THE REAL PRINCES

THE REAL PRINCES
BERNARD



Pria tampan dengan postur tubuh tegap dan kekar. Bernard Samuel Thomas, usia dua puluh enam tahun. tinggi tubuh 178cm dengan berat 70kg. Paras tampan, dengan dagu lebar dan kokoh. Hidung mancung dan tatapan tajam, beriris coklat tua, dihiasi alis menukik, bulu mata tebal dan lentik, bibir tipis. Sungguh, idaman para gadis.


Pria itu mendapat foto gadis dengan pakaian kumal dengan rambut keras dan kaku. Pria itu tertawa lirih.


"Dia yang membeli perusahan Uncle Xavier?" gumamnya bertanya dengan nada tak percaya.


"Gembel dan miskin, apa dia gadis kaya yang bersembunyi?" lanjutnya bergumam sendiri.


Pria itu menaiki Lamborghini terbarunya. Memang keuangan mereka sedang tidak baik, tetapi kekayaan Rodrigo juga masih ada. Bahkan limit uang di bank masih ada dua puluh digit.


Luein tengah bekerja, ia banyak belajar dari perusahaan Maxwell. Alex sangat senang dengan kecerdasan gadis itu. Adrian kini kembali bersama Diana untuk melakukan kerjasama. Luien kembali memakai baju formal biasa tanpa make up.


Sementara itu Bernard telah mendapatkan informasi tentang Luien. Di mana tinggalnya. Pria itu menatap bangunan apartemen sederhana. Hanya ada satu unit kosong, pria itu telah menyewanya selama setengah tahun.


"Huuffhhh ... gara-gara mengejar seorang gadis culun, aku sampai berpura-pura miskin seperti ini," keluhnya.


Pria itu sedikit ragu meninggalkan Lamborghini-nya di tempat ini. Ia melihat sekeliling, banyak bangunan model sama. Sederhana. Pria itu memindai jika ia berada di lingkungan menengah ke bawah.


Pria itu pun akhirnya pergi menuju bangunan lima belas lantai itu. Unitnya berada di lantai delapan, kamar 209. Ia memakai kacamata hitamnya. Bernard memakai kemeja biru dengan jas abu-abu senada dengan jeansnya. Sepatu pantofel mengkilat warna hitam. Sabuk juga hitam. Ketika di lift, ia menyugarkan rambutnya ke belakang dengan jari.


Ketika pintu terbuka, sosok wanita tua bertubuh tambun dan bungkuk. Wanita itu tersenyum padanya.


Bernard hanya memandang dingin tanpa berniat membalas senyum.


"Jangan terlalu angkuh, Nak. Langit akan runtuh di kepalamu suatu saat nanti," tegur wanita tua itu ketika pintu lift tertutup.


"Cis ... dasar orang sudah mau mati saja, ingin menasihatiku!" runtuknya kesal.


Bernard berjalan menuju unitnya. Ia sudah mendapatkan kuncinya. Bangunan ini bukan apartemen modern yang menggunakan akses kartu atau sidik jari. Semua menggunakan kunci.


"Bangunan ini adalah bangunan teraman di banding bangunan lain," ujarnya ketika melihat beberapa pintu tanpa hiasan.


"Ya, lagi pula siapa yang mau mencuri di tempat ini?" tanyanya lagi bermonolog.


Ia pun sampai pada unitnya. Ia tak sadar jika kamar Luien berada di unit yang sama bahkan ada tiga pintu setelah kamarnya.


Pria itu memindai isi unitnya. pendingin dan pemanas ruangan. Meja dan sofa, cukup nyaman. Dari tempatnya berdiri ia bisa melihat dapur dan kulkas. Peralatan dapur seadanya.


Kaki panjangnya melangkah melihat kamar mandi. Sungguh diluar dugaannya, ada shower dan WC duduk, juga cermin.


Pria itu menuju kamarnya. Sebuah ranjang dengan busa tipis dan lemari kayu.


"Ck ... benar-benar gembel," celetuknya kesal.


Bernard pun melihat lagi foto gadis dengan muka kaku, iris abu-abu.


"Sepertinya cantik," ujarnya ketika mengusap foto itu.


"Ah ... sudahlah. Aku harus tau dia tinggal di unit mana," ujarnya lalu merebahkan dirinya di ranjang itu.


Entah berapa lama, Bernard tertidur lelap. Ia tak pernah merasa begitu nikmat tidur, bahkan di ranjang besar miliknya di mansion sang ayah.


"Astaga ... aku tertidur lelap dalam keadaan pintu terbuka?" ujarnya tak percaya.


Tetapi, semua barangnya aman. Bahkan pintu tidak ada yan menutupnya. Pria itu memeriksa semuanya.


"Aman, tak kurang satu apa pun?" ia menggeleng tak percaya.


Tiba-tiba ia mendengar suara dua wanita tengah berbicara. Selama ini, ia tak begitu peduli dengan sekitar. Sekarang ia merasa begitu sangat ingin tahu, siapa yang berbicara.


"Armira, kau masih memeriksa kotak surat mu?" tanya suara lembut.


"Ya, aku masih belum mendapat apa pun, Luien," jawab wanita tua itu sedih.


"Mira ... tidak kah kau berpikir jika putramu sudah tak ada di dunia ini?" tanya Luien hati-hati.


Wanita tua itu berdiri lalu menatap gadis cantik yang juga memandangi dirinya dengan raut iba.


"Aku juga akan mati jika Betrand sudah mati," sahut Mira dengan mata menerawang..


"Beristirahat lah, Mira," ujar Luien.


Mira masuk kamarnya. Bernard menatap wajah cantik itu. Luien menatapnya dengan tatapan menusuk. Seketika pria itu merinding. Gadis itu melewatinya dan masuk setelah tiga pintu. Kini, Bernard tau di mana gadis yang ia incar tinggal.


"Sepertinya sedikit sulit," ujarnya sedikit menyerah.


"Ah, siapa yang bisa menolak pesonaku. Terlebih gadis itu pasti sudah tak memiliki apa pun setelah memberi perusahaan Xavier Thomas kan?" ia berasumsi sendiri.


Perutnya sedikit lapar. Ia pun mengunci pintu. Beranjak keluar. Di bawah apartemen ada lantai tempat orang berjualan. Ia akan ke sana dan mencari makanan.


"Kenapa juga Daddy memberiku limit hanya dua juta sebulan. Mana cukup!" gerutunya kesal.


Ia pun masuk ke sebuah kedai. Untung dia tak begitu mempermasalahkan ia makan di mana. Usai makan, ia berbelanja kebutuhan makannya selama satu bulan. Tak butuh waktu lama untuk beradaptasi di tempat ini.


Ia pun kembali ke unitnya membawa banyak barang belanjaan.


"Apa seperti ini jadi orang miskin?" keluhnya bertanya.


Ia pun menyusun semua barang belanjaan di lemari pendingin yang tersedia. Setelah beres. Ia pun bergegas mandi. Ia akan memasak dan membagikan makanan sebagai perkenalan.


Bernard tengah berkutat di atas kompor. Ia akan membuat lasagna untuk dibagikan beberapa penghuni apartemen ini.


Pria itu begitu seksi ketika mengenakan celemek dan memasak. Tampak Bernard sudah begitu ahli dengan semuanya. Pria itu bisa memasak.


Setelah dua jam berkutat di depan kompor. Makanan sudah matang. Ia pun sudah memasukkannya dalam tray khusus. Ada delapan tray ia bawa dengan plastik.


Pria itu mengetuk tiap pintu dan memberi makanannya, bahkan Armira juga dapat.


"Aku memasak makanan sebagai perkenalan dan meminta maaf padamu," ujarnya sambil memberikan makanannya.


"Oh ya, namaku Frank," ujarnya memperkenalkan diri.


"Terima kasih, namaku Armira, kau boleh memanggilku Mira," jawab wanita tua itu lalu tersenyum ramah.


Pria itu hanya mengangguk, ia pun kembali mengetuk pintu yang lainnya.


'Dia baik ternyata,' gumam Mira dalam hati.


Wanita itu menutup pintu, sedang Bernard kini berada di depan pintu unit Luien, gadis incarannya.


Tiga kali ketukan. Barulah, pintu terbuka, memperlihatkan seraut wajah cantik.


"Hai, aku Frank. Aku penghuni baru unit di tiga kamar sebelum ini," ujar pria itu memperkenalkan diri.


Luien hanya diam mematung, menatap menyelidik. Entah kenapa, hatinya meminta untuk berhati-hati pada pria ini.


"Ah, ini sebagai tanda perkenalan," ujar Bernard lalu memberikan makanan.


Luein menatap plastik yang masih ada tiga lagi tray sama. Ia pun akhirnya mengangguk dan tersenyum ramah.


"Aku Luien, senang berkenalan denganmu," sahutnya juga memperkenalkan diri.


"Baiklah, Luien aku ada di unit 209, jika kau butuh tenaga laki-laki, aku siap membantumu," sahut Bernard yang kini bernama Frank.


"Terima kasih Frank. Sepertinya, yang tiga lagi, sebaiknya kau turun dari unitmu. Karena kamar lain di sini kosong," sahut Luien sambil melihat tas plastik yang berisi tray makanan.


"Baik lah, aku sedikit malas ke bawah. Biar kumakan saja sisanya ini," ujar Frank dengan wajah malas.


Luien terkekeh. Ia pun sekali lagi mengucap terima kasih dan menutup pintu unitnya.


Wajah Bernard atau Frank yang murah senyum tiba-tiba berubah datar dan dingin.


"Tidak terlalu sulit di awal," gumamnya lirih dengan seringai kejam..


bersambung.


next?