
Semua sibuk mempersiapkan pernikahan Gloria. Gadis itu semakin hari juga makin sibuk dengan segala pekerjaannya. Terlebih perusahaannya kini mensponsori sebuah film yang menceritakan perusahannya.
Ageele jarang ke kantor. Pria itu hanya memback up putrinya dari belakang. Bahkan nyaris semua keputusan diambil Oleh Gloria yang notabene sebagai CEO perusahaan Ageele Steel.
"Nona jadwal anda hari ini ...."
Sekretaris gadis itu mengucapkan berbagai jadwal yang harus diikuti Gloria.
"Hari ini anda diminta untuk menemui para artis dan manager film yang akan menggelar scan nya di perusahaan ini," ujar sekretaris lagi.
"Buat ruangan lain yang mirip dengan perusahaan. Saya menolak jika mereka syuting di lokasi perusahaan!" sahut Gloria tegas.
"Baik, Nona. Mereka hanya mengambil gambar ketika orang-orang bekerja dalam jangka lima menit saja dan hanya satu kali take!" sahut sekretaris memberitahu.
"Mereka memiliki studio sendiri untuk proses yang lainnya!" lanjutnya.
Gloria mengangguk.
"Minta Tuan Filan mewakili diriku untuk menemui mereka," titah Gloria.
"Kita akan mendatangi pertemuan dengan perusahaan xxx di restauran B!" lanjutnya.
Sekretaris itu membungkuk hormat setelah mencatat perintah atasannya. Gloria menandatangani beberapa berkas pekerjaan. Ia juga belajar beberapa proposal yang masuk. Gadis itu sangat serius dengan apa yang dikerjakannya. Sosok arogan dan sombong sirna ketika melihat dirinya bekerja begitu serius, bahkan sekretaris pribadinya menatapnya sampai ternganga.
"Cantik sekali," pujinya bergumam.
"Nona, waktunya kita berangkat!" ujar sekretaris memberitahu.
Gloria telah menyelesaikan semuanya. Beberapa berkas diambil oleh sekretaris bernama Stefania itu.
"Mana Tuan Alfonso?" tanya gadis itu.
Alfonso adalah asisten pribadi ayahnya. Pria itu sudah berdiri menunggu di lobby. Gloria tersenyum menatap pria yang usianya terpaut sepuluh tahun dengannya itu. Pria itu tersenyum lalu membungkuk hormat.
"Nona," sapanya.
Ketiga orang itu pun masuk mobil dan pergi menuju sebuah restauran.
Sementara di tempat lain Brigitta sedang sibuk take kamera. Ia menjadi pemeran kedua sebagai karyawati perusahaan yang jatuh cinta dengan bossnya sendiri. Itta begitu panggilannya sangat memerani perannya begitu apik. Gadis itu memang artis berbakat dan tengah naik daun.
"Cut!" teriak sutradara.
Pria itu berdiri dan bertepuk tangan puas akan scan hari ini.
"Bagus, kalian benar-benar bermain sangat baik. Saya harap film ini bisa masuk nominasi sebagai film terbaik!"
Pujian dan harapan terlontar dari mulut pria itu. Semua artis pun bertepuk tangan. Mereka diminta untuk istirahat sebentar.
"Permainan mu sangat bagus sekali Itta," puji sang sutradara dengan manik berbinar.
Brigitta hanya tersenyum penuh percaya diri. Gadis itu memang memerankan perannya dengan baik. Sebagai tokoh kedua yang mengharapkan cinta dari sang Boss yang telah beristri. Itta membayangkan lawan mainnya adalah Boss sungguhan yakni tuan Ageele.
"Pak sutradara," panggil gadis itu.
Pria itu menoleh pada Itta. Gadis itu mendekat dan membelai tangan sang pria dengan jari lentiknya.
"Katanya, kita akan bertemu dengan pemimpin perusahaan yang memproduseri film kita ya Pak?" tanya gadis itu dengan suara sangat lembut.
Sutradara itu menatap sayu pada Brigitta. Semua orang tau bagaimana affair antara pemain dan sutradara. Bahkan pemeran utama wanita film itu sudah hidup bersama dengan sang sutradara sebelum film berproduksi.
"Iya, memangnya ada apa? Acaranya nanti sore," jawab sutradara.
"Aku tak tau, tapi katanya pemimpin perusahaan memang akan menghadiri pesta penyambutan kita," jawab sutradara.
Pria beruban itu tak tahan menatap bibir bergincu Brigitta, pria itu menarik sang gadis ke sebuah ruangan dan mencium rakus bibir Brigitta. Tentu hal itu tak di sia-sia kan oleh gadis itu.
Mereka berciuman cukup panas bahkan sang sutradara mampu membuat tanda di leher dan dada gadis itu. Mereka saling memuaskan satu dengan yang lain, walau tanpa penyatuan karena tempat yang tidak memungkinkan.
"Aarrghh!" pekik tertahan sang sutradara ketika pelepasan.
Cairan kental itu meleleh di tangan sang gadis. Begitu juga lelehan cairan dari milik Brigitta yang meluber di jari sang sutradara.
Keduanya terengah-engah. Sebenarnya mereka belum puas. Mata gadis itu terlihat sayu dan ingin lebih.
"Kita akan lakukan lain waktu dan mencari tempat yang lebih nyaman," ujar pria itu dengan mengatur napasnya.
Keduanya tampak membersihkan diri dengan tisu basah. Lalu saling merapikan pakaian mereka. Keduanya berciuman singkat lalu keluar dari ruangan pengeditan film. Tak ada yang menegur bahkan jika tau mereka tak peduli.
Sedang di tempat lain Gloria sangat piawai dalam presentasinya. Semua pengusaha menatap takjub akan langkah berani gadis itu.
"... Jadi, demikian penjelasan dari saya. Apa ada yang perlu ditanyakan?" ujarnya menyelesaikan presentasi.
Semua berdecak kagum lalu berdiri dan bertepuk tangan. Gloria tersenyum dan membungkuk untuk mengucap terima kasih. Alfonso begitu bangga akan nona mudanya.
Semua bersalaman. Bahkan Maxwell yang hadir langsung memeluk calon menantunya itu.
"Gadis ini adalah calon menantuku!" ujarnya memperkenalkan Gloria dengan penuh kebanggan.
"Wah, kau hebat sekali Tuan Maxwell. Semua putramu menikah dengan gadis-gadis terbaik!" puji salah satu kolega yang setengah iri padanya.
Maxwell tak peduli. Ia tersenyum pada Gloria dengan penuh kekaguman dan rasa bangga.
"Aku sangat yakin jika ayahmu tengah duduk santai dan bercinta dengan ibumu," bisiknya berseloroh.
Rona merah langsung menyeruak di wajah gadis itu. Memang ia tak melihat kemesraan pada kedua ayahnya. Gloria mengetahui jika Ageele sangat mencintai istrinya. Terbukti ketika Samantha terjerat pada kasus judi yang membuat goyah perusahaan. Ageele tetap setia dan bahkan mengusahakan pengobatan pada sang istri agar keluar dari hobi judinya.
"Ayahku tetap yang terbaik Tuan Maxwell," sahut Gloria penuh kebanggan.
"Tentu, sayang. Kau adalah keturunannya, jadi kau juga yang terbaik," sahut Maxwell.
Rona merah masih menghiasi wajah gadis itu. Semua terus memuji gadis itu. Hingga Gloria salah tingkah sendiri.
"Kita masih harus menuju hotel A, Gala dinner akan berlangsung dua jam lagi, Nona!" sahut Stefania sang sekretaris.
Gloria mengangguk. Usai makan siang dengan para kolega. Gadis itu menuju butik dan membeli gaun. Kali ini kode busananya adalah golden. Gaun berwarna emas jadi pilihan gadis itu, ia pun membeli sepatu dengan warna senada.
Gaun tanpa lengan dan potongan dada berbentuk v dan punggung terbuka. Gadis itu menuju hotel B dan memesan dua kamar. Satu untuk Alfonso dan satunya lagi untuk dia dan sekretarisnya.
"Aku akan membersihkan diri dulu," ujar Gloria lalu masuk kamar mandi.
Stefania mengatur gaun nona mudanya agar tetap rapi. Usai Gloria mandi, kini giliran Stefania yang masuk kamar mandi. Gadis itu juga dibelikan gaun midi warna gold.
Gala dinner sedang berlangsung, Luien dan Diana ada di sana dengan gaun terbaik mereka masing-masing. Luien sangat cantik begitu juga Gloria dan Diana. Ketiganya menjadi sorotan dan mendapat pujian dari kalangan designer ternama.
Gloria yang tak pernah masuk kategori apa-apa . Tiba-tiba, dirinya masuk nominasi dengan gaun terbaik. Walau Luien yang memenangkan kategori itu. Tapi, Gloria cukup terkejut dirinya masuk jajaran yang sama dengan Luien.
bersambung.
Itu lah jika berteman dengan orang baik pasti jadi baik.
next?