THE REAL PRINCES

THE REAL PRINCES
RENCANA



Luien kembali magang. Ia sedikit takut untuk bertemu dengan atasannya, Tuan Alex. Gadis itu makin berdebar ketika dirinya sudah makin dekat dengan ruangannya bekerja. Hari ini ia berangkat lebih pagi.


"Kata Daddy, tidak ada pernikahan jika salah satunya tak setuju, terlebih si pria harus melamar dirinya dulu dengan mendatangi ayahnya. Karena ayahnya yang akan mengantarnya ke altar," gumamnya lirih.


Ia menghembuskan napasnya berkali-kali, lalu membuka pintu. Ruangan masih sepi. Gadis itu menyiapkan semua berkas dan mengatur ulang jadwal atasannya. Ia juga ke pantry setelah melihat jam sebentar lagi atasannya datang.


Diana yang datang bingung kenapa sahabatnya datang sangat pagi.


"Eliz!" panggilnya.


"Apa?" sahut Luein.


"Ada apa, kau datang sangat pagi?" tanya Diana.


"Kau lupa mobilku sudah rusak dan aku tak mungkin naik motor trail ku," jawabnya.


Diana pun mengangguk. Luein memang sangat menghargai waktu. Gadis itu akan, mengerjakan semuanya.agar semuanya selesai dengan waktu yang cepat. Mereka bekerja di bulan terakhir magang mereka. Tinggal tiga minggu lagi.


Ketiga pria datang.. Alex menatap Luien yang sedang sibuk menyusun berkas dan menulis laporan. Melihat gadisnya begitu serius, pria itu pun urung untuk menggodanya. Jika ia bisa, ia ingin membawa Luien pergi ke altar dan memaksa pendeta menikahkan mereka.


Kegiatan bekerja pun dimulai. Vic mulai merindukan Gloria. Pria itu terkadang suka pergi ke divisi administrasi. Ketika sampai sana, ia lupa jika Gloria tengah dalam perawatan.


Sedang dalam ruangan. Luien yang sudah membereskan pekerjaannya. Lalu memberi tahu jika ada meeting tentang kerjasama dengan sebuah perusahaan.


"Gracia Robert mengajukan kerjasama, ia menunjuk satu hotel kelas tiga untuk pertemuannya," jelas Luien.


"Katakan, apa itu nama wanita yang menggoda ayahmu Diana?" tanya Adrian.


"Benar Tuan," jawab Diana.


"Apa kau ingin balas dendam. Kau tau perusahaan itu masih atas nama Tuan Adam Cloum yang berarti kaulah ahli warisnya. Gracia di sana sebagai wakilnya saja. Bahkan keduanya pun tak terikat pernikahan sah. Jadi kau lah yang berhak mengusirnya. Bagaimana?' tanya Adrian menawarkan.


"Iya Tuan. Tapi, apa saja yang harus saya butuhkan agar perusahaan itu ada di tangan saya?" tanya gadis itu.


"Apa di identitas mu bernama Lambert atau Cloum?"


"Masih Cloum, Tuan. Hanya ketika magang karena tidak perlu pakai identitas asli, saya memakai nama ibu saya," jawab Diana lagi menjelaskan.


"Itu sudah cukup, kita akan membuat dia menandatangi sebuah surat pernyataan jika kau adalah ahli warisnya," ujar Adrian dengan senyum miring.


Alex membiarkan adiknya membantu Diana. Perusahaan Adam Cloum memang cukup bagus jika mereka mau berinvestasi di sana. Alex sudah mendatanya, hanya saja status hukum Gracia yang membuat banyak perusahaan mundur. Merkea menanyakan ahli waris perusahaan itu.


Gracia mengatakan jika istri dari Adam lah yang selingkuh dan melarikan diri bersama pria lain. Diana belum tahu itu.


Sedang di sebuah kamar. Tampak sosok lemah terbaring dengan mulut miring. Seorang perawat pria menatap nya malas. Tak ada pengobatan yang didapatkan oleh pria itu.


"Veronica ... maafkan aku ... maafkan aku ...!" ujarnya bermonolog dalam hati.


Hanya penyesalan. Tergoda akan pelayanan Gracia, pria itu meninggalkan istri sekaligus putrinya. Adam Cloum sangat ingat. Awalnya ia begitu bergairah bersama Gracia. Wanita itu selalu bisa memancing hasratnya sebagai lelaki.


Namun, lambat laun. Gracia mulai menampakan dirinya. Wanita itu ternyata hanya menginginkan harta saja. Berapa pun uang yang diberikan padanya, selalu kurang. Hingga, suatu malam ia kedapatan wanita itu tengah bercumbu dengan pria bayaran. Dari sana ia langsung stroke.


"Dasar tak berguna. Aku sudah kehabisan uang dan kau malah sakit!" pekik wanita itu.


Ia pun pergi ke pengacara meminta peralihan perusahaan, sayang. Gracia tak bisa mendapatkan nya. Selain ia tidak ada ikatan apapun dengan Adam. Ia tak bisa menyuap atau menjalin kerjasama dengan pengacara untuk memalsukan surat kuasa. Pengacara Adam seorang wanita yang jujur dan juga berasal dari keluarga kaya raya.


Adam menyesali semuanya, hanya karena napsu. Ia meninggalkan istri yang selalu menjaganya. Istri yang selalu mencintainya apa adanya.


"Veronica ... maafkan aku!"


Sedang di tempat lain. Adrian sudah menyiapkan semuanya. Bahkan ia mengubah jadwal pertemuan di kantornya. Garcia yang mendapat sinyal jika proposal kerjasamanya dilirik sebuah perusahaan besar sangat antusias.


Ia menggunakan pakaian terbaiknya. Tubuhnya yang masih seksi, karena ia selalu merawatnya. Wanita itu melangkah begitu percaya dirinya ke perusahaan itu.


"Halo, saya Gracia Robert sudah ada janji temu dengan Tuan Adrian Maxwell Junior," ujarnya kepada resepsionis.


Gracia memindai semua dekorasi perusahaan. Ia begitu mengagumi juga terperangah dengan kemewahannya.


Resepsionis mengetuk pintu. Ada suara berat menyuruhnya masuk. Keduanya pun masuk.


"Tuan, Nyonya Robert datang," ujar resepsionis memberitahu.


"Baik terima kasih, tolong minta buatkan teh dan bawakan kemari," titah pria beriris amber itu.


Gracia hanya termangu dengan ketampanan pria yang ada dihadapannya. Bahkan dia tak mendengar ketika Adrian memintanya untuk duduk


"Silakan duduk nyonya!"


Melihat tamunya hanya diam sambil memandanginya membuat ia tersenyum miring.


"Nyonya?!" panggilnya lagi.


"Ah ya ... maaf," Gracia pun duduk dengan elegan.


Di otak wanita itu akan melakukan sesuatu agar bisa menjerat pria tampan di depannya ini. Wanita itu mau melakukan apapun untuk bisa melewati satu hari panas di ranjang bersama Adrian.


"Jadi mana proposal yang harus saya baca, Nyonya Robert?" tanya Adrian sambil menyandarkan tubuhnya di kursi.


Melihat pria itu memejamkan mata. Dengan berani Gracia berdiri dan berjalan dengan sangat seksi. Perlahan, ia membelai pipi pria itu. Adrian menangkap tangan yang menjalar. Netra keduanya saling menatap. Tampak sekali jika Gracia sudah berada dalam kabut gairah.


"Tuan .. proposal itu ada dalam bajuku," ujarnya menggoda.


"Dalam bajumu?" tanya Adrian sambil menaikkan alis.


"Iya Tuan ... dan saya kesulitan membuka kancingnya apa kau mau membantuku, Tuan?" pinta Gloria dengan gaya sensual.


Wanita itu mengangkat tangan Adrian dan meletakkan di dadanya. Bahkan dengan berani meremaskan tangan itu ke gundukannya.


Adrian memang seorang penyuka wanita agresif. Tetapi, melihat Gracia terlalu berani ia jadi takut sendiri. Di pikirannya terlintas wajah Diana yang menangis.


"Nyonya ... apa yang anda inginkan?" tanyanya datar.


"Seperti apa yang kau inginkan Tuan," jawab Gracia dengan suara seksi.


Adrian tiba-tiba berdiri dan mendorong tubuh Gracia. Wanita yang terpaut delapan tahun di atasnya ini memang seksi. Tapi, bukan seleranya sama sekali.


"Kau ingin apa, Nyonya?" tekan Adrian sekali lagi.


Gracia terkekeh. Ia menurunkan bajunya. Kancingnya sudah ia lepas semua. Kini, ia hanya mengenakan penutup dada saja dengan rok span di atas lututnya.


"Jangan munafik Tuan. Kau sangat menginginkan ini bukan?" tanyanya sambil meremas salah satu aset tubuhnya.


"Kulihat kau menahan semuanya ... padahal ...," Gracia tak melanjutkan perkataannya.


Ia cukup terkejut ketika melihat tak ada gelembung yang menonjol di area sensitif pria itu.


"Wah ... ternyata ini kelakuanmu Bibi Gracia?"


Sebuah suara mengagetkan wanita itu. Ia pun menoleh. Terdengar bunyi jepretan dari kamera ponsel. Diana membidik banyak foto dan dan rekaman bagaimana Gracia menggoda Adrian.


"Diana?"


bersambung.


nah loh ...


next?