
"Anggaplah dengan menerima perjodohan ini, kau telah membalas jasa atas kepayahanku merawatmu," ujar Tania datar.
Nyes!
Hati Vic terasa sakit. Ia menatap wanita yang ia puja dan menjadi pengganti ibunya. Bahkan tak ragu wanita itu yang mengurusi juga menyusuinya. Vic mengepal tangan erat.
"Maaf ... tapi untuk kali ini, aku menolak," ucapnya lirih.
"Vic!" bentak Tania keras.
Sedangkan Cecilia nampak menunduk. Ia tak menyangka jika pria yang dijodohkan dengannya menolak. Itu sangat melukai harga dirinya.
"Sudah Tante. Jangan teruskan. Aku juga tidak mau menikah dengan pria yang hanya jadi nomor dua saja!" sela Cecil menghina Vic.
"Apa katamu?" tanya Adrian tak suka dengan perkataan Cecilia.
"Kenapa? Bukankah itu benar adanya. Dia hanya menjadi bayang-bayang saja. Tak dianggap!" sindir gadis itu memandang rendah Vic.
"Hanya menjadi pria nomor dua saja sudah sombong! Aku yakin kedudukannya di sini hanya sebagai pesuruh!" hinanya lagi.
Tania bungkam. Vic menatap wanita yang mengaku mencintainya seperti anak sendiri itu, tak membelanya. Cecilia berdiri. Tania langsung menahannya.
"Sayang, kau mau kemana?" tanyanya.
"Aku menolak perjodohan dengan Vic, Tante!" jawab gadis itu kesal.
"Sayang, jangan begitu. Aku yakin, Vic tak sengaja berkata seperti itu, dia shock karena langsung dijodohkan dengan mu," ujar Tania menenangkan Cecilia.
Tania menghampiri Vic. Wanita itu harus mendongak menatap pria tampan beriris coklat gelap di depannya.
"Kau menyayangiku kan?" tanyanya dengan tatapan memohon.
"Lihatlah, Cecilia sangat cantik, wanita terpelajar, berasal dari keluarga terhormat, status mu akan terbantu jika menikah dengannya," lanjutnya.
"Ma!" tegur Alex dan Adrian.
"Maaf, Ma. Ini menyangkut kebahagiaan ku," ujar Vic bersikukuh menolak.
"Bahagia apa?" tanya Tania kesal. "Aku tau apa yang membuatmu bahagia, Nak!"
"Keputusanku sudah bulat. Kau akan menikah dengan Cecilia titik!" putus wanita itu tak mau tau.
"Jika tidak ...," Tania tak melanjutkan ancamannya.
"Jika tidak aku akan melaporkan kematian orang tuaku ke kepolisian dan menuntut keluarga Maxwell atas perampasan hartaku!" tiba-tiba Vic berbalik mengancam Tania.
"Apa!"
Baik Alex dan Adrian terkejut mendengar ancaman Vic. Mereka memang tahu jika orang tua dari Victor kecelakaan. Hanya saja, mereka tidak tau penyebabnya.
"Lancang kamu!" bentak Tania.
Plak! Wanita itu menampar Victor. Pria yang dulu diasuhnya dengan kasih sayang.
Vic merasa perih. Sudah cukup baginya selalu menjadi bayang-bayang Adrian. Walau, baik Alex dan Adrian tak pernah menganggapnya orang lain. Keduanya menyayanginya selayak saudara sendiri. Bahkan Alex begitu menjaganya.
Cecilia kaget mendengar perkataan Victor barusan. Ia tak menyangka jika pria itu memiliki keberanian. Sedang dua gadis lainnya hanya menonton. Bahkan senyum simpul terbit di bibir keduanya.
"Apa maksudmu Vic?" tanya Alex gusar.
"Tidak ada, dia hanya bicara asal!" sanggah Tania gusar.
"Tidak!" sahut Adrian. "Vic tak pernah asal jika bicara!"
"Kalian bertiga. Keluar dari ruangan ini!" usir Adrian pada Cecil dan dua wanita yang tak dikenalinya.
"Really?" tanya ketiganya tak percaya.
"Kami harus kemana?" tanya salah satu wanita berambut pirang.
Adrian mendumal. Ia merogoh kantung celananya dan mengambil ponselnya.
"Halo Luien, kau di mana?" tanyanya.
Di otaknya hanya terpikir nama gadis itu. Beruntung Luien belum jauh dari kantornya.
"Cepat kau ke sini dalam lima menit!"
Adrian langsung menutup sambungan teleponnya. Alex sampai kesal mendengar perintah adiknya.
"Kau gila!" desisnya.
Tujuh menit, sosok gadis yang diteleponnya tadi datang dengan wajah memerah dan terengah-engah. Wajahnya begitu kesal.
"Kau telat dua menit Luien!" tegur Adrian dengan seringai menyebalkan.
Luien memasang wajah kesal pada atasannya.
"Ada apa Tuan memanggil saya?" tanya gadis itu.
"Kau bawa tiga perempuan ini jalan-jalan," titahnya. "Bawa mereka ke salon langganan mu."
"Tuan bercanda?" tanya Luien tak percaya.
"Apa-apaan ini?'' tanya Tania menatap Luien dari atas hingga bawah.
Masalah Vic jadi terlupakan gara-gara penampilan Luien yang nyaris seperti gembel. Luien yang tak merasa melakukan sesuatu yang salah hanya bengong. Situasi tegang dan kaku seketika berubah.
Pada dasarnya Tania adalah wanita yang berhati lembut dan penuh kasih. Tetapi, semenjak ketiga orang tua gadis yang ia bawa serta selalu mempengaruhi pikiran wanita itu. Tania seperti bukan dirinya sendiri tadi.
"Kau kemarin bekerja di sini kan?" tanya Tania.
"Iya," jawab Luien pendek dengan polosnya.
"Kemana semua gajimu? Apa kau tak membelikan dirimu baju?" tanya Tania setengah putus asa.
Luien hanya menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia memang sudah terbiasa memakai baju sesukanya. Padahal Ludwina sudah membelikannya baju dari rancangan ternama.
"Yang penting kan aku tak telanjang," sahut gadis itu santai.
"Astaga ... ibumu pasti menangis melihat penampilan mu, Nak!" sergah Tania gusar.
Vic kini mengerti. Tania tadi dalam pengaruh orang lain. Wanita itu seperti diajari berkata arogan seperti tadi.
"Nyonya!" rengek Luien.
"Sudah ... sudah. Kau bawa mereka ke salon. Jika kau tak tau. Kau bisa bertanya pada Gloria," sela Alex kemudian.
Pria itu masih penasaran pada perkataan Vic barusan. Luien akhirnya mengajak ketiga gadis yang dibawa oleh Tania tadi.
"Ayo!" ajaknya.
"Kami harus bersama gadis gembel ini?" Seru Cecil bergidik.
"Apa kami juga harus satu mobil dengannya?" tanya satunya lagi menatap jijik pada Luien.
Gadis itu terbiasa dihina. Luien santai saja menghadapi hinaan dan makian orang-orang kepadanya.
"Keluar!' bentak Alex mengagetkan semuanya.
Ketiga gadis itu diam dan akhirnya keluar dengan mulut terlipat ke dalam. Luien menelepon Gloria menanyakan salon langganannya.
"Aku minta jemput ya. Sudah lama aku tak ke salon," pinta Gloria.
"Oke," sahut Luien.
Setelah keempat gadis itu pergi. Kini baik Alex dan Adrian menatap Tania, ibu mereka. Vic, menyesal mengatakan hal tadi. Ia tak mungkin meralat kata-katanya.
"Bisa jelaskan perkataanmu tadi, Vic?" tanya Adrian lagi.
Tania gelisah. Tangannya keluar keringat dingin. Sebuah rahasia besar yang ia simpan selama ini, akan terkuak sebentar lagi.
"Kecelakaan itu bukan kecelakaan biasa, tapi disengaja, Tuan," jawab Vic akhirnya.
"Saya sudah melakukan penyelidikan secara diam-diam," lanjutnya sambil menatap wanita yang kini hanya tertunduk pasrah.
"Apa Daddy tau ini?" tanya Alex.
"Tahu," jawab Vic.
"Daddy lah yang memintaku untuk diam, Tuan. Daddy menjamin semua asetku aman di tangannya," jawab Vic.
"Ma!" panggil Alex pada wanita yang ia hormati itu.
"Bisa kau jelaskan?" tanyanya kemudian.
"Ya, memang benar, kecelakaan itu disengaja. Tetapi soal perampasan harta itu tidak benar sama sekali!" tekannya di kalimat terakhir.
Vic hanya diam. Ia tadi juga asal berbicara untuk membalik ancaman wanita yang merawatnya itu.
"Ma, aku tau kau sangat menyayangi kami. Tapi, untuk masalah istri. Tolong biarkan kami cari sendiri," pinta Adrian menyudahi semuanya.
Alex hanya menghela napas panjang.
"Setelah ini, aku pastikan jika Vic akan mendapatkan hartanya kembali!" sahut Alex tak bisa dibantah.
"Kau bilang lah pada ayahmu, nanti. Mama tak peduli lagi dengan kalian," tukas Tania acuh.
"Maa ...," ketiganya duduk bersimpuh di hadapannya.
"Ma, maafkan aku, tapi aku sudah mencintai gadis lain," ujar Vic meletakan kepalanya di pangkuan Tania.
"Ketika Cecilia mengataiku bayang-bayang Adrian. Aku tersinggung, Mama tak membelaku, jadi tadi aku hanya bicara asal," ujarnya lagi penuh penyesalan.
Tania menangis, sungguh tadi ia juga sakit hati putranya dihina sedemikian rupa oleh gadis yang dianggapnya baik.
"Mama akan ceritakan tentang Victor Ignatius Dambaldore, adik kalian sesungguhnya," ujar Tania akhirnya.
bersambung.
waaah ... jangan-jangan Victor juga sultan ...
next?