THE REAL PRINCES

THE REAL PRINCES
PUTRA MAHKOTA



Setelah puas menciumi Rico. Ferdinand menurunkan bayi itu. Dengan segala keingintahuannya. Rico mendekati beberapa pengawal.


"Biarkan dia mengganggu kalian!" titah Ferdinand tak bisa dibantah. "Plakat!"


Seorang pria berpakaian setelan formal dengan beberapa atribut kerajaan membawa sebuah nampan dari perak beralas kain beludru merah. Di atas nampan itu adalah plakat yang harus dibaca oleh sang kepala perdana menteri istana.


"Yang mulia Lazuard Deon Philips, dititahkan kembali ke Hucking Palace untuk disematkan sebagai raja selanjutnya dan sesuai peraturan yang berlaku staf kerajaan. Yang Mulia dititahkan untuk menghormati keputusan!"


Deon, Ludwina dan Ken menekuk satu kaki ketika plakat dibacakan. Para maid pun harus duduk bersimpuh dari awal staf istana masuk hingga sekarang. Rico bertepuk tangan mendengar titah itu.


"Holeee!"


Ferdinand dan seluruh staf nyaris tertawa mendengar celoteh bayi itu. Semua pun kini berdiri tegak. Rico berlari menuju ibu angkatnya.


"Mama!" Wina mengangkat bayi itu dan mencium gemas pipi gembul Rico.


"Yang mulia Permaisuri berapa usia kandungan anda?" tanya Ferdinand melihat' perut Wina yang membuncit.


"Delapan bulan, mau masuk sembilan bulan," jawab wanita itu.


Pria itu mengangguk. Lalu menanyakan apa ada lainnya.


"Putri saya sedang tidak di rumah. Ia berada di apartemennya," jawab Deon.


"Jemput. Karena hari ini kami akan membawa anda ke istana!" titah Ferdinand.


"Sebentar lagi juga dia datang," jawab Wina.


"Mama, pistel Wuwin batan?" tanya Rico lucu.


"Iya, sayang," jawab Wina. Ia menggigit gemas pipi gembul.


"Letakkan dia, Yang Mulia permaisuri!" titah Ferdinand..


Wina menatap tajam kepala perdana menteri itu. Tak ada satupun yang boleh memerintahkan dia ketika bersama anak-anaknya nanti. Ditatap sedemikian rupa, membuat Ferdinand bungkam. Deon bahkan tak menegur istrinya. Ken pun hanya santai menanggapi hal itu. Ferdinand pun hanya berdehem untuk menetralisir kekikukannya.


"Mari kita duduk santai saja," ajak Deon akhirnya.


"Matilda!" panggil Wina.


Rico langsung berpindah tangan pada wanita itu. Semua duduk di ruang tamu. Para pengawal yang mengantar plakat tetap berdiri di luar menjaga.


Sebuah mobil BMW masuk. Para pengawal bersiap hendak menunduk hormat. Ketika melihat sosok yang datang semuanya menjadi ragu.


Luein datang dengan pakaian ala kadarnya. Bahkan rambutnya hanya diikat dengan karet padahal tadi Mira sudah menyikat rambut singanya dan memberinya lotion rambut agar halus dan wangi.


"Eh ... ada apa ini. Kenapa ada banyak mobil kerajaan di sini?' gumam gadis itu sambil melayangkan pandangannya ke arah mobil-mobil mewah dengan simbol kerajaan yang berjejer rapih.


"Maaf, anda siapa?" tanya pengawal dengan pandangan waspada.


Luein paling sebal dengan pengawal yang terlalu berlebihan seperti ini.


"Kau pikir siapa yang bisa masuk mansion ini tanpa dicegat di depan gerbang?" Luien berbalik bertanya dengan nada kesal.


Pengawal tampan itu terdiam.


"Kami hanya melaksanakan tugas, Nona!" sahutnya tegas.


"Oh ... begitukah? Lalu apa arti pandanganmu itu padaku?" tanya Luien masih kesal. "Kau mencurigai ku?"


Luien pun hendak masuk, tapi pria itu masih menghalanginya. Gadis itu marah besar.


"Apa-apaan ini!" bentaknya.


"Maaf, Nona. Silahkan anda lewat jalur belakang. Karena kami sedang menunggu yang mulia Puteri!" sahut pengawal itu.


"Yang mulia Puteri?" tanya Luien bingung.


"Benar, Nona. Kami menunggu Puteri dari Yang mulia Raja Lazuard Deon Philips!" pengawal itu menjawab sangat tegas.


"Jadi silahkan anda memakai jalan belakang!" lanjutnya memberi perintah.


Luien tersenyum miring. Ia pun mengangguk. Ia akan menikmati sebuah drama yang pasti akan begitu menyenangkannya.


Gadis itu pun berjalan menuju garasi. Di sana berjejer mobil-mobil mewah dengan berbagai merk dan warna. Dari garasi, gadis itu memasuki latar halaman para maid. Salah satu maid yang sedang sibuk memasak terkejut ketika melihat nona mereka masuk lewat pintu belakang.


"No ...."


Luien langsung memberi kode telunjuk di bibir tanda diam. Maid tersebut langsung menunduk hormat. Dari halaman para maid. Luien masuk dapur. Aroma masakan lezat pun tercium. Matilda yang tengah menggendong Rico terkejut melihat nona mudanya lewat pintu belakang.


"Bistel Wuwin!" panggil Rico langsung merentangkan tangannya.


Bayi itu sibuk mengunyah kentang goreng. Bahkan Rico menyuapkan makanan itu ke mulut Luien. Dengan senang hati, gadis itu memakan suapan adik angkatnya itu.


"Nona, kenapa lewat pintu belakang?" tanya Matilda.


"Watch and see, Matilda," ujar Luien santai.


Setelah keluar dari dapur, gadis itu menuju ruang tengah, sebelumnya harus melewati ruang makan yang kini sibuk ditata sedemikian mewahnya. Banyak simbol-simbol kerajaan dipasang. Luien mengenali benda-benda itu.


"Nona ... anda?"


"Sudah, lanjutkan pekerjaan kalian," sahut Luien santai.


"Bulun," Rico ingin turun dari gendongan Luien.


Gadis itu pun menurunkan bayi montok itu. Tangan Luien sedikit kesemutan karena menggendong bayi itu.


"Dasar gembul," sindir sang gadis dengan nada gemas.


Rico berlari menuju ruang tamu di mana semuanya berkumpul.


"Mama ... pistel Wuwin bulan!" pekiknya.


Luein tersenyum lebar mendengar kata-kata lucu itu. Wina yang juga mendengar perkataan Rico langsung berdiri dan menatap pintu depan. Tetapi, yang ia tunggu tak muncul, keningnya berkerut.


"Mama," panggil gadis itu.


Semua kepala menoleh asal suara. Wina melebarkan matanya. Anak gadisnya. Nona rumah ini masuk lewat pintu belakang. Muka wanita itu langsung merah padam. Luien hanya diam menanggapi.


"Siapa yang menyuruh putriku masuk lewat pintu belakang!" bentaknya.


Deon yang juga sangat terkejut melihat putrinya muncul dari pintu belakang. Ferdinand langsung berdiri. Ia bukan terkejut akan munculnya Luien. Tetapi, ia kaget melihat pakaian yang dikenakan gadis itu.


"Aku tanya sekali lagi. Siapa yang menyuruh putriku lewat pintu belakang!" bentak Wina.


Para penjaga yang berdiri di luar menunduk. Salah satunya begitu malu karena mengira gadis yang baru datang adalah pegawai mansion ini. Pria tampan itu pun mengajukan dirinya.


"Kau yang menyuruh putriku masuk lewat pintu belakang?" tanya Wina dengan kemarahan luar biasa.


"Sayang," peringat Deon, "Hati-hati dengan kandunganmu."


"Maaf Yang Mulia permaisuri!" aku pengawal itu.


Plak! satu tamparan keras dilayangkan Ludwina Elizabeth Thompson. Ken hanya tersenyum senang melihatnya. Luien langsung mendatangi sang ibu lalu memeluk dan menenangkan wanita itu.


"Ma, sudah ... tidak apa-apa, dia tidak tau," ujarnya.


Ludwina menangis mendengarnya. Wanita itu menciumi anak gadisnya. Rico yang mendengar ibunya menangis mengira pria yang baru saja ditampar itu menjahati ibunya.


Dengan berani, bayi montok itu mendatangi pria itu dan memarahinya.


"Pamu zelet!" makinya lalu menendang kaki pengawal itu.


Pak! Terdengar begitu kuatnya bayi itu menendang. Memang tak ada artinya bagi pengawal yang sudah dilatih bertahun-tahun. Tetapi melihat pandangan horor Luien, membuat pria itu langsung mengaduh dan memegangi kaki dan bergulingan di lantai.


"Danan bahatin Mama atuh! Akbduejnsun!"


Maka terdengarlah celotehan absurd dari bayi itu.


bersambung


nah kan kena tampar


next?