THE REAL PRINCES

THE REAL PRINCES
MEMBEKUK MUSUH



Melihat Rodrigo terlempar, barulah para pengawal merangsek membekuk lima orang pria. Tentu saja, mereka kalah jumlah. Rodrigo diseret masuk mobil, begitu juga empat orang yang membantu pria itu.


Luien diminta ikut oleh salah satu pengawal. Gadis itu menaiki mobilnya. Lalu mengikuti mereka.


"Ini mau kemana?' tanya gadis itu ketika melewati jalan yang belum pernah ia lewati sebelumnya.


Kini, ia mengendarai Porche-nya. Butuh waktu satu jam untuk sampai sebuah bangunan bertingkat. Melewati gerbang. Semua mobil diperiksa sebelum masuk ke dalam tanpa kecuali mobil Luien.


Setelah dinyatakan aman. Ke tiga mobil masuk di sebuah halaman luas depan gedung berpintu lebar. Sepertinya gedung itu adalah markas.


Luien keluar. Ken langsung menyambangi nonanya. Ia pun melihat leher gadis itu sedikit berdarah. Ia menatap nyalang para pengawal yang tertunduk.


"Aku akan menghukum kalian nanti!" tekannya mengancam.


Semua pengawal pasrah. Lalu, beberapa orang di antaranya mengeluarkan Rodrigo dalam keadaan babak belur. Mereka menyeret pria itu dan melemparnya di hadapan sosok pria dengan arogansi tinggi.


"Rodrigo Thomas!" panggil pria itu..


Rodrigo terhenyak mendengar suara itu, ia tak begitu mengenalnya. Pria itu mendekati Rodrigo, kini barulah wajahnya memucat..


"Tu-tuan Philips!" cicitnya lirih.


"Tuan, dia menyandra Nona Muda," lapor salah satu pengawal.


Deon mengelam. Rodrigo mengernyit. Ia merasa tak berurusan dengan keturunan Philips, kecuali ....


Netra Rodrigo membola. Pria itu menggeleng, ia tak yakin jika perempuan yang ia sandera tadi adalah Philips yang sama.


"Kenapa kau menggeleng, Thomas?" tanya Deon dengan seringai tajam.


"Sayang, masuk lah," pinta pria itu lembut.


Luien masuk dengan baju nyaris seperti gembel itu. Pria itu menelan saliva kasar. Ia tak mencari tahu secara detail siapa gadis yang hendak dia habisi.


"Halo Tuan Thomas aku adalah Luiena Elizabeth Philips," sapa Luein.


Lehernya sedikit perih, jadi gadis itu memegang lehernya. Deon yang melihat leher mulus putrinya lecet, murka. Ia berbalik tanpa aba-aba.


Bug!


Secara membabi buta, Deon menghajar habis-habisan pria itu. Luein diungsikan ke tempat lain agar tak menyaksikan pertarungan tak imbang itu.


Krak!


"Aaarrghh!" teriak Rodrigo ketika tangannya dipatahkan oleh Deon.


Pria itu tak sadarkan diri. Deon sebenarnya ingin sekali membunuh pria itu. Tetapi, ia urung melakukannya. Istrinya berpesan untuk tak melukai siapapun.


"Bawa dan obati. Setelah itu, serahkan ke kepolisian!" titahnya geram.


"Baik Tuan!" sahut para pengawal.


Rodrigo diangkat ke klinik dan diobati. Para pengawal yang membantu Rodrigo juga sudah dijebloskan ke penjara khusus. Para pengawal memiliki hukum sendiri bagi para pengkhianat.


Di tempat lain, beberapa anggota polisi mengepung rumah Rodrigo. Beberapa pelayan digelandang. Kepolisian pun memeriksa seluruh rumah. Benar saja, ditemukan senjata yang membunuh Xavier dan istrinya. Juga beberapa berkas hasil curian.


Ditemukannya bukti itu, membuat perusahaan Rodrigo langsung diaudit oleh Bank. Seluruh karyawan di-PHK. Kekacauan dalam sistem ketenaga kerjaan sempat kacau akibat pemecatan massal itu. Terlebih pesangon mereka di bawah standar yang dibayarkan.


"Keuangan perusahaan tidak bisa membayar pesangon seluruh karyawan. Bank menolak bertanggung jawab!" tekan pengaudit.


Deon sangat tidak percaya. Sedang Bernard atau Frank cukup terkejut melihat perusahaan ayahnya diaudit setelah bukti pembunuhan itu ditemukan. Pasalnya, ia sangat yakin jika sang ayah membayar sebagian hutang dengan melelang beberapa properti perusahaan.


Pihak pengacara Rodrigo tak bisa berbuat banyak karena tak ada perintah dari atasannya.


"Ken, panggil Bernard atau Frank kemari!" titah Deon.


Pria itu geram melihat banyaknya tikus langsung mengerubungi keju segar. Pria itu sudah mencatat semuanya. Bahkan jika seluruh perusahaan Rodrigo Thomas dilelang, harganya masih terlalu tinggi dan mampu melunasi semua hutang berikut bunganya.


Hanya butuh setengah jam Frank sudah berada di depan Deon dalam keadaan muka bengap.


"Dia melawan ketika hendak digiring," sahut Ken ketika Deon menatap heran wajah Frank yang babak belur.


"Kau tak menculiknya di depan Armira, kan?" tekan Deon.


"Nyaris Tuan," cicit Ken.


"Hais ... pasti wanita itu kini sedih setengah mati," keluh Deon.


"Minta Luien menemani wanita itu!" titahnya kemudian.


"Sudah, tadi saya mengambil paksa Frank ketika Nona bersama Armira," sahut Ken lagi.


Deon hanya menghela napas panjang. Lalu menatap pria yang masih mengusap wajahnya yang kembali bengap.


"Hentikan kelakuanmu, sebelum aku menambah parah wajahmu!" tekan Deon kesal.


Frank pun diam. Ia menunduk takut, pria itu sangat tau dengan siapa ia berhadapan. Sosok paling berkuasa, ia sangat bersyukur tak jadi melukai Luien lebih banyak.


"Kau tau perusahaan ayahmu hendak dirampok?" Frank mengangguk.


"Seribu karyawan dipecat dengan pesangon minim dan laporan keuangan palsu. Kau bisa menuntut semuanya dengan pengacaramu!"


Frank berdecak malas. Deon menatapnya dengan pandangan horor.


"Aku boleh pinjam komputer?" pinta Frank akhirnya.


Deon menunjuk komputernya. Frank langsung duduk dan dengan cekatan, ia menampilkan semua laporan keuangan yang tersimpan di perusahaan ayahnya.


"Ini adalah laporan semua keuangan perusahaan yang asli, tolong disimpan. Saya kurang percaya dengan pengacara tua mesum itu," ujar Frank.


"Aku akan mengawasi itu!"


Mendapat dukungan dari penguasa teratas, Bernard atau Frank bisa bernafas lega. Ia pun kini menuju Bank yang berbeda untuk membuka kotak penyimpanan. Hanya dia dan ayahnya yang tau apa sandi kotak itu.


Setelah mengeluarkan semua bukti laporan asli. Kini giliran Frank menuntut balik pihak Bank yang mengeluarkan laporan keuangan palsu.


"Pemirsa, Bank swasta xxx dikabarkan akan langsung dihentikan pengoperasiannya dan diawasi oleh bank pemerintah setempat, perihal laporan keuangan palsu ...!"


Sebuah siaran berita lokal memberitakan kejadian sebenarnya. Pihak bank swasta ngotot jika laporan itu asli. Hingga pemerintah langsung mengecek keaslian data. Tentu saja, karena dibelakang pemerintah ada Lazuard Deon Philips. Maka data itu dinyatakan palsu.


Beberapa oknum petugas bahkan pejabat ikut andil akan pemalsuan itu. Semua tertangkap. Begitu juga Rodrigo, ia sudah membaik kecuali tangannya yang patah. Pria itu muncul dan membenarkan surat-surat asli dan membedakannya dengan yang palsu.


Kini, pria itu berada di ruang tahanan. Bernard menatapnya. Rodrigo enggan menatap putranya. Ia memang harus menanggung hukuman ini sendirian.


"Andai kemarin, Daddy membayar saja utang, tanpa mau menghabisi Paman Xavier," keluh Frank.


"Diam, kau!" sentak pria itu.


"Kau terlalu keras kepala dan serahkah, Tuan Thomas!" ujar Frank kesal.


"Selamat menikmati hukumanmu!"


Frank meninggalkan Rodrigo. Ingin sekali ia berteriak jika putranya itu juga bersalah karena membunuh dua ponakannya. Tapi, urung.


"Tidak apa-apa. Daddy akan menjalani semua hukuman ini agar kau aman dan bahagia, Nak," gumamnya pelan.


Armira yang dari tadi cemas karena putra angkatnya menghilang, langsung ceria ketika melihat kedatangan Frank.


"Putraku, kau darimana saja?!"


Frank langsung memeluk Armira dan menangis. Wanita itu mengusap punggung pria besar itu. Lalu menegakkan tubuhnya.


"Kau kenapa sayang?" tanyanya.


Frank menggeleng. Mira pun membawanya ke unit miliknya. Mengobati luka lebam di wajah putra angkatnya itu.


"Aku mendapat pekerjaan baru," ujar Armira.


"Kau bekerja lagi?" tanya Frank.


Mira mengangguk. Frank sedih. Ia tak bisa menolong ibunya banyak-banyak. Perusahaannya sedang dalam masalah dan kini ia tengah memperbaikinya.


"Aku janji akan membahagiakanmu, Mom," tekad Frank.


"Kau sehat dan ada di sini bersamaku, sudah membuatku bahagia, Nak," ujar Mira.


Frank sangat terharu. Sedang Luien kini berada bersama Alex. Pria itu juga marah besar dengan kekasihnya itu.


"Kau diculik orang dan kau santai menghadapinya?" tanya pria itu tak percaya.


"Kau tau ... aku begitu khawatir dari kemarin dan ... hmmphhh!"


Luien menutup mulut Alex dengan ciuman lembut. Pria itu pun langsung membalas ciuman itu gusar.


"Tolong jangan buat aku sekhawatir ini sayang," pinta pria itu.


Luien mengangguk dan kembali mencium bibir prianya.


bersambung.


next?