THE REAL PRINCES

THE REAL PRINCES
BALASAN



Frank dan Mira pulang ke apartemen, keduanya sudah seperti ibu dan anak. Frank manja dengan wanita yang usianya empat puluh tahun lebih tua darinya.


Anton yang melihat kepulangan mereka mengatakan jika, tadi unit Frank didatangi tiga orang tak dikenal.


"Frank, tadi ada tiga orang datang ke unitmu."


Frank langsung tau, siapa yang mencari dirinya. Pria itu pun, minta ijin pada Mira untuk pergi sebentar.


"Aku pergi dulu ya, Mom."


"Hati-hati sayang," ujar wanita itu.


Frank mencium kening wanita yang baru saja mengadopsinya sebagai anak. Kini namanya adalah Franko Jhonson. Pria itu pun pergi, ia akan mendatangi ayahnya.


Memakai mobil sedan biasa yang ia parkir di suatu tempat. Pria itu mengendarai mobilnya, menepuh perjalanan selama satu jam setengah.


Ketika sampai hari sudah menjelang malam Frank membunyikan klakson. Penjaga yang melihat tuan mudanya pulang langsung membuka pintu pagar dengan memencet tombol.


Mobil itu masuk, sejauh tiga ratus meter untuk sampai teras rumah. Mansion itu memang sangat megah dan luas. Frank atau Bernard menatap bangunan mewah itu. Ia memperkirakan berapa harga tanah dan bangunan itu.


"Dijual dapat berapa ya?" tanyanya bergumam.


Pria itu masuk, sejejer maid membungkuk hormat.


"Mana Tuan kalian?" tanya pria itu.


"Ada di kamarnya Tuan muda," jawab salah satu maid.


Pria itu pun melangkah menuju kamarnya sendiri. Memang sudah waktunya untuk tidur, karena memang sudah larut. Frank duduk di pinggiran ranjangnya.


"Ranjang ini empuk, mewah. Tapi, tidak hangat," gumamnya.


"Mommy ... aku rindu," lanjutnya.


Pria itu merindukan ibu angkatnya. Frank merebahkan dirinya. Memeluk bantal dan membayangkan jika itu adalah Mira yang tengah memeluknya.


Pagi hari menjelang. Rodrigo tengah makan sarapannya.


"Tuan muda sudah datang tadi malam, Tuan," lapor salah satu maid sambil membungkuk.


"Bangunkan, dia!" titahnya.


"Tidak perlu, aku sudah bangun," ujar Bernard lalu duduk di kursi.


Pria itu mengambil dua keping roti dan mengolesnya dengan selai coklat. Ia pun memakannya.


"Dari mana saja kau?!" tanya Rodrigo sinis.


"Satu minggu, Daddy menghubungimu, tapi tak satupun kau angkat!" lanjutnya geram.


"Aku baru kerampokan!" jawab Bernard.


"Apa?!" tanya Rodrigo tak percaya.


Bernard pun menatap ayahnya. Rodrigo pun baru melihat bekas-bekas luka seperti habis dipukuli.


"Jadi apa saja yang diambil?' tanya Rodrigo kini.


Bernard kembali menatap sang ayah. Bukan dirinya atau menanyakan keadaan putranya, Rodrigo malah bertanya tentang benda.


"Kau tak menanyakan keadaanku?" tanya Bernard kecewa.


"Kau baik-baik saja kan?" sahut pria setengah baya itu santai.


Bernard, selesai. Ia pun berdiri.


"Mau ke mana kau?!" tanya Rodrigo gusar.


"Pergi dan tak kembali!" tekan pria muda itu.


"Kembalikan semua aset dan aku blokir semua tabungan dan kartu kreditmu!" ancam Rodrigo.


"Tabungan? Kartu kredit?" Bernard tertawa sinis.


"Kau lupa jika aku sudah tak memiliki itu semua tiga tahun lalu?" tanyanya mengingatkan sang ayah.


"Mobil yang kupakai adalah hasil jerih payahku, bekerja dengan paman Xavier!"


"Edrico masih hidup!"


"Aku tak peduli lagi dengan harta yang memang bukan hakku!" potong Bernard lagi.


"Oh ya, satu lagi. Aku bukan lagi Bernard Thomas. Tetapi Franko Jhonson!"


Frank atau Bernard meninggalkan Rodrigo. Pria itu meneriaki para pengawalnya.


"Tangkap anak sialan itu dan kurung dia!"


Bernard mengambil senjata api yang sudah ia siapkan. Lalu memberi tembakan di lutut salah satu pengawal yang hendak menyergapnya.


Dor!


"Aarrgghh!"


"Bernard!" pekik Rodrigo.


Bernard mendatangi sang ayah dengan menodongkan pistolnya ke kening pria itu.


"Jangan ganggu aku. Semua bukti kejahatan ada di tanganmu dan kaulah pelaku tunggal semuanya!" tekan Bernard.


"Kau juga membunuh dua anak tak berdosa!" sahut Rodrigo mengingatkan.


"Ya, dan itu karena saranmu!" sahut Bernard juga mengingatkan.


Ia mengeluarkan ponsel dengan tangan yang lain. Sedang para pengawal yang tadi sibuk memberi pertolongan pada salah satu rekannya yang terluka.


"Harta itu milik kita, tak usah berbagi dengan sepupumu. Kau racuni saja semua!"


"Kau lah yang memintaku untuk membunuh mereka," ujar Bernard lagi.


Pria itu pun melangkah keluar dan meletakan pistol itu ke tangan Rodrigo. Otomatis, sidik jari pria itulah yang berada di benda tersebut.


"Jika aku dipenjara. Kau juga harus dipenjara!" teriaknya lalu menekan pelatuk.


Cklek! Ceklek!


Pistol itu sudah kosong. Rodrigo berteriak seperti orang kesetanan.


"Aku pastikan kau akan menyesal meninggalkan aku!" doanya.


Frank tak peduli. Ia masuk mobil yang memang miliknya. Mengambil beberapa berkas dan satu buku tabungan yang memang milikinya.


"Aku akan membawa Almira pergi dari tempat itu. Apartemen milik Chen sudah tidak aman," ujarnya.


Pria itu melajukan mobilnya lagi, kembali mengklakson pintu pagar terbuka. Tak lama kendaraan roda empat itu meluncur dan meninggalkan mansion yang ia tempati selama dua puluh lima tahun.


Sementara itu Luein yang baru saja pergi ke perusahaan milik kekasihnya tiba-tiba diserang oleh empat orang tak dikenal. Gadis itu pun melawan penyerangnya. Para sekuriti yang melihat membantunya.


Luien yang bisa bela diri mampu menumbangkan dua orang di antaranya. Tak lama Alex datang bersama Adrian dan Vic. Melihat ada perkelahian di lapangan parkir. Ketiganya langsung keluar dan menuju lokasi.


Vic menelpon kepolisian. Sedang Adrian dan Alex menggantikan sekuriti dan Luein menghajar dua pria itu.


"Siapa kalian?" bentak Alex sambil menendang salah satu pria yang menyerang Luien.


Tak ada jawaban. Pria itu makin berang dan hendak menghajar. Polisi yang datang langsung menahan Alex agar tidak lagi menyerang penjahat itu.


"Tenang, Tuan Alex! Serahkan pada pihak polisi!"


Keempatnya digelandang ke kantor polisi, untuk dimintai keterangan. Alex langsung memeluk kekasihnya.


"Kau tak apa-apa, sayang?" tanyanya dengan nada khawatir.


"Ya, aku tak apa-apa," ujar Luein, "beruntung tadi sekuriti menolongku."


Diserangnya Luien sampai ke telinga Deon, ayahnya. Ken melaporkannya.


"Oh, Rodrigo kini mulai mengganggu putriku ternyata," ujarnya geram..


"Sabar, sayang. Sedikit lagi, kau akan benar-benar bebas dari semua ini. Maafkan Daddy jika harus menyeretmu ikut dalam permainan berbahaya ini," ujarnya..


"Tuan. Armira mengadopsi Bernard dan kini menjadi Franko Jhonson," lapor Ken lagi.


Deon terdiam. Pria itu belum memberikan kalung yang dijual Armira untuk pengobatan Bernard atau Frank.


"Kita kunjungi wanita baik itu lagi, Ken," ajak Deon.


Ken membungkuk. Keduanya pun mendatangi gereja di mana Armira bekerja sebagai pembersih gereja.


Deon dan Ken menyamar sebagai orang biasa yang begitu kesusahan. Keduanya kini sampai setelah dua puluh menit perjalanan.


Di sana Armira tengah meletakkan lilin di patung bunda Maria. Wanita itu pun menggerakkan tangannya dari kening, bahu kanan dan bahu kiri lalu mencium telunjuknya.


"Dengan nama Bapa, putra dan roh kudus."


Wanita itu pun merekatkan kedua telapak tangannya dan berdoa dengan khusyuk. Tak lama, ia pun selesai melakukan doa. Deon memulai dramanya.


"Ayah ... kita mau ke mana lagi?" tanya Ken pura-pura sedih.


Armira yang melihat keduanya berhenti. Ia menatap Deon. Wanita itu mengingatnya, ketika di rumah sakit bersama Frank.


"Ayah tidak tahu lagi, Nak," ujar Deon pasrah.


"Kita berdoa saja, siapa tahu ada yang memberi kita ongkos pulang ke kampung. Ayah kapok di sini," ujar Deon.


"Hai, Tuan," sapa Armira.


"Apa kau masih ingat aku?" tanyanya.


Deon pura-pura mengernyitkan kening. Perlahan pria itu mengangguk walau sedikit ragu.


"Kalian mau ke mana?" tanya wanita itu.


"Ke kota D," jawab Ken.


"Huss!" tegur Deon.


"Maaf!" cicit Ken.


Armira mengangguk tanpa ragu, ia membuka dompet, baru saja ada jemaah yang memberinya uang cukup banyak. Ia pun mengambil tiga lembar saja dari uang itu, lalu memberi sisanya pada Deon tanpa ragu.


"Ambil ini dan pulanglah, jika di sana kalian merasa lebih baik," ujar Mira lalu mengelus tangan Deon ketika menyerahkan uang itu ke tangan pria itu.


"Nyonya terima kasih," ujar Deon.


"Kita keluar bareng?" pintanya.


Mira mengangguk. ketiga orang itu pun keluar. Armira yang tengah berjalan dikejutkan dengan Deon tiba-tiba memperlihatkan kalung wanita itu.


"A-apa ini?" tanya Mira tak mengerti.


"Ini untukmu, Nyonya," sahut Deon.


"Aku hanya menyamar dan kau benar-benar baik," lanjutnya lalu memakaikan kalung di leher wanita itu.


Armira menatap tak percaya. Ken menggenggam jemari wanita tua itu yang penuh dengan keriput.


"Teruslah berbuat baik, Nyonya. Terima kasih," ujarnya.


Kedua pria itu pun meninggalkan Armira. Ditangannya satu amplop besar ketika ia buka berisi banyak uang. Ia pun membawa uang itu. Wanita itu berpikir, suatu hari ia akan membutuhkan uang tersebut.


bersambung.