
Luien dan Alex kembali ke istana. Keduanya disambut oleh ocehan Rico yang marah.
"Tali pana paja pamu!"
Wajah garang Rico membuat Alex gemas. Ia yang tengah mengidam ingin menggelitik perut bayi gembul. Bocah dua tahun setengah itu langsung diangkat oleh Alex dan menciuminya hingga tergelak.
Suara tawa Rico yang menggema di seluruh ruangan menular pad semua orang yang mendengarnya. Mereka tersenyum lebar.
"Mama ... Bodel bahat!" adunya dengan mata menggenang.
Wina yang memang juga gemas pada bayi itu lalu membela dan memarahi Alex.
"Kenapa kau ganggu adikmu!"
Alex mengerucutkan bibirnya. Ia memang gemas sekali dengan Rico. Sedang Luien, ia memang tidak ngidam, tapi ia sedikit pucat.
"Sayang, biarkan mereka istirahat!" ujar Deon.
Sepasang suami istri itu pun masuk kamar bersama Rico. Pangeran Hendrick tengah tidur setelah disusui. Bayi itu sebentar lagi usia satu tahun.
Sore hari. Dokter istana memeriksa Luien. Ia kini berada di divisi kesehatan istana. Ruangan itu sangat lengkap. Tadinya hanya kaum bangsawan dan staf nomor satu yang bisa masuk dan diperiksa oleh para dokter istana.
Namun, semenjak Deon yang memimpin. Semua kalangan bahkan pemberi makan kuda mendapat fasilitas kesehatan secara gratis di sana.
"Tak ada diskriminasi. Mereka juga bekerja secara loyal bagi kerajaan. Semestinya, pihak istana memperdulikan kesehatan mereka!" begitu penjelasan raja.
Semua itu berkat campur tangan Luien. Wanita yang kini terbaring di brangkar. Menatap layar yang memperlihatkan janinnya.
"Lihat Yang Mulia Tuan Putri. Ini ada dua tau tiga kantung embrio, diperkirakan Yang Mulia akan melahirkan kembar dua atau tiga," jelas dokter istana yang berjenis kelamin perempuan.
Alex tak mengijinkan istrinya ditangani oleh laki-laki. Semuanya harus perempuan. Pria itu sangat cemburu dan begitu posesif.
"Kandungan ini berkisar tujuh minggu," jelas dokter itu lagi.
Luien terharu melihat pergerakan janin yang belum terbentuk sempurna itu.
"Jadi, anakku bisa lebih dari satu?" dokter mengangguk membenarkan.
Alex mencium kening istrinya. Setelah dibersihkan. Wanita itu beranjak dan kini duduk di depan dokter.
"Semuanya sehat, bentuknya juga sesuai. Disarankan agar Yang Mulia jangan terlalu stress dan jangan terlalu lelah," jelas dokter lagi.
Setelah mendapat resep. Mereka pun keluar ruangan. Para staf istana lalu membuat pengumuman pada publik tentang kehamilan tuan putri mereka.
Wina begitu bahagia mendengar jika dirinya akan mendapat cucu lebih dari satu.
Luien mendatangi ibunya. Ludwina tengah bersantai. Wanita itu memandangi Rico yang tengah mengajari Hendrick bicara.
"Ma," panggil Luien.
"Sayang, kemari lah," pinta Wina, sambil menepuk tempat kosong di sisinya.
"Kemana Alex?" tanyanya kemudian setelah Luien duduk di sebelahnya.
Luien merebahkan tubuhnya dan memeluk sang ibu. Wanita itu jadi manja ketika mengetahui dirinya hamil.
"Alex tadi dipanggil Daddy untuk merundingkan beberapa pekerjaan," jawab Luien.
"Ma, aku takut," cicitnya lagi.
"Apa yang kau takuti, sayang?"
"Aku takut tak bisa jadi ibu yang baik bagi anak-anakku," jawab Luein dengan suara lemah.
"Kau pasti bisa melaluinya, sayang. Bahkan, kau akan jauh lebih baik dari Mama," sahut Wina dengan nada sedikit menyesal di akhir kalimat.
Luien merajuk manja. Ia tak mau ibunya mengingat lagi peristiwa lalu.
"Louis sudah tenang di alamnya, Ma."
"Mama sangat beruntung. Papamu tak mengungkit masalah Louis ketika pengangkatanku sebagai ratu utama, bahkan ketika amplop pertunangan datang. Ayahmu, masih membelaku," jelas Wina dengan suara penuh haru.
"Berarti Daddy sangat mencintaimu, Mam," sahut Luien yang disertai anggukan ibunya.
"Makanya, Mama juga sangat mencintainya. Mama tak akan sanggup jika ayahmu berhenti mencintai Mama. Mama lebih memilih mati."
"Mama akan membayar semua kesalahan Mama, karena mengabaikan mu dan menekan Louis hingga ia menggantung dirinya sendiri," lanjut Wina.
Luien memeluk dan mencium ibunya. Wanita yang dulu sangat ia benci. Tapi, kini ia menjadi seorang ibu. Banyak pelajaran berharga yang ia dapatkan dari sosok Wina. Wanita bangsawan yang membuang semua egonya untuk merubah diri.
"Ma, nanti bantuin aku ngurus anak-anak ya," pinta Luien.
Wina menggeleng. Ia menolak keinginan putrinya.
"Kau harus membentuk anak-anak mu sendiri sayang. Seorang nenek pasti akan lebih sayang pada cucu dari pada anaknya sendiri," jelas wanita itu.
Luien mengerucut. Wanita itu pasti sibuk sekali dengan tiga anak sekaligus di tangannya.
"Kau nanti akan terbiasa, sayang," jelas Wina lagi.
"Mama!"
Rico menaiki mereka berdua. Bayi itu meninggalkan adiknya yang kini ditangani oleh maidnya.
"Jadi di sini ada tiga bayi?" Luien mengangguk.
"Berarti turunan dari Thompson kakekmu kembar menurun padamu," ujar Wina.
"Aku dan Louis kembar!"
"Maksudku kembar tiga," sahut Wina.
"Kakek kembar tiga?"
"Ya, mereka kembar tiga identik."
Wina pun bercerita tentang keluarganya. Bagaimana dulu neneknya suka salah mengenali suaminya sendiri. Banyak cerita lucu membuat keduanya tertawa. Rico yang tak mengerti, sering bertanya.
"Mama ... pembal ipu pa?" tanya bayi itu.
"Kembar itu lebih dari satu," jawab Wina.
Bayi pintar itu mengangguk tanda mengerti. Luien mencium gemas pipi chubby Rico.
Hari berlalu. Berita kehamilan sang putri masih jadi trending topik di seluruh kerajaan. Luien masih bekerja untuk mewujudkan mimpi menghilangkan batas diskriminasi antara orang kaya dan orang miskin.
Para pemuda diberi santunan kerja. Mereka diminta membangun sebuah usaha mandiri. Beberapa berhasil dalam usahanya tapi tak sedikit yang gagal.
Luien mendatangkan para pakar untuk membina para pengusaha muda. Mereka yang gagal pun mulai terus berusaha.
Modal kerja harus mereka kembalikan dalam jangka waktu yang ditentukan.
"Saya bukan menindas. Mereka sudah mendapat modal dari pemerintah. Jadi mereka harus mengembalikan modal yang mereka ambil," jelas Luien.
Banyak pro dan kontra berdatangan. Yang kontra sangat keberatan jika ada unsur pengembalian modal.
"Jika tak berniat membantu. Jangan beri kami bantuan yang harus kami bayar!" teriak salah satu ketua asosiasi pemuda.
"Lalu jika tak dibantu, kalian bisa memproduksi apa?" tanya Luien.
"Apa mau diam saja, tak bergerak dan menunggu warisan yang tak seberapa?"
Semua diam. Para pemuda rata-rata tak memiliki keahlian apapun terlebih kaum marjinal. Pemerintah memperdayakan mereka. Beberapa yang berpotensi diberi modal pinjaman.
Internet kini sudah menjamur. Jual beli secara online sudah mewabah seluruh negeri. Para penjual jasa pengantar paket atau kurir dibutuhkan. Semua bisa bersaing dalam mempromosikan layanan mereka.
"Kemajuan teknologi harus kita manfaatkan. Di sana banyak peluang yang bisa kita peroleh dan bisa membuat kita maju," jelas Luien ketika memberikan penyuluhan.
Makin lama perutnya makin membesar. Janin yang ada di perutnya berkembang sempurna dan tidak ada kekurangan asupan apapun.
Masa ngidam Alex masih berlangsung. Pria itu masih suka mual di pagi hari. Bahkan ketika Luien sudah hamil sembilan bulan.
"Kita operasi cecar ya," ujar pria itu lemah.
Alex baru saja memuntahkan kembali cairan bening yang pahit itu. Luien menolak. Ia bisa melahirkan secara normal. Para dokter juga mengatakan tidak ada masalah yang berarti pada kandungan Luien.
"Diperkirakan satu minggu lagi, Yang Mulia Tuan Putri akan melahirkan," ujar dokter tiga hari lalu.