THE REAL PRINCES

THE REAL PRINCES
PESTA



Sehari sebelum pesta ulang tahun Luien. Ludwina mendatangkan petugas wanita yang akan memanjakan mereka. Kedua wanita itu akan melakukan perawatan seluruh tubuh. Keduanya ingin memanjakan diri.


Karena ditemani ibunya, Luein pasrah saja tubuhnya dipijit dan dilulur. Butuh waktu dua jam mereka memanjakan diri. Luien jadi rileks dan enteng.


Setelah memanjakan diri. Beberapa gaun dari perancang ternama berdatangan. Ludwina memilih beberapa gaun yang akan membungkus tubuh putrinya dan juga dirinya.


Sebuah gaun warna shock pink dengan kerah berbentuk v. menjadi pilihan dan gaun utama Luien. Sepatu-sepatu mahal didatangkan. wanita itu juga memilih beberapa pasang sepatu untuk dirinya juga sang putri.


Selesai memilih gaun dan sepatu. Kini keduanya beranjak ke ruang makan. Mereka berdua lapar karena memang sudah waktunya makan siang. Tubuh Ludwina dan Luien juga sudah mulai berisi. Rambut merah Luien menjadi lembut laksana sutra. Harum dan tak kaku lagi.


Bahkan wajahnya jadi sangat cantik. Deon memandangi dan mengagumi kecantikan kedua wanita yang sangat berarti dalam hidupnya. Pria itu mencium kening putrinya dan mencium bibir sang istri.


"Kalian sangat cantik. Kau setuju Rico?" tanyanya pada bayi yang digendong oleh Matilda.


"Ya ... ya ... ya!" jawab Rico sambil tertawa..


Luien gemas lalu mengambil alih bayi itu dari gendongan maid yang bekerja dengannya semenjak ia kecil dulu.


"Kau juga tampan bayi kecil!" ujarnya lalu menciumi perut bulat Rico hingga tergelak.


Sementara di apartemen Bernard atau Frank tak mendapati Luien seharian dari kemarin. Ia kesal setengah mati, rencananya gagal total. Data yang ia terima memang benar-benar minim tentang diri gadis itu.


"Kemana dia? Apa menginap di rumah teman sekantornya?" tanya pria itu sendirian.


"Aarrgghh!" Frank melempar semua bunga yang sudah layu dan hadiah murahan di tempat sampah. Rodrigo sedari tadi meneleponnya, Bernard yakin, jika sang ayah akan menanyakan perkembangan hubungannya dengan gadis itu.


Hingga panggilan ke sepuluh barulah ia mengangkat panggilan telepon dari ayahnya itu.


"Halo!"


Di seberang sana, Rodrigo sudah mencecarnya dengan seribu pertanyaan. Bernard setengah mendengar cecaran pertanyaan itu.


"Apa kau mendengarku?" teriak Rodrigo murka, putranya sama sekali tak menanggapi pertanyaannya.


"Ya, aku dengar ...."


"Lalu bagaimana?" tanya Rodrigo tak sabaran.


"Aku tak berhasil mengajaknya ...."


"Apa! Bagaimana bisa?" teriak Rodrigo tak percaya. Ia memotong perkataan putranya.


"Dia tak pulang ke apartemen dari kemarin!" sentak Frank juga ikut kesal.


"Kenapa dia tak pulang? Memang dia kemana?" tanya sang ayah begitu penasaran.


"Mana ku tahu?!" bentak Frank lagi.


"Arrghh ... apa bisamu, hah!" bentak sang ayah tak kalah murka.


"Kau terlalu lambat!" lanjutnya memarahi Bernard.


"Kalau kau mau cepat ... kau urus lah sendiri!" bentak Frank lagi lalu menutup ponselnya.


Pria itu membanting ponselnya ke kasur. Mukanya memerah karena amarah. Tak pernah ia mendapat kegagalan seperti ini.


"Aku harus lebih bersabar lagi. Sepertinya gadis itu sangat misterius. Aku yakin, dia habis hang out dengan beberapa teman-temannya," ujar Frank meyakini dugaannya.


Sementara itu di tempat lain. Luien sedang memanjakan dirinya dipelukan sang ibu dan berebut perhatian dari Rico. Gadis itu mengusili bayi yang kini marah-marah karena posisinya selalu direbut oleh Luien.


"Bevakwkibsu!" pekik bayi itu.


Rico mendorong Luien dari pelukan Ludwina. Karena tak bisa maka ia pun menangis.


"Kau ini!" tegur wanita itu lalu mengangkat Rico dan memberinya pelukan dan ciuman untuk menenangkannya.


Luien hanya terkekeh geli. Ia pun mencium perut ibunya yang sudah mulai kelihatan.


"Sehat-sehat di sana ya, Dik!" ujar Luien lembut.


Wina mengelus kepala putrinya dengan sayang. Sesuatu perbuatan yang lama tak ia lakukan pada putrinya karena mengurusi kakaknya. Kini, ia mendapat kesempatan hamil kembali. Ia tak akan menyia-nyiakan semua putra dan putrinya lagi seperti dulu.


Malam datang. Luien sudah terlelap dalam ranjangnya yang empuk. Rico juga sudah dalam boxnya. Kini sepasang suami istri juga saling berpelukan di dalam selimut mereka.


"Besok pesta akan diselenggarakan. Kita kukuhkan kembali putri kita sebagai ahli waris kita sayang," ujar Deon mengutarakan kembali niatnya.


"Ya, besok. Luien tak akan bisa lagi sembunyi. Ia harus benar-benar menunjukan identitasnya," ujar Wina setuju dengan ide suaminya.


Deon mencium bibir istrinya. Kini keduanya menyatu dalam kelembutan. Mereka saling mencumbu dan memberi kenikmatan satu dengan lainnya. Deon begitu sangat mencintai istrinya.


Sedang di tempat lain, Frank menatap pintu yang tertutup rapat. Armira baru saja turun dan melihat kotak posnya yang tetap saja kosong selama bertahun-tahun. Kini ia mulai pasrah.


"Mungkin Luien benar, jika putraku Betrand sudah tiada," keluhnya.


Wanita renta itu menatap Frank yang memandangi pintu Luien yang tertutup rapat. Ia tersenyum simpul.


"Gadis itu tidak akan pulang hingga Senin sore ketika ia pulang kerja," ujarnya memberitahu.


Frank menoleh pada Mira. Wanita tua itu berada di seberang unit Luien.


"Apa kau tau sekarang dia ada di mana?" tanya Frank penasaran.


"Sayangnya, aku tidak tahu di mana Luien berada sekarang. Aku bukan ibunya yang bertanya kemana saja dia jika tak ada di apartemen ini," jawab Mira.


Wanita itu masuk ke dalam unitnya. Frank menghela napas panjang. Sepertinya keinginan untuk lebih dekat dengan Luien akan terkendala.


"Jadi aku tak harus menungguinya," ujarnya bermonolog.


Frank pun kembali ke unitnya dan ia mengistirahatkan tubuhnya yang lelah karena menunggu gadis incarannya.


Hari berganti. Mansion Deon kini mulai penuh dengan manusia yang meletakkan berbagai dekorasi. Semua dekorasi sudah diperiksa dengan seksama oleh semua pengawal. Banyak pasukan pengamanan untuk menangani awak media yang berdatangan.


Tulisan welcome home menjadi sorotan. hidangan mahal dengan kualitas terbaik sudah tersaji. Semua dekorasi melambangkan kekayaan sang pemilik pesta.


Semua mata akan mendengar kembali ahli waris yang sesungguhnya. The real princess telan kembali.


Deon juga mengundang semua kolega, termasuk Maxwell bersaudara juga Ageele dan petinggi negara lainnya. Gloria dan ibunya juga ada di sana. Mereka sangat iri dengan pemilik pesta.


"Ini mewah sekali. Lebih mewah dari ulang tahunku kemarin!" puji Gloria.


Diana juga datang sebagai perwakilan ayahnya. Deon begitu bangga dengan gadis yang menjadi sahabat putrinya itu.


"Kau sangat luar biasa, Nak. Aku yakin ayah dan ibumu pasti bangga memiliki putri seperti dirimu," puji Deon.


"Terima kasih Tuan. Saya begini karena Luien juga sering membantu saya dulu," sahut Diana lalu menunduk hormat.


Adrian mendatangi gadisnya. Deon cukup terkejut dengan hal itu.


"Kalian pacaran?" tanyanya.


Diana tak menjawab, ia hanya tertunduk malu. Sedang Adrian pun mengiyakan pertanyaan Deon.


"Benar Tuan. Kami sedang menjalin hubungan."


Gloria menatap iri pada Diana. Mantan rivalnya itu sudah tak bisa ia hina lagi. Diana jauh kedudukannya di atas dia. Walau ia juga nanti menduduki CEO di perusahaan ayahnya. Ia harus bekerja di luar selama satu tahun untuk mengembangkan ilmunya. Perusahaan milik ayahnya juga jatuh merosot menjadi dua puluh besar di kota itu karena kasus yang dilakukan oleh ibunya.


Musik dimainkan. Semua tamu mulai berbisik, menanyakan kapan acara akan dimulai. Deon meminta salah satu pelayan untuk memberitahu jika pesta bisa dimulai.


Tak lama Wina turun dengan gaun warna perak yang begitu kontras dengan kulitnya. Dandanannya juga natural. Kecantikan wanita itu benar-benar memukau terlebih mata biru nya membuat semua orang terpesona. Deon jadi cemburu karena semua pria menatap istrinya begitu memuja.


"Ehem ... yang kalian pandangi itu istriku!" tegurnya datar pada semua tamu pria.


Semuanya terkekeh mendengar teguran itu, tetapi mereka pun tak berani lagi memandang penuh pemujaan pada wanita cantik istri orang paling berkuasa.


Wina merentang kan tangannya. Luien hanya bisa pasrah. Ia tak bisa lagi melarikan diri. Akhirnya, gadis itu mengamit tangan ibunya. Lalu keduanya pun berjalan menuruni tangga.


Semua orang terbelalak melihat siapa yang digandeng oleh Ludwina Thompson.


bersambung


next?