
Pagi hari, kali ini Frank benar-benar nekat. Pria itu menunggu Luien di depan pintunya dari pagi. Gadis itu cukup terkejut melihat pria yang ada di depan pintunya.
"Frank?"
"Hi!" sapa Frank berwajah kesal.
"Ada apa dengan wajahmu?" tanya Luien heran.
"Aku menunggumu dari tiga hari lalu. Kau sibuk sekali, rupanya!" sungut Frank tak suka.
Luien menganga. Ia bingung dan tak punya urusan dengan pria itu. Muka gadis itu tiba-tiba mengelam.
"Apa masalahmu?" tanyanya dengan nada tak suka.
"Itu karena aku menyukaimu, Luein!" aku Frank dengan suara keras.
"Tapi aku tidak menyukaimu!" bentak Luien.
Frank terdiam. Pria itu tiba-tiba hendak mencium gadis itu. Luien langsung menampar pipi Frank.
Plak!
"Jangan macam-macam!" bentaknya.
"Jangan sok suci Luien. Kau kemarin juga berciuman dengan pria!" bentak Frank.
Pria itu hendak memeluk Luien. Gadis itu menendang tulang kering Frank..
Duk!
"Aarrgghh!" pekik Frank kesakitan.
Pria itu memegangi tungkai kakinya sambil melompat-lompat. Luien berkacak pinggang.
"Yang menciumku semalam adalah kekasihku!" bentak gadis itu.
"Aku adukan pada Tuan Chen agar kau diusir dari apartemen ini!" ancamnya lagi.
"Berengsek kau!" bentak Frank.
Pria yang juga sudah terlatih satu tahun bersama di camp pelatihan bodyguard. Ia bisa bela diri. Walau dalam keadaan pincang. Ia pun menyerang gadis itu. Sebuah tinju melayang, Luien menangkisnya.
Plak! Bug!
Frank terjajar. Armira yang melihat perkelahian langsung berteriak.
"Tolong!"
Sepasang suami istri yang tinggal di sana dan beberapa lainnya keluar dari unit mereka. Melihat dua orang berkelahi terlebih laki-laki melawan perempuan. Membuat para pria membela Luein.
Feraldo membawa sapu, sedang Anton membawa pemukul baseball. Mereka membantu Luien dan memukuli Frank.
"Aduh!" pekik pria itu kesakitan.
"Apa yang kau lakukan Frank? memukuli Luien?" bentak Anton marah.
Tak lama pemilik apartemen datang. Pria itu mengembalikan semua uang sewa unit dan meminta Frank untuk keluar dari apartemen miliknya.
"Keluarlah Tuan Frank. Ini seluruh uang anda!" usirnya.
"Kalian gila!" bentak Frank malu.
"Cepat pergi, sebelum aku melempar semua baju-baju mu!" ancam Feraldo.
"Aku hanya ingin menciumnya, tapi dia menamparku!" adu Frank membela diri.
"Lalu, dengan dia menamparmu, kau ingin berkelahi dengannya?" tanya Chen tak percaya.
Frank diam. Ia pun minta maaf, berjanji tak akan mengulanginya lagi..
"Saya minta maaf, Tuan..Aku berjanji tak akan melakukannya lagi, asal jangan usir saya dari tempat ini. Saya mau kemana lagi?" pintanya memohon.
Chen dan lainnya terdiam. Mereka menatap Luien. Gadis itu memberikan semua keputusan pada pemilik apartemen.
"Baik lah. Ini adalah kesempatan terakhir mu!" ujar Chen.
Pria baik itu memang tak bisa melihat orang memohon. Tapi, ia juga tak suka dengan orang-orang yang sombong.
Luien berangkat kerja dengan terburu-buru. Karena berkelahi dengan Frank membuatnya sedikit telat. Gadis itu menggeber mobilnya. Sedang Frank akan merubah strateginya.
Sedang di tempat lain. Rodrigo sangat terkejut mendengar kabar jika pemilik dari perusahaan mendiang adik sepupunya itu adalah putranya yang hilang, yakni Edrico Thomas. Bahkan foto bayi yang tengah memegang miniatur perusahaan menjadi viral.
"Jadi, Rico masih hidup?" tanyanya dengan senyum miring.
"Aku harus merebut hak perwaliannya!" ujarnya dengan nada senang.
Sedangkan Luien kembali bekerja dengan segudang kesibukan. Gadis itu mulai tak nyaman tinggal di apartemen milik Chen.
"Aku harus pindah ke apartemen di pusat kota. Jauh lebih dekat dengan perusahaan," ujarnya bermonolog.
Alex tiba-tiba memeluknya dari belakang dan mencium tengkuknya. Gadis itu kegelian.
"Tuan ... ini kantor!" tegurnya.
Alex membalik tubuh gadis itu. Luien berusaha melepaskan diri dengan melakukan gerakan bela diri kungfu. Tenaganya tentu kalah dengan seorang pria terlebih lagi, tadi pagi ia baru saja berkelahi dengan Frank, tetangganya.
'Tuan!"
"Just one kiss, baby ... one kiss, please," pinta pria itu.
Luien buru-buru memberi kecupan di bibir Alex dan langsung mendorong tubuh pria itu kuat-kuat, hingga pelukannya terlepas.
"Tuan kita akan ada janji temu dengan tiga perusahaan di restauran X pukul 11.12, setelah itu janji temu dengan. perusahaan V pukul 13.12. lalu sore harinya ada meeting dinner dengan kolega dari Prancis dan Jepang pukul 14.12.," jelas Luien membeberkan semua jadwal Alex.
Adrian datang bersama Vic. Keduanya disibukkan dengan proyek pembangunan sebuah pelabuhan.
"Sekarang sudah pukul 10.03. Kita bisa pergi sekarang, karena jika nanti pasti akan terkena macet!" ajak Alex.
Luien lalu membereskan semua berkas dan membawanya untuk keperluan nantinya.
Malam berlalu, Luien, Alex dan Vic tengah menyusun program tender. Beberapa ide gadis itu sangat masuk dengan apa yang dibutuhkan oleh proyek yang akan di laksanakan. Pukul 20.13 pekerjaan sudah selesai. Luien pun pulang dalam keadaan lelah.
"Aku akan mengantarmu?" Luien menolak.
"Aku akan pulang ke mansion orang tuaku, Tuan," ujarnya.
"Tak masalah kan?" tanya Alex lagi.
"Baiklah," ujar Luein.
Gadis itu benar-benar lelah. Gadis itu tertidur di dalam mobil. Begitu sampai di mansion Alex menggendong gadis itu.
Deon yang membuka pintu langsung mengambil alih anak gadisnya. Tubuh Luien memang kecil dan ringan.
"Masuk lah, Nak. Aku akan membawa putriku dulu ke kamarnya," Alex mengangguk.
Pria itu pun duduk. Ketika di kamar, Deon meletakan tubuh anak gadisnya di ranjang. Ia tersenyum lalu mengecup kening Luien dengan penuh kasih sayang.
Ketika hendak membenarkan lengan Luien. Terlihat bekas memar di sana. Wajah Deon mengelam. Ia yakin jika Luien pasti habis berkelahi.
"Siapa yang berani-beraninya mengusik mu sayang?" tanyanya geram.
"Aku pastikan dia akan mendapat balasan dua kali lipat!" ujarnya pasti.
Deon turun menemui Alex. Berbincang sejenak. Kemudian pria tampan itu pun pamit pulang. Alex membawa mobil Luien untuk pulang.
"Aku akan datang lagi besok pagi-pagi sekali," ujar Alex.
"Baiklah, Nak. Terima kasih," ujar Deon lalu tersenyum.
Alex menuju ke penginapan dekat mansion Luien. Beruntung Alex tadi membawa baju ganti di mobilnya Luien. Jadi ia tak kerepotan esok pagi memakai pakaian.
Alex pun pergi. Deon meminta Ken memeriksa kamera pengawas di apartemen Luien.
"Bereskan segera!" titahnya.
"......!"
Pagi menjelang, Luien yang baru bangun, langsung dimandikan oleh ibunya, karena gadis itu yang memintanya.
"Ma ... mandiin!" pintanya manja.
"Astaga ... kau kira kau ini Rico apa?" sungut Wina kesal.
Tetapi, wanita itu akhirnya memandikan anak gadisnya juga. Selama tujuh menit, barulah Luien sudah siap dengan setelan formal terbaiknya. Gadis itu jadi sangat cantik karena sang ibu mendandaninya.
"Tuan Maxwell?"
Luien mengenali sosok yang duduk di kursi makan. Pria itu menoleh.
"Anda tak menginapkan?" tanya Luien.
"Tentu saja, jika tidak. Bagaimana aku bisa sepagi ini datang ke mansion mu?"
Jawaban Alex membuat Luien melongo dan menatap ayahnya untuk kebenaran perkataan pria itu.
bersambung.
Iya ... nginep di hotel.