
Hari yang ditunggu tiba. Vic mengenakan pakaian formal terbaiknya. Setelah jas dari rancangan ternama membalut tubuh kekarnya. Pria itu menatap dirinya di kaca.
"Kau sudah tampan, sayang," puji Maxwell pada putra asuhnya itu.
Vic merona malu. Pria itu masih gugup dengan semuanya. Ia gelisah sendiri.
"Kenapa, ada apa?" tanya Maxwell.
Tania tengah merapikan penampilan Victor.
"Aku takut ditolak," jawaban lemah keluar dari mulut pria tampan itu.
Maxwell terbahak mendengar jawaban putranya itu. Sedang Tania tersenyum simpul.
"Kenapa kau jadi tak percaya diri seperti ini?" kekeh pria berusia lanjut itu.
"Sudah, ayo kita berangkat. Adrian dan Alex bersama istri mereka sudah menunggu," ujar Tania menenangkan perdebatan.
Vic turun bersama dua orang tua asuhnya. Ia diapit oleh Maxwell dan Tania. Alex dan Adrian sudah bermuka merengut. Mereka merasa lama menunggu kesiapan saudaranya itu.
"Kenapa lama sekali!" seru Alex tak sabaran.
"Ayo, cepat? Kau sudah siapkan cincin pertunangannya kan?" tanyanya lagi.
Vic merogoh kantongnya dan mengambil kotak beludru lalu membukanya.
"Aman!" sahutnya setelah melihat benda berkilauan di sana.
"Mommy pegang ini. Aku takut menjatuhkannya nanti," ujarnya menyerahkan cincin itu pada Tania.
Tania mengambil kotak itu lalu menaruhnya di tas yang ia bawa. Semuanya menuju mobil masing-masing. Hanya Vic yang satu kendaraan dengan Maxwell dan Tania.
Ketiga mobil mewah tersebut meluncur menuju kediaman Ageele.
Sementara di tempat keluarga Ageele. Semua sibuk dengan menata kursi-kursi. Samantha tak berhenti melihat kesiapan semuanya. Masalahnya, bukan keluarga biasa yang datang ke mansionnya. Tapi, keluarga terpandang bahkan seorang putri raja ada di dalamnya. Ia tak mau kesannya menjadi buruk.
"Apa semua siap?" tanya wanita itu berulang kali.
"Sayang, jangan berlebihan seperti itu. Nanti, gara-gara kau terlalu berlebihan jadinya kacau semua!" peringat Ageele.
Samantha hanya menghela napas panjang. Ia memang terlalu berlebihan, karena taku citranya buruk.
Sebuah notifikasi pesan masuk. Ageele membacanya. Ia membelalak lebar.
"Astaga ... mereka sudah menuju ke sini. Ayo rapikan jangan ada yang berantakan!' serunya memerintah.
Samantha mencibir kelakuan suaminya. Barusan tadi pria itu mengkhawatirkan dirinya yang berlebihan. Kali ini malah sang suami juga melakukan hal yang sama.
"Aku ke kamar putriku," ujar Samantha lalu naik ke lantai tiga melalui lift.
Kamar Gloria kini ada di lantai tiga. Gadis itu ingin menempati tempat paling atas bangunan tersebut. Selain ada balkon dan tanaman hias yang ia minati ada di sana. Udaranya juga jauh lebih segar.
Tok ... tok ... tok!
"Masuk!"
Samantha masuk dengan senyum lebar. Wanita itu menatap lekat putrinya yang begitu cantik.
Gloria mengenakan gaun midi berwarna bronze. Begitu kontras dengan kulitnya yang putih bersih. Dengan belahan dada sabrina. Rambut merahnya ia gerai begitu saja. Gloria menyematkan satu jepit rambut mutiara asli. Riasan wajahnya sangat natural. Ia benar-benar sangat cantik.
"Kamu cantik sekali, sayang," puji sang ibu lalu mengecup pucuk kepala putrinya, sayang.
Gloria tersenyum sebagai ucapan terima kasih.
"Ayo, kita turun dan menyambut mereka. Kabarnya mereka sudah di tengah perjalanan," ajak Samantha.
Gloria pun mengikuti ibunya. Tangannya menggenggam erat tangan Samantha. Wanita itu mengelus tangan putrinya.
"Jangan takut. Anda kami bersamamu. Kita akan melewatinya bersama," ujar wanita itu menenangkan.
Gloria pun mengikuti ibunya. Mereka menaiki lift yang sama untuk turun ke lantai satu. Ageele menatap putrinya yang sangat cantik hari ini. Pria itu tersenyum lebar. Ia sudah menyiapkan semuanya termasuk pria pengganti Victor jika pria itu urung menjalankan janjinya.
Rona merah menjalar di pipi gadis itu. Ia memeluk ayahnya. Ia begitu beruntung mendapatkan orang tua yang mau peduli dengannya bahkan mendukungnya.
Sosok pria menatap lekat gadis itu. Pria bernama Jovan Hereira. Pria yang akan menjadi pengganti Vic jika tak datang.
"Ah, ternyata Nona Ageele cantik sekali," puji pria itu dalam hati.
"Aku akan langsung menikahinya jika pria itu tak datang. Ah ... semoga pria itu tak datang!" harapnya dalam hati.
Sayang, harapan Jovan tak terkabul. Rombongan Vic datang dengan setelan mewah mereka. Luien dan Diana membawa bingkisan untuk keluarga Ageele yang disambut baik oleh Samantha.
"Mari, mari silahkan duduk!" ujarnya mempersilahkan para tamu duduk.
Para maid menghidangkan minuman di cangkir yang sangat cantik. Cangkir dengan ukiran emas. Hanya ada sepuluh set saja di dunia. Lalu beberapa kudapan yang tentunya dari bahan berkualitas.
Luien sangat mengenal kudapan ini. Semuanya dari restauran yang ayahnya miliki.
"Silahkan di minum. Jangan sungkan," ujar Ageele mempersilahkan.
Dengan elegan Maxwell menyeruput teh camoline yang enak itu diikuti oleh semuanya. Ia tersenyum lalu meletakan cangkir mahal itu.
"Kita langsung saja, ya," ujarnya kemudian lalu terkekeh.
Ageele mengangguk setuju. Sedang Gloria terus menunduk dan menggenggam tangan ibunya. Vic menatap gadis itu lekat. Seakan tak mau memandang yang lain selain gadis itu saja.
"Saya kemari atas keinginan putra saya Victor untuk meminang anak gadis anda Tuan Ageele!' ujar Maxwell tegas.
Ageele mengangguk senang. Ia menatap putrinya.
"Saya selaku orang tua hanya menerima pinangan ini karena baik menurut saya. Tapi, semuanya saya serahkan pada putri saya, karena dia lah yang akan menjalaninya," jawab Ageele panjang lebar.
"Bagaimana, Gloria. Apa lamaran Victor kau terima?"
Gloria gugup bukan main. Bibirnya terasa kaku. Ia hanya mengangguk menjawab tergagap.
"I ... iya ... aku menerima lamaran Victor."
"Puji Tuhan!" sahut Vic lega.
Semua terkekeh mendengar sahutan pria itu. Lalu disematkan cincin pertunangan pada jari manis Gloria oleh Tania.
"Kau sebentar lagi menjadi menantuku," ujar wanita itu lalu mengusap wajah cantik Gloria.
Gadis itu tersenyum dengan semburat merah di wajah. Ia begitu bahagia sampai tak bisa berkata apa-apa.
"Jadi seperti ini saja!" sahut Jovan tak terima.
"Kalian mencadangkan aku seperti mainan!" seru pria itu berang.
Semua berdiri dan menatap Jovan yang berdiri tak jauh dari para maid. Pria itu adalah salah satu rekan kerja Ageele yang masih muda. Pria itu tadinya menolak ajakan Ageele untuk menjadi pria pengganti. Tapi, karena didesak, maka ia pun menuruti keinginan koleganya itu.
"Bukankah aku juga bilang seperti itu?" sahut Ageele mulai mengingatkan perjanjian.
"Aku datang karena berharap pelamaran ini tidak terjadi. Nyatanya terjadi, kau mempermainkan aku Tuan Ageele!" sahut Jovan tak terima.
"Kau tak berkata jika aku hanya diam saja dan menerima perjodohan dengan putrimu. Tapi, apa nyatanya?" sahut Jovan tak terima.
"Maafkan aku Tuan. Aku hanya ingin semua baik-baik saja," ujar Ageele mulai sadar akan kesalahannya.
"Baik untukmu, Tuan tapi tidak denganku!" teriak Jovan berang.
Pria itu tak suka dirinya dipermainkan seperti ini. Terlebih, ia juga seorang pengusaha. Ia tak terima jika ternyata ia hanya dijadikan pria pengganti oleh Ageele.
bersambung.
nah loh ... masalah kan?
next?