
"Siapa orang tuamu, Luien?" tanya Tania sekali lagi.
"Saya adalah anak dari Deon Philips dan Ludwina Thompson," jawab Luien.
Tentu saja nama Philips sangat banyak di luaran sana. Kecuali nama Thompson, Tania sedikit mengerutkan kening. Ada beberapa wanita bernama keluarga Thompson, dan semuanya menikahi pria kaya raya. Tania, hanya tersenyum saja, kemudian. Luein sedikit bernapas lega karena Tania tak lagi mempermasalahkan siapa kedua orang tuanya.
"Baik lah, sebagai tanda terima kasih, ayo kita belanja!" ajak Tania kemudian.
Tentu saja ketiga gadis yang dibawanya termasuk Gloria sangat antusias mendengar hal itu. Tetapi beda dengan Luein.
"Maaf, Nyonya. Saya boleh pulang tidak?" ijinnya pamit.
"Luein!" panggil Gloria kesal, ia juga ingin berbelanja.
"Kau kalau mau, ya ikut mereka saja. Aku tidak, ngantuk," sahut Luien masa bodo.
"Astaga, aku baru menemukan anak gadis tak mau berbelanja," sahut Tania sambil geleng-geleng tak percaya.
"Seret dia Glor. Aku tak ingin ada yang membantah keinginan Ibuku!" sahut Alex penuh ketegasan.
Dengan senang hati Gloria menggandeng lengan Luien dan menyeretnya. Gadis itu menggerutu sepanjang berbelanja. Ada saja celetukannya.
"Apa, hanya pakaian kurang bahan ini harganya bisa beli makanku satu bulan?" desisnya bertanya.
Gloria melihat baju warna perak yang begitu cocok dengan mantan rivalnya itu. Ia langsung mengambil gaun itu segera. Sayang, Cecil lebih dulu meraihnya.
"Ah ... sial!" umpatnya kesal.
"Gloria!" tegur Tania tak suka.
"Maaf, Nyonya," sahut Gloria takut-takut.
Sedang Vic melihat gaun warna navy yang sangat cocok untuk Gloria. Gaun itu pendek dengan leher model sabrina berpotongan rendah. Ia pun mengambil gaun itu dan menarik Gloria lalu mencocokkannya.
Tania melihat pandangan Vic yang berbeda ketika menatap gadis cantik Itu. Wanita itu pun tersenyum. Walau gaya Gloria tak masuk seleranya, tetapi gadis itu tak terlalu buruk di matanya.
"Kau ambil ini ya," ujar Vic dengan tatapan lembut.
Gloria hanya tersipu. Pria itu sangat tahu seleranya, ia memang sudah mengincar gaun ini. Adrian tengah mencari gaun untuk kekasihnya Diana begitu juga Alex. Tania memperhatikan ketiga putranya tampak telah memilih gadisnya sendiri.
Sedangkan Cecilia, Santana dan Davina begitu kesal diabaikan oleh tiga lelaki tampan itu.
"Apa sih hebatnya dua wanita itu!" gerutu Santana atau biasa dipanggil Ana, kesal.
"Tapi, gadis yang bersama Vic tampaknya bukan gadis sembarangan. Kau lihat rumah ketika kita menjemput Gloria," timpal Davina mencibir.
"Ah, aku masih tak yakin, jika gadis kaya mau berteman dengan si gembel Luien!" sungut Cecil menghina.
"Ah, sudahlah. Kita ambil saja gaun yang mahal-mahal. Kita akan menghasut Tante Tania lagi nanti," tukas Ana masa bodo.
"Ya, kau benar. Kita senang-senang saja berbelanja sekarang. Ternyata kota kecil ini juga memiliki mall besar dengan banyak barang branded ternama," sahut Cecil kemudian.
Ketiga gadis itu pun memilih lagi beberapa gaun indah berharga fantastis. Mereka tidak tahu jika pemilik gedung di mana mereka berbelanja ini adalah salah satu investasi ayahnya Luien.
Sedang gadis yang dicemooh oleh ketiganya nampak duduk di sebuah kursi yang terdapat pilar. Ia menyenderkan tubuhnya di sana dan memejamkan mata. Alex tengah mencari gadisnya. Ia telah mendapat beberapa gaun yang cocok untuk gadisnya itu.
Melihat Luien yang tidur sembarangan membuat pria beriris hijau itu hanya bisa menghela napas panjang.
"Ada apa?" tanya Adrian.
"Lihat itu," jawab Alex sambil menoleh kan kepalanya ke arah Luein.
"Mpruuffh!" Adrian nyaris tertawa.
"Kau tau kenapa dulu aku menyukainya? Ya salah satunya, Luien selalu berani mengungkapkan apa adanya," jelas Adrian kemudian.
Alex mengangguk membenarkan. Pria itu pun jatuh cinta pada gadis yang kini tengah mencari kenyamanan itu karena Luien apa adanya, dan dia tak takut untuk itu.
"Luien!" panggilnya.
"Wait Ma ... i'm so sleepy," gumamnya manja.
Tania begitu gemas dengan suara manja gadis itu. Ia pun duduk di sebelahnya. Meraih kepala Luien dan dengan begitu santainya, gadis itu menaruh kepalanya di pundak Tania dan memeluk pinggangnya.
"Begini saja Ma ... sebentar saja, ya," pinta Luien lalu memberi kecupan di pipi Tania sambil memejamkan matanya.
Gloria menutup mulut dengan dua tangannya. Ia yakin, jika Luien sadar pasti akan terkejut dan malu. Gadis itu mencari cara agar membangunkan mantan rivalnya itu. Netranya mengedar. Gadis itu menangkap sosok yang sangat ia kenali, Anneth dan Brenda. Ia pun tiba-tiba memiliki ide.
"Luien, aku melihat Diana bergandengan dengan ayahmu!" teriaknya yang tentu saja berbohong.
"Mana?!" sahut Luien dan Adrian bersamaan.
Adrian tentu sangat cemburu ketika mendengar kekasihnya bergandengan tangan dengan pria lain. Sedang Luien kaget karena ayahnya ada di sini dan sedang bergandengan dengan sahabatnya sendiri.
Luien yang masih memeluk Tania belum menyadari. Begitu ia sadar sepenuhnya, baru lah ia menatap wanita yang dipeluknya.
Blush! Seketika mukanya memerah karena malu bukan main. Ia kini tahu jika Gloria berbohong soal ayahnya tadi.
"Ma-maaf Nyonya ... saya kira tadi ibu saya," ujarnya dengan nada menyesal dan penuh malu.
Gloria terkekeh melihat wajah Luien yang kikuk dan malu bukan main itu. Ia menatap sengit mantan rivalnya. Gloria hanya mengangkat dagunya lalu mencibirkan bibirnya.
Luein mendengkus kesal. Sedang Tania hanya menggeleng melihat kelakuan dua sahabat. Wanita itu yakin jika Luien sangat dekat dengan Gloria.
Sehabis belanja. Mereka pun pulang dengan banyak barang bawaan, kecuali Luien. Ia hanya menerima satu gaun pemberian Alex.
"Pilihlah satu lagi, Say .. euum maksudku Luien!" pinta Alex setengah memaksa.
Luien malah meninggalkan pria yang kini menatapnya putus asa. Tania sangat yakin jika putra pertamanya itu sangat menyukai Luien. Gadis unik yang pernah ia temui.
Ketika di halaman parkir, mobil yang menjemput Tania dan tiga gadis lainnya sudah ada di depan lobby.
"Mama ke mansion kalian ya, sebelumnya akan mengantar ketiga gadis ini ke hotel tempat mereka menginap," ujar Tania pamit pada tiga putranya.
"Iya, Ma," ujar tiga pria lalu mengecup pipi wanita kesayangan mereka bergantian.
"Luien, Gloria!" panggil Tania yang melihat dua gadis itu hanya diam saja.
"Ya, Nyonya," sahut keduanya.
"Berikan aku ciuman," ujarnya meminta.
Dengan senang hati Luien melakukannya, Gloria pun mengikuti apa yang dilakukan Luien.
"Oh ya kalian naik apa?" tanya Tania.
"Itu!" jawab keduanya sambil menunjuk mobil BMW di belakang sedan Maserati milik putranya.
"Kau memberikan kendaraan inventaris pada Luien, Lex?" tanya Tania.
"Tidak, Ma. Itu mobil gadis ku, eh ... maksudku miliknya sendiri," jawab Alex tergagap.
Tania dan ketiga gadis yang mendengarnya cukup terkejut. Akhirnya mereka pun naik mobil Limosin yang memang milik Tania pribadi.
"Kalian langsung pulang, jangan pergi kemana-mana lagi!" titah Alex tegas.
Kedua gadis itu mengangguk. Setelah mobil mewah itu pergi, barulah mobil Luien datang diantar petugas vallet. Kedua gadis itu pun pulang ke mansion Gloria, Luien mengantarkan mantan rivalnya terlebih dahulu.
bersambung.
Yah ... apa Tania sadar siapa Deon Philips yang disebut Luien?
next?