THE REAL PRINCES

THE REAL PRINCES
MENGEMBAN MISI



Sebuah perusahaan yang cukup besar. Semua orang sibuk bebenah, mereka akan kedatangan kepala cabang yang akan memonitor mereka. Luien dikirim ke sana sebagai kepala cabang. Hanya satu orang yang tau siapa Luien, dan itu Vic. Ternyata Alex mengirim Vic untuk mengatasi semuanya. Pria itu baru kepikiran untuk mengirim adik angkatnya ke sana.


"No ...."


Luien memberi kode untuk tidak bersuara. Vic tanda mengerti. Perbedaan pakaian Luien dan Victor bagai langit dan bumi.


Pria itu memakai setelan formal yang sangat mahal dan dari branded ternama.


"Tuan," sapa Luien.


"Hei ... kamu orang baru ya?" panggil salah satu karyawan pada Luien.


"Saya ...."


"Eh, kita tuh butuhnya staf ahli bukan OB!"


Luien mengerutkan kening. Apakah pakaian lagi yang merendahkan kedudukan seseorang? Benar saja. Wanita itu menatap dari atas sampai bawah Luien. Ia mengangkat dagu. Lalu ia melihat Victor.


"Ah, Tuan pasti kepala cabang ya?" ujar wanita itu langsung menghampiri Vic.


"Minggir kamu!' bentaknya pada Luein.


"Bukan, saya bukan kepala cabang yang dikirim, tetapi saya adalah perwakilan kantor pusat untuk melihat apakah kalian menyambut kepala cabang baru dengan benar," jawab Vic. panjang lebar.


"Ah, ternyata itu. Tapi, saya yakin. Andalah kepala cabang itu," ujar wanita itu manja.


Luien nyaris tertawa mendengarnya. Vic jadi risih.


"Kenapa kau masih di sini!' bentak wanita itu.


"Sana, ke pantry buatkan Tuan tampan ini kopi!" sentaknya lagi sambil mendorong bahu Luien dengan telunjuknya.


Rihana melewati Luien dan mendekatkan bibirnya pada telinga gadis itu. Ia pun menatap Luien dengan pandangan menghina.


Semua kelakuan buruk Rihana, tak luput dari perhatian dua netra berkacamata.


"Ada apa ribut-ribut!"


Tiba-tiba kepala manager cabang datang. Ia melihat Vic, lalu tersenyum. Pria itu membungkuk sebungkuk-bungkuknya.


"Tuan selamat datang ... maaf jika kami tak menyambut Anda," ujarnya menjilat.


Pria itu menegakkan badannya, lalu ia melihat sosok cantik dibalut baju formal yang begitu sederhana. Ia mengernyit. Ia merasa tak menerima karyawan.


"Maaf, anda siapa? Di sini tak menerima pegawai baru!" ujarnya.


"Bukankah kita butuh Office Girl, Tuan?" sahut wanita yang menggelayut manja pada Vic.


Victor dari tadi menyingkirkan tangan wanita itu. Tetapi, sang wanita tak tahu malu, masih menempelkan tubuhnya pada Vic.


"Tapi, bajunya terlalu bagus untuk jadi OB!" ujar manager.


"Maaf, bisa kalian tunjukkan di mana ruang rapat? Kita akan memperkenalkan kepala cabang kita. Karena beliau sudah datang," ujar Vic lalu ia mendorong wanita yang menempel pada tubuhnya.


"Oh, ada di sini, di ruang nomor tiga!" sahut manager.


"Kalian masuk lah semua ke sana!" titah Vic tegas.


Semuanya pun masuk. Luien hanya menggeleng kepala.


"Nona, tunggulah di sini. Aku akan mengurus mereka!" ujar Vic.


Luien pun menunggu. Victor masuk. Semua terdiam dan membungkuk hormat.


"Selamat datang kepala cabang!" sambut mereka.


"Maaf, bukan saya yang kepala cabang!" sahut Victor.


"Saya adalah perwakilan dari pusat untuk melihat apakah semuanya di sini menyambut kepala cabang dengan baik!" jelasnya lagi.


Semua menegakkan tubuhnya. Mereka saling memandang satu dengan lainnya.


"Ini lah kepala cabang kita!"


Luien masuk ke dalam. Semua terhenyak. Bahkan wanita dan manager tadi membelalakkan mata sempurna.


"Tidak mungkin!" pekik wanita itu tak terima.


"Apa yang tidak mungkin?" tanya Vic dengan muka datar dan tatapan dingin.


"Bajunya saja, tidak menandakan dia orang penting!" jawab wanita itu.


"Bahkan, ketika saya sendiri yang mengatakan jika Nona ini adalah kepala cabang, kau tak percaya?"


Pria itu begitu kesal pada orang yang tak melihat kemampuan orang lain dan hanya menilai penampilan. Dulu, ia tak melihat apa yang dipakai Luien, tetapi kegeniusan yang dimiliki Luien lah yang ia dan atasannya lihat.


Pria itu menyerahkan satu kunci dan chip pada Luien. Gadis itu mengambil dua benda itu. Semua membungkuk hormat pada Luien.


"Wanita ini bernama Rihana, dia sekretaris utama dan ada lagi wakil sekretaris bernama Claudia!"


Satu gadis cupu hadir. Luien hanya tersenyum miring. Ia sangat bisa mengenali orang. Ia hanya mengangguk.


"Lalu ini Kenan, manager di perusahaan ini!" ujar Vic memperkenalkan lagi pada pria yang tadi mengira Luien adalah pelamar.


"Maaf, Nona. Saya tidak mengenali anda!" sahutnya.


"Baik, semuanya kembali bekerja!" titah Luien.


Semua keluar dan masuk ke divisi masing-masing.


"Antar aku ke ruangan ku!" titah Luien lagi.


Kenan dan Rihana langsung mempersilahkan Luien untuk mengikutinya.


"Jika kau masih ingin bekerja di sini. Ikuti aku!" sentak Luien tertuju pada Rihana.


Wanita itu hanya menghentakkan kakinya. Ia tentu tak mau kehilangan pekerjaan yang sudah lama ia geluti.


"Claudia! Berikan Rihana surat peringatan tingkat satu!" titah Luein langsung.


"Hei kau tak bisa seenaknya begini!" bentak Rihana tak suka.


Plak! Victor menampar Rihana. Wanita itu terhenyak. Baru kali ini ia ditampar oleh pria.


"Tu-tuan?"


"Kau kupecat dan ku black list!" bentak Victor.


"Claudia beri dia surat pemutusan kerja dan sebarkan berita jika dia di blacklist hingga waktu yang tak terhingga!" titah Vic tegas dengan muka memerah.


Luien pun diam dan angkat tangan. Claudia dengan berat hati melakukan apa yang diperintahkan.


"Panggil sekuriti, untuk mengusir wanita ini jika dia bertingkah!'


Rihana menangis. Ia mengambil barang-barangnya. Karena kesombongan dan begitu merendahkan orang lain. Ia pun kena imbasnya.


"Sekarang, kau boleh bekerja!" titah pria itu pada manager.


Luien duduk dan menyalakan komputernya. Gadis itu langsung bekerja. Vic lalu duduk di meja lain. Ia juga membantu kekasih dari kakak angkatnya.


"Claudia, bisa kau ke ruang arsip dan meminta pembukuan tiga bulan sebelumnya?" pinta Luien ketika menekan intercom.


"Baik, Nona!" sahut Claudia.


Tak lama, pintu diketuk. Luien menyuruhnya masuk. Claudia datang membawa tumpukan berkas. Vic berdiri dan membantunya.


"Terima kasih, Tuan!" ujar Claudia.


"Ini Nona!"


"Terima kasih Claudia!" sahut Luien.


Claudia membungkuk dan lalu ke luar ruangan.


Luien meneliti berkali-kali. Lalu, ia pun menemukan kejanggalannya. Gadis itu langsung memberi tanda dan mengecek di komputer. Ada selisih angka yang begitu kecil di kolom bagian tertentu dan random. Sungguh rapi sekali.


"Tuan Dambaldore, lihat ini!' pintanya.


Pria itu pun mendatangi Luien dan melihat semua berkas yang diberi tanda oleh gadis itu.


"Ah, pintar sekali!' serunya kesal.


Lalu dengan cepat. Semua terbongkar. Luien menyusuri ke mana aliran dana masuk. Beberapa staf ahli di kantor pusat ternyata yang menjadi biangnya. Bahkan manager pusat, Tuan Roeman, yang telah bekerja selama bertahun-tahun ikut andil dalam penggelapan ini.


"Anda hebat sekali, Nona. Tak perlu waktu lama untuk membongkar semuanya. Kau benar-benar genius!" puji Victor dengan penuh kekaguman.


Luien hanya tersenyum. Ia juga berterima kasih pada Rihana karena berkat dia lah, manager Kenan teralihkan pandangan.


"Berkas tiga belas nomor tujuh kolom delapan, sebelas kembali ke satu. Random," bisik Rihana pelan sekali.


Vic sengaja menampar Rihana keras dan memecatnya, untuk melindungi gadis itu dari serangan yang tak terduga.


"Tangkap Kenan dan Claudia. Mereka juga mendapat fee dari para manager pusat!" titah Luien.


"Ini konspirasi!" teriak Claudia dan Kenan ketika ditangkap.


"Bawa bukti ini ke pusat dan serahkan pada yang berwajib!" titah Vic.