THE REAL PRINCES

THE REAL PRINCES
DI ISTANA



Felicia terkejut ketika bibir pria itu menempel pada bibirnya. Ia mendorong kuat tubuh pria kekar yang kini malah makin menahan tengkuknya agar terus merespon ciuman pria itu. Felicia, sampai memukuli dada pria itu. Hingga Ken melepas tautannya. Felicia ingin menjerit tapi, Ken kembali mencium bibir gadis yang sudah membengkak karenanya.


"Kita menikah yuk!' ajak Ken.


"Kau pikir nikah itu gampang!" teriak Felicia kesal.


"Tentu saja, kita ke gereja sekarang dan cari pendeta untuk langsung menikahkan kita!" sahut pria itu.


Ken menarik tubuh kecil gadis yang hanya sepundak pria itu. Felicia setengah mati berontak.


"Lepaskan!' pekiknya kesal.


Felicia sampai menangis karena begitu malu. Semua menatap pria tampan yang menggendong seorang gadis cantik.


"Ken!" suara yang begitu lembut dan serak.


Ken langsung menurunkan Felicia yang menangis karena kesal. Keduanya lalu menunduk dan menekuk kaki mereka. Victoria, sang ratu mendatangi kedua insan itu.


"Ada, kenapa Felic menangis?" tanya wanita itu.


"Dia menciumku dan ingin menyeretku ke gereja," cicit gadis itu masih sesenggukan.


"Kau mencintainya?" tanya Ratu.


"Iya yang mulia!" sahut Ken tegas.


"Ferdinand!" panggil wanita itu.


Beberapa pengawal berlari dan memanggil pria itu di ruangan lain. Pria itu berlari dan langsung menekuk kaki di depan ratunya dengan napas terengah-engah.


"Kenapa kau berlari? Ah, sudah lah," ujar sang ratu.


"Siapkan putrimu, nikahkan mereka di depanku!" titah Victoria.


"Minta Deon untuk menjadi pendeta mereka!" lanjutnya.


Ken tersenyum lebar. Sedang Felicia menangis. Ia tak percaya secepat ini dia menikah.


Hanya beberapa menit suasana menjadi berubah. Ratu menuju gereja menggunakan kereta kencana bersama Ken, ia akan menjadi penggiring pengantin pria itu. Ken sangat bahagia. Pria yang diambil Deon ketika berusia sepuluh tahun, kedua orang tuanya adalah anak buah Deon yang meninggal dalam tugas.


Mempelai pria memakai pakaian taxedo mahal dan berkelas. Ia sangat tampan. Luien sangat bahagia. Rico bertepuk tangan melihat pria itu.


"Botel Ten ... bensom!" puji bayi montok itu.


Pria itu tertawa penuh kebahagiaan, siapa sangka kenekatannya membuahkan hasil. Bahkan sang ratu sendirian yang bertanggung jawab atas pernikahan ini dan meminta Deon menjadi pendetanya.


Pria itu berdiri menunggu di altar. Sang ratu di beri tempat duduk di sisi Ken. Deon memakai jubah pendetanya.


Tak lama, Felicia datang dengan baju pengantin seadanya. Gadis itu merangkulkan lengannya di lengan sang ayah. Netranya terus mengembun dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya.


"Aku menyerahkan putriku untuk kau nikahi. Cintai dia dan sayangi dia. Tetapi, ketika cintamu mulai pudar, tolong jangan sakiti dan kasari dia. Kembalikan saja dia padaku," ujar Ferdinand dengan suara tercekat.


"Aku akan mencintainya sampai ajal menjemputku," sahut Ken tegas.


Lelehan air mata terus mengalir ke pipi sang gadis. Deon mengusap air mata itu. Ia merasa menikahkan putrinya sendiri. Dengan bibir gemetar ia memulai membacakan doa-doa untuk mempelai. Hingga ketika sumpah sakral itu diucapkan.


Ken mengucap janji itu dengan suara tegas. Begitu juga Felicia. Cincin disematkan ke jari masing-masing.


"Kalian sah menjadi suami istri di hadapan Tuhan dan negara, Kau boleh mencium istrimu!" ujar Deon.


Ken membuka layer istrinya lalu mencium lembut kening sang istri. Felicia begitu bahagia. Ia menikah setelah ayahnya benar-benar menjaga sang gadis dengan empat lapisan pengawal. Padahal, Felicia seorang gadis penurut hanya saja sedikit bar-bar.


"Hanya gara-gara suka berkelahi saja, ayah sampai memberi penjagaan sampai empat lapis," gumamnya.


Ken tertawa. Ia memang mencari gadis yang mirip dengan kelakuan nona mudanya. Gadis bar-bar.


Semua orang bersulang atas pengantin baru. Luien mengingat kekasihnya Alex. Kandungan ibunya kini berusia delapan bulan, lewat satu minggu. Hanya hitungan minggu saja, pernikahannya dengan Alex juga akan berlangsung.


"Botel Ten ... pendon!"


"Ayo, sini sama Dada!" ajak Deon pada bayinya.


"Selamat Ken, semoga kau bahagia," ujar pria itu mendoakan pria kepercayaannya.


"terima kasih, Tuan!" sahut Ken.


Wina memeluk Felicia dan menciumnya. Lalu ia mengelus bahu Ken. Pria itu mengangguk hormat.


Pesta pernikahan menjadi satu dengan pesta penyambutan. Victoria akan mempercepat pengangkatan raja dan ia akan menjadi ibu suri. Ia membisikan pada juru bicara istana.


"Pengumuman!" teriak juru bicara.


Semua diam dan hening, mereka menekuk kaki, hanya Edrico yang boleh berlarian ke sana ke mari dan mengganggu para pengawal.


"Rico, kemari!" titah Ratu.


Bayi itu dengan langkah menggemaskan semua orang mendatangi ratu dengan begitu berani. Ia meminta bayi itu duduk di pangkuannya. Lalu berbisik pada pelayan. Satu menit kemudian satu botol susu berada di mulut bayi itu dan kini dengan santai mengangkat kaki di pangkuan ratunya. Tak butuh waktu lama, bayi itu tertidur. Baru lah, salah satu pengawal mengangkat dan menggendongnya.


'Ratu akan mempercepat pengangkatan raja menjadi satu minggu dari sekarang!" ujar juru bicara istana.


Semua terkejut. Mereka tak menyangka jika penobatan raja akan secepat ini. Deon yang mandiri tentu tak memiliki pendukung di dalam pemerintahan kerajaan. Tetapi, karena dia satu-satunya putra mahkota dan ahli waris. Maka banyak kalangan melakukan lobby padanya.


"Pangeran diminta untuk menyusun kabinet secepatnya dan memilih langsung para kandidatnya," jelas juru bicara.


Semua saling pandang. Mereka tak tahu harus melobi siapa.


'Kenapa, raja kita seorang independen?" tanya salah satu bangsawan gusar.


"Ck, bahkan putrinya tak bisa didekati, karena sudah bertunangan!" sahut yang lainnya.


"Ferdinand beruntung sekali langsung menyodorkan putrinya agar bisa dinikahi pria kepercayaannya yang mulia putra mahkota," sahut salah satunya lagi.


Deon sudah mempersiapkan semuanya. Ia sangat tahu, siapa-siapa yang akan menempati posisi dalam pemerintahannya.


"Kita akan menggusur siapa-siapa yang kemarin anak-anaknya menghina putriku!" sahut Deon dengan senyum sinis.


"Luien!" panggilannya.


"Dad," sahut gadis itu. Ia mengawasi adiknya yang sedang dalam gendongan orang lain.


"Tenang, dia tak akan berani," ujar Deon menenangkan putrinya.


"Sayang, bisakah Daddy minta bantuan mu?"


"Apa itu?"


Deon membisikkan sesuatu. Luien mengangguk tanda mengerti.


"Akan kulakukan, Dad," sahut Luien dengan semangat.


"Kau suruh apa, putriku?" tanya Wina menyelidik.


"Tenang sayang. Ini misinya yang terakhir," ujar Deon lalu mengusap dan mencium perut buncit istrinya.


"Hati-hati, aku sedikit khawatir," ujar Wina.


"Tenang Sayang," sahut Deon.


Pria itu sudah menyiapkan semuanya. Alex pun bersiap membantunya.


"Kita akan membongkar para muka dua di istana ini," ujar pria itu dengan senyum penuh arti.


bersambung.


next?