengangguk setuju. Ia sudah mempersiapkan hatinya. Sedang Diana hanya diam dengan mata menggenang. Gloria lebih kuat, ia memang tidak memiliki ikatan dengan Vic.


Gloria menggenggam erat tangan Hugo. Gadis itu masih trauma dengan goncangan. Sedangkan pria itu memberi kekuatan pada gadis yang ia cintai secara diam-diam ini.


Sedangkan di dalam ruangan ketiga pria itu sangat tidak menyukai cara ibunya memperlakukan karyawannya seperti tadi.


"Untuk apa Mama membawa tiga gadis ini?" tanya Adrian gusar.


"Sayang, mereka adalah calon istri kalian. Mama sengaja mencari gadis yang sederajat. Sudah saatnya kalian menikah," jelas Tania lalu duduk di sertai ketiga gadis itu dengan elegan.


"Ma!"


"Jangan membantahku. Vic, kau anak yang paling menurut. Tentu kau tidak membantah perintah ku untuk menikah bukan?"


"Saya memang akan menikah, Ma. Tapi, dengan gadis pilihan saya sendiri," jawab pria itu tegas.


"Vic, gadis yang kubawa jauh lebih baik dari semua gadis pilihan mu," ucap Tania tak kalah kuat.


Aura arogansi wanita itu menguar hebat. Vic, selama ini menurut pada wanita yang menyusuinya ketika bayi dulu. Kasih sayang wanita itu tak bisa ia balas seumur hidupnya.


"Ini Cecilia Dawney, dia adalah putri dari Tuan Woody Dawney. Kau tau kan dia gadis cantik dari keluarga terhormat dan harmonis," ujar Tania tak memperdulikan keinginan Vic.


"Anggap saja, dengan kau menyetujui perjodohan ini, kau membalas semua kepayahanku selama merawatmu," lanjutnya.


bersambung.


heeemmm ...


next?