THE REAL PRINCES

THE REAL PRINCES
INTERMEZO



Kasus Xavier Thomas diungkap. Rodrigo mengaku menjadi pelaku tunggal dan dalang semua kejahatannya. Ia membayar orang untuk menghabisi seluruh keluarga sepupunya itu. Kini pria itu tak didampingi pengacara. Pria itu sudah pasrah dengan semua dakwaan yang dituduhkan padanya.


Armira yang tengah hadir sebagai orang awam, menyaksikan sidang itu dengan seksama. Wanita baik itu menyayangkan orang bisa berubah jahat hanya karena harta yang tak seberapa.


"Tuan terdakwa, apa ada pembelaan?" tanya hakim.


"Tidak ada Yang Mulai Hakim," jawab Rodrigo tak menyanggah apapun tuduhan yang dilontarkan padanya.


"Baik, kami akan memberi putusan. Sidang akan kami tunda sampai makan siang usai!"


Hakim mengetuk palu satu kali. Semua berdiri, ketua hakim dan para panitera keluar ruangan. Barulah semua juga keluar. Sedang Rodrigo kembali ke dalam ruang yang dijaga ketat kepolisan Laras panjang.


Sedang Armira memilih membagi makanan pada semua orang yang hadir di ruang itu, bahkan para petugas juga ikut kebagian.


"Apa terdakwa tak boleh dapat makanan?" tanya Armira.


"Maaf, Nyonya. Kami tidak mengijinkan siapapun untuk memberikan tahanan makanan dari siapapun," jawab petugas yang menjaganya.


"Tapi, dia belum makan dari tadi, sudah empat jam persidangan dan dia tak diberi air minum. Apa tak takut nanti dia malah sakit?" tanya Armira khawatir.


"Nyonya dia orang jahat, pembunuh dan ingin menguasai milik orang lain!" sahut penjaga itu. "Dia tak peduli dengan saudaranya sendiri, untuk apa kita peduli?"


Armira pun akhirnya menyerah. Ia membawa makanan itu dan membagikannya pada orang lain.


Tak lama, sidang pun di mulai. Semua kembali ke dalam ruangan. Rodrigo kembali dalam ruangan dengan muka pucat dan bibir pecah-pecah.


"Kenapa dia pucat?" tanya Hakim.


"Dia kurang enak badan yang mulia!" seru kuasa hukum Xavier.


"Kalau begitu sidang ditunda dan menunggu terdakwa kembali pulih!" ujar hakim lalu hendak mengetuk palu.


Rodrigo terjatuh dari kursi pesakitan. Semua panik. Salah seorang memeriksa pria itu.


"Terdakwa kelaparan dan kurang cairan!" ujarnya memberitahu.


Beberapa petugas medis langsung membawanya ke klinik. Sidang ditunda, hingga waktu di tentukan oleh hakim.


Semua membubarkan diri. Armira lagi-lagi menyayangkan sikap pengadilan yang terlalu kaku dan tak memikirkan hak seseorang. Armira pun pulang.


Ketika di jalan, ia melihat salah satu setelan jas yang sangat indah. Wanita itu pun masuk ke dalam.


"Selamat si ... ah cuma pengemis!" sambutan ramah berubah menjadi sinis.


"Hei ... wanita gembel, keluar kau dari tokoku!_ bentak pelayan itu.


Mira menatap wanita yang berdiri angkuh di depannya. Ia mengernyit. Terlihat jelas tulisan. "Kami melayani siapapun anda."


"Kenapa kau mengusirku?" tanya Mira heran.


"Ck ... pake nanya lagi. Kamu kan cuma mau ngemis kan?" sahut wanita itu menghinanya.


Armira terdiam. Ia melihat pakaiannya. Memang, bukan baju mewah, tetapi, bajunya ini masih bagus dan tidak kelihatan seperti pengemis.


"Darimana kau menyimpulkan jika aku adalah seorang pengemis?" tanya Mira tak suka dengan perkataan wanita cantik dengan pakaian seragam seksinya.


"Loh, kan emang kamu mau ngemis kan? Lihat bajumu, nggak berkelas banget!" sungut wanita itu menghina habis-habisan Armira.


"Hanya karena baju, kau mengataiku pengemis?" wanita itu berdecih.


"Sudah lah wanita tua. Pergilah, sebelum aku kasar terhadapmu dan menyeretmu keluar dari toko ini!" serunya mengusir.


Wanita itu mendorong keras Armira hingga terjatuh.


"Nyonya anda tidak apa-apa?" sebuah suara langsung menghampiri Armira.


Wanita pelayan itu melihat sosok tampan menolong Armira, langsung mencegah pria itu.


"Jangan dekat-dekat, Tuan. Nanti dompet anda bisa hilang!" ujarnya langsung menuduh Armira.


"Apa maksudmu?" tanya pria itu dengan pandangan dingin.


"Tuan, anda jangan percaya dengan penampilan tuanya ini. Ia sengaja. berpenampilan seperti ini, agar orang bersimpati padanya," sahut wanita itu dengan senyum sinis.


"Tadi saja, dia mau mencuri. Untung aku mengetahuinya langsung, karena kasihan aku usir saja dia," lanjutnya dengan jumawa.


Ken mengepal tangannya kuat-kuat. Ia sudah melihat dan mendengar semuanya.


"Viola!" panggilannya.


Sosok cantik datang sedikit tergesa.


"Tuan Ken!" sahutnya dengan wajah pucat.


"Pecat wanita ini, dan laporkan kepada polisi karena baru saja menuduh ibuku sebagai pencuri!" titah Ken dengan wajah datar.


Pelayan wanita itu lemas. Ia tak menyangka berurusan dengan pemilik toko ini dan ia baru saja menghina ibu dari atasannya.


Pelayan itu diseret keluar. Armira menatap pria tampan di depannya. Ingatan wanita itu sangat tajam. Ia mengenali Ken.


"Kau pria yang bersama ayahmu dan memberiku uang kan!" Ken mengangguk.


"Terima kasih, Tuan. Tak perlu memecatnya, berilah peringatan padanya dan ajari dia untuk lebih baik kedepannya," ujar Mira.


"Tidak, Nak. Tapi, aku berpikir jika ia dipecat, bagaimana ia menghidupi seluruh keluarganya?" ujar Mira lagi.


Ken memeluk wanita itu. Kini, ia iri dengan Bernard atau Frank yang mendapat wanita baik ini sebagai ibunya.


"Apa yang ingin kau beli, Mira?" tanya Ken lembut.


"Jangan kau bayar ya! Karena ini adalah hadiah," ujarnya meminta pengertian.


"Iya, aku tidak akan menggeratiskan, tapi akan kuberi kau potongan harga. Bagaimana?" Mira mengelus pipi Ken dengan lembut dan memberi kecupan di sana.


"Terima kasih, Nak," ujarnya.


Hati Ken menghangat. Ia benar-benar manja dengan Mira hari ini. Mira membeli tiga pasang setelan formal dengan beda warna, abu-abu, navy dan coklat. Ken, sangat mengagumi selera wanita itu.


"Bisa minta dibungkus secara terpisah?" pinta Mira. "Bungkus yang cantik, ya!"


"Baik, Nyonya," sahut pelayan.


Mira membayar tunai semua baju itu. Tiga setelan formal. Pelayan sampai menelan saliva kasar ketika menghitung uang dari Armira. Ken, yakin itu bukanlah uang pemberian dari tuannya kemarin, karena ia sangat mengenali uang itu.


"Kau ternyata kaya juga, tahu begitu aku tak memberi kau diskon, Mira," seloroh Ken.


Wanita itu terkekeh dan memukul sayang, pundak pria gagah di depannya.


"Ini hadiah untukmu, dan ini untuk ayahmu," ujarnya memberikan dua paper bag pada Ken.


"Mira ...."


Cup!


Mira mengecup pipi Ken dan tersenyum. Lalu ia meninggalkan toko. Pria itu menitikkan air matanya. Pria gunung es itu langsung mencair mendapat kasih sayang begitu besar dari wanita di depannya.


Ting! Ponselnya berdering. Nama tuannya berada di layar.


"Tuan!"


"Cepat berikan hadiah Mira padaku!" titah Deon.


"Baik, Tuan!" sahut Ken, langsung pergi dari tempat itu menuju tuannya.


Sepuluh menit, ia sudah ada di mansion pria itu. Deon sangat gusar menunggu bawahannya sampai istrinya heran.


"Kenapa kau gusar sekali, sayang?" tanyanya.


"Tuan!" sahut Ken.


Terlihat jika pria itu datang dengan terburu-buru. Masih tersisa peluh di kening dan napasnya yang terengah-engah.


"Mana?" tanya Deon.


Wina sampai kesal karena, pertanyaannya tidak digubris. Melihat Ken memberinya satu paper bag pada suaminya, ia makin heran.


"Ada apa ini?" tanyanya dengan suara tinggi.


"Ini hadiah dari Mira, sayang," ujar Deon menjelaskan.


"Mira siapa?" tanya Wina mulai curiga.


"Armira, tetangga Nona muda yang baik hati itu," jelas Ken.


Deon yang tak sabaran membuka bingkisan itu. Sebuah jas berwarna abu-abu. Ukurannya pas untuknya bahkan ada sabuk dan dasi di sana.


Wina iri melihat hadiah itu.


"Besok aku akan mendatanginya dan meminta hadiah padanya," tekadnya dalam hati.


"Inda sekali," puji Deon.


"Mira membayar dengan uangnya sendiri Tuan. Aku yakin, dia orang kaya yang menyamar," sahut Ken.


"Aku tak peduli. Yang penting, aku dapat hadiah!" sahut Deon acuh.


Wina menggendong Riko yang dari tadi sibuk memasukkan makanan di mulutnya. Bayi itu tambah lama tambah gembul.


Ken juga membuka hadiahnya. Setelan warna coklat untuknya. Pria itu menciumi baju pemberian dari wanita idolanya.


"Saya dapat cium dua kali dari Mira, Tuan," lapornya dengan nada meledek.


"Kau ingin kulempar keluar, Ken?' ancam Deon.


Ken pun acuh dan membungkuk hormat. Wina, menatap tajam suaminya.


"Aku mau ke tempat Mira sekarang!" ujarnya sambil menggendong Riko.


"Ikut, sayang," ujarnya sambil menyamai langkah istrinya.


bersambung.


next?