THE REAL PRINCES

THE REAL PRINCES
MENGHABISI 3



Di sebuah mansion yang sangat mewah. Hunian bertingkat dua dan memiliki landasan helikopter, juga sebuah hangar mini. Tak jauh dari sana ada jalan untuk pesawat lepas landas. Belum lagi mobil-mobil mewah yang berjejer cantik dengan berbagai tipe dan merk.


Di sebelah selatan bangunan terdapat istal yang besar, berisi sepuluh ekor kuda terbaik. Berikut pacuan kudanya.


Di halaman belakang ada kolam renang cantik berikut mini bar di sisinya juga bangku malas untuk berjemur jika musim semi atau musim panas tiba. Sangat bisa dinilai, betapa kayanya orang yang memiliki mansion dan semua fasilitas yang dimilikinya itu.


Horton tengah duduk santai. Ia meyakini, jika Baron sudah mengurus gadis yang memukuli putrinya. Alicia sudah membaik. Tetapi, ia jadi ketakutan jika mendengar suara keras dan orang marah. Gadis itu trauma akibat dipukuli Luien. Bahkan tak ada satupun yang menolongnya saat itu.


"Daddy ... hiks ... hiks!"


Horton yang mendengar suara isak putrinya langsung bergegas mendatangi gadis itu.


"Sayang ... ini Daddy sayang," ujar pria itu sedih.


"Daddy, aku takut!" cicit gadis itu.


Horton memeluknya. Alicia merasa nyaman ketika ayahnya memeluknya. Gadis itu tak merasakan kasih sayang ibunya semenjak lahir. Theresia meninggal akibat pendarahan hebat pasca melahirkan. Horton mengurusnya hingga sekarang.


Bayi Alicia bertumbuh, makin lama makin cantik. Siapa pun akan menyukai kecantikan Alicia termasuk Horton.


Flashback


"Daddy!" panggil Alicia waktu itu.


"Iya sayang," sahut Horton.


Alicia sudah berusia tujuh belas tahun. Pria itu sangat memanjakan putrinya. Kekayaan yang melimpah, mampu memberikan anak perempuannya dengan gelimang materi.


"Bagus tidak bajuku?" ujar Alicia memamerkan bajunya.


Gadis itu mengenakan mini dress tanpa lengan dengan rok sangat pendek, hingga memperlihatkan pahanya yang putih tanpa cacat.


"Cantik sekali!" puji Horton.


Melihat tubuh anak gadisnya yang sudah tumbuh dan makin seksi. Pikiran Horton yang lurus menjadi belok. Ia tak melihat Alicia sebagai putrinya tetapi sebagai gadis dewasa pada umumnya.


"Daddy, boleh tidak aku pergi ke klub malam ini?" rengek Alicia.


"Eeumm," Horton ragu menjawabnya.


Alicia menggelayut manja dan mengalungkan lengan di leher ayahnya. Jantung Horton berdetak kencang. Terlebih dada kenyal putrinya menempel di dadanya, bahkan perut Alicia yang rata membangunkan sesuatu yang telah lama tidur. Pria itu menghela napas berat dan kasar. Setengah mati, ia menetralkan semua hasratnya yang mulai timbul.


"Baiklah, pergilah bersama para pengawal mu," ujar Horton lembut.


"Thanks Dad!" ujar Alicia lalu mencium bibir ayahnya.


Ciuman itu berubah menjadi pagutan liar. Alicia begitu mahir memainkan lidah dan bibirnya. Horton sampai harus menghentikannya, karena otaknya masih waras saat itu.


"Cukup, sayang," ujarnya dengan napas memburu.


Alicia melenguh. Sungguh, ia begitu menginginkan ayahnya. Ia sudah jatuh cinta pada ayahnya sendiri.


"Daddy," rengek gadis itu.


"Sudah, pergi sana. Nanti, teman-teman menunggumu terlalu lama," Alicia mengangguk.


Gadis itu mengecup cepat bibir ayahnya. Lalu pergi bersama dua pengawal.


Alicia tumbuh menjadi gadis liar dan menggoda. Keperawanannya terenggut oleh teman sekelas karena habis nonton video porno.


Hal itu malah membuatnya jadi ketagihan.


"Eh, kenapa kejadian itu malah membuatku ketagihan ya?" tanyanya pada salah satu rekannya.


Waktu itu, dia tak menonton berdua tapi ada beberapa orang. Tiga laki-laki dan dua perempuan.


"Iya, aku juga suka melakukannya dengan asisten rumah tangga ku yang laki-laki," sahut temannya dengan berbisik.


"Nona!" panggil pengawal membuyarkan lamunannya.


"Ayo," Alicia masuk mobil.


Dua pengawal menyusul. Gadis itu lalu meminta dua pengawal itu memuaskannya. Awal-awal, sempat ditolak, tetapi, lambat laun. Para pengawal bergantian ingin mencicipi tubuh molek nona mudanya.


Lalu beberapa waktu, kenekatan Alicia menggoda ayahnya, membuat pertahanan pria itu runtuh. Keduanya pun melakukan sebuah hubungan terlarang antara anak dan ayah.


Flashback end


"Daddy," panggil Alicia dengan netra berselimut gairah.


Horton pun tersulut. Pria itu langsung menikmati bibir dan tubuh putrinya sendiri. Tubuh keduanya saling berpacu bergantian. Keduanya bermandi peluh, ******* dan erangan saling sahut menyahut.


"Sayang," racau Horton dengan terengah.


"Daddy ... kau hebat dan gagah!" puji Alicia dengan napas terengah-engah.


Keduanya pun saling berpelukan dalam keadaan tubuh polos.


Sedang di tempat lain. Baron langsung naik gairahnya. Pria itu membayangkan dirinya memenuhi gadis yang kini berdiri di depannya.


"Mau apa kau?!" sentak Luien bertanya.


"Diam lah cantik, kau pasti menikmatinya," ujar Baron menatap Luien penuh napsu.


Tangan gadis itu mengepal kuat. Hingga Baron begitu dekat dengannya. Lalu ....


Dug!


"Aduh!"


Baron kesakitan sambil memegangi alat vitalnya. Ia merasa ngilu luar biasa, sodokan kuat dari lutut gadis yang menatap datar padanya, membuat ia setengah mati untuk menegakkan tubuhnya.


"Kurang ajar!" bentak Baron murka. Alat tempurnya masih ngilu.


Luein menendang wajah pria bercodet itu sangat keras.


Bug! Brak!


Tubuh besar itu tersungkur dengan darah menetes keluar dari hidungnya yang patah. Ia tak menyangka jika gadis itu sangat kuat sekali. Baron adalah mantan ketua preman yang paling kuat, tak ada satu pun yang bisa menandingi kekuatan pria itu. Tapi, untuk satu kali ini, dia harus kena dua kali tendangan.


"Bangsat!" makinya.


Dengan hidung berdarah, ia merangsek Luien dengan serangan pukulan serampangan. Tentu, hal itu sangat mudah gadis itu hindari.


Wush ... wush ... wush!


Hanya angin yang kena pukul pria itu. Baron sangat murka. Kembali ia menyerang Luein.


Tap! Luien menangkap tangan besar pria itu. Baron menyeringai. Ia menatap perbedaan tangan gadis itu dengan tangannya. Tapi, kejadian selanjutnya membuat ia berteriak kesakitan.


"Aarrghh!"


Krak! Tangan besar itu patah. Baron melotot. Ia makin memekik kesakitan. Luien meninju tenggorokan pria itu.


Bug!


"Heg!"


Baron tak bersuara. Luien menghempas tubuh pria itu. Menatapnya datar, saat Baron menggelepar, ia nyaris saja tewas jika saja Luien tak segera menolong dengan menendang tengkuknya. Napas pria itu kembali normal.


Baron menatap ketakutan pada gadis di depannya. Ia mengigil ketika Luien mendekatinya.


"Katakan pada penyuruhmu. Aku sudah mengantongi semua rencana busuknya terhadap kerajaan!" ujar Luien dengan seringai sadis.


Luien membenahi tampilannya. Ia pun pergi meninggalkan Baron yang kesakitan dan celananya basah karena ngompol.


"Siapa yang kuhadapi ini? Menakutkan sekali," ujarnya sambil terisak.


Tak lama ponselnya berdering. Kebetulan sekali. Horton meneleponnya.


"Halo ... bagaimana? Apa sudah beres?" tanya pria di seberang telepon.


Baron menangis histeris. Tangannya patah, dadanya sakit begitu juga tenggorokannya.


"Hei ... kenapa kau malah menangis?!" bentak Horton murka di sana.


"Tuan ... hiks ... hiks ... tuan ... tanganku patah!' adunya sambil tersedu.


"Apa?!" tanya Horton.


"Tuan ... huaaaa!"


Baron menangis sejadi-jadinya. Horton yang kesal lalu mematikan ponselnya. Makin menangislah pria bercodet itu.


"Bagaimana nasibku ini. Tanganku patah ... hiks ... hiks!" ujarnya terisak.


"Kau tak peduli padaku, Tuan. Baik lah. Jangan salahkan aku jika besok, kau akan terusir dari istana dan semua kejahatanmu terungkap!" ujarnya lagi masih sesenggukan.


bersambung.


hadeuh ... inces si Alicia ...


next?