THE REAL PRINCES

THE REAL PRINCES
KEMARAHAN GLORIA



Pesta pertunangan Luien memang tidak disebarkan. Semua itu permintaan Luien. Ia masih ingin bersembunyi dari sorotan semua orang. Hal ini membuat Ludwina sang ibu sedikit cemas.


"Sayang, Mama nggak mau kamu direndahkan lagi!"


"Jangan khawatir, Ma. Aku tak akan mati dengan menjadi orang miskin. Aku ingin membungkam orang yang menghina ku, hingga saat tiba," jelas Luien.


Alex hanya mengikuti saja mau Luein. Pria itu harus menunggu beberapa bulan lagi untuk membawa gadisnya ke altar.


"Luien," panggil Mira.


"Mira," sahut Luien.


"Kenapa kau tak memberitahu jika kau adalah seorang putri?" tanya wanita itu gemas.


"Tau begitu, aku bisa menculikmu dan meminta tebusan yang banyak," lanjutnya berseloroh.


Luien merengek manja pada wanita kesayangannya. Armira terkekeh, Ia tak mungkin melakukan itu. Ia mengecup pipi wanita itu. Frank berdiri salah tingkah. Ia baru tahu jika Luien adalah seorang Philips. Beruntung ia hanya sampai ingin mencium gadis itu, hingga berakhir dengan pemukulan para gangster. Lalu, ia diangkat anak oleh wanita baik yang kini menjadi rebutan orang-orang kaya di depannya.


"Kalian seperti tak pernah dapat kasih sayang saja," celetuknya.


Semua menoleh pada Frank. Lalu tak peduli. Deon menyuapi wanita itu makanan enak. Ageele yang baru tahu tentang Armira juga langsung menyayangi wanita renta itu begitu juga dengan istrinya. Gloria pun yang tadinya sangat anti dengan orang miskin, di depan Armira. Ia seperti anak kucing yang tak berhenti bergelayut pada wanita itu.


"Hei, lepaskan Mommyku!" Frank menyingkirkan gadis itu.


Gantian pria itu yang bersandar dan bergelayut manja pada Armira. Pertunangan Luien dan Alex berubah menjadi acara mencari perhatian Armira. Maxwell dan Tiana juga sangat menyayangi Armira.


Pagi ini. Gloria mengajak Diana dan Luien pergi bersama ke Mall. Gadis itu ingin membeli sesuatu. Diana yang juga ingin menikmati harinya. Ia pun mau diajak jalan-jalan.


"Kau datang ke rumahku, nanti kita jemput Luien. Anak itu jika tak dijemput mana mau dia keluar," ujar Gloria.


Diana pun datang menggunakan mobilnya. Gloria sudah siap, jadi mantan rivalnya tak menunggu lama. Ageele membiarkan mereka bersantai. Terlebih, keadaan putrinya jauh lebih baik jika bersama teman-temannya itu.


"Sudah siap?" Gloria mengangguk.


"Kita pergi ya, Dad, Mam," pamitnya.


"Tuan, Nyonya. Saya bawa Gloria," sahut Diana meminta ijin.


"Hati-hati dan jangan terlalu malam pulangnya," tekan Samantha, Istri Ageele.


"Ya, Ma," sahut Gloria.


Sepasang suami istri itu melambaikan tangan. Mobil Diana melesat meninggalkan mansion mewah itu.


"Sayang, aku senang jika Gloria makin lama makin baik," ujar sang istri.


Ageele mencium istrinya. Lalu membawa wanita itu ke kamar mereka. Ia benar-benar mencintai wanita yang memberinya satu putri itu. Walau kesalahan besar yang dibuat oleh Samantha, hingga nyaris membuatnya bangkrut. Tapi, ia tak bisa melepas wanita itu.


"Sayang," panggil Samantha manja.


"Iya sayang," sahut pria itu.


"Terima kasih atas cintamu padaku, maaf jika aku ... mmmppphh!"


Ageele mencium bibir istrinya. Pagutan itu berhenti setelah keduanya kehabisan pasokan oksigen.


"Diam dan jangan banyak pikir. Oke?" tekan Ageele.


Samantha tersenyum. Lalu keduanya pun berpelukan. Hingga kamar itu berubah menjadi panas dan diselingi ******* juga lenguhan keduanya.


Gloria dan Diana kini sudah berada di mansion gadis itu. Luien masih mengantuk.


Diana tengah bermain dengan Rico. Gloria masih membangunkan mantan rivalnya itu.


"Hei, bangun!!" pekiknya.


"Apa kau masih bermimpi tidur dengan Alex, hingga kau malas membuka matamu?" lanjutnya menyindir.


"Sembarangan!" Luien langsung bangun.


Gadis itu kesal, mestinya ia bersantai dan menikmati ranjang empuknya.


"Akhirnya dia bangun juga," keluh Wina, sang ibu.


"Padahal Rico sudah membangunkannya dari tadi," keluhnya lagi.


"Ma, aku hanya hari minggu saja, malas," sahut Luien dari kamar mandi.


"Ish, cepat mandi. Matahari sudah tinggi!' teriak Gloria kesal.


Akhirnya, Luien selesai mandi dan memakai baju seadanya. Karena terburu-buru, Gloria sudah tak peduli lagi dengan dandanan mantan rivalnya itu. Wina sampai berteriak untuk mengingatkan anak gadisnya.


"Astaga, anak gadisku!"


"Kami pergi dulu, Daag!" pamit Gloria membawa lari Luein.


Dan setelah setengah jam perjalanan, kini mereka bertiga ke sebuah mall besar yang merupakan inventaris milik keluarga Philips. Gloria membeli beberapa potong baju, begitu juga Diana. Luien yang melihat-lihat selalu diikuti oleh para pegawai mall.


"Ah, maaf Nona. Kami hanya memastikan jika Nona ini tak merusak satu barang pun," jawab salah satu pelayan toko.


Dulu, Gloria memang suka dengan kata-kata penghinaan tersebut. Ia merasa pantas menghina orang yang jauh lebih miskin darinya.


"Kami, takut perempuan ini, mengutil salah satu gaun yang dipajang di sini,'' jelasnya lagi merendahkan Luien.


"Lalu, apa kau sudah bisa membeli salah tu gaun di sini?" tanya Gloria sarkas.


"Kalian itu juga miskin, aku yakin jika kalian pasti pernah mencoba secara sembunyi-sembunyi semua pakaian yang ada di sini!" tuduhnya lagi.


Kedua pelayan itu diam. Gloria menaruh lagi barang-barang di sini. Ia pun menggaet Luein dan Diana.


"Kita pergi dan cari pelayan yang lebih ramah. Aku ingin tahu, rating toko ini setelah kepergian kita," ajak Gloria.


"Maaf, Nona-nona, apa yang bisa kami bantu?"


Seorang manager toko datang dan melayani ketiganya. Gloria masih bersikukuh meninggalkan toko itu.


"Saya kecewa dengan pelayanan di sini!" sentaknya.


Diana dan Luien hanya memutar mata malas. Ratu drama memang Gloria jagonya. Hingga manager toko memberi diskon hingga 10% untuk beberapa outfit dengan branded ternama. Baru lah Gloria mau membeli beberapa blazer dan kemeja kerja. Diana membeli beberapa sepatu. Luien hanya membeli tiga dasi yang menurutnya cocok untuk Alex, tunjangannya.


"Gloria!" gadis itu menoleh.


Anneth dan Brenda berlari lalu langsung memeluknya tanpa rasa bersalah.


"Kau apa kabar?" tanya Anneth.


"Kau tau, aku sangat mengkhawatirkanmu!"


''Aku baik!" sahut Gloria datar.


Anneth menatap Luien dan Gloria.


"Kau sekarang jalan dengan mereka?" tanyanya sinis.


Gloria mengernyit.


"Memang kenapa?" sahutnya acuh.


"Kau merendahkan dirimu, Gloria! Bisa-bisanya kau berteman dengan gadis miskin ini?!' sindirnya lagi.


"Ulangi lagi katamu tadi?' pinta Gloria.


"Iya, kau merendahkan diri mu berteman dengan dua gadis miskin seperti mereka!" tekan Anneth lagi.


Brenda mengangguk membenarkan perkataan Anneth.


Plak!


Satu tamparan keras diberikan Gloria pada Anneth, hingga gadis itu nyaris jatuh ke lantai. Diana langsung memegangi Gloria, begitu juga Luein.


"Kau dengar ya!" tekan gadis itu murka.


"Kalianlah yang nyaris merendahkan diriku!" sahutnya dengan muka memerah.


"Apa aku perlu menyebut kelakuan bejat kalian!" bentaknya.


"Glor, sudah," tenang Luien.


Gloria menitikkan air mata.


"Kalian lupa?"


Anneth dan Brenda terdiam. Tentu mereka ingat perbuatan mereka pada Gloria.


"Kalian mau menjualku pada mafia!" sentak Gloria.


"Perbuatan kalian membuat aku trauma hingga sekarang!" lanjutnya berang.


"Glor!"


"Menjijikkan!" teriak Gloria, ingin kembali menampar Anneth.


"Glor, sudah. Ayo, kita pulang!" Diana langsung menyeret Gloria menjauh dari teman racun itu.


Luien menatap keduanya, tajam dan dingin. Anneth dan Brenda tertunduk takut.


"Kalian tau, aku ingin sekali menampar kalian berdua yang tak tahu malu ini," ujarnya lalu meninggalkan keduanya dalam ketakutan.


bersambung.


next?