THE REAL PRINCES

THE REAL PRINCES
BULAN MADU



Alex memboyong istrinya berbulan madu. Keliling Eropa, dengan yatch pribadi. Pria itu benar-benar mengekspresikan cintanya dengan menikmati kemesraan di lautan dan memandang matahari terbenam bersama istrinya.


"Aku mencintaimu, sayang," ucap pria itu entah kesekian kalinya..


"Kau tak bosan mengatakan itu sayang?" tanya Luien..


Bibir wanita itu sudah bengkak karena ulah suaminya. Bahkan tubuhnya tak diperbolehkan memakai baju selain lingerie seksi.


"Aku tak akan bosan mengatakan cinta, bahkan hingga mulutku kering sekali pun. Aku akan terus mengatakan cinta padamu," jawab Alex.


Tangan pria itu mengusap perut rata dan sedikit berotot istrinya. Luien sampai harus menahan perutnya yang geli karena disentuh oleh suaminya. Bahkan kini rabaannya menjadi remasan ketika di dadanya. Luien sampai menutup matanya karena menahan gelora yang kembali menyerangnya.


"Kau membuatku basah kembali sayang," rengek wanita itu seksi.


"Karena aku sangat ingin memiliki anak darimu sayang. Kita harus bekerja lebih keras. Agar janin itu tercipta di sini," ujar Alex.


Luien mengamini keinginan suaminya. Ia juga sangat menginginkan anak. Ia berharap dirinya cepat memiliki anak banyak.


"Aku ingin anak kembar, sama seperti ibuku dulu," harap wanita itu.


"Aamiin, sayang. Oh, ya ... Kita akan turun di Swiss nanti. Siapkan paspor dan identitas lain," Luien mengangguk.


"Sayang," panggil pria itu serak.


Luien tersenyum. Wanita itu sangat tahu apa yang suaminya inginkan. Merekapun kembali bercinta dengan panas.


Sementara di tempat lain. Ken merombak semua sistem pemerintahan yang kaku dan sudah tidak sesuai jaman di bawah titah Deon, rajanya. Banyak kalangan bangsawan tak menyukai kinerja Ken yang begitu lurus dan tak tersentuh.


"Prince Ken ... jangan terlalu kaku. Hidupmu tak akan bahagia jika kau terlalu menurut. Rileks sedikit," ujar salah satu bangsawan mencoba berkompromi.


"Duduk dan minum-minum lah," rayunya.


Ken duduk di antara mereka. Salah satu bangsawan memberi kode. Seorang wanita cantik dengan pakaian anggun datang memberi hormat..


"Perkenalkan ini adalah adik sepupuku, Dukes Vivian Wheeler," sahut pria itu memperkenalkan adik sepupunya.


Wanita cantik itu menekuk kakinya dan memberi hormat pada Ken. Pria itu mengangguk balas hormat.


"Prince," sapanya dengan suara lembut.


Wanita itu duduk di sebelah Ken. Pria itu membiarkannya. Satu gelas wine dituang untuk Ken..


"Minumlah Prince. Satu minuman tak membuatmu mabuk," ajak Vivian dengan suara menggoda.


Ken mengangkat gelas. Anggur terbaik dituang oleh gadis bangsawan itu penuh keanggunan.


Vivian memakai gaun A line dengan potongan dada rendah. Bukit itu menyembul menantang untuk disentuh siapa pun yang memandang.


"Prince Ken. Kami, ini adalah kalanganmu. Kedudukan kita sama, alangkah baiknya kita bekerjasama agar saling menguntungkan," ujar salah satu pria bangsawan.


"Keuntungan apa?" tanya Ken ingin tahu.


"Kau tau banyak bisnis kerajaan yang semestinya tak usah rakyat langsung menerima keuntungan. Kita bisa membagi pekerjaan dan menikmati hasilnya," saran pria itu.


"Seperti pembuatan jembatan umum, tak perlu warga yang mengerjakan itu. Kita bisa panggil perancangan bangunan terkenal dengan menaikkan harganya," ujar pria itu lagi.


Ken tampak menganggukkan kepala. Vivian makin mendekati Ken. Gadis itu sangat terpikat dengan pria itu.


"Prince, apa anda memiliki waktu luang?" tanyanya penuh kelembutan.


"Waktu Luang?" gadis itu mengangguk.


Jemarinya yang lentik, ia gerakan ke dada Ken. Bibirnya ia rekahkan untuk memikat libido pria itu. Gadis itu yakin dapat menaklukkan pria itu dengan pesonanya.


"Aku menyukaimu, Prince," aku gadis itu.


"Aku pria beristri," sahut Ken setengah menolak Vivian.


"Tak perlu ada yang tau hubungan kita, Prince. Lagi pula, aku adalah seorang Dukes, kelasku lebih tinggi," sahut Vivian.


"Istriku juga seorang Dukes," sahut pria itu.


"Siapa istrimu?" tanya Vivian tak suka.


"Dukes Felicia Walace," jawab Ken santai.


Vivian diam. Ia sangat mengenal wanita satu itu. Salah satu kaum bangsawan terkenal keras dan lurus, Felicia juga merupakan gadis bangsawan kesayangan ratu Victoria.


"Sepertinya cukup," ujar Ken mulai malas.


Pria itu berdiri. Ia telah mendapat bukti banyak. Para bangsawan terkejut melihat beberapa petugas istana mengusir mereka dari halaman istana.


"Aku yakinkan kalian akan dicoret hadir dalam persatuan bangsawan," ujar Ken sinis.


"Dan untuk anda Nona Vivian. Felicia adalah yang terbaik. Gadis bangsawan tak akan merendahkan harga dirinya," lanjutnya.


Semua tertunduk, para staf mencatat nama-nama bangsawan yang bermasalah dan menyarankan Mark up pembangunan desa. Ken memilih pulang. Tugasnya yang banyak, membuat ia tak bisa bermesraan dengan istrinya. Bahkan bulan madu tak bisa ia ajukan.


"Ken," panggil Ferdinand, mertuanya.


"Papa," sahutnya.


"Apa sudah selesai?" Ken mengangguk.


"Yang Mulia Tuan Raja memintamu untuk istirahat selama dua minggu," ujar Ferdinand memberitahu.


"Apa, Papa yakin?" tanya Ken tak percaya.


"Iya, sebagai hadiah. Walau terlambat dari Yang mulia Raja. Ia memintamu mengajak istrimu berbulan madu," ujar Ferdinand lagi.


Ken tersenyum bahagia. Selama ia menikah, memang tugasnya langsung menumpuk, terlebih ketika Luien mencari bukti penggelapan para staf dan divisi kerajaan yang bermasalah. Pria itu sangat jarang menyentuh istrinya. Kecuali malam pertamanya.


Pria itu pulang dengan wajah semringah. Felicia yang tengah memasak diangkat tinggi-tinggi olehnya dan berputar hingga wanita itu memekik.


"Sayang!" panggilnya.


Ken mencium bibir istrinya rakus. Felicia membalas tautan sang suami.


"Sayang," panggil Ken dengan suara berat dan napas menderu.


"Kita berbulan madu, yuk," ajaknya.


"Ke mana, sayang?" tanya Felicia.


"Ke pantai cermin dekat sini saja. Aku ingin menikmati tubuhmu lebih lama di bawah terik matahari dan suara ombak menggulung," pinta pria itu.


Felicia mengangguk. Di pantai itu, keluarganya memiliki vila pribadi. Ia akan senang melayani suaminya di sana.


"Aku akan bersiap," Ken mengangguk.


Sepasang suami istri itu kembali menautkan bibir mereka. Ken, makin menuntut ciuman hingga dalam. Lalu, pria itu mencumbu istrinya.


"Sayang, kita harus bebenah," rajuk Felicia dengan kepala terdongak menikmati cumbuan.


"Nanti, saja sayang. Aku merindukanmu," ujar Ken tak peduli.


Pria itu terus mencecap semua kemolekan istrinya. Ia benar-benar mabuk kepayang. Bahkan penyatuan mereka begitu lembut dan tak terburu-buru. Ken benar-benar menikmati waktu. Rajanya memberinya libur dua minggu.


"Botel Ten!" teriak Rico memanggil.


Kedua tubuh yang salin berdempet langsung terpisah mendadak mendengar teriakan panggilan itu.


"Baby!" Felicia melihat jam.


"Waktunya Rico makan siang," ujar wanita itu dengan napas terengah.


Ken mulai pusing. Ia tak peduli. Kembali melanjutkan kegiatannya. Sedang di luar. Rico mulai marah-marah tak ada satu pun manusia yang memperhatikannya. Kedua orang tuanya sibuk dengan begitu banyak pekerjaan. Kakak perempuannya pergi belum pulang-pulang. Sedang Kakak laki-lakinya juga tak menunjukkan batang hidungnya semenjak pagi.


"Pemuana pidat sayan Ico ... hiks ... hiks!"


"Prince Rico, sama Bibi saja, yuk," ajak salah satu maid.


Bayi itu mengangguk. Perlahan, seringai tipis terbesit muncul dari bibir wanita dengan balutan pelayan itu.


"Sini, yang sayang Prince itu cuma Bibi, bukan yang lain," ajak wanita itu menggendong Rico dan membawa bayi itu pergi..


bersambung.


lah ...


next?