THE REAL PRINCES

THE REAL PRINCES
TRAUMA GLORIA



Gloria yang ditarik oleh Diana, menangis. Ia tak habis pikir dengan kedua mantan sahabatnya itu. Dulu, Gloria selalu ada untuk mereka, mendukung mereka, berpesta, dan royal. Ia merasa sudah melakukan semuanya untuk Anneth, Brenda juga Jessy.


"Kenapa mereka jahat sama aku, Diana ... hiks ... hiks!"


Diana menenangkan mantan rivalnya itu. Luien mendatangi keduanya. Ia mengelus punggung Gloria yang bergetar karena tangis.


"Tolong, jangan menangis lagi," pinta Luien.


"Aku sedih, Luien. Kurang apa aku pada mereka?" tanya Gloria masih terisak..


"Mereka datang seakan tak memiliki rasa bersalah sama sekali," lanjutnya parau.


Luien sedih melihat betapa terpuruknya Gloria. Gadis itu benar-benar nyaris saja hancur akibat pelecehan tersebut.


"Tunjukkan pada mereka jika kau kuat, Gloria!" sahut Diana..


"Jika kau seperti ini, mereka akan tahu kelemahanmu!" lanjutnya.


"Jadi lah aku, sehari saja Diana. Apa kau bisa?" tanya Gloria menatap Diana dengan pandangan kosong.


"Tapi, yang kukenal bukan Gloria lemah seperti ini. Aku mengenal Gloria yang paling tajam dan pedas omongannya. Hina aku dan Luien, Glor!"


"Aku pernah melakukannya kau ingat?" sahut Gloria lagi.


Diana diam. Ia tentu belum lupa ketika Gloria baru saja keluar dari rumah sakit dan kembali bekerja. Gloria menghina Luien kembali bahkan membuat Diana marah dan kesal padanya.


"Tapi, bayang-bayang itu. Don, menjilati leher dan dadaku!" cicit Gloria dengan linangan air mata.


"Jangan di sini, kita pulang," ajak Luien.


Diana memeluk mantan rivalnya. Luien yang akan menyetir dan membawa pulang Gloria. Sedang gadis itu kembali bergetar hebat karena traumanya.


Luien mengendarai mobil baru sahabatnya itu dengan kecepatan tinggi. Hingga sampai mansion Ageele. Pria itu terheran karena ketiga gadis itu pulang lebih cepat. Bahkan hanya membeli beberapa barang saja.


"Kalian ...."


Ageele tak lagi melanjutkan ucapannya setelah melihat putrinya pucat dan gemetar. Pria itu langsung panik.


"Ada apa ini, kenapa putriku seperti ini?" tanyanya gusar.


"Kami bertemu Anneth dan Brenda, Tuan!" jawab Diana dengan mimik sedih.


Samantha pun meminta semuanya mengantar Gloria ke kamarnya. Luien mengganti baju mantan rivalnya itu dan Diana membersihkan wajah Gloria. Mereka merebahkannya di ranjang queen size milik gadis itu.


"Ceritakan apa yang terjadi," pinta Ageele, gusar.


Diana pun menceritakan pertemuan mereka dengan dua mantan sahabat Gloria.


"Gloria kembali mengingat, kejadian yang menimpanya, Tuan. Jadi ia belum keluar dari traumanya," jelas Diana.


Ageele mengepal erat. Sungguh, keadaan putrinya tak bisa dibiarkan.


"Mereka memohon untuk tidak melaporkan, kejadian ini ke kepolisian. Aku menganggap jika putriku baik-baik saja. Tetapi, aku salah. Gloria ternyata menyimpan trauma yang begitu hebat," ujar pria itu geram.


"Gloria mengalami pelecehan paling buruk, Tuan," sahut Luien.


Samantha menangis mendengarnya. Ia menciumi putrinya. Gara-gara dia yang gila judi, ia nyaris membuat suaminya bangkrut, bahkan masa depan putrinya juga nyaris hancur.


"Katakan pada Daddy, apa yang pria berengsek itu lakukan padamu, Nak?" tanya Ageele dengan suara serak.


"Dia ... hiks ... dia menjilati leher dan dadaku, Daddy ... huuuu ... uuu! Tangannya menyentuh area intimku. Aku berteriak, tapi suaraku seperti tersumbat ... huuuu ... uuuu!"


Ageele menutup mata. Luien mengepal, Diana menutup mulutnya dengan tangan.


"Dia ... hiks ... dia ... bilang, jika perawanku sudah dibayar mahal pada Jessy, Anneth dan Brenda .... huaaa ... aaaa!" Gloria histeris.


Ageele memeluk putrinya, ia menangis. Diana langsung memeluk Luien. Ia tak sanggup mendengar hal lain.


"Jessy ... Jessy bilang ... kalau ... kalau aku tak pantas menyandang perawan ... Daddy ... hiks ... hiks!"


"Daddy ... tangan itu meremas buah dadaku. Nyaris saja mulut kotornya mengecup, jika saja tak terjadi tabrakan itu .... huaaaa ... aaaa ... Daddy ... aku kotor ... aku sudah tak perawan Daddy!" pekik Gloria histeris.


Ageele ikut menangis histeris. Begitu buruknya trauma psikis yang ditinggal oleh para bajingan itu. Padahal, Don sudah mati mengenaskan. Tetapi, putrinya masih mengingat kelakuan bejat pria berengsek itu. Luien dan Diana ikut menangis. Sungguh, ia ingin menyeret Anneth dan Brenda untuk berlutut di depan Gloria sekarang juga.


"Akan kuseret mereka di hadapanmu, Gloria. Aku bersumpah!" tekan Luien..


Gloria tak sadarkan diri. Ageele begitu terpukul melihat keadaan putrinya. Samantha langsung menelpon dokter pribadi mereka.


Luien keluar diikuti Diana. Wajah datar dan penuh amarah diperlihatkan Luien.


"Tapi, aku harus melakukan sesuatu, Diana!" sentak Luein.


"Kau tak lihat betapa terpukulnya Gloria, dia menderita begitu berat. Semua bayang-bayang menakutkan itu benar-benar menakutkannya!" lanjutnya penuh emosi.


Samantha melihat kemarahan, Luien. Wanita itu memeluk gadis itu.


"Salahkan aku, aku yang membuat ia bergaul dengan teman-teman yang tak baik," ujarnya lirih.


"Nyonya," panggil Diana dan Luien sedih.


"Jangan berkata seperti itu," pinta mereka sedih.


Tak lama dokter datang. Samantha mengantarnya ke kamar sang putri. Luein dan Diana duduk menunggu di ruang keluarga. Samantha turun dan ikut bersama dua sahabat putrinya itu.


Tak lama Ageele keluar dengan dokter. Luien, Diana dan Samantha berdiri. Ketiganya menyambangi dan ingin tahu apa yang terjadi.


"Gloria terkenal dorongan mental yang sangat menyakitkan, psikisnya terlalu lemah. Ia masih tak bisa keluar dari bayang-bayang pelecehan menakutkan itu. Ia masih menganggap dirinya sudah kotor dan tak bernilai lagi," ujar dokter dengan mimik sedih.


"Saya baru mendapat, pasien seterpukul begini. Gloria harus benar-benar ditangani oleh psikiater terbaik, ia harus benar-benar diyakinkan, jika dirinya masih suci," jelasnya lagi.


Dokter itu memberi resep, sekedar vitamin dan suplemen, agar gadis itu ada napsu makan.


"Tolong, awasi konsumsi makanannya, jika kalian abai, maka gizi buruk mengancam kesehatannya," jelas dokter.


Ageele tertohok mendengar hal itu. Pria itu baru sadar, beberapa bulan ini setelah kejadian mengerikan itu. Gloria tak begitu berselera makan.


Diana dan Luien sangat sedih mendengarnya. Luien juga sempat nyaris kena gizi buruk, karena asupan makanan yang tak memadai.


"Tolong, selalu ada di sisinya. Beri dia kekuatan. Dukungan keluarga adalah patokan baginya untuk cepat keluar dari masalah ini. Dan satu lagi, jangan libatkan dia dengan masa lalu, siapa pun itu!" tekan Dokter menjelaskan.


Semua mengangguk. Dokter pun pulang. Ageele meminta salah satu penjaganya menebus resep yang ditulis oleh dokter.


"Tuan, Nyonya. Kami pulang dulu," pamit Diana.


"Baiklah, hati-hati di jalan dan terima kasih, ya," ujar Ageele tersenyum.


Kedua gadis itu pun pergi. Samantha menangis dipelukan suaminya. Wanita itu benar-benar sangat sedih dengan keadaan putrinya.


"Kita akan bersama Gloria melewati semuanya, sayang," ujar Ageele menenangkan istrinya.


'Hugo, kau di mana, Nak. Kenapa kau belum menunjukkan keberanian mu?' gumam pria itu dalam hati.


"Haachi!"


"God bless you. Are you sick, Victor?" tanya Maxwell.


"No, Dad. Hanya hidungku sedang gatal saja," ujarnya.


"Kemana gadis itu. Dari tadi tak mengangkat ponselnya!' gerutu Alex..


"Gadisku juga!" sahut Adrian.


"Ck ... kalian ini seperti baru punya pacar saja. Datangi rumahnya!" sahut Maxwell, ayah mereka.


Keduanya pun saling pandang. Lalu tersenyum dan keduanya pun pamit untuk mengunjungi kekasih mereka masing-masing.


"Kapan kau melamar Diana, Adrian?" tanya Maxwell.


"Dua bulan lagi, Ibu Diana, Nyonya Victoria Lambert sembuh, Dad. Diana meminta jika salah satu dari orang tuannya sembuh," jawab Adrian.


"Baiklah, aku tunggu perkembangan selanjutnya," sahut Maxwell.


Kakak beradik itu pergi. Maxwell menatap Victor.


"Kapan kau kenalan kekasihmu? Jangan bilang kau belum punya kekasih?"


"Kemarin, aku dengar kau memiliki hubungan dengan model terkenal itu?" tukas Maxwell langsung.


"Aku menolak keras jika Vic memilih gadis itu dijadikan istri!" tolak Tania keras.


Bersambung.


kasihan Gloria.


next?