
Hari ini sidang putusan akan dibacakan untuk Rodrigo Thomas. Pria itu pasrah, hukuman mati menjadi hukuman terberat untuknya.
"Saudara terdakwa. Apa yang anda ingin katakan?" tanya hakim sebelum membacakan keputusan..
Penuntut umum hadir. Beberapa masyarakat awam pun ikut menyaksikan persidangan yang menyita perhatian, pembunuhan itu cukup sadis karena dua anak di bawah umur menjadi korbannya.
"Saya menerima hukuman apa pun yang diberikan pada saya, yang mulia!" jawab pria itu dengan suara tercekat.
Deon dan Ken ada di sana. Kedua pria itu tersenyum mencibir. Mereka berdua juga cukup kaget, ketika tau Rodrigo tak mau didampingi pengacara untuk membela diri. Otaknya masih waras, untuk mengakui semua kejahatannya, padahal ada andil orang lain di sana. Deon sangat tau siapa yang membuat Rodrigo gelap mata dan membunuh saudara sepupunya sendiri.
"Karena terdakwa sangat koorperatif dan bersikap baik selama persidangan, saya memberi apresiasi saya nanti setelah membaca keputusan ini!" sahut hakim.
"Saudara tersangka Rodrigo Thomas, didakwa atas otak pembunuhan satu keluarga Xavier Thomas pada tanggal ...."
Hakim membacakan rentetan dakwaan pada diri pria itu. Rodrigo mendengarkan semua tuduhan dan ia membenarkan semuanya. Deon mengepal erat. Padahal, Rodrigo bisa menarik semua orang yang terlibat termasuk putranya. Pria itu memilih menimpakan semua hukuman pada dirinya.
"Selaku hakim, saya menyatakan jika saudara terdakwa bersalah dengan tangan tuntutan hukuman lima puluh tahun penjara dipotong masa tahanan delapan bulan sepuluh hari atau membayar denda sebanyak sepuluh juta dolar!"
Palu diketuk. Hakim meringankan hukuman pada Rodrigo karena sikap kooperatif pria itu selama persidangan.
Frank atau Bernard ternyata ada di sana, pria itu mengusap air matanya mendengar keputusan hakim.
"Yang mulia, di mana saya harus menyerahkan denda sepuluh juta dolar?"
Sebuah suara wanita tua mengagetkan semua orang. Termasuk Deon, Ken, Frank bahkan Rodrigo sendiri.
"Apa maksud Nyonya?" tanya Hakim..
Armira maju dan mendatangi hakim.. Di tangannya ada koper besar. Ia mencoba meletakkan koper itu di atas meja hakim. Beberapa petugas menolongnya. Koper diletakkan, Armira membuka koper itu.
"Di dalam koper ini ada uang sepuluh juta dolar, mungkin lebih. Saya membayar denda pria itu dan membebaskannya dari hukuman lima puluh tahun penjara!" jawab Armira sambil memandang Rodrigo.
Semua terhenyak mendengar perkataan wanita renta itu. Frank menangis tertahan.
"Nyonya, yang anda bebaskan adalah seorang pembunuh berdarah dingin," jelas hakim.
"Terkadang otak pendek, membuat orang gelap mata dan tak mau berpikir panjang. Saya bukan membela kejahatannya tetapi, saya membela kejujurannya," jawab Armira lalu tersenyum.
Wanita itu mendekati pria yang duduk di kursi pesakitan. Mengelus pipih yang sudah ditumbuhi bulu-bulu kasar.
"Saya, yakin dia orang baik, hanya saja luka di hatinya membuat ia menjadi orang jahat," ujarnya.
Semua mengecek keaslian uang itu. Beberapa uang dikenali Ken adalah uang pemberian dari tuannya. Tetapi, sisanya ia tak tahu dari mana Armira mendapat uang tersebut.
"Nyonya, semua uang ini asli bahkan lebih dua juta dolar," sahut hakim lalu meletakan uang dua juta di atas meja.
"Berikan pada keluarga korban yang hidup," sahut wanita itu cepat.
"Nyonya, Edrico Thomas sudah diasuh oleh keluarga kaya raya ...."
"Berikan saja, Yang Mulai Hakim!" pinta Armira.
"Ken!"
"Tuan, Armira mendapat uang dari negara yang membuat putranya menjadi tentara dan terbunuh," jelas Ken langsung.
Deon tertegun. Uang sebanyak itu bisa Armira gunakan untuk masa tuanya.
"Sebenarnya, Armira dapat lebih, Tuan," lanjut Ken memberi tahu.
"Berapa?"
"Satu miliar dolar," jawab Ken..
Deon pun lega. Ia meyakinkan jika Armira bisa bahagia dengan uang itu.
Semua berdiri, hakim keluar. Rodrigo masih harus dalam penahanan selama beberapa minggu sebelum ia benar-benar bebas.
"Daddy!" panggil Frank.
Pria itu memeluk ayahnya dan menangis. Rodrigo membalas pelukannya. Armira tersenyum.
"Mommy tunggu diluar ya," Frank mengangguk.
Mira keluar. Frank masih setia memeluk ayahnya. Rodrigo melonggarkan pelukannya.
"Kenapa kau ke sini. Ini sangat berbahaya, kau masih terancam," bisik Rodrigo.
Rodrigo digiring polisi untuk kembali ke selnya. Frank pun buru-buru pergi. Ia mendatangi Armira dan membawanya melalui pintu samping. Deon meminta Ken mengawal keduanya aman.
Pria penuh karisma itu pun mendatangi sel Rodrigo. Pria itu cukup terkejut dengan kedatangan Deon.
"Laci kerja, buku nomor dua tiga kosong dua, judul Economic chaos," ujar Rodrigo.
Deon tersenyum, ia akan mendapat hasil besar kali ini.
"Ken!"
"Siap Tuan!'
Ken langsung melaksanakan perintah atasannya. Rodrigo memang sengaja tidak melakukan pembelaan hukum. Ia ingin Deon yang mengambil peran sebagai malaikat pencabut nyawa para penjahat yang mendorongnya berbuat jahat.
"Berterima kasihlah pada Armira, Thomas!" tekan Deon.
"I will Mr. Philips!"
Deon pun meninggalkan ruang itu. Rodrigo akhirnya bernapas lega.
Sedang di tempat lain. Luien baru saja selesai dalam pekerjaannya. Ia pulang, Gloria, Hugo dan Brandon juga sudah selesai dengan tugasnya. Hari ini mereka gajian.
"Halo, Ma ... iya, Ma. Aku akan belikan buku-buku sekolah untuk Bella dan Juan," ujarnya dengan ponsel di telinganya.
"Jadi kau mau ke supermarket atau ke pasar dulu?" tanya Brandon.
"Aku ke pasar, saja. Lebih murah. Beda dua dolar dari harga di supermarket," jawab Hugo.
"Hugo, aku punya keponakan dan tas sekolahnya banyak, masih bagus-bagus dan mereka tak mau memakainya karena edisi lama. Apa kau mau ...?" tawar Brandon tak enak.
"Tentu saja, aku mau!' sahut Hugo semangat.
"Jangan khawatir, tidak masalah. Aku tau masih butuh uluran tangan orang lain. Gajiku masih belum mencukupi kebutuhan dan pendidikan keempat adikku," jelas Hugo menepuk bahu Brandon.
Brandon tersenyum lega. Luien dan Gloria hanya mendengar saja.
"Aku boleh ikut ke pasar," pinta Gloria tiba-tiba.
"Hah?"
Baik, Luien, Hugo dan Brandon bengong. Ketiganya tak percaya dengan ucapan gadis cantik itu.
"Kenapa?" tanyanya heran..
"Pasar itu bau, banyak orang miskin dan sesak," jawab Hugo.
"Kau ke pasar itu? Bukankah ada pasar modern di dekat jalan Xx ... aku lihat di sana banyak obral besar-besaran, asal kita pintar memilih, kita dapat tas branded ternama di sana!" sahutnya ketus.
Luien menepuk keningnya. Ia juga lupa ada pasar yang dulu sering ia datangi. Brandon yang penasaran akhirnya ikut juga.
Ketika di lobby, Alex menatap keempat orang yang tengah tertawa-tawa.
"Mau ke mana kalian?" tanyanya
"Pasar!" jawab semuanya kompak.
Alex, Adrian juga Vic pun ikut. Hanya butuh waktu dua puluh menit mereka sampai. Ternyata benar kata Gloria. Sedang ada obral besar.
Luien dan Gloria antusias memilih beberapa baju-baju yang masih bagus. Sepatu dan kaos kaki.
"Hugo bersama nomor baju Luis?" tanya Gloria.
"Empat belas!"
Gloria mendapat delapan kemeja bagus. Ia hadiahkan semua untuk Hugo. Pria itu sangat-sangat berterima kasih pada gadis pujaannya itu. Vic begitu cemburu.
"Kau tak membelikanku apa-apa?"
"Kau sudah kaya Tuan!' celetuk Gloria sinis.
Namun, gadis itu membelikan sabuk yang sangat langka dengan harga murah. Vic sangat senang. Adrian dan Alex jadi iri dibuatnya.
bersambung.
next?