THE REAL PRINCES

THE REAL PRINCES
DITANGKAP



Dua pria beda usia tengah menikmati pelayanan yang disuguhkan. Sudut bibir mereka tertarik kesamping. Mata keduanya setengah terpejam. Erangan dan ******* terdengar di seluruh ruangan. Pendingin ruangan menyala sempurna, tetapi peluh membanjiri keenam orang yang sudah tanpa busana itu.


Arthur Huberg dan Willy, silih berganti mencicipi empat tubuh molek sang wanita.


"Aaahh ... Tuan ... inih ...!!"


Keempat wanita itu mengakui keperkasaan dua pria tamunya. Mereka benar-benar diberi kepuasan. Bahkan dia pria itu belum menuju puncaknya.


"Sudah cukup bermainnya. Sekarang langsung ke intinya!" ujar Arthur dengan napas menderu.


Ia sudah mencocokkan tempatnya. Ia yakin akan terasa sempit. Tetapi, justru itu yang ia cari. Baru saja alat tempur itu ingin dimasukkan. Tiba-tiba.


Brak! Pintu terdobrak. Keenam orang itu terkejut berlebih Arthur dan Willy.


"Siapa yang merusak kesenanganku!" bentak Arthur.


"Aku Kepala Perdana Menteri Istana!" suara bariton menggelegar.


Arthur dan Willy langsung ciut. Keduanya kalang kabut memakai baju mereka serampangan. Sedangkan para wanita masuk dalam satu selimut.


Sosok pria beruban penuh karisma. Memakai pakaian lengkap khas kerajaan dengan sematan blue star di dada, tanda pangkat tertinggi.


Willy menangis. Ia menyesal seumur hidupnya. Andai ia tak terayu kata-kata Arthur.


"Kenapa kau menangis?" tanya Kepala Perdana Menteri Istana bernama Duke Of Homs Gabrielle Ferdinand Wallace.


Willy tak menjawab, ia benar-benar menyesal. Pria itu menangis sesungukkan Sedangkan Arthur hanya diam. Libidonya turun drastis, padahal sebentar lagi ia memasuki surga dunia. Ia hanya menunduk.


"Aku kecewa dengan kalian, terutama Kau Sir Arthur!" tekan Ferdinand dengan penuh kekecewaan.


"Kau mestinya membimbing yang muda agar tak berbuat salah, tapi kau malah mengajaknya," lanjut pria itu.


Arthur hanya diam Ia menunduk. Sedang Willy kini sudah bisa menahan tangisnya. Ia hanya menunggu hukuman apa yang menimpanya. Lalu terbayangkan wajah renta ibunya di desa. Yang menatapnya penuh dengan kelembutan, yang berpesan agar selalu menjaga nama baik mendiang ayahnya. Ayah Willy juga seorang supir istana.


"Maafkan aku, Ayah. Aku telah mencoreng namamu," gumamnya dalam hati begitu menyesal.


"Bob!" panggilnya pada salah satu ajudannya.


Tangan pria itu menengadah bertanda surat putusan yang mulia ratu sudah turun. Ratu sudah menyiapkan semuanya. Wanita uzur itu sudah banyak makan asam garam, ia sangat tau hal ini akan terjadi. Terlebih, laporan pengeluaran yang mereka terima terakhir, menguatkan dugaan Ratu mereka.


"Ada laporan cek in hotel dan pelayanan special, Yang Mulia!" lapor bendahara istana.


Sang ratu terkekeh. Ia menggeleng.


"Sejak kapan ada hotel menyisipkan dua pelayanan dalam satu tagihan?" tanya sang ratu.


"Bukankah Ferdinand mengikuti mereka?" tanyanya kemudian.


"Benar yang mulia!" sahut penasihat istana.


"Tangkap mereka. Biar aku yang menghukum keduanya!" titah wanita itu tegas.


"Baik Yang ...."


"Tunggu dulu!" potong ratu.


"Sepertinya lucu, jika aku mengerjai kedua anak nakal itu!" ujarnya usil.


"Yang Mulia?"


"Minta Ferdinand berdrama, jika hukuman mereka seakan-akan berat. Menghadapku dengan pakaian biasa itu akan membuat mereka sport jantung!" kekeh Victoria dengan senyum usilnya.


"Baik, laksanakan Yang Mulia!" sahut penasihat.


Para pelayan, dayang dan perdana menteri yang mendengar hanya bisa menggeleng mendengar rencana ratu mereka.


Ferdinand menatap keduanya datar. Sebuah perintah ditangkap secara umum dan memakai baju biasa. Willy pasrah. Ia tak boleh lagi memakai baju seragam kebanggannya.


"Jangan kira-kira. Aku sudah mengabdi separuh hidupku di istana, kenapa kalian memperlakukan aku seperti Willy?!" sanggahnya tak terima.


"Masih berani bilang begitu. Apa perlu aku bongkar semua tindakan jahatmu?'' tanya Ferdinand menyindir.


Arthur diam. Ia tak bisa berkelit.


"Pakai itu dan kalian ikuti pengawal kembali ke istana!" titah Ferdinand.


Willy langsung memakai baju itu. Sedang Arthur begitu lama memakai pakaiannya. Ferdinand sabar menunggu. Hingga keduanya diseret keluar oleh para punggawa.


"Kalian keluarlah dari balik selimut!" titah Ferdinand lagi.


"Aku harap, setelah ini, kalian hidup jujur dan lebih baik lagi," ujar Ferdinand.


"Jangan pecat mereka. Beri saja sanksi," pinta pria itu pada manager.


"Baik, Tuan!"


Ferdinand meninggalkan tempat itu. Membawa koper berisi plakat.


Kini ia dan rombongan iring-iringan mendatangi mansion milik Lazuard Deon Philips. Calon raja mereka.


Iring-iringan mobil mewah menjadi sorotan warga dan semua wartawan. Lambang kerajaan menjadi sorotan.


"Ada apa ini? Siapa yang dijemput oleh kerajaan negara tetangga?" tanya salah satu warga.


Semua menekuk kaki untuk memberi hormat pada iring-iringan kerajaan itu.


"Ah, apa aku akan jadi Putri?" khayal salah satu gadis.


Hari ini hari Sabtu. Siaran berita mendadak di layar televisi ditonton ratusan ribu warga yang ada di rumah. Hanya Luien yang tidak menonton, karena ia memilih tidur lama-lama di unit apartemen. Gadis itu kelelahan setelah mengemban misi kemarin, ia langsung pulang bersama Vic.


Rihana mendapat cuti panjang dan liburan gratis di Maldives. Gadis itu membawa serta kedua orang tuanya. Ia senang, karena ikut membantu perusahaan pusat. Ia sangat gerah dengan kelakuan busuk Manager dan asisten sekretarisnya. Berkali-kali pusat mengirim orang selalu gagal.


Armira mengetuk pintu unit gadis itu. Ia baru saja membuat lasagna dan ia akan membagi-bagikan dengan tetangganya.


"Luien!" panggil wanita tua itu.


Frank yang melihat ibunya mengetuk pintu sangat payah, menjadi kesal.


"Mom, biar aku yang membangunkannya," ujar pria itu.


Frank menggedor keras pintu unit Luien seakan mau mendobrak pintu.


"Ish ... apa sih!" bentak Luien.


"Bangun kau!" bentak Frank


membalas.


Luien membuka pintu dengan mata setengah terpejam. Armira begitu kaget melihat penampilan berantakan gadis itu.


Bagaimana tidak. Rambut Luien yang sudah seperti singa, piyama yang dikancing miring.


"Astaga Luien!"


Wanita itu pun masuk dan menutup pintu. Frank terkejut ketika pintu ditutup tepat di depan hidungnya.


"Mommy!" pekiknya kesal.


Sedang di mansion Deon. Pintu gerbang terbuka lebar setelah mendapat perintah dari ratu. Deon memakai taksedo formal sedang Wina sang istri memakai gaun, Edrico memakai baju sama dengan ayah angkatnya. Bayi itu dalam gendongan Deon.


Pintu dibuka lebar. Para maid menunduk hormat. Karpet merah digelar. Ferdinand melangkah dengan kaki tegap. Rico bertepuk tangan meriah sambil tertawa senang. Muka datar Ferdinand menghangat mendengar tawa bayi itu.


Rico berusaha turun. Tapi sang ayah kuat menggendong bayi itu.


"Dada ... piss!" pinta bayi itu memohon lalu memberi kecupan pada Deon.


Sedingin apa pun es, akan mencair begitu satu kecupan dan permohonan yang begitu menggemaskan keluar dari mulut seorang bayi.


Rico pun turun. Ken hendak menarik bayi itu, namun dengan berani Rico menolaknya.


"No, bodel Ten!" ujarnya lucu.


Setengah mati, Wina untuk tidak tertawa dan memeluk juga mengigit gemas pipi bulat bayinya.


Rico mendatangi Ferdinand. Deon nyaris menahan napasnya. Bayi itu merentangkan tangannya minta diangkat.


"Kau berani sekali pria kecil!" sahut Ferdinand luluh dan mengangkat bayi itu.


Rico tertawa senang. Ia meraba pipi pria penuh karisma, lalu mencium hidungnya.


"Done!' ujar Rico.


Ferdinand tak tahan, ia mencium gemas pada bayi pintar dan pemberani itu hingga tergelak.


bersambung.


next.