THE REAL PRINCES

THE REAL PRINCES
PENGANGKATAN 3



"Itu tidak mungkin!" teriak Alicia tak percaya.


Deon sangat marah sekali. Penghinaan gadis itu pada ratunya masih dia simpan. Victoria tampak menghela napas panjang. Sang raja memerintahkan para pengawal untuk membawa pergi gadis itu. Alicia berteriak. Ia mengumpat Luien dengan kata-kata kasar.


"Kau tidak pantas menjadi seorang putri raja!" teriaknya. "Kau hanya wanita tak tau diri yang berkedok miskin padahal kau memang orang miskin!"


Alicia diseret keluar ruangan. Semua diam. Luien hanya bisa menghela napas panjang.


"Sekali lagi, kami minta maaf atas kejadian tadi. Silahkan dilanjutkan acaranya!" titah Deon.


Acara pun berlanjut. Kemegahan pesta membuat semua orang lupa akan kejadian tadi. Kini, mereka memuji keindahannya.


"Dekorasinya cantik sekali. Pasti dari tangan-tangan profesional," puji salah satu tamu.


"Design interior diambil dari pengrajin jalanan di daerah B!"


Luien menjelaskan jika karya para kaum jalanan tak kalah dengan para design interior yang berbudget mahal.


"Makanan juga sangat khas, apa ini dari restauran kecil?" tanya salah satu tamu dengan wajah semringah.


"Benar Tuan. Di sini ada beberapa restauran kecil dengan makanan khas!" jelas Luien.


Semua bertepuk tangan. Luien juga menampilkan beberapa kesenian khas untuk pertunjukan. Rico senang dan ikut menari. Semua tertawa melihat tingkah menggemaskan batita itu.


Acara masih berlangsung. Luien ditarik Alex menuju balkon atas. Pria itu begitu merindukan kekasihnya itu. Ia memeluk dan mencium gadis itu.


"Sayang," panggil Luein.


"Aku rindu sekali, sayang. Aku sudah tak tahan membawamu ke gereja," ujar Alex dengan binaran mata penuh pemujaan.


Luien tertawa dan mengalungkan lengannya di leher pria itu. Ia mencium lembut bibir kekasihnya. Tidak ada pagutan penuh napsu. Hanya ciuman sayang.


"Aku mencintaimu," ungkap Alex.


"Aku juga mencintaimu," sahut Luien.


"Ayo kita turun. Nanti, jika lama-lama di sini, akan banyak gosip beredar," ajak Luien.


Alex pun mengangguk dan berjalan beriringan dengan kekasihnya. Semua mata menyorotinya. Banyak yang kagum akan keserasian sepasang kekasih itu.


Sedang di tempat lain. Nyaris separuh maid, staf dan para pekerja istana dijejer untuk menerima hukuman. Banyak bukti yang tak bisa mereka elak. Semua memang menghina putri raja mereka.


"Andai kalian mengaku dan minta maaf. Yang Mulia Raja tak akan menghukum kalian seberat ini!" ujar Ferdinand kecewa.


"Kami mohon Duke!" mereka semua bersimpuh.


"Terlambat ... mestinya bukan padaku, tapi pada Yang Mulia Tuan Putri!" sahut pria itu penuh penyesalan.


Semua tertunduk Karena gengsi dan tak mungkin perbuatan mereka diketahui. Ternyata, raja baru mereka mengetahui semuanya.


Semua pekerja menarik koper mereka. Semua lupa jika banyak orang yang membutuhkan pekerjaan. Tapi, mereka yang bekerja menyia-nyiakan kesempatan yang ada.


Sedang Alicia meronta-ronta minta dilepaskan.


"Lepaskan aku! Aku masih bangsawan di sini!" bentaknya.


"Oh realy? Yang Mulia Raja sudah mencopot gelar bangsawan ayahmu!" tekan penjaga itu.


Gadis itu didorong begitu saja hingga terjatuh ke aspal. Alicia menangis pilu. Ia benar-benar jatuh. Secara perlahan ia bangkit dan menuju mobilnya. Dengan kecepatan tinggi. Gadis itu meninggalkan halaman istana dan menuju rumah kecilnya.


Butuh waktu dua puluh menit untuk dia sampai di rumah tersebut. Tak ada penyambutan seperti biasanya.


"Aku lapar!" teriaknya.


"Makanan sudah siap, Nona!" sahut pelayan.


Usai makan gadis itu kembali ke kamarnya. Ia menangis keras di sana. Semuanya hancur. Ia benar-benar terpuruk.


"Pria itu ... ya, dia bilang bisa membantuku. Tapi, yang kulawan adalah putri seorang raja!" ujarnya ragu.


Gadis itu memilih tidur. Kepalanya terasa berat karena terlalu banyak berpikir. Martin mendatangi rumah itu.


"Mana, Nona?" tanyanya.


Martin pun menuju lantai dua. Pria itu mencoba membuka pintu.


Cklek! Pintu terbuka tanda tak dikunci. Pria itu masuk dan menatap sosok cantik dengan mata basah. Ia pun duduk di pinggir ranjangnya.


"Entah kenapa, aku tak bisa meninggalkanmu, padahal pacarku masih perawan," tuturnya pelan.


"Tapi, melihatmu rapuh seperti ini dan begitu banyak kehilangan. Aku jadi iba dan tak tega padamu," lanjutnya.


Sesekali pria itu merapikan riapan rambut Alicia. Tampak gadis itu bergumam, ia mengigau.


"Daddy ... Mommy ... hiks!"


Martin mengecup pelan kening gadis itu. Siapa sangka Alicia malah memeluk lehernya. Beruntung, dengan sigap Martin menahan laju tubuhnya agar tak menindih keras tubuh Alicia.


Pria itu merebahkan dirinya dan membiarkan Alicia memeluknya. Sesekali Martin mencuri ciuman pada bibir gadis itu. Lalu ia pun ikut terlelap.


Pesta pengangkatan sudah berakhir. Kini Luien berada di ruang kerja sang raja yang adalah ayah kandungnya sendiri. Gadis itu menjabarkan misinya untuk pembangunan masyarakat marjinal.


Deon mengangguk bangga. Walau mesti ada perbaikan tapi hanya berupa tata cara peletakan kata-kata. Luien terlalu menggebu-gebu mengemukakan idenya.


"Pelan-pelan sayang. Karena nanti di lapangan akan berkata lain," sahut Deon.


Luien mengangguk. Ia kini menggayut manja pada ayahnya. Tadi, keluarga Maxwell sudah mengumumkan tanggal pernikahan gadis itu.


"Sebentar lagi. Kau menjadi milik orang lain, sayang," ujar Deon sedikit tidak rela kehilangan putrinya.


"Aku masih milik Daddy," ujar Luien sambil menyurukkan wajahnya di dada bidang sang raja.


Wina datang, ia membawa nampan perak yang di atasnya cangkir teh. Ratu itu masih menjalankan tugasnya sebagai istri. Padahal ada ratusan pelayan yang mau mengerjakan tugas sederhana itu. Tapi, Wina menolaknya.


"Hei, kenapa kau bermanja dengan suamiku!" seloroh wanita itu.


"Suamimu tampan Yang Mulia Permaisuri!" sahut Luien terkekeh.


Wina meletakkan cangkir teh di meja suaminya.


"Tehmu sayang," ujar wanita itu.


"Terima kasih, sayang," sahut Deon.


Dua bibir saling mengecup. Luien sampai sebal melihat kemesraan kedua orang tuanya.


"Ck ... apa tidak ada tempat lain?"


"Kau yang ada di sini Nona!" sahut Wina meledek putrinya.


Luien benar-benar kesal. Ia mengerucut sebal. Padahal ia masih ingin bermanja pada ayahnya.


"Sebaiknya aku mengganggu Rico saja," ujar Luien meninggalkan kedua orang tuanya yang masih asik menikmati bibir itu.


"Hei jangan ganggu adikmu, dia sedang tidur!" teriak Wina melarang.


Deon kembali memagut bibir sang istri. Pria itu sudah merindukan tubuh istrinya sudah lebih empat puluh hari melahirkan. Pria itu dilarang menjamah tubuh istrinya.


"Sayang ... ayo lah," pinta pria itu dengan suara serak.


Wina menatap suaminya dengan pandangan tak percaya. Ia melihat ruangan itu.


"Di sini?" Deon mengangguk antusias.


"Tapi ...."


Deon menekan tombol untuk mengunci ruangan itu otomatis. Pria itu langsung membuka gaun istrinya dan melakukan cumbuan.


Sementara Luien kembali ke kamarnya. Diana dan Gloria sudah pulang dari tadi bersama orang tuanya. Ageele begitu terkesan dengan apa yang terjadi.


"Aku kangen Alex," keluh gadis itu.


bersambung.


ehem ... next?