
"Dad, tugas memang sudah selesai. Tapi, bisakah Daddy menunda pengumuman diriku?" pinta sang gadis.
Deon menoleh padanya. Victoria sudah pulang lima belas menit yang lalu. Ken dan istrinya juga diminta pulang oleh Deon. Wina sudah sadar sebelum kepulangan mereka. Rico kini tengah disuapi oleh ibu angkatnya.
"Yang Mulia Permaisuri. Ibu Suri meminta hamba untuk mengurus Prince Rico," ujar salah satu pelayan istana.
"Pulanglah. Aku mengurus sendiri semua anak-anak ku!" titah Wina tegas.
"Sayang, kau baru melahirkan," ujar Deon.
"Tidak. Aku tak mau momen putriku terulang. Walau Edrico tak lahir dari rahimku. Aku tak mau dia diasuh oleh siapapun!" tolak Ludwina.
"Pulanglah!" titah Deon pada pelayan yang diperintahkan oleh sang ratu, bibinya itu.
Pelayan itu pun membungkuk. Ia mundur dan meninggalkan kamar kelas super itu.
Luien memilih untuk memeluk ayahnya.
"Dad," rajuknya.
"Apa karena pakaian aku tak pantas menjadi seorang tuan putri mahkota?" tanyanya.
"Memang tidak, bahkan dulu ada seorang istri pangeran kerajaan juga berpakaian sangat sederhana. Tetaplah berpakaian rapi dan sopan juga sesuai," ujar Deon menjelaskan.
Luein hanya mengangguk pasrah. Ia memang harus mengubah cara berpakaiannya. Sebentar lagi ia juga akan menjadi seorang istri pemuka bisnis ternama.
"Besok setelah kepulangan ibumu dan menyeret orang-orang yang terlibat kejahatan. Keluar lah dengan pakaian biasa saja. Agar mereka bersujud meminta maaf padamu karena telah menghina putri mahkota," ujar Deon dengan mata berkilat.
Luien mengangguk. Bahkan ia tak menyangka, kemarin ia menerima satu boks barang bukti di depan rumah kecil milik ayahnya, tempat di mana ia menyelidiki semuanya. Dari sana, ia jauh lebih mudah member laporan pada ayahnya.
Luien menguraikan pelukannya. Ia berjalan menuju boks bayi. Adik tampannya tengah tertidur setelah menyusui.
Luien mengecup lembut wajah kecil itu. Bayi itu bernama Hendrick Johanes Philips. Sang ratu Victoria yang menamainya tadi.
"Dad, apa besok juga Ricky dibaptis?" tanya Luien.
"Sekalian dengan Ricko, Ibu suri yang menjadi ibu baptis keduanya," jawab Deon kini juga membaringkan tubuhnya di satu ranjang di sebelah istrinya. Luien melihatnya. Gadis itu juga merebahkan diri di sebelah Rico. Bayi itu langsung memeluk Luien.
"Hai bayi gembul!"
"Bistel, Ico pawu soslat," pinta Rico.
"Kau mau coklat?" bayi itu mengangguk.
"Bawu Pestlim dugha!" Luien merengut.
"Bitsa dugha!"
"Banyak sekali makanan yang dia minta. Apa perutnya ini dari karet?" tanya Luien sambil mengelus perut bundar Rico.
Bayi itu tergelak, ia geli jika disentuh perutnya.
"No ... bistel ... No!" pekik bayi itu tertawa.
Ludwina dan Deon tersenyum bahagia melihat semuanya. Sang pria mengecup sayang pipi istrinya.
"Terima kasih, menjadi istri dan ibu dari anak-anakku," ujarnya berbisik.
"Sama-sama, sayang. Aku mencintaimu!"
"Aku juga ... ah, dua anak ini membuat aku tak leluasa mencium mu!" keluh Deon.
Wina tersenyum dengan semburat merah di pipinya. Ia masih saja malu jika sang suami berlaku mesra seperti ini.
Deon menikmati semua momen yang datang. Ia tak mau terlewat sedikit pun. Tak lama Ricky pun menangis, sepertinya bayi baru lahir itu juga ingin tidur di ranjang yang sama. Deon bangkit dan mengambil putranya. Iris Hendrick sama dengan Luien, abu-abu. Ia menciuminya dulu baru menyerahkan pada istrinya. Rico yang begitu mengerti sedikit merapatkan tubuhnya pada Luien. Ricky diletakan di antara mereka. Bayi itu terlelap kembali.
"Bello bodel Lit!" sapa Rico.
Sedang di tempat lain. Horton tampak pucat. Beberapa petugas kepolisian datang ke mansion mewahnya. Mansion yang memiliki landasan helikopter dan lain-lain memang sengaja disembunyikan oleh pria itu.
"Tangkap dia!" titah dewan penyidik istana.
"Apa-apaan ini!" bentaknya.
Horton diseret paksa. Ia menyesal karena pulang ke mansion mewahnya itu. Sebenarnya ia memiliki dua mansion yang berbeda. Ia sengaja menyoroti mansion yang sama dengan milik Ferdinand.
"Aku akan panggil pengacara!" ujarnya tak terima.
"Silahkan Tuan!" sahut dewan penyidik istana.
"Panggil aku Duke!" semburnya marah pada dewan. "Aku bangsawan di sini!"
"Tidak di mata pengadilan!" tekan dewan penyidik.
Horton terdiam. Pria itu di masukkan dalam mobil khusus dan membawanya ke ruang khusus interogasi.
Alicia sedang tak ada di mansion. Horton menyuruhnya berjalan-jalan dan bersenang-senang sepuasnya.
Kini Alicia sedang menikmati percintaan panas dengan dua pengawal tampannya sekaligus.
Horton kini berada di ruang interogasi khusus. Pengacaranya tak bisa berkutik karena atas nama istana. Ia hanya boleh memberi pembelaan di persidangan, jika terbukti bersalah.
Berita penangkapan Horton dan banyak bangsawan lainnya membuat heboh masyarakat. Mengira biasa melihat kemewahan bangsawan ternyata hasil menipu negara biliyunan euro. Makanya masih banyak daerah-daerah terpencil dan tertinggal. Luien sudah memberi datanya pada badan pengawas istana.
Perdana Menteri negara juga ditangkap. Pria itu juga terlibat banyak proyek dan program pemerintah fiktif.
Ferdinand selaku ketua perdana menteri istana. Ia pun mengumumkan kerugian istana pada masyarakat. Pria itu juga mengumumkan para oknum bangsawan dan pejabat yang terlibat.
"Para bangsawan yang diduga terlibat sebanyak delapan orang, beberapa perdana menteri istana berikut stafnya. Kami dewan penyidik mengetahui selama dua puluh tahun terakhir, penggelapan dan pencurian uang istana makin marak, hingga terjadi pemicu pembayaran pajak tinggi ...."
Ferdinand menjelaskan semuanya dalam satu rangkum. Pria itu tampak kelelahan, usianya tak muda lagi. Tapi tugas masih ia emban. Tahun ini adalah tahun terakhir masa dinasnya sebagai ketua perdana menteri. Jabatannya akan digantikan oleh salah satu bangsawan muda. Deon akan mengumumkan semuanya setelah satu bulan pengangkatannya sebagai raja.
Luien akan pulang, gadis itu harus menyiapkan diri untuk pengumuman dirinya sebagai tuan putri mahkota. Gadis itu pamit setelah menciumi orang-orang yang ia sayangi. Gadis itu sudah memberitahu sahabatnya Diana jika ibunya telah melahirkan. Diana akan datang bersama ibunya besok ke rumah sakit langsung.
"Aku akan berangkat hari ini bersama Mama, Luein ... eh Yang Mulia," ujar Diana kikuk.
"Hush ... panggil aku dengan sebutan biasanya!' tegur Luien tak enak hati.
"Itu dilarang Yang Mulia. Aku bisa dipenggal jika tak memanggilmu tanda kehormatan itu!" ketus Diana di seberang telepon.
"Oh ya, apa kau tak mengundang yang lain?" tanyanya lagi.
"Nanti ketika Ricky dibaptis. Aku mengundang semuanya," jawab Luien.
"Oke see you tomorrow, Dear!"
Sambungan telepon pun terputus. Luien hanya tersenyum. Semuanya akan berubah nanti, ketika ia berdiri di hadapan umum. Tak ada lagi yang memanggilnya gembel, gadis gila atau pengemis.
"Hanya karena pakaianku, aku dihina jika memasuki kawasan elit," keluhnya.
"Aku akan mengubah pandangan masyarakat. Tak selamanya orang kaya itu berpakaian necis dan memaklumi kesombongan mereka. Semua orang berhak untuk dihargai dan dihormati!" tekad Luien.
Sebagai putri mahkota, ia juga memiliki misi. Misi yang ia emban akan ia ungkapkan besok ketika pengumuman dirinya.
"Tidak mudah, tapi aku akan memperjuangkan kaum lemah!" lanjutnya bertekad.
bersambung.
semangat Luien!
next?