THE REAL PRINCES

THE REAL PRINCES
KEJUTAN



Plak!


Sebuah tamparan mendarat di pipi Davina. Ketiga gadis itu langsung pucat. Tania, gemetaran, ia tak pernah kasar selama ini. Deon menatap semuanya dengan pandangan dingin.


Luien memberi kode pada ayahnya untuk tetap tenang. Gadis itu memang hendak memukul Davina tadi, tapi sudah terburu Tania menampar, jadi ia tak perlu mengotori tangannya. Sementara Alex, Adrian dan Vic juga tak kalah geram.


"Aku tak pernah menghina orang lain serendah perkataan mu, Davina!" tekan Tania datar.


"Kau sudah keterlaluan. Aku sangat bersyukur jika ketiga putraku tak mau memilih kalian, dan aku terlalu bodoh yang membawa kalian," lanjutnya.


Kemudian wanita itu membungkuk hormat pada Deon dan Ken sebagai permintaan maaf.


"Saya selaku tuan rumah meminta maaf atas perkataan dan perlakuan kasar dari gadis-gadis yang mengaku manusia terhormat," ujarnya lagi.


Melihat ibu mereka yang harus membungkuk hormat atas kesalahan yang tak dilakukan, membuat Alex menahan amarah.


"Vic!"


"Siap Tuan!" Victor sangat paham apa yang harus ia lakukan.


Tiga orang pria berpakaian pengawal langsung masuk dan menyeret tiga gadis yang sudah pasrah. Deon sangat puas dengan apa yang dilakukan oleh Tania.


"Saya tadinya ingin membatalkan semua kerjasama ini, ketika mendengar perkataan yang kurang menyenangkan tadi. Tetapi, melihat anda selaku orang tua yang bertanggung jawab meminta maaf, saya langsung mendukung proyek ini tanpa basa-basi lagi," ujar pria itu.


"Saya akan memberikan lahan di wilayah C sebagai landasan proyek ini," lanjutnya lalu berdiri.


"Tu-tuan yakin?" tanya Adrian tak percaya.


"Ya, berterima kasihlah pada ibu kalian!" jawab Deon.


Luien menatap wajah ayahnya dengan penuh suka cita. Ia ingin sekali memeluk sang ayah saat itu juga, tetapi gadis itu masih ingin bersembunyi di balik kemiskinannya.


Semua bersalaman. Ken memberi surat kuasa atas pengolahan proyek di wilayah C. 40% pengerjaan diambil oleh Maxwell Co, sedang 60% nya memang milik Philips Co.


Setelah kepergian Deon. Ketiga pria itu memeluk ibu mereka. Semuanya mengucap rasa terima kasih yang dalam. Jika saja, sang ibu tak berinisiatif meminta maaf. Maka proyek ini tak mungkin jatuh di tangan Maxwell bersaudara.


Tania mendatangi Luein. Wanita itu meminta maaf atas perkataan Davina tadi.


"Saya pernah dikatai lebih dari itu Nyonya, hanya karena saya miskin," ujar Luien tak mempermasalahkan.


Mereka kemudian kembali ke perusahaan, Tania memilih pulang. Wanita itu akan mengurus tiga gadis yang ia bawa.


"Mommy kan yang membawa mereka, jadi yang memulangkan mereka harus Mommy juga lah," ujar Tania beralasan.


Sementara itu, Deon sudah tidak tahan dengan penghinaan yang putrinya dapatkan. Ia akan memberitahu semua orang jika Luiena Elizabeth Philips adalah putrinya.


"Ken, siapkan para wartawan. Katakan aku akan mengadakan konferensi pers. Seret nonamu pulang, ia harus setuju!" titah Deon.


"Baik, Tuan," sahut Ken.


"Oh ya, bagaimana pergerakan Rodrigo Thomas?" tanya Deon lagi.


"Pria itu menghubungi beberapa relasi bisnisnya. Ia ingin mencari tau siapa yang membeli perusahaan milik Xavier Thomas," jawab Ken.


"Ken ... Giring opini jika yang membeli adalah putriku, aku ingin melihat topeng-topeng asli para pebisnis," ujar Deon tiba-tiba memiliki ide.


"Apa tidak berbahaya, Tuan?" tanya Ken sedikit khawatir.


"Aku percaya dengan kemampuan putriku," ucap Deon yakin.


"Baik Tuan!"


Sementara di sebuah ruangan. Tania menatap tiga gadis yang kini menunduk. Wanita itu menyuruh ketiganya harus cek out dari hotel sekarang juga.


"Sudah siap?" ketiganya mengangguk.


Mereka pun pergi dengan menggunakan pesawat pribadi. Alex sudah menarik inventasi mereka di ketiga perusahaan milik orang tua Davina, Santana dan Cecilia.


Alex menatap Luien yang kini harus membuat laporan untuk meeting dengan para divisi.


Diana sudah dibawa oleh Adrian ke perusahaan gadis itu. Mereka akan melakukan sebuah kerjasama. Pria itu mengajarkan bagaimana caranya menjalankan sebuah perusahaan.


"Sayang," panggilnya dengan suara berat.


"Tuan, lima menit lagi kita harus melakukan meeting dengan semua divisi," ujar Luien mengingatkan.


"Sebentar lagi," pinta pria itu.


Luien menegakkan tubuhnya. Alex akhirnya menghela napas panjang. Pria itu langsung menarik tubuh gadis itu dan memeluknya.


"Jangan menghindari ku, Lueina!" sahut Alex penuh ketegasan.


"Tuan, waktunya meeting," ujar Luien lagi.


Netra abu-abu itu benar-benar penuh misteri. Alex tak mampu membaca apa yang dipikirkan gadis itu. Sedang Luien begitu menikmati iris hijau yang memandanginya.


Kedua hidung saling menempel. Bibir Alex bergerak menyusuri benda kenyal itu. Luien memalingkan wajahnya. Alex langsung menakup pipi gadis itu dan memagut bibirnya.


Ia baru melepaskan tautannya setelah keduanya kehabisan oksigen.


"Kita rapat!' ujar Alex setengah kecewa.


Luien memang tak pandai berciuman. Alex mengurai pelukannya. Tiba-tiba, Luien mengecup pipi atasannya lalu ia melarikan diri keluar ruangan.


Alex tersenyum mendapat kecupan dari gadis idamannya. Ia pun kini menyusul Luien menuju lantai divisi.


Hari beranjak sore. Ketika pulang, semua kaget dengan mobil yang digunakan gadis itu.


"Siapa lagi yang bertaruh dengan gadis itu?" tanya Alex gusar.


"Tapi, setau saya, tidak ada balapan liar berlangsung selama ini?" sahut Vic.


Gloria yang mengenali mobil yang dipakai Luien, jadi shock. Mobil yang dulu menjadi awal keretakan hubungannya dengan Leo.


Hugo naik mobil Luien begitu juga Gloria. Brandon masih shock. Sedang Diana tidak kembali lagi ke perusahaan bersama Adrian.


"Itu mobil mahal. Aku tak yakin jika ada yang gila menjadikan kendaraan itu menjadi taruhan," ujar Vic lagi.


Sedang di mansion kedua orang tua Luien telah penuh oleh wartawan. Ken sudah mengetahui jika Luien sedang mengantarkan temannya. Pria itu sudah berada di depan rumah Hugo.


"Nona, biar saya yang menyetir!" sebuah perintah yang tak bisa ditolak.


Luien pun akhirnya duduk bersama Gloria. Gadis itu sedikit penasaran dengan apa yang terjadi.


"Itu. .. bukannya manager restauran yang dulu?" tanyanya berbisik pada Luien.


Gadis itu hanya diam saja. Ia sangat yakin ada peristiwa besar bakalan terjadi. Butuh lima belas menit untuk sampai mansion Gloria.


Gadis itu turun di depan gerbang. Tidak seperti biasanya. Ken meminta gadis itu turun.


"Maaf, Nona. Kami hanya mengantarmu sampai di sini saja!"


Gloria tak banyak bicara, ia tahu siapa Ken. Pria yang sangat memiliki kuasa dibawah perintah atasannya yakni ayah dari mantan rivalnya, Luien.


Mobil melesat dengan cepat ketika Gloria turun. Hanya dalam waktu sepuluh menit. Mobil mewah itu sampai di mansion yang sudah penuh dengan wartawan.


"Nona," panggil Ken sambil membuka pintu mobil.


Luien makin berdebar. Sepertinya, penyamaran ia akan berakhir saat ini juga. Ayahnya sudah tidak bisa diajak kompromi.


Wina begitu antusias ketika akan mengumumkan putri mereka. Luien kini membujuk ibunya.


"Ma ...," Wina hanya menggeleng.


"Baik lah. Selamat petang rekan-rekan wartawan semua. Hari ini saya akan mengumumkan suatu!" ujar Deon langsung pada inti acara.


bersambung.


ah ...


next?